SELATAN JAWA, INDONESIA
8 PEMBAHASAN UMUM
Undur-undur laut merupakan hewan bentik yang banyak tersebar di pantai- pantai berpasir wilayah Indonesia, baik pasir putih maupun pasir hitam. Pemanfaatannya pun untuk dikonsumsi sudah lama dilakukan oleh masyarakat di beberapa wilayah pesisir Indonesia, di antaranya pesisir Cilacap, Kebumen, Padang Bai Bali, dan Gili Trawangan Lombok. Hanya saja, seiring dengan perkembangan aktivitas ekonomi, terutama wisata pantai atau bahari, masyarakat di beberapa wilayah pesisir, seperti Padang Bai Bali dan Gili Trawangan Lombok, sudah tidak lagi menangkap undur-undur laut, baik untuk dikonsumsi maupun untuk kebutuhan lainnya. Mereka lebih memilih berkonsentrasi dengan pengembangan kegiatan wisata pantai atau bahari. Namun bagi masyarakat di beberapa wilayah pesisir lainnya, terutama wilayah pesisir selatan Jawa Tengah, undur-undur laut tersebut masih mempunyai peran cukup penting, terutama secara ekonomi.
Walaupun secara ekonomi nilai undur-undur laut atau masyarakat pesisir
selatan Jawa Tengah menyebutnya “yutuk” masih fluktuatif, tekadang tinggi dan terkadang rendah, tergantung permintaan, namun paling tidak undur-undur laut dapat memberikan manfaat bagi lima kelompok masyarakat yang terdapat di wilayah pesisir selatan Jawa Tengah, yaitu kelompok penangkap (nelayan), pengumpul, pengolah, pedagang, dan konsumer atau yang mengkonsumsi undur- undur laut (Bhagawati 2016). Kenyataan ini mengharuskan stakeholders, terutama pemerintah daerah, akademisi/peneliti, dan nelayan, mulai memikirkan bagaimana cara mengelola sumber daya undur-undur laut agar populasinya di alam tetap lestari sehingga masyarakat pun masih bisa memanfaatkannya secara berkelanjutan. Sebagai bagian komponen akademisi/peneliti, hal penting yang dapat dilakukan adalah menggali informasi kondisi biologi populasi undur-undur laut, meliputi jumlah jenis, kelimpahan, reproduksi, pertumbuhan, lifespan, tingkat eksploitasi, dan potensi biomassa undur-undur laut. Informasi-informasi tersebut cukup penting sebagai salah satu dasar untuk merumuskan kebijakan pengelolaan sumber daya undur-undur laut secara lestari berkelanjutan.
Kajian biologi populasi undur-undur laut tersebut makin penting dilakukan di pesisir selatan Jawa Tengah tersebut karena hingga saat ini belum ada informasi biologi populasi secara lengkap undur-undur laut di wilayah tropis, termasuk di wilayah Indonesia. Informasi ilmiah tentang biologi populasi undur-undur laut baru ada untuk undur-undur laut di wilayah sub-tropis atau temperate, dan itu juga tidak banyak dan tidak semua aspek biologi populasi. Dengan demikian, penelitian biologi populasi undur-undur laut di pesisir selatan Jawa Tengah, dapat menjadi awal dan pelopor untuk penelitian biologi populasi secara lengkap undur-undur laut di wilayah tropis, khususnya wilayah Indonesia. Sebagai gambaran mengenai perkembangan penelitian undur-undur laut di Indonesia dan dunia, termasuk aspek biologi populasi, disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12. Perkembangan penelitian undur-undur laut di Indonesia dan dunia
