BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Pembelajaran Dengan Pendekatan Brain Based Learning
Kontrol 66,11 212,3
Dari Tabel 4.7 terlihat bahwa thitung> ttabel (2,50 > 1,99) maka dapat disimpulkan
bahwa Ho ditolak dan H1 diterima dengan taraf signifikansi 5%, artinya rata-rata
hasil tes pemahaman konsep matematika yang diajarkan dengan pendekatan Brain Based Learning lebih tinggi daripada rata-rata hasil tes pemahaman konsep matematika yang diajarkan dengan pendekatan konvensional.
C. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Pembelajaran Dengan Pendekatan Brain Based Learning
Dari uraian sebelumnya diketahui bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil tes pemahaman konsep matematika antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, yang menunjukkan bahwa pemahaman konsep pada kelas yang pembelajarannya menggunakan pendekatan Brain Based Learning lebih tinggi
dari pada yang pembelajarannya menggunakan pendekatan konvensional. Hal tersebut tidak terjadi secara kebetulan, melainkan karena adanya perbedaan tahap-tahap pembelajaran antara kedua kelas tersebut.
Pendekatan Brain Based Learning merupakan salah satu pendekatan yang berpusat pada siswa. Melalui pembelajaran yang menyenangkan, siswa berperan aktif untuk membangun pengetahuan dengan pengalamannya sendiri, sehingga pembelajaran dapat diserap otak secara optimal. Pendekatan brain based learning memuat tujuh tahapan pembelajaran didalam kelas yang juga telah dilakukan peneliti diantaranya pra-pemaparan, persiapan, inisiasi dan akuisisi, elaborasi, inkubasi dan memasukkan memori, verifikasi dan pengecekan keyakinan serta perayaan dan integrasi.
Tahapan pertama pendekatan Brain Based Learning yaitu pra-pemaparan. Tahap ini memberikan ulasan kepada otak tentang pembelajaran baru sebelum benar-benar menggali lebih jauh. Siswa diperlihatkan tentang materi baru yang akan dipelajari dengan peta konsep. Dari pemajangan peta konsep tersebut banyak siswa yang merespon positif dengan dengan berbagai pertanyaan sehingga terjadi interaksi antara guru dengan siswa yang membuat siswa nyaman tanpa ketakutan akan sulitnya matematika sejak pembelajaran dimulai.
Gambar 4.3
Selanjutnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan membimbing siswa untuk melakukan brain gym (senam otak). Gerakan brain gym pada tahap pra-pemaparan berguna untuk membantu siswa menyiapkan diri sebelum memulai kegiatan belajar agar terhindar dari ketegangan. Terbukti ketika kegiatan ini berlangsung siswa terlihat merasa senang meskipun beberapa siswa masih merasa aneh karena gerakan-gerakan brain gym baru pertama mereka lakukan dikelas. Pada tahap ini guru juga menyarankan siswa untuk membawa air minum sebagai persediaan energi dalam pembelajaran.
Tahapan kedua yaitu persiapan. Pada tahap ini guru memberi penjelasan awal mengenai materi yang akan dipelajari. Siswa didorong agar menanggapi dan mengetahui kaitan materi tentang keliling dan luas bangun datar serta menanggapi relevan atau tidaknya dengan kehidupan sehari-hari. Dari yang terlihat dikelas, rasa ingin tahu siswa bertambah dan terlihat semangat siswa untuk mempelajari lebih lanjut materi yang akan disampaikan.
Tahapan ketiga yaitu inisiasi dan akuisisi. Pada tahap ini guru meminta siswa untuk membentuk kelompok yang terdiri dari 4 siswa per kelompok dengan memberikan kebebasan siswa untuk memilih tempat duduk dan kelompoknya sendiri. Selanjutnya masing-masing kelompok diberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk didiskusikan bersama anggota kelompoknya. Tiap pertemuan diberikan LKS yang berbeda untuk menemukan kembali rumus keliling dan luas bangun datar segitiga dan segiempat. Berdasarkan hasil pengamatan, pada pertemuan pertama siswa masih kebingungan mengisi LKS, tiap kelompok sering bertanya pada guru bagaimana maksud dan cara mengisi langkah-langkah dalam LKS tersebut. Hal tersebut sangat wajar karena mereka baru pertama kali melakukan kegiatan pembelajaran seperti itu. Pada pertemuan berikutnya siswa terlihat sudah mulai paham dan mengerti apa yang harus dilakukan sehingga kegiatan pembelajaran pada tahap ini berjalan lancar.
Gambar 4.4
Siswa Berdiskusi Kelompok Pada Tahap Inisiasi dan Akuisisi
Gambar 4.5
Perwakilan Siswa Mempresentasikan Hasil Diskusi Kelompok Pada Tahap Elaborasi
Tahap keempat yaitu elaborasi. Pada tahap ini siswa dari perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, sementara yang lainnya memperhatikan, mengoreksi, menanggapi, serta bertanya sehingga siswa dapat menemukan jawaban yang tepat dari permasalahan yang ada di LKS. Dalam pelaksanaannya beberapa siswa masih merasa malu untuk maju kedepan kelas. Untuk mensiasatinya, guru memberikan reward berupa pemberian cokelat untuk siswa agar pada tiap pertemuan terdapat siswa yang berbeda untuk maju dan mempresentasikan hasil diskusinya.
Tahap kelima yaitu inkubasi dan memasukan memori. Tahap ini adalah waktu istirahat disela-sela pembelajaran. Bukan beristirahat dalam artian
berdiam diri, melainkan istirahat dari kegiatan belajar yang menguras otak. Tahap inkubasi ini diisi dengan melakukan brain gym yaitu gerakan-gerakan ringan yang berfungsi untuk meregangkan otot setelah belajar, mengurangi stress, dan meningkatkan konsentrasi.
Gambar 4.6
Siswa Melakukan Salah Satu Gerakan Brain Gym (Energy Yawn)
Gambar 4.7
Siswa Menonton Vidio Tebak Warna Untuk Melatih Fokus dan Konsentrasi Pada tahap inkubasi siswa tidak hanya dibimbing untuk melakukan brain gym, pada beberapa pertemuan tahap ini juga diisi dengan menonton vidio yang melatih kefokusan dan konsentrasi serta diiringi musik instrumental yang dapat membuat otak rileks dan siap untuk menerima kembali pelajaran berikutnya. Dari hasil pengamatan, terlihat siswa merasa senang melakukan hal-hal tersebut. Setelah masa istirahat selesai, guru memberikan latihan soal-soal kepada siswa. Soal yang diberikan pada tahap ini adalah soal pada aspek instrumental, untuk menguji siswa sejauh mana mampu mengaplikasikan perhitungan dan rumus yang telah mereka temukan pada tahap inisiasi dan akuisisi.
Tahap keenam yaitu verifikasi dan pengecekan keyakinan. Pada tahap ini guru memberikan soal-soal yang setingkat lebih rumit untuk melatih pemahaman siswa pada aspek relasional. Guru membimbing dan memastikan siswa telah mengerti dan memahami materi pada setiap pertemuan.
Tahap ketujuh yang juga adalah tahap yang terakhir yaitu perayaan dan integrasi. Pada tahap ini dengan bimbingan guru siswa diarahkan untuk dapat menyimpulkan hal-hal yang telah mereka pelajari. Kemudian guru memberi tahu siswa tentang materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya. Sebagai penutup, guru bersama dengan siswa melakukan perayaan kecil, seperti bersorak, tepuk tangan.