• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II Kajian Teoritik, Kerangka Konseptual dan Hipotesis Tindakan

A. Kajian Teoritik

2. Pendekatan Konstruktivisme

dengan sedikit petunjuk atau arahan guru.

3. Kemampuan pemecahan masalah yang dimaksud adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematika secara sistematis dan belum diketahui cara menyelesaikannya. Pemecahan masalah ini terfokus pada indikator Klurik dan Reyes yaitu (1) Siswa mampu mengidentifikasi bagian-bagian khusus dan memilih prosedur serta data yang benar, (2) Siswa mampu memperkirakan dan

11

menganalisis, (3) Siswa mampu mengevaluasi dan menginterpretasikan fakta kuantitatif dan hubungannnya.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain:

1. Apakah penggunaan bahan ajar berbasis pendekatan konstruktivisme dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMA pada materi Persamaan Lingkaran?

2. Bagaimana aktivitas belajar siswa dalam penggunaan bahan ajar berbasis pendekatan konstruktivisme pada materi Persamaan Lingkaran?

E. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Menganalisis peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMA pada materi persamaan lingkaran melalui penggunaan bahan ajar berbasis pendekatan konstruktivisme.

2. Menganalisis aktivitas belajar siswa pada materi persamaan lingkaran melalui penggunaan bahan ajar berbasis konstruktivisme.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:

1. Siswa, dengan pendekatan kostruktivisme materi pada pelajaran matematika dan untuk melatih kemampuan pemecahan masalah matematika melalui bahan ajar agar terbiasa menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah.

2. Guru, dapat memperluas wawasan mengenai cara mengembangkan bahan ajar berbasis pendekatan konstruktivisme untuk kemampuan

pemecahan masalah matematika khususnya pada materi ajar Persamaan Lingkaran SMA.

3. Sekolah, menggunakan bahan ajar untuk melatih kemampuan pemecahan masalah matematika serta mengembangkannya pada materi ajar yang lain.

4. Peneliti lain, sebagai referensi untuk mengembangkan bahan ajar untuk melatih kemampuan pemecahan masalah matematika pada materi ajar lain.

13

BAB II

KAJIAN TEORITIK, KERANGKA KONSEPTUAL, DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kajian Teori 1. Bahan Ajar

a. Pengertian Bahan Ajar

Bahan ajar merupakan salah satu penunjang penting dalam proses belajar mengajar, karena siswa mendapat pedoman pembelajaran yang membuat siswa tidak hanya mengandalkan penjelasan guru tetapi, siswa mampu memahami sebuah materi dengan bantuan bahan ajar. Menurut National Centre for Competency Based Training (2007) :

Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Pandangan dari ahli lainnya mengatakan bahwa bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak tertulis, sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.1

Bahan ajar merupakan seperangkat materi/substansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dalam kegiatan pembelajaran pengertian ini dikemukakan dalam website Dikmenjur. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetmensi atau KD secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu.2

Bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka

1

Andi Prastowo, Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif, (Jogjakarta: DIVA Press, 2011), h. 16.

2

Departemen Pendidikan Nasional, Panduan Pengembangan Bahan Ajar , (Jakarta :

Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, 2008), h. 6.

mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi atau subkompetensi dengan segala kompleksitasnya. Bahan ajar juga dapat diartikan sebagai segala bentuk bahan yang disusun secara sistematis yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan dirancang sesuai kurikulum yang berlaku. Dengan adanya bahan ajar, guru akan lebih runtut dalam mengajarkan materi kepada siswa dan tercapai semua kompetensi yang telah ditentukan sebelumnya.3

Jadi, bahan ajar adalah alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, soal-soal dan cara menyelesaikannya, yang disusun secara sistematis sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh kurikulum dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Guru lebih banyak mengandalkan buku paket atau bahan ajar yang disusun oleh guru lain. Guru juga kurang menyadari akan pentingnya menyusun bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan, manfaat bahan ajar dalam penyiapan perangkat pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran. Padahal guru adalah orang yang paling mengerti kebutuhan siswa dan memahami hal apa yang dilakukan agar siswa mampu berkompetisi dengan baik. Guru tidak harus mendesain bahan ajar yang dibutuhkan siswa tetapi guru dapat menggunakan bahan ajar yang mampu membuat siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan.

Macam bahan ajar tidak hanya buku paket yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran, banyak media interaktif lain yang dapat digunakan untuk mempermudah siswa maupun guru mendapatkan materi pembelajaran secara lengkap dan sistematis. Bahan ajar ini dapat juga digunakan siswa untuk lebih mudah memahami materi yang sulit dimengerti dan mudah dipergunakan. Adapun bahan ajar yang dapat digunakan sebagai berikut :

3

Ika lestari, Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi (sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan), (Padang: Akademia, 2013), h. 1.