No Topik Penelitian Lokasi Referensi
A Indonesia
1 Kandungan asam lemak omega 6 pada ketam pasir (Emerita spp.)
Pantai selatan Yogyakarta
Mursyidin (2007)
2 Pengujian undur-undur laut Emerita analoga sebagai bahan penurun kolesterol pada mencit Mus musculus
Kardaya et al. (2011)
3 Pengaruh Asupan Makanan Undur- Undur Laut Terhadap Kandungan Omega 3 Pada Telur Itik
Pantai Glagah, Kulon Progo
Hartono et al. (2011)
4 Aspek pertumbuhan undur-undur laut, Emerita emeritus
Pantai Kebumen Mashar &
Wardiatno (2013) 5 Aspek pertumbuhan undur-undur laut,
Hippa adactyla
Pantai Kebumen Mashar &
Wardiatno (2013) 6 Kelimpahan undur-undur laut dan
distribusi sedimen
Pantai Gagak Purworejo
Darusman et al. (2014)
7 Diversitas dan kelimpahan kepiting pasir
Pantai Cilacap dan Kebumen
Mashar et al. (2014) 8 Karkateristik habitat undur-undur laut
(Famili Hippidae)
Pantai Cilacap Wardiatno et al. (2014)
9 First record of Hippa adactyla (Fabricius, 1787)
Pantai Cilacap dan Kebumen
Ardika et al. (2015) 10 First record of Albunea symmysta
(Crustacea: Decapoda: Albuneidae)
Pantai Kebumen dan Bengkulu
Mashar et al. (2015) 11 Rasio panjang-lebar karapas,
pertumbuhan relatif, faktor kondisi, dan faktor kondisi relatif undur-undur laut Hippa adactyla
Pantai Cilacap dan Kebumen
Muzammil et al. (2015)
12 Biodiversitas undur-undur laut Indonesia dan kajian hubungan filogenik undur-undur laut
- Wardiatno et al.
(2015)
13 Biologi reproduksi undur-undur laut Emerita emeritus betina bertelur
Pantai Bengkulu Edritanti et al. (2016)
Dunia
1 Variasi musiman undur-undur laut Emerita analoga
Kawasan Santa Barbara, California
Barnes & Wenner (1967)
2 Mekanisme mengubur undur-undur laut Emerita
Kingston Harbour, Jamaica
No Topik Penelitian Lokasi Referensi 3 Komposisi spesies dan distribusi
kelimpahan undur-undur laut Emerita emeritus
Pantai Mai Kao dan Suan Maprao, Thailand
Boonruang & Phasuk (1975)
4 Pengaruh suhu terhadap metabolism pernafasan undur-undur laut Emerita brasiliensis
Pantai Guaeci, Sao Paulo, Brazil
Moreira et al. (1981)
5 Biologi populasi undur-undur laut Kepulauan California
Wenner et al. (1988) 6 Pertumbuhan spesifik dan
kelangsungan hidup undur-undur laut Emerita portoricensis
Teluk Ma-yagiiez dan Aiiasco, Puerto Rico
Sastre (1991)
7 Divergensi dan zoogeografi undur- undur laut Emerita spp.
San Diego, California, Massachusetts, South Carolina, dan Florida, USA s
Tam et al. (1996)
8 Variasi lokal populasi undur-undur laut Emerita analoga
Pantai selatan California
Dugan & Hubbard (1996) 9 Tingkat kandungan merkuri pada
undur-undur laut Hippa cubensis, Emerita brasiliensis, E. portoricensis, dan Lepidopa richmondi
Golfo Triste, Venezuela
Pérez (1999)
10 Biologi populasi undur-undur laut Emerita brasiliensis
Pantai Fora, Brazil Veloso & Cardoso (1999) 11 Pengujian eksistensi populasi undur-
undur laut Emerita brasiliensis pada swash zone
Pantai Arachania dan Barra del Chuy, Uruguay
Defeo et al. (2001)
12 Tingkah laku mengubur undur-undur laut, sebelum dan setelah peristiwa aliran limbah penduduk ke pantai
Pantai Bombinhas, Santa Catarina, Brazil
Boere et al. (2001)
13 Makroekologi dinamika populasi dan daur hidup undur-undur laut Emerita brasiliensis
Pantai berpasir Atlantik, Amerika Selatan
Defeo & Cardoso (2002)
14 Filogenetik undur-undur laut Emerita - Haye et al. (2002) 15 Pengasingan atau sequestration
hormon ecdysteroid pada ovari undur- undur laut Emerita asiatica
Pantai Elliots, Chennai, India
Gunamalai et al. (2003)
16 Dinamika populasi dan produksi sekunder undur-undur laut Emerita brasiliensis Pantai Prainha, Rio de Janeiro, Brazil Petracco et al. (2003)
No Topik Penelitian Lokasi Referensi
17 Pola latitudinal kelimpahan dan daur hidup undur-undur laut Emerita brasiliensis
Pantai berpasir pesisir selatan Amerika Selatan
Defeo & Cardoso (2004)
18 Pola pasang surut pada aktivitas undur-undur laut Emerita talpoida
Pantai Atlantik, Carolina Utara
Forward Jr. et al. (2005)
19 Pola pelepasan larva undur-undur laut Emerita talpoida
Pantai Atlantik, Carolina Utara
Ziegler & Forward (2005) 20 Harshness habitat dan morfodinamik:
daur hidup undur-undur laut Emerita brasiliensis
Pantai berpasir Uruguayan,
Uruguay
Cardoso & Defeo (2006)
21 Variasi spasial rekrutmen undur-undur laut Emerita analoga
Pesisir California Diehl et al.
