BAB II KAJIAN PUSTAKA KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. KajianPustaka
6. Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)
Think Pair Share (TPS) adalah suatu metode pembelajaran kooperatif yang memberi siswa waktu untuk berfikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain. Metode ini memperkenalkan ide “waktu berfikir atau waktu tunggu”
yang menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam merespon pertanyaa. Pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) ini relatif lebih sederhana karena tidak menyita waktu yang lama untuk mengatur tempat duduk ataupun mengelompokkan siswa. Pembelajaran ini melatih siswa untuk berani berpendapat dan menghargai pendapat teman.
Think Pair Share (TPS) mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan.
b. Tahapan-tahapan Pelaksanaan Think-Pair-Share
Seperti namanya “Thinking”, pembelajaran ini diawali dengan guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberi kesempatan kepada mereka memikirkan jawabannya.
selanjutnya, “Pairing”, pada tahap ini guru meminta peserta didik berpasang-pasangan. Berikesempatan kepada pasangan-pasangan itu untuk berdiskusi. Diharapkan diskusi ini dapat memperdalam makna dari jawaban yang telah dipikirkannya melalui intersubjektif di tiap-tiap pasanganya.
17 Hasil diskusi intersubjektif di tiap-tiap pasangan hasilnya di bicarakan dengan pasangan seluruh kelas. Tahap ini dikenal dengan “Sharing”. Dalam kegiatan ini diharapkan terjadi tanya jawab yang mendorong pada pengonstruksian pengetahuan secara integaratif. Paserta didik dapat menemukan struktur dari pengetahuan yang dipelajarinya.
Menurut Nursalam, (2015:180) model pembelajaran Think Pair Share menggunakan model diskusi berpasangan yang di lanjutkan dengan diskusi pleno.
Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi atau tujuan pembelajaran.
c. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif dengan tipe Think Pair Share (TPS)
Menurut Fadholi, (2009) langkah-langkah pembelajaran kooperati tipe Think Pair Share (TPS) adalah :
1) Guru menyampaikan inti materi
2) Guru meminta siswa memikirkan masalah-masalah yang ada dalam bahan bacaan/materi yang diajarkan
3) Siswa berdiskusi dengan teman sebelahnya tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
4) Guru memimpin pleno dan tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya 5) Atas dasar hasil diskusi, guru mengarahkan pembicaraan pada
materi/permasalahan yang belum diungkap siswa 6) Kesimpulan
Adapun kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) adalah:
1) Lebih mudah dan cepat membentuk kelompoknya 2) Interaksi lebih mudah
3) Memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.
4) Dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas.
5) Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang.
Sedangkan kekurangan dari model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) adalah:
1) Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor 2) Jika ada perselisihan, tidak ada penengah
3) Menggantungkan pada pasangan
4) Jumlah siswa yang ganjil berdampak pada saat pembentukan kelompok, karena ada satu siswa yang tidak mempunyai pasangan.
d. Teknik penilaian
Menurut Saefuddin, (2015:142) dalam pembelajaran tipe Think Pair Share (TPS), guru dapat menggunakan unjuk kerja untuk menilai proses pembelajaran. Untuk menilai penguasaan materi guru dapat menggunakan penilaian tertulis. Penilaian sikap dapat menggunakan teknik observasi atau jurnal.
19 7. Materi Ajar
A. Operasi pada Bentuk Aljabar 1. Penjumlahan dan pengurangan
Penjumlahan bentuk Aljabar diperoleh dengan menggabungkan suku-suku sejenis, sedangkan pengurangan bentuk aljabar diperoleh dengan mengurangkan suku yang sejenis dan hasilnya dijumlahkan dengan suku-suku yang tidak sejenis.
Bentuk-bentuk aljabar dapat dijumlahkan dan dikurangkan dengan menggunakan sifat komutatif dan distributif dengan melihat suku-suku yang sejenis dan koefisien dari masing-masing suku.
Contoh :
1) Sederhanakan bentuk-bentuk aljabar berikut : a.
b.
Jawab :
a.
b.
2. Perkalian
a. Perkalian suatu bilangan dengan bentuk aljabar suku dua
b. Perkalian suku dua
Perkalian suku dua yaitu, dapat diselesaikan dengan menggunakan sifat distributif, tabel dan skema
Contoh :
1) Tentukan hasil perkalian berikut a.
b.
Jawab :
a.
b.
3. Pemangkatan
a. Arti pemangkatan Bentuk Aljabar
Operasi perpangkatan diartikan sebagai operasi perkalian berulang dengan unsur yang sama. Untuk sebarang bilangan bulat a, berlaku
an = a x a x a x ... x a Contoh
3x2 = 3
21 b. Pemangkatan Suku dua
Dalam menentukan hasil pemangkatan suku dua, koefisien dari suku-sukunya dapat diperoleh dari bilangan-bilangan pada segitiga pascal.
Pangkat dari a (unsur pertama) pada (a + b)ndimulai dari ankemudian berkurang satu demi satu dan terakhir a1 pada sukuke-n. Sebaliknya, pangkat dari b (unsur kedua) dimulai dengan b1pada suku ke-2 lalu bertambah satu demi satu
dan terakhir bnpada suku ke-(n + 1).