15

b. Jenis Bahan Ajar

Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu4 :

1. Bahan ajar cetak (printed) : Bahan cetak dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk. Contohnya : handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket.

2. Bahan ajar dengar (audio) : kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio.

3. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) : video compact disk, film. 4. Bahan ajar multimedia interaktif : CAI (Computer Assisted Instruction),

CD (Compact Disk) multimedia pembelajaran interaktif dan bahan berbasis web (web based learning materials).

Bahan ajar dirancang secara khusus untuk siswa agar mereka memahami materi yang telah diajarkan tanpa melulu harus menunggu guru menjelaskan apa yang dimaksud dari bahan ajar tersebut. Bahan ajar harus memiliki tujuan yang jelas dan dapat bermanfaat untuk siswa juga guru.

c. Tujuan dan Manfaat Bahan Ajar Bahan ajar disusun dengan tujuan:5

Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan bahan ajar dirancang secara khusus untuk siswa agar mereka memahami materi yang telah diajarkan tanpa melulu harus menunggu guru menjelaskan apa yang dimaksud dari bahan ajar tersebut. Bahan ajar harus memiliki tujuan yang jelas dan dapat bermanfaat untuk siswa juga guru.

1) Yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa. Bahan ajar yang akan diperoleh haruslah menyesuaikan karakteristik peserta didik, karena pengetahuan yang

4

Departemen Pendidikan Nasional, op. cit., h.11. 5

dimiliki siswa terhadap dunia luar jauh lebih besar akan tetapi keinginan untuk belajar lebih keras kurang, maka bahan ajar yang akan didesain harus mampu membangkitkan keingintahuan siswa terhadap materi ajar tersebut.

2) Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh. Selain buku teks bahan ajar adalah salah satu alternatif yang paling baik, apalagi bahan ajar yang tidak hanya memuat materi yang dibutuhkan tetapi juga bahan ajar tersebut mampu membantu siswa untuk belajar tanpa harus dijelaskan terlebih dahulu oleh guru. Hal ini membuat siswa bisa belajar pada waktu yang dapat disesuaikan dengan segala kegiatan yang dimiliki siswa.

3) Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Bahan ajar tidak hanya bermanfaat untuk peserta didik tetapi juga memudahkan guru menyampaikan materi pembelajaran yang harus dipahami siswa. Pelaksanaan pembelajaran menjadi tidak lagi terpusat pada guru tetapi dengan adanya bantuan bahan ajar yang berkarakter peserta didik dapat memahami materi sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang terdapat pada bahan ajar.

Tersedianya bahan ajar yang bervariasi, maka siswa akan mendapatkan manfaat yaitu :6

1) Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik;

2) Siswa akan lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru; dan 3) Siswa juga akan mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap

kompetensi yang harus dikuasainya.

Bahan ajar yang pada umumnya digunakan harus sesuai dengan standar bahan ajar yang telah ditetapkan. Bahan ajar tersebut harus memberikan kemudahan kepada siswa untuk menggunakannya dan memahami materi yang terdapat pada bahan ajar tersebut.

6

17

d. Karakteristik Bahan Ajar

Sesuai dengan pedoman penulisan modul yang dikeluarkan oleh Direktorat Guruan Menengah Kejuruan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2003, bahan ajar memiliki beberapa karakteristik, yaitu7:

1) Self instructional (Belajar Mandiri) yaitu bahan ajar dapat membuat siswa mampu membelajarkan diri sendiri dengan bahan ajar yang dikembangkan. Untuk memenuhi karakter self instructional, maka di dalam bahan ajar harus terdapat tujuan yang dirumuskan dengan jelas, baik tujuan akhir maupun tujuan antara. Selain itu, dengan bahan ajar akan memudahkan peserta didik belajar secara tuntas dengan memberikan materi pembelajaran yang dikemas ke dalam unit-unit atau kegiatan yang lebih spesifik.

2) Self contained (berisi berbagai materi) yaitu seluruh materi peajaran dari satu unit kompetensi atau sub kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu bahan ajar secara utuh.

3) Stand alone (berdiri sendiri) yaitu bahan ajar yang dikembangkan tidak tergantung pada bahan ajar lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar lain.

4) Adaptive (mampu menyesuaikan)yaitu bahan ajar hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. 5) User friendly (mudah dipahami) yaitu setiap instruksi dan paparan

informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon dan mengakses sesuai keinginan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan bahan ajar yang mampu membuat siswa untuk belajar mandiri dan memperoleh ketuntasan dalam proses pembelajaran sebagai berikut.