(2006) 22 Perkembangan larva secara lengkap
undur-undur laut Emerita holthuisi yang dipijahkan di laboratorium
Karachi, Pakistan Siddiqi & Ghory (2006)
23 Plastisitas reproduksi undur-undur laut Emerita brasiliensis
Pantai Arachania dan Barra del Chuy, Uruguay
Delgado & Defeo (2008)
24 Macroalgal fouling pada undur-undur laut Emerita analoga memfasilitasi pemangsaan burung
Teluk Anco´n, Peru
Hidalgo et al. (2010)
25 Filogeografi undur-undur laut Emerita analoga (Crustacea, Decapoda,
Hippidae) Pantai Samudera Pasifik bagian timur Dawson et al. (2011)
26 Produksi makrofauna: review Emerita brasiliensis
Brazil Petracco et al. (2012) 27 Novel foraging undur-undur laut
Emerita analoga
California Lafferty et al. (2013) 28 Densitas populasi undur-undur laut
Emerita asiatica dalam hubungannya dengan kandungan karbonat dan bikarbonat
Pantai Kovalam, Tamil Nadu, India
Seethalakshmi et al. (2014)
29 Undur-undur laut sebagai spesies indikator dan organisme model untuk kajian pengaruh buangan air panas dari pembangkit listrik tenaga atom terhadap zona intertidal
Pesisir Madras, India
Subramoniam (2014)
30 Spesies baru genus Emerita dari Taiwan
Pesisir timur laut dan barat daya Taiwan
No Topik Penelitian Lokasi Referensi 31 Kelimpahan, pertumbuhan relatif, dan
fekunditas Emerita rathbunae
Teluk Mazatlán, Tenggara Gulf of California, Mexico
Ríos-Elósegui & Hendrickx (2015)
32 Identifikasi molekuler “Gum Gum”: makanan undur-undur laut Hippa adactyla dari Papua Nugini
Teluk Blanche, Papua Nugini
Urata et al. (2015)
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa penelitian undur-undur laut di dunia, terutama di wilayah subtropis sudah lama dilakukan, khususnya di sepanjang pesisir laut Atlantik dan Pasifik, dari wilayah Amerika Utara sampai Amerika Selatan Namun, dari sekian banyak topik penelitian tentang undur-undur laut, kajian tentang biologi populasi undur-undur laut di dunia juga belum banyak dilakukan, tercatat hanya ada tiga penelitian terkait biologi populasi, yaitu Wenner et al. (1988), Dugan and Hubbard (1996), dan Veloso and Cardoso (1999). Penelitian undur-undur laut di wilayah tropis tercatat sudah dilakukan di Thailand pada tahun 1975 (Boonruang & Phasuk 1975), tapi hanya mengkaji komposisi dan distiribusi kelimpahan, belum mengkaji biologi populasi. Adapun di Indonesia, penelitian tentang undur-undur laut, secara ilmiah tercatat baru mulai dilakukan sekitar tahun 2007 (Mursyidin 2007). Penelitian undur-undur laut dari tahun 2007 hinga 2011 baru mengkaji aspek kandungan gizi undur-undur laut. Penelitian undur-undur laut di Indonesia mulai banyak dilakukan sejak tahun 2012 hingga sekarang dengan banyak aspek kajian, diantaranya aspek kandungan gizi secara lengkap, karakteristik habitat, aspek pertumbuhan, reproduksi, genetik, dan etnobiologi. Namun, penelitian tentang aspek biologi populasi undur-undur laut secara lengkap belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian aspek biologi populasi secara lengkap undur-undur laut di pantai Cilacap dan Kebumen menjadi sangat penting.
Secara biologi, baik morfologi maupun molekuler, terdapat tiga jenis undur- undur laut yang ditemukan di lokasi penelitian, baik di pantai Bunton Cilacap dan pantai Bocor Kebumen, yaitu dua jenis dari famili Hippidae (Emerita emeritus atau
“yutuk jambe” dan Hippa adactyla atau “yutuk batok”) dan satu jenis dari famili Albuneidae (Albunea symmysta atau “yutuk kethek”). Berdasarkan eksistensinya, ketiga jenis undur-undur laut tersebut dapat dijumpai sepanjang tahun di lokasi penelitian, dengan populasi dan kelimpahan bervariasi atau fluktuatif, dan tertinggi dijumpai pada E. emeritus. Dengan kata lain, E. emeritus adalah undur-undur laut yang paling mudah, paling sering, dan paling banyak tertangkap oleh nelayan undur-undur laut. Kondisi ini menunjukkan bahwa pantai Cilacap dan Kebumen merupakan habitat penting bagi undur-undur laut jenis E. emeritus, selain pantai barat Sumatera (Gambar 30).
