BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, INTERPRETASI DATA, DAN
C. Pembahasan Temuan Penelitian
Pembahasan yang dilakukan didasarkan atas hasil wawancara kepada guru, pengamatan melalui lembar observasi aktivitas belajar matematika, dan melihat rata-rata hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematik siswa.
Pada hasil wawancara yang dilakukan pada saat observasi sebelum penelitian. Diketahui bahwa kemampuan pemecahan masalah pada kelas XI IPA-3 cukup rendah diantara keempat kelas IPA lainnya di SMA Negeri 90 Jakarta. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran matematika masih konvensional yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru. Penggunaan alat bantu dalam pembelajaran hanya sebatas buku paket yang disediakan disekolah.
113
Buku paket tersebut tidak mengarahkan siswa pada kemampuan pemecahan masalah.
Kemampuan pemecahan masalah tidak terasah dengan baik karena pembelajaran yang dilakukan dikelas tersebut monoton pada ceramah dan membahas soal saja. Hasil wawancara dengan guru mata pelajaran kemampuan pemecahan masalah rendah dikarenakan siswa yang tidak mau mengemukakan pendapat atau sekedar menjawab pertanyaan guru walapun konteks pertanyaan tersebut mudah untuk dijawab. Hal ini menyebabkan guru tersebut berkesimpulan bahwa siswa sudah memahami setiap materi diberikan. Padahal jika diteliti siswa memiliki banyak pertanyaan yang mampu membuat dirinya sendiri memahami lebih dalam terhadap suatu materi.
Selain dengan pembelajaran yang masih konvensional, bahan ajar yang digunakan juga tidak mengarahkan siswa pada suatu kemampuan. Biasanya guru mata pelajaran pada kelas ini hanya menggunakan buku paket yang disediakan. Siswa dituntut memahami konsep yang diberikan guru, kemudian mengerjakan beberapa latihan soal secara umum. Latihan soal yang dikerjakan tidak mengarahkan siswa pada kemampuan pemecahan masalah. Hal ini disebabkan karena kebiasaan mengerjakan soal-soal pemecahan masalah masih belum diterapkan. Selain dengan wawancara, peneliti juga meminta nilai ulangan harian sebelum penelitian dilakukan yaitu materi peluang. Pada kelas ini memiliki rata-rata yang cukup rendah sebesar 61. Siswa yang memiliki nilai di atas KKM hanya sebesar 25.00% sedangkan sisanya memiliki nilai dibawah KKM. Nilai KKM yang ditentukan pihak sekolah adalah 75 untuk mata pelajaran matematika.
Melihat hal ini peneliti menyimpulkan akan meneliti tentang kemampuan pemecahan masalah matematik siswa melalui bahan ajar berbasis konstruktivisme. Penelitian ini disetujui oleh pihak sekolah dan guru mata pelajaran yang bersangkutan. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 90 Jakarta kelas XI IPA 3. Kelas yang memang memiliki nilai dibawah rata-rata kelas IPA lainnya.
Peneliti mulai mendesain bahan ajar sesuai dengan urutan pendekatan konstruktivisme. Desain bahan ajar didiskusikan dengan dosen pembimbing, dan
langsung diadakan perbaikan. Bahan ajar yang sesuai dengan arahan dosen pembimbing divalidasi oleh pakar sebelum dipergunakan oleh siswa. Sesuai dengan komentar dan saran dari pakar, peneliti merevisi bahan ajar tersebut. Bahan ajar yang telah melalui proses validasi akan dipergunakan sebagai alat pembelajaran siswa saat penelitian dilakukan.
Bahan ajar berbasis konstruktivisme memiliki beberapa tahapan, yaitu : Pertama pengaktifan pengalaman pengetahuan yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Pada tahapan ini siswa dituntut untuk mengingat kembali pelajaran yang telah dilewati sebelumnya yang berkaitan dengan materi yang sedang dibahas. Kedua pemerolehan pengetahuan baru, pada tahap ini siswa mendapatkan pengetahuan baru tentang suatu materi, seperti merumuskan. Ketiga pemahaman pengetahuan dan pengalaman, setelah siswa mengingat kembali pengalaman pembelajaran dan telah merumuskan materi, maka siswa harus memahami pengalaman dan rumusan tersebut. Keempat mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman, pada tahap ini siswa mempraktikan pemahaman dari pembelajaran yang telah dilakukan melalui latihan soal. Tahap kelima adalah melakukan refleksi, setelah mengingat pengetahuan awal, merumuskan, memahami dan mempraktekkan pembelajaran, siswa merefleksikan hasil pembelajaran tersebut dengan menyimpulkan dan menanyakan kembali hal yang kurang dipahami dari materi.
