KAJIAN PUSTAKA
C. Pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) 1. Pengertian pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization
Pembelajaran kooperatif tipe TAI pertama kali diperkenalkan oleh Slavin pada tahun 1985 yaitu suatu model pembelajaran yang menggabungkan antara model pembelajaran individual dengan model pembelajaran kooperatif. Menurut Slavin (2005:187) teknik Team Assisted Individualization adalah teknik yang mengadaptasi pengajaran terhadap perbedaan individu terkait kemampuan siswa maupun pencapaian prestasi siswa. Dalam proses pembelajarannya, anggota kelompok menggunakan lembar jawab yang digunakan untuk saling memeriksa jawaban teman sekelompok. Proses diskusi terjadi pada saat siswa saling mempertanyakan jawaban yang dikerjakan teman sekelompoknya. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TAI adalah model pembelajaran yang mengkombinasikan pembelajaran secara berkelompok maupun individual
dimana siswa bisa saling membantu antar anggota kelompok untuk mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa secara individual.
2. Pembelajaran kooperatif tipe TAI menurut Slavin (Suyatno & Asep, 2013:172) meliputi 6 tahap, yaitu sebagai berikut:
a. Pembentukan kelompok. Kelompok yang dibentuk beranggotakan 4-5 siswa dan bersifat heterogen. Kelompok ini mewakili hasil akademis dalam kelas yang diambil dari nilai rata-rata harian kelas dan mewakili jenis kelamin. Fungsi kelompok adalah untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok ikut belajar, dan lebih khusus adalah mempersiapkan anggotanya untuk mengerjakan tes dengan baik. b. Pemberian bahan ajar. Pemberian materi yang diajarkan dalam bentuk
lembar kerja siswa yang dibuat oleh guru. Lembar kerja di-setting sedemikian rupa sehingga sesuai dengan model pembelajaran yang akan dikembangkan.
c. Belajar dalam kelompok. Belajar kelompok dilakukan untuk mendsikusikan materi yang ada dalam bahan ajar secara bersama-sama dalam satu kelompok.
d. Skor kelompok dan penghargaan kelompok. Penghargaan ini diberikan dari hasil kerja sama kelompok saat memecahkan masalah yang didiskusikan serta pemaparan hasil diskusi kelompok.
e. Pengajaran materi-materi pokok oleh guru. Temuan-temuan hasil diskusi kelompok dipertegas oleh guru dengan menerangkan ulang materi-materi yang tidak ditemukan siswa tiap kelompok.
f. Tes formatif.
3. Unsur-unsur pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization menurut Slavin (Aris, 2014:200) adalah sebagai berikut:
a. Placement Test. Guru memberikan tes awal kepada siswa. Cara ini bisa digantikan dengan mencermati rata-rata nilai harian atau nilai pada bab sebelumnya yang diperoleh siswa sehingga guru dapat mengetahui kekurangan siswa pada bidang tertentu.
b. Teams. Guru membentuk kelompok-kelompok yang bersifat heterogen yang terdiri dari 4-5 siswa.
c. Teaching Group. Guru memberikan materi secara singkat menjelang pemberian tugas kelompok.
d. Student Creative. Guru perlu menekankan dan menciptakan persepsi bahwa keberhasilan setiap siswa (individu) ditentukan oleh keberhasilan kelompoknya.
e. Team Study. Siswa belajar bersama dengan mengerjakan tugas-tugas dari LKS yang diberikan dalam kelompoknya. Guru juga memberikan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkan, dengan dibantu siswa-siswa yang memiliki kemampuan akademis bagus di dalam kelompok tersebut.
f. Fact Test. Guru memberikan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa, misalnya dengan memberikan kuis dan sebagainya. g. Team Score and Team Recognition. Guru memberikan skor pada
berhasil dan kelompok yang dipandang kurang berhasil. Misalnya dengan menyebut mereka sebagai kelompok bagus, kelompok luar biasa, dan sebagainya.
h. Whole-Class. Guru menyajikan kembali materi di akhir bab dengan strategi pemecahan masalah untuk seluruh siswa di kelasnya.