Gambar 30. Distribusi undur-undur laut famili Hippidae di Indonesia (Sumber: Wardiatno et al. 2015)
Berdasarkan Gambar 30 terlihat bahwa khusus di wilayah Indonesia, undur- undur laut Emerita emeritus hanya dijumpai di pesisir barat Sumatera dan pesisir selatan Jawa Tengah (lokasi penelitian). Di wilayah pesisir lainnya tempat ditemukannya undur-undur laut famili Hippidae, belum ada informasi tentang keberadaan E. emeritus selain di kedua wilayah pesisir tersebut. Selain di Indonesia, undur-undur laut genus Emerita diketahui banyak dijumpai di wilayah pesisir India, yang juga merupakan bagian dari Samudera Hindia (Haye et al. 2002; Seethalakshmi et al. 2014). Adapun Hippa adactyla masih bisa dijumpai di wilayah lain, seperti pesisir selatan Bali, Gili Trawangan, dan pesisir Sulawesi Tengah (Wardiatno et al. 2015). Dengan demikian, sebaran undur-undur laut E. emeritus di pesisir Indonesia relatif lebih terbatas dibanding H. adactyla, sehingga menuntut perhatian lebih terhadap kelestariannya di alam, terutama di lokasi penelitian yang dijumpai E. emeritus dalam jumlah yang cukup besaar. Hal tersebut dikarenakan, jika di lokasi penelitian terjadi tekanan terhadap lingkungan, habitat, dan keberadaan undur-undur laut, maka E. emeritus adalah undur-undur laut yang mempunyai peluang paling terdampak oleh kondisi tersebut dan lebih lanjut bisa mengancam kelestarian E. emeritus di pesisir Indonesia. Oleh karena itu, beberapa topik pada penelitian ini lebih fokus pada undur-undur laut E. emeritus.
Secara ekologi, habitat undur-undur laut famili Hippidae berbeda dengan famili Albeneidae. Undur-undur laut famili Hippidae cenderung berada di daerah intertidal dan famili Albeneidae cenderung berada di daerah subtidal. Karakteristik alami inilah yang menyebabkan populasi dan kelimpahan undur-undur famili Hippidae yang didapatkan di lokasi penelitian, yang merupakan daerah intertidal, jauh lebih tinggi dari famili Albuneidae. Keberadaan undur-undur laut Albunea symmysta di lokasi penelitian diduga bukan hanya karena untuk mencari makanan, namun dapat menunjukkan bahwa ruang hidup A. symmysta cukup luas mulai dari intertidal hingga subtidal, karena intensitas ditemukannya A. symmysta di lokasi
penelitian cukup sering, walaupun dalam jumlah yang sedikit. Kondisi ini dapat terjadi karena daerah intertidal atau jarak antara pasang tertinggi dan surut terendah, di pantai selatan Jawa Tengah relatif pendek, yang dipengaruhi oleh karakteristik dan topografi pantainya. Dengan daerah intertidal yang pendek, maka biota-biota yang menghuni daerah subtidal, baik yang dewasa non sessil maupun yang masih bersifat planktonik, berpeluang pergerakannya dapat mencapai daerah intertidal, di antaranya untuk mencari makanan dan mencari tempat hidup yang lebih baik, seperti undur-undur laut Albunea symmysta.
Berkaitan dengan pergerakan undur-undur laut secara vertikal antar zona pantai dan konektivitas undur-undur laut secara horisontal antar lokasi penelitian, maka salah satu faktor penting yang mempengaruhinya adalah stadia hidup undur- undur laut pada fase larva. Pada saat stadia larva, undur-undur laut bersifat planktonik atau sebagai meroplankton, sehingga masih bisa bebas bergerak dan berpindah-pindah dari satu perairan ke perairan lainnya. Pergerakan atau mobilitas dan perpindahan undur-undur laut pada stadia larva dapat terjadi secara vertikal dari zona subtidal ke zona intertidal atau sebaliknya. Demikian juga, larva undur-undur laut dapat bergerak dan berpindah secara horisontal dari satu lokasi ke lokasi sekitarnya yang terdekat, misalkan dari pantai Cilacap ke pantai Kebumen atau sebaliknya. Adanya pergerakan larva undur-undur laut tersebut, baik secara vertikal maupun horisontal, secara intensif dalam suatu waktu dapat membangun konektivitas undur-undur laut antar populasi atau wilayah. Dengan demikian, fase meroplankton undur-undur laut mempunyai peran penting dalam menentukan pola konektivitas undur-undur laut antar populasi, apalagi fase meroplankton undur- undur laut dapat berlangsung cukup lama, yaitu sekitar empat bulan.