Bahan ajar berbasis konstruktivisme diharapkan membangun aktivitas belajar siswa melalui tahapan-tahapan pembelajarannya. Setiap tahapan tersebut membuat siswa beraktivitas dengan bahan ajar yang telah disediakan peneliti. Penelitian ini difokuskan pada aktivitas siswa menggunakan bahan ajar berbasis konstruktivisme.
Penelitian siklus I dilakukan pada 5 kali pertemuan, 4 kali pembahasan materi dan satu kali tes siklus I kemampuan pemecahan masalah matematik siswa. Setelah pembelajaran berlangsung peneliti menemukan ketidaksiapan siswa melakukan pembelajaran yang berpusat pada dirinya sendiri melalui cara mereka mengerjakan bahan ajar yang masih sangat memerlukan tuntunan. Kendala yang muncul adalah kalimat yang ada dalam bahan ajar belum semua
115
dimengerti dengan baik oleh siswa. Apalagi saat siswa harus mengingat kembali pembelajaran yang telah dilakukan pada kelas-kelas sebelumnya, siswa mengalami kesulitan saat mengingatnya.
Peneliti meminta guru mata pelajaran mengobservasi aktivitas belajar siswa dalam 4 kali pertemuan. Hasil aktivitas belajar siswa 64.45%. Hasil ini belum dikatakan baik karena peneliti memiliki standar minimal 70.00%. Setelah dilakukan kembali pembelajaran pada siklus II hasil dari aktivitas belajar siswa meningkat menjadi 72.90%. hal ini terjadi karena aktivitas siswa dalam pembelajaran meningkat pada setiap aspek yang diamati.
Pada saat mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru/teman meningkat dari 79.20% menjadi 85.60%. hal ini dikarenakan siswa ingin lebih mengetahui mengenai bagaimana cara mengerjakan bahan ajar dan hasil yang diinginkan akan seperti apa. Saat mengerjakan bahan ajar siswa dituntut untuk mengingat pelajaran sebelumnya yang berkaitan juga meningkat dari 78.60% menjadi 81.90%. Siswa sudah terbiasa mengingat pembelajaran yang berkaitan dengan materi yang dibutuhkan pada siklus I dan II sehingga terjadi peningkatan yang cukup signifikan.
Keingintahuan siswa tergambar saat merumuskan dan memahami konsep materi, hal ini sejalan dengan peningkatan yang ada sebesar 5.7% dari aktivitas merumuskan siklus I sebesar 86.60% menjadi 92.50% pada siklus II. Aktivitas peserta didik berupa mempraktikan dan menyimpulkan materi yang telah dirumuskan juga mengalami peningkatan daro 60.4% menjadi 68.1%. Aktivitas belajar siswa berupa mempraktikan dan menyimpulkan cukup direspon, namun beberapa siswa tidak menunjukan ketertarikan dengan mengerjakan soal atau menyimpulkan.
Seringkali peneliti melontarkan beberapa pertanyaan seputar materi pembelajaran, hal ini membuat siswa aktif menjawab pertanyaan tersebut atau sekedar merespon dengan baik. Peningkatan juga terjadi saat pertanyaan diajukan atau menanyakan hal yang belum dimengerti sebesar 0.1% saja. Peningkatan ini tidak terlalu signifikan karena siswa yang bertanya atau merepon pertanyaan hanya siswa yang sama setiap harinya. Saat mengerjakan tugas dan memecahkan
masalah tidak menarik siswa secara umum, karena aktivitas ini menuntut siswa mengerjakan tugas dan memecahkan masalah secara individu. Dari setiap siklus aktivitas ini termasuk yang paling rendah, ini dibuktikan pada siklus I siswa yang mengerjakan tugas hanya sebesar 33.40% dan pada siklus II hanya sebesar 51.30%. Walaupun adanya peningkatan tetapi siswa yang mengerjakan tugas masih dibawah standar minimal yang telah ditetapkan peneliti.
Selain hasil observasi yang dilakukan guru terhadap aktivitas belajar siswa. Peneliti juga meminta teman sejawatnya untuk mengobservasi penggunaan bahan ajar yang dilakukan oleh siswa. Hasil observasi meliputi kedala yang dihadapi saat mengerjakan bahan ajar, pertanyaan yang muncul dan perilaku siswa terhadap bahan ajar. Kendala terbesar pembelajaran siklus I siswa yaitu kalimat dan cara mengerjakan bahan ajar. Siswa belum mampu beradaptasi dengan pembelajaran menggunakan bahan ajar yang secara umum mengaktifkan kemampuan siswa. Tetapi pada pembelajaran siklus II hasil observasi meningkat cukup baik dari siswa yang bertanya mengenai kalimat, secara umum siswa sudah mampu mengerjakan bahan ajar sendiri tanpa tuntunan dari peneliti.
