BAB II TOYOTOMI HIDEYOSHI PADA ZAMAN
2.4 Pembalas Dendaman Toyotomi Hideyoshi Atas Kematian
Pembunuh Oda Nobunaga adalah Akechi Mitshuhide tahun 1582 yang merupakan bawahan Oda Nobunaga sendiri. Adapun alasan Akechi Mitshudide membunuh Oda Nobunaga adalah tentu untuk merebut kekuasaan Oda Nobunaga. Pada tahun 1570, Oda Nobunaga sudah mendapat gelar wakil shogun dan menetapkan Kyoto, sebagai ibukota Jepang, sebagai basisnya. (Masao Kitami, 2005:77). Dengan luas wilayah kekuasaan Oda Nobunaga tersebut maka Akechi Mitshuhide tergiur untuk membunuh Oda Nobunaga. Peristiwa pembunuhan itu dinamakan kuil Honnoji karena Oda Nobunaga dibunuh di kuil tersebut (Masao Kitami, 2005:209).
Dalam ilmu pengetahuan sejarah hal tentang untuk mendapatkan suatu pangkat yang lebih tinggi, akan pasti terlintas bagaimana usaha yang cepat untuk mendapatkannya. Termasuk salah-satunya adalah dengan bentuk kejahatan-kejahatan maupun ada juga bentuk-bentuk kecurangan lainnya. Intinya adalah hal itu dikatakan wajar dan tidak ada terlintas untuk menyatakan diri menjadi malu
atas perbuatan tersebut. Penulis akan menjelaskan bagaimana bentuk tindakan membalas dendam Toyotomi Hideyoshi karena Oda Nobunaga dibunuh oleh bawahannya sendiri.
Cara Toyotomi Hideyoshi membalas dendam atas kematian Oda Nobunaga adalah dengan gencatan senjata (Masao Kitami, 2005:87). Pasukan Toyotomi Hideyoshi tiba di kota Himeji, sebelah barat Kyoto. Sementara itu Akechi Mitshuhide sudah mencaplok Benteng Azuchi, bekas markas besar dan rumah penyimpanan Oda Nobunaga. Akan tetapi Akechi Mitshuhide melakukan kesalahan yang sangat fatal. Akechi Mitsuhide bertaruh banyak pada dukungan klan-klan seperti Klan Hosokawa, yang punya hubungan perkawinan dengan keluarga Akechi Mitshuhide. Sayangnya keluarga Hosokawa bersimpati dengan keinginan Oda Nobunaga untuk menyatakan kembali Jepang.
Saat dukungan yang diharapkan gagal untuk diwujudkan, Akechi Mitshuhide langsung kehilangan pegangan tentang apa yang mesti dilakukannya, dan setiap menit dalam keragu-raguan membawanya lebih dekat pada kehancuran. Sementara itu, lebih banyak jenderal Oda yang bergabung dengan pasukan balas dendam Toyotomi Hideyoshi, termasuk putra ketiga Oda Nobunaga yang bernama Nobutaka. Saat itu sudah berjumlah 40 ribu orang, jauh melampaui jumlah tentara musuh (Masao Kitami, 2005:88).
Akechi Mitshuhide akhirnya memutuskan bahwa satu-satunya pilihan adalah mengonsolidasikan pasukannya dekat Yamazaki, sebuah kota kecil di pinggiran Kyoto. Menempatkan pasukannya di belakang sebuah sungai, Akechi Mitshuhide menunggu serangan Toyotomi Hideyoshi di bawah derasnya hujan. Akechi Mitshuhide telah mencoba untuk menempatkan anak buahnya di dalam hutan yang tidak jauh dari tempat itu, tetapi salah satu sekutu Toyotomi Hideyoshi sudah mengambil keuntungan geografis dengan tiba di sana lebih dulu. Begitu jenderal-jenderal Toyotomi Hideyoshi menaklukan sayap utama dari pasukan Akechi Mitshuhide, Toyotomi Hideyoshi segera memerintahkan serangan terbuka dan menghancurkan sisanya. Dengan akhir memilukan, gelandang-gelandangan yang sedang memulung kemudian menghabisi Akechi Mitshuhide di dalam lumpur saat mencoba kabur (Masao Kitami, 2005:89).
Segera saja Toyotomi Hideyoshi mengirim pesan kepada para panglima perang di segala penjuru bahwa Toyotomi Hideyoshi sudah membalas dendam pelaku pembunuh Oda Nobunaga. Pada tahun 1582 juga Toyotomi Hideyoshi mengalahkan Akechi Mitsuhide di Yamazaki. Menyebarkan berita tersebut dengan cepat sangat penting artinya untuk membuat setiap orang paham bahwa klan Oda Nobunaga tetaplah perkasa sebagaimana biasanya. Seandainya saja Toyotomi Hideyoshi ragu-ragu atau setengah-setengah pada hari-hari kritis tersebut, lawan-lawan Toyotomi Hideyoshi sudah pasti melangkahinya. Karena Toyotomi Hideyoshi bertindak cepat, keunggulan itu ada di pihaknya. Baik dalam perdagangan, administrasi, atau di medan perang, pemimpin yang menang akan memahami Rahasia Kemenangan. Bertindaklah lebih awal untuk selesai lebih awal.
2.5 Pernikahan Toyotomi Hideyoshi
Dari semua orang yang mengelilingi seorang pemimpin, tidak ada yang lebih dekat daripada pasangan hidup. Maka manfaatkan bimbingan yang hanya bisa diberikan oleh pasangan hidup. One, adalah wanita yang kemudian menjadi istri Toyotomi Hideyoshi, menikah pada tahun 1561 lalu tinggal di benteng Kiyosu ketika Toyotomi Hideyoshi pertama kali bertemu dengannya. Toyotomi Hideyoshi saat itu masih anggota junior dalam organisasi Oda Nobunaga tanpa banyak yang bisa Toyotomi Hideyoshi banggakan, dan One jauh lebih muda dari Toyotomi Hideyoshi. Tapi Toyotomi Hideyoshi terpikat pada One dan mulai mengirimnya surat cinta. Ia merespons dan tidak lama kemudian mereka menjadi sepasang kekasih.
Toyotomi Hideyoshi menikah pada saat dia belum memiliki wilayah kekuasaan yang cukup. Tetapi Toyotomi Hideyoshi berani mengambil keputusan ini karena dilatarbelakangi Oda Nobunaga sudah cukup banyak musuh-musuh yang dikalahkan Oda Nobunaga. Jadi Toyotomi Hideyoshi tidak terlalu khwatir memikirkan hal ini.
Orang tua One murka saat mengetahui hubungan mereka. Orang tua One tidak merestui hubungan Toyotomi Hideyoshi dan One, karena Toyotomi
Hideyoshi dibesarkan dengan didikan kampung (Masao Kitami, 2005:206). Meski tidak bisa menyembunyikan asal-usul pedesaan Toyotomi Hideyoshi, namun dengan sudah belajar untuk menjaga sikap di depan orang-orang terhormat. Akhirnya Toyotomi Hideyoshi bisa mengambil hati orang tua One.
Zaman sekarang ini jangan lagi bertolak ukur menilai pandangan yang lebih sempit. Temukan atau carilah hal-hal yang lebih banyak positif atau yang baik nya dibandingkan dengan kekurangan dalam hal hubungan asmara. Penulis tidak setuju dengan sikap orang tua One tersebut.
Upacara pernikahan Toyotomi Hideyoshi dan One berlangsung sederhana. Mereka menuang sake ke cangkir keramik merah yang buatannya kasar untuk bersulang dan mengucapkan janji mereka di atas tatami jerami, yang menutupi lantai rumah petak yang dipinjamkan seorang teman kepada mereka. Hanya ada dua kamar di rumah sempit itu, tapi setidaknya mereka punya rumah (Masao Kitami, 2005:207).
Menikahi One adalah berkah keberuntungan. One mengelola rumah tangga dan membantunya menata hidup. Jabatan Toyotomi Hideyoshi yang meningkat dalam organisasi Oda, dan akhirnya mereka pindah ke rumah yang jauh lebih besar. Kemudian Toyotomi Hideyoshi bisa membawa ibunya tinggal bersama mereka. Itu adalah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidup Toyotomi Hideyoshi.
Bantuan yang diberikan One lebih dari sekedar urusan rumah tangga. Setelah Toyotomi Hideyoshi menjadi penguasa Benteng Nagahama, Toyotomi Hideyoshi merancang infrastruktur untuk daerah perkotaan yang akan dibangun dekat kastil Toyotomi Hideyoshi. Untuk menarik minat para pendatang, Toyotomi Hideyoshi membebaskan mereka dari kewajiban membayar pajak. Ini adalah insentif yang luar biasa, dan penduduk desa berbondong-bondong pindah ke sana. Tapi karena Toyotomi Hideyoshi adalah pemula dalam perencanaan tata kota, Toyotomi Hideyoshi terkejut karena mendapati kemungkinan daerah tersebut menjadi terlalu padat dan dengan tergesa-gesa Toyotomi Hideyoshi menarik kembali kebijakan bebas pajak. Setelah mendengar keluhan dari penduduk kota, One mengusulkan agar Toyotomi Hideyoshi memberlakukan kembali kebijakan
bebas pajak sesegera mungkin (Masao Kitami, 2005:208). Tentu Toyotomi Hideyoshi kembali memberlakukan kebijakan bebas pajak.
Toyotomi Hideyoshi bekerja tanpa henti: memimpin pasukannya ke medan perang; melakukan perjalanan melintasi perbatasan provinsi untuk mendapatkan persediaan bedil dan mesiu; pergi ke Kyoto untuk kunjungan resmi; dan melakukan lusinan tugas lain. Toyotomi Hideyoshi jarang berada di Benteng Nagahama dan memercayakan pengelolaan rumah tangga nya seluruhnya kepada One. Tentu Toyotomi Hideyoshi bangga sekali kepada istrinya dan berterima kasih atas dukungan yang penuh cinta selama bertahun-tahun. Dengarkan pendapat pasangan hidupmu (Masao Kitami, 2005:209). Tidak ada pemimpin yang bisa mencapai keberhasilan sendirian. Semua membutuhkan saran ahli.