Salah satu faktor penting yang mempengaruhi pergerakan undur-undur laut sehingga terbangun konektivitas antar populasi undur-undur laut adalah pola arus. Pola arus akan mempengaruhi sebaran undur-undur laut pada stadia larva, baik secara spasial maupun temporal. Pola arus akan menentukan kemana saja larva undur-undur laut akan tersebar, seberapa jauh sebarannya, dan berapa lama waktu yang ditempuh untuk mencapai lokasi tertentu. Pada kasus kemungkinan bercampurnya populasi undur-undur laut famili Hippidae pantai Cilacap dan Kebumen dapat dijelaskan pula dari pola arus laut di perairan laut Pulau Jawa yang secara ringkas disajikan pada Gambar 31.
Gambar 31. Pola arus perairan Pulau Jawa bulan Agustus 2014 (Sumber: Muzammil 2015)
Berdasarkan Gambar 31 terlihat bahwa adanya percampuran antara perairan laut Kabupaten Cilacap dan Kebumen. Pada bulan Agustus, yang merupakan puncak musim timur (angin muson tenggara), secara umum terlihat arah arus di Samudera Hindia bergerak dari arah timur ke barat dengan kecepatan relatif seragam. Ketika arus laut memasuki perairan pesisir selatan Kabupaten Kebumen dan Cilacap, terlihat terjadi perputaran arus laut di kedua perairan pesisir tersebut (lingkaran putus-putus warna merah). Perputaran arus di kedua perairan pesisir tersebut mengakibatkan terjadinya percampuran perairan laut di pesisir Kabupaten Cilacap dan Kebumen. Pada kondisi ini, berpotensi pula terjadi percampuran biota- biota perairan dari kedua wilayah perairan tersebut, termasuk percampuran larva- larva biota perairan yang masih bersifat planktonik atau meroplankton.
Informasi pola arus tersebut mendukung hasil analisis filogeni antara populasi undur-undur laut famili Hippidae Kabupaten Cilacap dan Kebumen yang menduga terdapat peluang adanya percampuran antara populasi undur-undur laut famili Hippidae Kabupaten Cilacap dengan Kebumen. Adanya proses percampuran antara perairan Kabupaten Cilacap dan Kebumen, berpeluang juga untuk terjadinya percampuran antara biota-biota perairan yang menghuni kedua perairan, terutama pada biota-biota perairan yang bersifat planktonik, seperti undur-undur laut stadia larva. Larva undur-undur laut yang berasal dari perairan Kabupaten Cilacap dapat bergerak, berpindah, dan menetap di perairan Kabupaten Kebumen, begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, ketika fase dewasa, berpeluang juga undur-undur laut dari perairan Cilacap ditemukan di perairan Kebumen, begitu juga sebaliknya. Berkaitan dengan kondisi parameter biologi populasi undur-undur laut famili Hippidae di kedua lokasi penelitian, secara umum menunjukkan bahwa populasi undur-undur laut di pantai Bunton, Cilacap, dalam kondisi yang lebih baik dari kondisi populasi undur-undur laut di pantai Bocor, Kebumen. Nilai beberapa parameter biologi populasi, di antaranya potensi produksi telur, parameter pertumbuhan, dan potensi produktivitas sekunder undur-undur laut famili Hippidae di pantai Cilacap lebih tinggi dari di pantai Kebumen. Kondisi ini dapat terjadi karena adanya tekanan terhadap habitat dan populasi undur-undur laut yang lebih tinggi di pantai Kebumen daripada di pantai Cilacap.