7

Ika lestari, Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi (Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), (Padang: Akademia, 2013), h. 2-3.

1) Memberikan contoh-contoh dan ilustrasi yang menarik dalam rangka mendukung pemaparan materi pembelajaran.

2) Memberikan kemungkinan bagi siswa untuk memberikan umpan balik atau mengukur penguasaannya terhadap materi yang diberikan dengan memberikan soal-soal latihan, tugas, dan sejenisnya.

3) Kontekstual, yaitu materi yang disajikan terkait dengan suasana atau konteks tugas dan lingkungan siswa.

4) Bahasa yang digunakan cukup sederhana karena siswa hanya berhadapan dengan bahan ajar ketika belajar secara mandiri.

Karakteristik yang terdapat pada bahan ajar terpenuhi dengan baik maka bahan ajar tersebut cukup mampu menjadi bahan ajar yang dimanfaatkan oleh siswa dan guru dalam pembelajaran.

e. Unsur-unsur Bahan Ajar

Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum merupakan tujuan bahan ajar, oleh sebab itu bahan ajar tersebut harus memiliki unsur-unsur tertentu, yang mampu membuat bahan ajar tersebut menjadi bermanfaat.

Berikut unsur-unsur bahan ajar 8: 1) Petunjuk Belajar

Komponen pertama ini meliputi petunjuk bagi pendidik maupun siswa. 2) Kompetensi yang akan dicapai

Maksud komponen kedua ini adalah kompetensi yang akan dicapai oleh siswa.

3) Informasi pendukung

Informasi pendukung merupakan berbagai informasi tambahan yang dapat melengkapi bahan ajar, sehingga siswa akan semakin mudah untuk menguasai pengetahuan yang akan mereka peroleh.

8

Andi Prastowo, Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif, (Jogjakarta: DIVA Press, 2011), h. 28.

19

4) Latihan-latihan

Komponen keempat ini merupakan suatu bentuk tugas yang diberikan kepada siswa untuk melatih kemampuan mereka setelah mempelajari bahan ajar.

5) Petunjuk kerja atau lembar kerja

Petunjuk kerja atau lembar kerja adalah satu lembar atau beberapa kertas yang berisi sejumlah langkah prosedural cara pelaksanaan aktivitas atau kegiatan tertentu yang harus dilakukan siswa berkaitan dengan praktik dan lain sebagainnya.

6) Evaluasi

Komponen terakhir ini merupakan salah satu bagian dari proses penilaian.

Karakter dan unsur-unsur ajar telah terpenuhi maka dalam bahan ajar perlu adanya tujuan yang lebih spesifikasi seperti bahan ajar yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah siswa berbasis pendekatan konstruktivis. Agar siswa terbiasa menyelesaikan masalah dengan sistematis dan menggunakan kreatifitas mereka masing-masing.

2. Pendekatan Konstruktivisme

Siswa merupakan individu yang aktif yang dapat membangun pengetahuan sendiri dengan potensi yang ada dalam dirinya, melalui pengalaman yang diperolehnya sebelumnya.9 Hal ini menegaskan bahwa siswa mampu melaksanakan pembelajaran tanpa bantuan guru dengan menggunakan tuntunan dari bahan ajar. Bahan ajar yang dibutuhkan siswa merupakan bahan ajar yang mampu membelajarkan diri siswa diluar pembelajaran yang dilakukan dengan guru di dalam kelas. Siswa dituntut untuk melakukan pembelajaran tanpa bimbingan guru atau dengan sedikit petunjuk guru, karena pada dasarnya pembelajaran yang baik adalah saat siswa dapat melakukan pembelajaran sendiri.

9 Deti Rostika, “Pembelajaran Volume Bangun Ruang Melalui Pendekatan Konstruktivisme Untuk Siswa Sekolah Dasar”, Jurnal Pendidikan Dasar, No. 9, 2008. h. 2.

Siswa pada dasarnya mencari alat untuk membantu memahami pengalamannya, pengetahuan dibentuk pada diri manusia berdasarkan pengalaman nyata yang dialaminya dan hasil interaksinya dengan lingkungan sosial disekelilingnya. Novak dan Gowin (1985) menyatakan bahwa “salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi belajar anak adalah apa yang telah diketahui dan dialaminya”.10 Hal yang telah diketahui dan dialami siswa dalam pembelajaran merupakan pengalaman belajar. Pengalaman belajar dapat digunakan sebagai langkah awal dalam menemukan pengetahuan baru dengan menghubungkan materi yang sedang dipelajari dengan materi yang telah diketahui.