Setelah pembelajaran berlangsung selama 4 kali pertemuan, peneliti mengadakan tes terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa. Tes ini dilakukan guna mengetahui sejauh mana kemampuan pemecahan masalah siswa setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis konstruktivisme dilakukan. Hasil tes siklus I memiliki rata-rata 68.75. Hal ini meningkat dari nilai ulangan harian materi peluang yang hanya sebesar 61. Peningkatan ini terjadi karena siswa mulai terbiasa menyelesaikan soal pemecahan masalah selama pembelajaran berlangsung.
Kemampuan pemecahan masalah yang diteliti meliputi mengidentifikasi bagian-bagian khusus dan memilih prosedur data yang benar, menganalisis dan memperkirakan dan mengevaluasi dan mempresentasikan fakta kuantitatif dan hubungannya. Indikator pemecahan masalah tersebut masing-masing terwakili dalam tes siklus I. Hasilnya yaitu siswa yang mampu mengidentifikasi bagian-bagian khusus dan memilih prosedur data yang benar sebanyak 84%. Siswa yang mampu mengevaluasi dan memperkirakan hanya sebesar 33%, sedangkan siswa
117
yang mampu mengevaluasi dan mempresentasikan fakta kuantitatif dan hubungannya sebesar 76%.
Dari hasil tes sikus I kemampuan pemecahan masalah matematik secara umum baik, tetapi indikator menganalisis dan memperkirakan memiliki presentase yang paling kecil yaitu 33%. Hal ini disebabkan karena siswa tidak dibiasakan menganalisis dan memperkiraka soal dengan mendalam. Terlihat saat peneliti memberikan latihan soal mengenai menganalisis dan memperkirakan, hampir semua siswa mengalami kesulitan.
Setelah dilakukan analisis hasil penemuan pada siklus I, peneliti melanjutkan penelitian pada siklus II. Pelitian yang dilakukan pada siklus II merujuk hasil dari penelitian siklus I. Perbaikan dilakukan pada siklus II yaitu perbaikan terhadap bahan ajar, perbaikan terhadap cara peneliti menyampaikan pembelajaran. Aktivitas belajar siswa yang diobservasi oleh guru mata pelajaran meningkat, ini terbukti dari hasil perhitungan aktivitas belajar meningkat sebesar 8.4% yaitu dari 64.453% menjadi 72.857%. segala aspek dalam aktivitas belajar siswa meningkat termasuk saat mengerjakan tugas siswa mulai menyukai dan membiasakan diri mengerjakan tugas yang diberikan peneliti.
Selain hasil aktivitas dan observasi, pada siklus II juga dilakukan tes kemampuan pemecahan masalah. Hasil tes tersebut mengalami peningkatan yang baik yaitu sebesar 7.3% dari 68.75 pada siklus I menjadi 75 pada siklus II. Peningkatan terjadi tidak hanya pada rata-rata, tetapi juga setiap indikator pemecahan masalah meningkat. Termasuk menganalisis dan memperkirakan meningkat menjadi 59% dari sebelumnya 33%.
Peneliti melakukan wawancara terhadap pembelajaran berlangsung selama penelitian terhadap siswa. Pada wawancara ini siswa meminta peneliti untuk lebih lama lagi mengajar di kelas tersebut, karena mereka merasa bosan dengan pembelajaran konvensional. Siswa juga merasa bahan ajar yang digunakan sangat membantu siswa memahami materi pembalajaran lebih dalam, dibandingkan dengan buku paket yang biasa mereka gunakan dalam pembelajaran. Sebagian besar dari siswa merespon positif penggunaan bahan ajar dalam pembelajaran dengan alasan mereka menjadi lebih sering belajar dan
kemampuannya terasah dengan baik. Hal ini terlihat dari hasil wawancara siswa yang merespon positif pada siklus I sebanyak 20 siswa dari 30 yang diwawancarai dan meningkat pada sikus II sebanyak 27 siswa dari 30 siswa yang diwawancarai. Mereka juga mengakui pembelajaran yang dilakukan peneliti membuat mereka aktif dan bersemangat dalam belajar.