Tekanan terhadap habitat undur-undur laut di pantai Bocor Kebumen terjadi karena adanya aktivitas wisata bahari atau wisata pantai yang cukup intensif di pantai Bocor Kebumen, apalagi pada saat hari libur, sedangkan di pantai Bunton, Cilacap, tidak ada aktivitas wisata pantai. Kemudian tekanan terhadap populasi undur-undur laut terjadai karena aktivitas penangkapan undur-undur laut di pantai Bocor Kebumen lebih tinggi dan lebih intensif dibanding di pantai Bunton Cilacap. Pantai Bunton Cilacap saat ini hanya dijadikan area tangkapan undur-undur laut cadangan ketika permintaan undur-undur laut tinggi dan masih kurang dari hasil tangkapan di pantai-pantai Cilacap lainnya dan di pantai Kebumen.
Berdasarkan hasil studi dan penjelasan di atas, maka upaya pengelolaan dalam pemanfaatan undur-undur laut harus mulai dilakukan agar sumber daya undur-undur laut tetap lestari dan berkelanjutan, termasuk di pantai Bunton Cilacap. Walaupun aktivitas penangkapan undur-undur laut di pantai Bunton Cilacap masih rendah, namun dengan semakin dikenalnya undur-undur laut di wilayah pesisir selatan Jawa Tengah, baik untuk dikonsumsi maupun untuk kebutuhan yang lain,
maka jumlah nelayan dan intensitas penangkapan undur-undur laut akan semakin tinggi, dan tidak menutup kemungkinan akan menjadikan pantai Bunton Cilacap sebagai daerah penangkapan undur-undur laut yang baru secara rutin. Selain itu, berdasarkan pengamatan selama penelitian, ada satu kondisi yang cukup mengkhawatirkan bagi populasi undur-undur laut di pantai Bunton, Cilacap, yaitu aktivitas penambangan pasir besi. Pantai Bunton, Cilacap, merupakan salah satu wilayah penambangan pasir besi di Kabupaten Cilacap. Walaupun aktivitas penambangan pasir besi tersebut berada di daerah supratidal, namun tidak menutup kemungkinan aktivitas penambangan pasir besi tersebut akan beralih ke daerah intertidal yang merupakan habitat undur-undur laut apabila cadangan pasir besi di daerah supratidal menipis. Fakta inilah yang menjadi pertimbangan dalam pengelolaan undur-undur laut di wilayah tersebut.
Apalagi berdasarkan hasil analisis genetik menunjukkan bahwa undur- undur laut famili Hippidae yang berasal dari pantai Cilacap dan Kebumen memiliki susunan basa nukleotida yang sama. Kondisi ini menunjukkan tidak ada keragaman nukleotida antaran undur-undur laut famili Hippidae dari pantai Cilacap dan Kebumen, dan ini merupakan bagian dari salah satu isu utama dalam konservasi genetik, yaitu hilangnya keragaman genetik dari suatu biota. Konsekuensinya adalah kerentanan yang tinggi dari biota perairan dalam menghadapi perubahan atau tekanan lingkungan, terutama oleh aktivitas manusia, sehingga dapat mengancam keberlangsungan hidup suatu biota perairan.
Adanya seleksi alam sangat mungkin terjadi, sehingga boleh jadi sekuen nukleotida undur-undur laut famili Hippidae di kedua lokasi studi merupakan sekuen nukleotida yang telah terseleksi alam dengan baik dan yang mampu bertahan serta mampu merespon perubahan lingkungan yang terjadi dengan baik. Meskipun demikian, pada masa yang akan datang hal ini dapat menimbulkan kerentanan kepunahan jika sekuen nukleotida tersebut tidak dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di masa yang akan datang.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian, dalam rangka mendukung kelestarian sumber daya undur-undur laut, beberapa alternatif saran pengelolaan undur-undur laut secara berkelanjutan yang dapat menjadi pertimbangan adalah sebagai berikut: 1) menjaga habitat undur-undur laut agar tidak menambah tekanan terhadap habitat undur-undur laut. Beberapa hal yang dapat disarankan dalam menjaga habitat undur-undur laut, yaitu:
a. pada habitat undur-undur laut yang sudah menjadi daerah wisata pantai seperti pantai Bocor, Kebumen, perlu dibuat aturan, implementasi, dan monitoring, untuk tidak membuang sampah yang dapat mencemari perairan pantai, baik sampah padat maupun sampah cair, dan dengan konsekuensi menyediakan tempat-tempat untuk pembuangan sampah bagi para pengunjung pantai,
b. pada daerah penangkapan undur-undur laut yang berbatasan dengan daerah wisata pantai seperti di pantai Bocor, Kebumen, perlu batas wilayah yang jelas secara horisontal (sejajar garis pantai) untuk aktivitas wisata pantai