Saat membangun pengalamannya siswa berarti telah mengkonstruksi hasil pemikirannya sendiri. konstruktivis berarti bersifat mambangun. Dalam konteks filsafat pendidikan, konstruktivisme merupakan suatu aliran yang berupaya membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern.11Construktivism (konstruktivisme) merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong”.12

Pendekatan konstruktivis berarti pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan. Dalam pendekatan konstruktivisme ini peran guru hanya sebagai pembimbing bukan sumber belajar atau sumber informasi dan fasilitator. Akan tetapi yang memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri adalah alat-alat pembelajaran yang

10 Nizarwati, Yusuf Hartono, Nyimas Aisyah, “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Konstruktivisme untuk Mengajarkan Konsep Perbandingan Trigonometri Siswa Kelas X SMA”, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 3 No. 2, 2009, h. 58.

11

Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran (Sebagai Referensi Bagi Pendidik

dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas), (Jakarta : Kencana. 2009), h.143.

12

Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta : Prestasi Pustaka, 2007), h.108.

21

dapat membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran. Alat-alat pembelajaran dijadikan sebagai sumber belajar dan guru hanya sebagai fasilitator bukan sumber belajar siswa. Dengan hal ini siswa menjadi lebih mudah memahami materi sendiri, dan lebih dapat mengingat yang telah diketahui dari materi tersebut.

Sedangkan sumber belajar yang lain bisa teman sebaya, perpustakaan, alam, laboratorium, televisi, koran dan internet atau bahan ajar lainnya yang mampu menunjang proses belajar siswa dapat juga digunakan sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Oleh karena itu, guru seharusnya lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru sehingga siswa dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, membandingkan, bekerja sama, dan melakukan eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya. Guru harus senantiasa menggunakan teknik pembelajaran yang mengaktifkan siswa dalam pembelajaran.

Beberapa alasan digunakannya pembelajaran berpandangan konstruktivisme diantaranya adalah sebagai berikut:13

1) Adanya pandangan bahwa belajar adalah suatu proses aktif, dinamik, dan generatif.

2) Berbasis pandangan ini diharapkan siswa tidak menghapal pengetahuan baru, tetapi menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnnya sehingga membentuk pengetahuan baru yang bermakna. 3) Pembelajaran menjadi lebih hidup, siswa lebih aktif berpartisipasi dalam

belajar.

13Utari Sumarmo, “Pembelajaran Matematika untuk Mendukung Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi”, Kumpulan Makalah “Berpikir dan Disposisi Matematika serta Pembelajarannya”, 2004, h. 44.

Selain alasan digunakannya pendekatan pembelajaran konstruktivisme terdapat pula karakteristik dan prinsip tersendiri. Convrey yang banyak berbicara dalam konstruktivisme mengidentifikasi 10 karakteristik powerful constructions berpikir siswa, yang ditandai oleh:14

1. Sebuah struktur dengan kekonsistenan internal; 2. Suatu keterpaduan antar bermacam-macam konsep; 3. Suatu kekonvergenan di antara aneka bentuk dan konteks; 4. Kemampuan untuk merefleksi dan menjelaskan;

5. Sebuah kesinambungan sejarah;

6. Terikat kepada bermacam-macam sistem simbol; 7. Suatu yang cocok dengan pendapat expert atau ahli;

8. Suatu yang potensial untuk bertindak sebagai alat untuk konstruksi lebih lanjut;

9. Sebagai petunjuk untuk tindakan berikutnya; dan

10.Suatu kemampuan untuk menjustifikasi dan mempertahankan.

Berdasarkan karakteristik di atas bahwa siswa akan mampu menghubungkan konsepsi awal, mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan dari materi sebelumnya yang merupakan konsep prasyarat, mengungkapkan dugaan sementara terhadap konsep yang akan dipelajari. Kemudian siswa menggali, menyelidiki dan menemukan sendiri konsep. Pengembangan dan aplikasi materi. Semua hal tersebut harus tercermin secara jelas dalam bahan ajar, agar bahan ajar yang digunakan mempermudah siswa memahami, mengkonsep dan mengembangkan potensi dirinya.

Konstruktivis mengembangkan pemikiran siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan

14 Deti Rostika, “Pembelajaran Volume Bangun Ruang Melalui Pendekatan Konstruktivisme Untuk Siswa Sekolah Dasar”, Jurnal Pendidikan Dasar, No. 9, 2008. h. 3.

23

mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Adapun lima elemen belajar yang konstruktivistik, yaitu :15

1) Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge). 2) Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge).

3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge).

4) Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman (applying knowledge). 5) Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan

tersebut (reflecting knowledge).

Dokumen terkait