Pada model pembelajaran TAI, cara memberikan penghargaan berdasar nilai perkembangan individu siswa. Contoh penentenuan nilai perkembangan menurut Suyatno dan Asep Jihad (2013:167) adalah sebagai berikut:
a. Menetapkan skor standar. Skor ini bisa berasal dari pemberian tes awal atau tes sebelumnya.
b. Menghitung skor kuis terkini.
c. Menghitung skor perkembangan yang besarnya ditentukan apakah skor kuis terkini mereka menyamai atau melampaui skor dasarnya dengan menggunakan skala yang diberikan di bawah ini.
Tabel 2.1 Ketentuan nilai perkembangan kelompok
Kriteria Skor
Perkembangan Nilai kuis turun lebih dari 10 poin di bawah skor
standar 0
Nilai kuis turun 1 sampai dengan 10 poin di
bawah skor standar 10
Nilai kuis sama dengan skor standar sampai
dengan naik 10 poin di atas skor standar 20 Nilai kuis lebih dari 10 poin di atas skor standar 30 Nilai kuis mendapat nilai sempurna misalnya
100 (tanpa memperhatikan skor standar) 30
Tabel 2.2 Perhitungan perkembangan skor kelompok No Rata-rata Skor Perkembangan (N) Kualifikasi
1 N ≤ 14 -
2 15 ≤ N ≤ 19 Tim Baik
3 20 ≤ N ≤ 24 Tim Hebat
4 N ≥ 25 Tim Super
Sumber: Suyatno dan Asep Jihad (2013:167) D. Modul
1. Pengertian Modul
Menurut Mulyasa (2006:231) modul merupakan paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan dan dirancang secara sistematis untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar.
Sedangkan menurut Vembriarto (1981:20) suatu modul adalah suatu paket pengajaran yang memuat satu unit konsep daripada bahan pengajaran.
Menurut Winkel (2014:487) modul merupakan satuan program belajar-mengajar yang terkecil, yang dipelajari oleh siswa sendiri secara perseorangan atau diajarkan oleh siswa kepada dirinya sendiri. Setelah siswa menyelesaikan satuan yang satu dia melangkah maju dan memperlajari satuan berikutnya.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian modul adalah paket belajar mandiri yang meliputi satu unit konsep pembelajaran yang disusun secara sistematis sehingga dapat membantu siswa mencapai tujuan belajar.
2. Komponen modul
Komponen modul menurut Winkel (2014:492), antara lain sebagai berikut: a. Pedoman guru
Pedoman ini menguraikan peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar, mendeskripsikan unit yang dipelajari, berbagai kegiatan siswa, alat-alat pelajaran yang digunakan dan alat evaluasi.
b. Lembar kegiatan siswa
Lembaran kegiatan siswa ini berisikan rumusan tujuan intruksional yang akan dicapai, rangkaian kegiatan belajar yang harus dilakukan, alat-alat pelajaran yang akan digunakan, tugas-tugas yang harus diselesaikan.
c. Lembar kerja
Lembar kerja ini menyertai lembaran kerja siswa dan berisikan setumpuk pertanyaan dan semua tugas yang harus dikerjakan.
d. Kunci lembaran kerja
Kunci lembaran kerja berisikan seluruh jawaban atas pertanyaan atau tugas yang dimuat dalam lembaran kerja. Siswa dapat mencocokkan sendiri.
e. Lembaran tes
Lembaran tes berisikan soal-soal yang harus dikerjakan untuk mengukur tingkat keberhasilan/penguasaan, setelah modul dipelajari.
f. Kunci lembaran tes
Kunci lembaran tes berisikan seluruh jawaban atas pertanyaan atau tugas yang dimuat dalam lembaran tes. Siswa dapat mencocokkan sendiri.
E. Minat
1. Pengertian Minat
Menurut Muhibbin Syah (2013:152) minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang studi tertentu.
Menurut Winkel (2014:219) minat diartikan sebagai kecenderungan subjek yang menetap, untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi-materi tertentu. Adanya suatu ketertarikan dalam hal atau bidang tertentu yang bersifat tetap di dalam diri subjek, sehingga seseorang mendalaminya.
Menurut Slameto (2010:180) minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya. Selanjutnya dalam Djamarah (2011:191), Dalyono mengungkapkan bahwa minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah. Dalam konteks tersebut
diyakini bahwa minat sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang. Tidak banyak yang dapat diharapkan untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik dari seseorang yang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu.
Djamarah (2011:193) mengatakan bahwa minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Minat dapat ditumbuhkan dan dikembangkan dengan cara memberikan informasi pada anak didik mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu atau menguraikan kegunaanya di masa depan bagi anak didik.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu rasa ketertarikan yang tinggi terhadap suatu hal terutama dalam pembelajaran sehingga akan timbul rasa senang dalam mempelajari tanpa ada yang menyuruhnya. Dalam penelitian ini yang dimaksud minat belajar adalah rasa ketertarikan siswa dalam mempelajari materi prisma dan limas. Diharapkan dari minat siswa yang tinggi akan mendapatkan hasil belajar yang tinggi.
2. Ciri-ciri siswa yang berminat dalam belajar
Menurut Slameto (2003:58) siswa yang berminat dalam belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus.
c. Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang diminati. Ada rasa ketertarikan pada sesuatu aktivitas-aktivitas yang diminati.
d. Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang lainnya.
e. Dimanifestikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan. F. Hasil Belajar
Menurut Nana Sudjana (1990:22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Pada umumnya hasil belajar akan memberikan pengaruh dalam dua bentuk (Mulyasa, 2006:243): (1) peserta didik akan mempunyai perspektif terhadap kekuatan dan kelemahannya atas perilaku yang diinginkan; (2) mereka mendapatkan bahwa perilaku yang diinginkan itu telah meningkat baik setahap atau dua tahap, sehingga timbul lagi kesenjangan antara penampilan perilaku yang sekarang dengan perilaku yang diinginkan.
Benyamin Bloom dalam buku Nana Sudjana (1990:22) mengklasifikasikan hasil belajar dibagi menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi,
penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yakni gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. Maka, diperlukan alat untuk melakukan penilaian yang berupa tes. Menurut Nana Sudjana (1990:35) tes digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar kognitif dengan penguasaan bahan pengajaran.
Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan siswa setelah menerima pengalaman belajar dalam waktu tertentu. Namun dalam penelitian ini hanya dilihat dari ranah kognitif karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi pelajaran.
G. Materi Pembelajaran Bangun Ruang Prisma dan Limas 1. Prisma
a. Pengertian prisma
Prisma adalah bangun ruang tertutup yang dibatasi oleh dua bidang berbentuk segi banyak yang sejajar dan kongruen, serta bidang-bidang yang lainnya diperoleh dengan menghubungkan titik-titik sudut dari dua bidang yang sejajar menjadi garis-garis sejajar.
b. Unsur-unsur prisma
Prisma memiliki beberapa unsur, berikut pengertian unsur-unsur pada sebuah prisma:
1) Bidang sisi adalah bidang-bidang yang membentuk suatu prisma. 2) Rusuk prisma adalah ruas garis yang dibentuk oleh perpotongan
dua bidang sisi yang bertemu pada suatu prisma.
3) Titik sudut prisma adalah titik pertemuan tiga bidang sisi pada suatu prisma.
4) Tinggi prisma adalah jarak antara bidang alas dan bidang tutup. c. Jaring-jaring prisma
Jaring-jaring prisma diperoleh dengan cara mengiris beberapa rusuk prisma tersebut sedemikian sehingga seluruh permukaan prisma terlihat. Misalkan, prisma yang akan dibuat jaring-jaringnya adalah prisma segitiga. Berikut ini alur pembuatan jaring-jaring prisma segitiga.
Contoh jaring-jaring prisma lainnya.
Gambar 2.2 Jaring-jaring prisma segilima
Gambar 2.3 Jaring-jaring prisma segienam
d. Jenis-jenis prisma
Tabel 2.3 Jenis-jenis prisma
Nama Gambar Jumlah
sisi Jumlah rusuk Jumlah titik sudut Prisma segitiga 5 9 6 Prisma segiempat 6 12 8 Prisma segilima 7 15 10 Prisma segienam 8 18 12 Prisma segi-n n+2 3n 2n
e. Luas permukaan prisma
Luas permukaan prisma adalah jumlah luas seluruh daerah permukaan yang membatasi prisma tersebut. Dengan kata lain luas permukaan prisma adalah luas daerah jaring-jaring prisma. Sebagai contoh pada prisma segitiga yang sisi alas dan sisi atasnya berupa daerah segitiga siku-siku, luas permukaannya adalah sebagai berikut:
Gambar 2.4 Prisma segitga beserta jaring-jaringnya Luas permukaan prisma
= luas ∆ ABC + luas ∆ DEF + luas BADE + luas ACFD + luas CBEF = (2 × luas ∆ ABC) + (AB × AD) + (AC × AD) + (CB × CF)
= (2 × luas ∆ ABC) + (AB × AD) + (AC × AD) + (CB × AD) = (2 × luas ∆ ABC) + [(AB + AC + CB) × AD]
= (2 × luas alas) + (keliling ∆ ABC × tinggi) = (2 × luas alas) + (keliling alas × tinggi)
Jadi, secara umum luas permukaan prisma sebagai berikut.
f. Volume prisma
Volume prisma adalah banyaknya kubus satuan yang dapat mengisi penuh prisma tersebut. Sebagai contoh pada prisma segitiga yang sisi alas dan sisi atasnya berupa daerah segitiga siku-siku, volumenya adalah sebagai berikut:
Gambar 2.5 Balok dan prisma segitiga
Volume prisma ABD.EFH
= × volume balok ABCD.EFGH
= × (AB × BC × FB)
= ( × AB × BC) × FB = luas ∆ ABD × tinggi = luas alas × tinggi
Jadi, secara umum volume prisma sebagai berikut.
2. Limas
a. Pengertian limas
Limas adalah bangun ruang yang dibatasi oleh sebuah bidang segibanyak sebagai sisi alas dan sisi-sisi tegak berbentuk segitiga yang bertemu pada satu titik yang disebut titik puncak.
b. Unsur-unsur limas
Limas memiliki berbagai unsur, berikut pengertian unsur-unsur pada sebuah limas:
1) Bidang sisi adalah bidang-bidang yang membentuk suatu limas. 2) Rusuk limas adalah ruas garis yang dibentuk oleh perpotongan
dua sisi limas.
3) Titik sudut limas adalah titik pertemuan tiga bidang sisi pada suatu limas.
4) Titik puncak adalah titik sudut yang tidak berada pada bidang alas.
5) Tinggi limas adalah jarak antara titik puncak limas dengan bidang alas.
c. Jaring-jaring limas
Jaring-jaring limas diperoleh dengan cara mengiris beberapa rusuk limas tersebut sedemikian sehingga seluruh permukaan limas terlihat. Misalkan, limas yang akan dibuat jaring-jaringnya adalah limas segiempat. Berikut ini alur pembuatan jaring-jaring limas segiempat.
Contoh jaring-jaring limas lainnya
Gambar 2.7
Jaring-jaring limas segitiga
Gambar 2.8 Jaring-jaring limas segilima
d. Jenis-jenis limas
Tabel 2.4 Jenis-jenis limas
Nama Gambar Jumlah
sisi Jumlah rusuk Jumlah titik sudut Limas segitiga 4 6 4 Limas Segiempat 5 8 5 Limas Segilima 6 10 6 Limas Segienam 7 12 7 Limas Segi-n n+1 2n n+1
e. Luas permukaan limas
Luas permukaan limas adalah jumlah luas seluruh daerah permukaan yang membatasi limas tersebut. Dengan kata lain luas permukaan limas adalah luas daerah jaring-jaring limas. Sebagai contoh pada limas yang sisi alasnya berupa daerah persegi, luas permukaannya adalah sebagai berikut:
Gambar 2.9 Limas segiempat beserta jaring-jaringnya Luas permukaan limas
= luas persegi ABCD + luas ∆ TAB + luas ∆ TBC + luas ∆ TDC + luas ∆ TAD
= luas alas + jumlah luas seluruh sisi tegak
Jadi, secara umum luas permukaan limas sebagai berikut.
f. Volume Limas
Volume Limas adalah banyaknya kubus satuan yang dapat mengisi penuh limas tersebut. Rumus volume limas dapat dibuktikan berdasarkan rumus volume kubus.
Gambar 2.10 Kubus dengan panjang rusuk �
Luas permukaan limas = luas alas + jumlah luas seluruh sisi tegak
A E F H G D C B � � �
Limas yang terbentuk dari kubus yang dibelah kemudian diposisikan menjadi seperti berikut:
Gambar 2.11 Limas segiempat Volume limas
= × volume kubus
= × � × � × �
= × � × �
= × luas alas × tinggi
Jadi, secara umum volume limas sebagai berikut.
Volume limas = × luas alas × tinggi A G D C B A E F G B A E H G D � � � A G E H D A G D C B A G B F E � � � � � �