menghormati berperan penting dalam membangun karakte r yang baik agar masyarakat dapat memahami keberagaman. Dengan sikap saling menghormati dan menghargai akan tercipta suasana aman dan damai serta meminimalisir perbedaan pendapat antara minoritas dan mayoritas. Sebaliknya, jika tidak memiliki sikap hormat, dapat menimbulkan perilaku destruktif dalam masyarakat yang akan mengancam persatuan dan kesatuan yang ada dalam masyarakat.
semua agama pasti ada perbedaan dalam segi ritual. Akan tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu ke Tuhan Yang Maha Esa. Ditinjau dari presepktif teori pluralisme agama menjelaskan mengenai cara pandang dan pendekatan apresiatif dalam menghadapi heterogenitas dimasyarakatnya terdiri dari berbagai kelompok etnik, ras, agama dan sosial yang menerima, menghargai dan mendorong partisipasi dan pengembangan budaya tradisional serta kepentingan spesifik mereka dalam lingkup kehidupan bersama. Artinya, pluralisme akan benar-benar berfungsi apabila terdapat ruang bersama dimana masing-masing pihak terlibat dalam pembentukan dan pengembangan komunitas bersama yang lebih besar, mencakup dan mewadahi semuanya tanpa menelantarkan kekayaan tradisi mereka masing-masing.78 Sebagai nilai yang menghargai dan melindungi keragaman dengan sendirinya pluralisme mengandung prinsip untuk bersikap toleran terhadap berbagai persepsi yang berangkat dari pengalaman masing-masing di satu pihak dan bersikap respek terhadap berbagai perspektif yang lahir dari cita-cita masing-masing di pihak lain.
Berangkat dari prinsip pluralisme tersebut kita akan bersikap terbuka dalam menerima beragam tanggapan semua pihak yang semuanya sah sepanjang bersikap konsekwen dalam menjunjung prinsip pluralisme. Apa yang perlu kita tingkatkan adalah membangun kondisi dialogis dimana semua pihak bersikap apresiatif terhadap kehadiran berbagai macam pendapat dan pandangan, menghargai sikap mempertanyakan, meragukan bahkan menolak pendapat kita sekalipun. Semua orang berhak memiliki pandangan dan keyakinannya sendiri serta membiarkan mereka memandang dari persepsi dan perspektifnya masing masing. Tidak seorangpun yang berhak merasa bahwa dirinya mutlak, pasti dan selalu benar lalu memaksakan agar
78Djohan Effendi “Pluralisme dan Kebebasan Beragama” (Yogyakarta: Interfidei, 2015).
semua pihak harus mengikuti pendapat dan kehendaknya. Maka, sejalan dengan pandangan Nurcholish Madjid, pluralisme harus dipahami sebagai pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatanikatan keadaban" (genuine engagement of diversities within bonds of civility).
Secara lebih jelas dan sederhana Nurcholish Madjid mendefinisikan pluralisme sebagai sistem nilai yang memandang secara positif-optimis terhadap kemajemukan itu sendiri, dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu. Kita perlu hidup bersama untuk membangun paradigma pluralisme, menemukan titik temu untuk berbagai bentuk perbedaan, menjaga komunikasi sosial yang didasarkan pada hubungan terbuka dan memungkinkan semua pihak, tanpa diskriminasi, untuk memiliki kesempatan menyumbangkan warisan budaya dan tradisional, dan juga kekayaan pengetahuan dan pengalaman.
b. Prinsip Kebaikan
Secara garis besar mahasiswa memaknai kebaikan yaitu perilaku yang berdampak positif bagi orang lain, baik itu orang di sekitar kita atau masyarakat secara keseluruhan. Kebaikan dilakukan tidak hanya kepada orang yang sejalan dengan pemikiran. Tetapi, kebaikan juga harus diterapkan secara umum, baik kepada orang-orang yang tidak sepemikiran. Kebaikan adalah bentuk ketakwaan kepada Tuhan. Pengertian kebaikan adalah penilaian atas tindakan, perkataan, sikap, dan cara yang ditunjukkan orang dalam kehidupan sehari-hari.
Kebaikan adalah kualitas seseorang yang dianggap baik menurut sistem norma dan pandangan umum yang berlaku. Kebaikan menjadi kebiasaan yang senantiasa di lakukan oleh seorang muslim yang apabila dilakukan dengan benar dan ikhlas akan
mendapatkan pahala. Tanpa keikhlasan ibadah kita akan menjadi sesuatu yang sia-sia bahkan membawa bencana.
Namun, adakalanya kebaikan menjadi salah satu pintu buruk agar terjatuh kepada kebinasaan, seperti mengungkit-ungkitnya. Ditinjau dari teori pluralisme agama menjelaskan paham, tindakan dan pengakuan terhadap adanya kenyataan dan kondisi serta eksistensi dalam jumlah banyak, atau beranekaragam yang mengkedepankan hal-hal kebaikan.79 Setiap agama mengajarkan tentang kebaikan dan melarang keburukan, tentu itu adalah tugas yang paling berat dihadapi dalam kehidupan.
Adapun dalam konteks teologi, menurut Abd. Moqsith Ghazali sebagaimana dikutip dari Gustia Tahir, pluralisme merupakan pengakuan adanya kemajemukan, keberagaman, atau kebhinekaan ideologi atau paham yang menjadi gagasan-gagasan dan pikiran-pikiran.80 Namun, tidak semua orang menerima pemahaman yang berbenturan dari praktik-praktik keagamaan hanya saja sebatas pengakuan bahwa banyak perbedaan dalam konteks agama, budaya, suku dll. Seperti yang dijelaskan oleh Komarudin Hidayat sebagaimana dikutip dari Azhari Andi dan Ezi Fadilla, memahami pluralisme agama lebih kepada sikap memberi ruang pengakuan dan penghargaan adanya kebenaran pada agama lain, sembari menghayati dan meyakini kebenaran dan keunggulan agama sendiri.81
79Yusuf Pandam Bawono, ‘Djohan Effendi, Ahmadiyah dan Pluralisme dalam Buku Pesan-pesan Al-Quran’, Jurnal: An-nida, 43.2 (2019).
80 Gustia Tahir, ‘Pluralisme Agama dalam Perspektif Islam’, Jurnal: Adabiyah, 11.2 (2011).
81 Azhari Andi dan Ezi Fadilla, “Menyikapi Pluralisme Agama Perspektif AlQur’an’, Jurnal:
Esensia, 17.1 (2016).
c. Prinsip Hikmah
Konsep moderasi Selain memiliki prinsip keadilan dan kebaikan juga memiliki hikmah dalam semua bentuk dimensi ajaranya, Hikmah yang dipahami mahasiswa bukan hanya dari ilmu yang kita pelajari dari buku-buku dan bukan pula peristiwa-peristiwa yang kita alami dalam kehidupan sehari hari. Oleh karena itu menjadi tugas dan kewajiban kita untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Al hikmah itu dalam kehidupan anak didik pada tiap tingkatan pelajaran dan tingkat usia kehidupannya.
Ditinjau dari teori pluralisme agama yang pada dasarnya menginginkan pengakuan bahwa kehadiran adanya perbedaan dan semua itu sudah diatur oleh Tuhan dan tidak bisa dibantahkan. Didalam perbedaan ada perintah bahwa saling mengenal satu sama lain. Seperti yang dijelaskan oleh Allah Swt dalam firman-Nya: