• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Berbasis Masalah ( Problem Based Learning )

KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

2. Pembelajaran Berbasis Masalah ( Problem Based Learning )

a. Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)/PBL

Istilah pembelajaran berbasis/berdasarkan masalah diadopsi dari istilah Problem Based Instruction (PBI). Menurut Dewey dalam Sudjana, belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dengan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan ini secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis serta dicari pemecahannya dengan baik.22

Secara konseptual, Arend menjelaskan bahwa Problem based learning (PBL) atau pengajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dan bermakna sebagai langkah awal untuk investigasi dan penyelidikan.23

Menurut M. Taufiq Amir, Model pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan penyelidikan autentik yakni penyelidikan yang membutuhkan penyelesaian nyata dari permasalahan yang nyata.24

21

Ibid., h. 220-224 22

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Prenada Media Group, 2010), cet. Ke-2 h. 91

23

Richard I. Arends, Learning To Teach: Belajar untuk Mengajar, Penerjemah Helly Prajitno dan Sri Mulyatini, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), h. 41

24

“PBL is a student centered, problem-based, inquiry-based, integrated, and collaborative learning. Whereby, small groups of students, guided by tutor, focus on real-world case scenarios and independently study to solve the case with their

newly acquired knowledge”. Yang dapat diartikan bahwa PBL adalah

pembelajaran yang berpusat pada siswa, berbasis masalah, berbasis penyelidikan, terpadu, dan pembelajaran kolaboratif. Dimana, kelompok kecil siswa dipandu oleh tutor, fokus pada skenario kasus dunia nyata dan belajar secara mandiri untuk memecahkan kasus yang baru diperolehnya dengan pengetahuan mereka.25

Menurut Arends yang dikutip oleh M. Taufiq Amir menyebutkan bahwa pengajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Model pembelajaran ini juga mengacu pada model pembelajaran yang lain, seperti pembelajaran berbasis proyek (Projek-based instruction), pembelajaran berbasis pengalaman (experience-based intruction), dan pembelajaran bermakna atau pembelajaran berakar pada kehidupan (anchored instruction).26

Menurut Donal Woods yang dikutip M. Taufiq Amir menyebutkan bahwa pembelajaran berbasis masalah lebih dari sekedar lingkungan yang efektif untuk mempelajari pengetahuan tertentu. Melainkan dapat membantu pembelajar membangun kecakapan sepanjang hidupnya dalam memecahkan masalah, kerja sama tim, dan berkomunikasi.27

Menurut Lynda Wee yang dikutip oleh M. Taufiq Amir mengatakan bahwa proses pembelajaran berbasis masalah sangat menunjang membangun kecakapan mengatur diri sendiri (self directed), kolaboratif, berpikir secara metakognitif, cakap menggali informasi, yang relatif perlu dalam kehidupan sehari-hari.28

25

Hossein Jabbari, et al., ”Lecture-Based versus Probelem-Based Learning Methods in Public health Cousre for Medical Students”, Journal of Tabriz University of Medical Sciences, Tabriz Iran. H. 31-32

26

Trianto, Op. cit., h. 92 27

Taufiq Amir, Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning, (Jakarta: Prenada Media Group, 2009), cet. Ke-1. h. 13.

28

17

Menurut Dutch yang dikutip oleh M. Taufiq Amir mengatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang menantang siswa

agar “belajar untuk belajar”, bekerja sama dengan kelompok untuk mencari solusi

bagi masalah yang nyata, masalah ini digunakan untuk mengaitkan rasa keingintahuan serta kemampuan analisis siswa dan inisiatif atas materi pelajaran. Pembelajaran berbasis masalah mempersiapkan mahasiswa untuk berpikir kritis dan analisis, serta mencari dan menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai.29

Problem based learning (PBL) can be defined as an inquiry process that resolves question, curiosities, doubts, and uncertainties about complex phenomena in life. A problem is any doubt, difficulty, or uncertainly that invites or

needs some kinds of resolution”. Dapat diartikan bahwa pembelajaran berbasis masalah sebagai proses inquiry yang mengemukakan pertanyaan, keingintahuan, keragu-raguan dan ketidakpastian fenomena yang kompleks di dalam kehidupan. Suatu masalah merupakan keraguan, kesukaran, atau ketidakpastian sehingga mengundang atau membutuhkan beberapa macam keputusan.30

Model berbasis masalah memfokuskan kepada siswa dengan mengarahkan siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan terlibat langsung secara aktif dalam pembelajaran kelompok. Model ini membantu siswa untuk mengembangkan berpikir siswa dalam pemecahan masalah melalui pencarian data sehingga diperoleh solusi untuk suatu masalah dengan rasional dan autentik.31

Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.32

29

Ibid, h. 21 30

John Barell, Problem based learning: an inquiry Approach Second Edition, (Thousand Oaks: Corwin Press, 2007), h. 3

31

Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta: kencana Prenada Media Group, 2009), cet. Ke-1. h. 288

32

Kunandar, Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam sertifikasi Guru, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada , 2008) h. 354

Hal ini senada dengan ungkapan John Dawey yang dikutip oleh Sugianto mengatakan bahwa belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis serta dicari pemecahannya dengan baik. Pengalaman siswa yang diperoleh dari lingkungan dijadikan bahan materi guna memperoleh pengertian untuk dijadikan pedoman dan tujuan belajarnya.33

Berdasarkan pengertian-pengertian pembelajaran berbasis masalah di atas dapat disimpulkan bahwa, pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa untuk memecahkan permasalahan dengan mengumpulkan informasi untuk membentuk sebuah solusi dari masalah yang diberikan. Pada model pembelajaran ini siswa juga aktif dalam proses pembelajaran dan memicu siswa memiliki keterampilan untuk menyelesaikan masalah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut serta dapat mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

b. Ciri atau Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)/PBL

Menurut Arends berbagai pengembangan pengajaran berdasarkan masalah telah memberikan model pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut: 1) Pengajuan pertanyaan atau masalah

2) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin 3) Penyelidikan autentik

4) Menghasilkan produk dan memamerkannya 5) kolaborasi34

33Sulistianingsih, “Pendekatan Problem based learning Suatu Alternatif Mengembangkan Belajar Siswa Aktif”,Jurnal Ilmu Pendidikan STKIP Kusuma Negara, Vol.2 Tahun II-2010, h. 49

34

Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif dan Berorientasi Konstruktifistik, (Jakarta: Pertasi Pustaka Publiser, 2007), h. 68

19

Selain itu, menurut Yatim Purwanto bahwa pada umumnya guru menerapkan model ini menjurus pada pemecahan suatu masalah kehidupan nyata yang dihadapi siswa sehari-hari dengan menggunakan keterampilan pemecahan masalah. Model pembelajaran berbasis masalah umumnya berbentuk suatu proyek untuk diselesaikan oleh kelompok siswa dengan bekerja sama.35

Karakteristik lain yang dikemukan oleh Tan yang dikutip oleh M. Taufiq Amir, bahwa karakteristik pembelajaran berbasis masalah yaitu:

1) Masalah yang digunakan sebagai awal pembelajaran

2) Biasanya, masalah yang digunakan merupakan masalah dunia nyata yang disajikan secara ill-structured

3) Masalah biasanya menuntut perspektif majemuk (multiple perspective). Solusinya menuntut pembelajar menggunakan dan mendapatkan konsep dari beberapa bab atau lintasan ilmu dibidang lainnya.

4) Masalah membuat pembelajar merasa tertantang untuk mendapatkan pembelajaran di ranah pembelajaran yang baru

5) Sangat mengutamakan pembelajaran mandiri (self directed learning)

6) Memanfaatkan sumber yang bervariasi, tidak dari satu sumber saja. Pencarian, evaluasi serta penggunaan pengetahuan ini menjadi kunci penting.36

PBM adalah pembelajaran yang kolaboratif, komunikatif dan kooperatif. Pembelajaran bekerja dalam kelompok, berinteraksi, saling mengajarkan (peer teaching), dan melakukan presentasi. Menurut karakter tersebut, pembelajaran berbasis masalah memiliki tujuan seperti dibawah ini:

1) Keterampilan berpikir dan keterampilan mengatasi masalah

Pembelajaran berbasis masalah memberikan dorongan kepada peserta didik untuk tidak hanya sekedar berpikir sesuai yang bersifat konkret, tetapi lebih dari itu berpikir terhadap ide-ide yang abstrak dan kompleks. Dengan kata lain pembelajaran berbasis masalah melatih kepada peserta didik untuk memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi.

35

Riyanto, Op. cit., h. 288 36

a) Berpikir adalah sebuah proses yang melibatkan operasi-operasi mental, seperti induksi, deduksi, klarifikasi, dan penalaran.

b) Berpikir adalah sebuah proses representasi secara simbolis (melalui bahasa) berbagai objek dan kejadian riil dan menggunakan representasi simbolis itu untuk menemukan prinsip-prinsip esensial objek dan kejadian tersebut.

c) Berpikir adalah kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasarkan inferensi atau judgement yang baik. 2) Belajar peranan orang dewasa yang autentik

Menurut Resnick, bahwa model pembelajaran berbasis masalah amat penting dalam membantu siswa untu performance diberbagai situasi orang dewasa yang penting

3) Menjadi pembelajar yang mandiri

Pembelajaran berbasis masalah berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang independen dan self-regulated. Dibimbing oleh guru yang senantiasa memberikan semangat dan reward ketika mereka mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri solusi untuk berbagai masalah riil, kelak siswa belajar untuk melaksanakan tugasnya secara mandiri.37

Model pembelajaran berbasis masalah memiliki sejumlah karakteristik yang membedakan dengan model pembelajaran yang lainnya yaitu:

1) Pembelajaran bersifat student centered.

2) Pembelajaran terjadi pada kelompok-kelompok kecil. 3) Dosen atau guru verperan sebagai fasilitator.

4) Masalah menjadi faktor dan merupakan sarana untuk mengembangkan katerampilan menyelesaikan masalah

5) Informasi-informasi baru diperoleh dari belajar mandiri (self directed learning).38

37

Ibid, hal. 43-44 38

Ni Made Suci, “Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa dan Hasil Belajar Teori Akuntansi Mahasiswa Jurusan Ekonomi UNDIKSHA”, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, No. 2, Vol. 1, April 2008, h. 77

21

Arend menjelaskan tentang karakteristik pembelajaran berbasis masalah yaitu: 1) Pertanyaan atau masalah perangsang. Pembelajaran berbasis masalah atau

PBL mengorganisasikan pengajaran di seputar pertanyaan dan masalah yang penting secara sosial dan bermakna secara personal bagi siswa. mereka dihadapi berbagai situasi dunia nyata yang tidak dapat diberi jawaban-jawaban sederhana dan ada berbagai solusi yang competing untuk menyelesaikannya.

2) Fokus Interdisipliner. Meskipun PBL dapat dipusatkan pada subjek tertentu (sains, matematik dan sejarah), tetapi masalah yang diinvestigasi dipilih karena solusinya menuntut siswa untuk menggali banyak subjek.

3) Invesigasi autentik. PBL mengharuskan siswa untuk melakukan investigasi yang autentik yang berusaha menemukan solusi real. Mereka menganalisis dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen (bilamana mungkin), membuat inferensi, menarik kesimpulan. Metode-metode investigasi yang digunakan tentu tergantung pada masalah yang diteliti.

4) Produksi arefak dan exhibit. PBL menuntut siswa untuk mengkonstruksikan produk dalam bentuk laporan atau slide pretentasi yang menjelaskan atau mempresentasikan solusi mereka.

5) Kolaborasi. Seperti model cooperative learning, PBL ditandai oleh siswa-siswa yang bekerja bersama siswa-siswa-siswa-siswa lain, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok-kelompok kecil. Bekerja berbasama-sama memberikan motivasi untuk keterlibatan secara berkelanjutan dalam tugas-tugas kompleks dan meningkatkan kesempatan berbagai keterampilan sosial.39

39

Uraian-uraian tersebut dapat menyimpulkan karakteristik pembelajaran berbasis masalah yang selalu diawali dengan permasalahan yang nantinya akan diselesaikan oleh siswa dalam kelompok kecil dan siap untuk memperesentasikan hasil pemecahan masalah mereka untuk menemukan solusi yang terbaik.

c. Sintaks Pengajaran Berbasis Masalah

Pada pengajaran berdasarkan masalah terdiri dari 5 (lima) langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan guru penyajian dan analisis hasil kerja siswa. kelima langkah tersebut dijelaskan berdasarkan langkah-langkah pada tabel berikut.

Tabel 2.1 Sintaks Pengajaran Berdasarkan Masalah40

Tahap Kegiatan Guru

Tahap-1 Orientasi siswa pada

masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.

Tahap-2 Mengorganisasi siswa

dalam belajar

Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

Tahap-3 Membimbing penyelidikan individu

maupun kelompok

Guru mendorong siswa mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Tahap-4 Mengembangkan dan

menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

40

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Prenada Media Group, 2010), h. 98

23

Pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada permasalahan-permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan kata lain siswa belajar melalui permasalahan-permasalahan.41

Pada model pembelajaran berbasis masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu maslah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berbasis masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan.42

Pada dasarnya model berbasis masalah, siswa harus terlebih dahulu dikondisikan melalui kelompok, atau cara penyampaian masalah pada siswa. pembelajaran berbasis masalah ini sangatlah dekat dengan kontektual, hal-hal yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan inilah yang menjadi topik bahasan bagi model tersebut.

Menurut Mudhofir, ada enam langkah dalam penerapan pembelajaran berbasis masalah yaitu sebagai berikut:

1) Merumuskan masalah 2) Menganalisis masalah 3) Murumuskan hipotesis 4) Mengumpulkan data 5) Pengujian hipotesis.43

Sedangkan tahapan pembelajaran berbasis masalah menurut John Dawey yang mengemukakan tahapan pembelajaran berbasis masalah untuk

41

Made wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu Tinjauan Konseptual Operasional, (Jakarta: Sinar Grafika Offest, 2009), cet. Ke-1. h. 91

42

Trianto, Op, cit., h. 92 43

mengembangkan kemampuan pemecahan masalah khususnya tingkah laku siswa. tahapannya yaitu:

1) Merumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan

2) Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang

3) Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan masalah sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

4) Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.

5) Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan seusai dengan penerimaan dan penolakan hiotesis yang diajukan. 6) Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa

menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.44

Model pembelajaran berbasis masalah sengaja dibuat untuk mengarahkan siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan terlibat langsung secara aktif dan mengembangkan kemampuan berpikir siswa dalam pemecahan masalah. Dalam model pembelajaran ini mengacu pada pembelajaran yang bersifat konstruktivis, dimana anak benar-benar membangun pemahamannya sendiri, dan guru hanya sebagai fasilitator dan mediator dalam proses pembelajaran tersebut.

d. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berbasis Masalah

1) Kelebihan PBM

Menurut Trianto, kelebihan pembelajaran berbasis masalah, adalah: a) Realistis dengan kehidupan siswa

b) Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa c) Memupuk sifat inkuiri siswa

44

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 216-217

25

d) Retensi konsep jadi kuat

e) Memupuk kemampuan pemecahan masalah.45

Selain itu Wina menambahkan bahwa sebagai suatu pembelajaran berdasarkan masalah memiliki beberapa kelebihan, seperti:

a) Merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahai isi pelajaran b) Dapat memantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk

menemukan pengetahuan baru bagi siswa

c) Dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa

d) Dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata

e) Dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan f) Dapat memperlihatkan kepada siswa setiap mata pelajaran (matematika,

IPA, Sejarah, dan lainnya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.

g) Dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa

h) Dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan pengetahuan baru.

i) Dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.

j) Dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.46

Lingkungan belajar sistem manajemen dalam pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh sifatnya yang terbuka, ada proses demokrasi, dan peranan siswa yang aktif meskipun guru dan siswa melakukan tahapan pembelajaran yang terstruktur dan dapat diprediksi dalam pengajaran berbasis masalah, norma di sekitar pelajaran adalah norma inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan

45

Trianto, Op.cit., h. 96-97 46

Wina Sanjaya, Stategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Pernada Media. 2009), cet. Ke-6 h. 218-219

pendapat. Lingkungan belajar menekankan peranan sentral pada siswa, bukan pada peranan guru.

2) Kekurangan

Disamping kelebihan pembelajaran berbasis masalah memiliki kekurangan, diantaranya:

a) Persiapan pembelajaran yang kompleks b) Sulitnya mencari problem yang relevan c) Sering terjadi miss-konsepsi

d) Membutuhkan waktu yang cukup dalam proses penyelidikan.47 Kekurangan pembelajaran berbasis masalah lainnya, adalah :

a) Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba

b) Membutuhkan cukup waktu untuk mempersiapkan

c) Tanpa pemahaman mengapa mereka enggan berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka pelajari.48

Dokumen terkait