(a + b)5 = a5 + 5a4b + 10a3b2 + 10a2b3 + 5ab4 + b5
(a + b)6 = a6 + 6a5b + 15a4b2 + 20a3b3 + 15a2b4 + 6ab5 + b6 4. faktorisasi bentuk Aljabar
a. Bentuk
Memfaktorkan adalah menyatakan bentuk penjumlahan suku-suku menjadi bentuk perkalian faktor-faktor. Dengan demikian, bentuk ab + ac dengan faktornpersekutuan a dapat difaktorkan menjadi a(b+c) sehingga terdapat dua faktor yaitu a dan b+c.
Contoh
b. Bentuk (Selisih dua Kuadrat)
Faktorisasi selisih dua kuadrat adalah bentuk pada ruas kiri disebut selisih dua kuadrat karena teridiri dari dua suku yang masing-masing merupakan bentuk kuadrat dan merupakan bentuk pengurangan (selisih). Ruas kanan yaitu merupakan bentuk perkalian faktor-faktor. Berdasarkan hal tersebut, maka disimpulkan bentuk
merupakan rumus untuk pemfaktoran selisih dua kuadrat.
Contoh :
c. Bentuk dan
Hasil penguadratan suku dua menghasilkan suku tiga dengan ciri-ciri sebagai berikut:
i) Suku pertama dan suku ketiga merupakan bentuk kuadrat
ii) Suku tengah merupakan hasi kali dua teradap akar kuadrat suku pertama dan suku ketiga.
Contoh : d. dengan
Pada bentuk disebut koefisen koefisien dan bilangan konstan (tetap). Ternyata memfaktorkan bentuk dengan dapat dilakukan dengan cara menentukan pasangan bilangan yang memenuhi syarat berikut.
(i) Bilangan konstan c merupakan hasil perkalian (ii) Koefisien x, yaitu b merupakan hasil penjumlahan
Faktorisasi bentuk dengan adalah Dengan syarat
Contoh : e. dengan
23 Faktorisasi bentuk dengan memenuhi aturan sebagai berikut
(i) Jika kedua suku itu dijumlahkan maka akan menghasilkan koefisien x (ii) Jika kedua suku itu dikalikan maka hasilnya sama dengan hasil kali koefisien dengan bilangan konstan.
Adapun langkah penentuan faktorisasi bentuk dengan sebagai berikut:
Dengan syarat Contoh:
B. Kerangka pikir
Keberhasilan dalam proses belajar mengajar ditentukan oleh model pembelajaran. Seorang guru harus cermat dan pandai memilih metode mengajar yang cocok untuk materi yang diajarkan agar dapat menunjang keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Pemilihan metode mengajar yang kurang efektif akan berdampak pada kurang optimalnya proses belajar mengajar yang pada akhirnya berimbas pada hasil pembelajaran yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Oleh karena itu, perlu diterapkan suatu model pembelajaran yang efektif untuk membantu siswa mendapatkan informasi, keterampilan-keterampilan, dan cara-cara berfikir serta mengemukakan ide-ide atau pendapat.
Pemilihan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dipandang efektif karena akan memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Selain itu, dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan serta memberi waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Afrilliana Sugiyanto Syam pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa (2015), menunjukkan bahwa 80,95% siswa mencapai ketuntasan individu (skor minimal 75). Hal ini berarti bahwa pembelajaran matematika dengan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) membantu siswa mencapai ketuntasan klasikal dengan persentase keaktifan siswa yaitu 80,02%, dan respon siswa terhadap pembelajaran matematika positif dengan persentase 90,48%.
Selain itu juga telah dilakukan penelitian oleh Nurfitri, (2014) dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan di SMP Negeri 1 Kahu Kabupaten bone, siswa dikatakan tuntas belajar jika hasil belajarnya mencapai minimal 69 setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS), siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar adalah sebanyak 26 orang dari jumlah keseluruhan 30 orang dengan persentase 86,67% sedangkan siswa yang tidak mencapai ketuntasan minimal adalah sebanyak 4 orang dengan persentase 13,33%. Hal ini berarti model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) membantu siswa untuk mencapai ketuntasan secara klasikal.
Jadi, asumsi bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) efektif digunakan dalam pembelajaran matematika siswa kelas VIII MTs Darul muttaqin sehingga dapat menunjang peningkatan hasil belajar siswa.
25
Aktivitas siswa Respon siswa
Tes Hasil Lembar Observasi Angket Respon
analisis
Pembelajaran Efektif Pembelajaran Tidak Efektif Skema kerangka pikir
Model pembelajaran kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
Hasil belajar
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis Mayor
Berdasarkan kajian pustaka yang dikemukakan diatas, maka hitpotesis penelitian in adalah “Pembelajaran Matematika Efektif Melalui Model Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada siswa Kelas VIII MTs Darul muttaqin”
Hipotesis Minor
1. Hasil belajar Matematika
a. Rata-rata hasil belajar siswa setelah diajar dengan menggunakan model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) lebih besar dari 69,9. Secara statistik dapat dituliskan sebagai berikut :
H0 : melawan H1 :
Keterangan :
parameter skor rata-rata hasil belajar siswa
b. Rata-rata gain ternormalisasi siswa setelah diajar dengan menggunakan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) lebih besar dari 0,29 (kategori sedang). Secara statistik dapat ditulis sebagai berikut :
H0 : g ≤ 0,29 melawan H1 : g > 0,29 Keterangan:
g = Parameter skor rata-rata gain ternormalisasi.
c. Hasil belajar siswa setelah diajar dengan menggunakan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) secara klasikal minimal 80%.
H0 : ≤ 79,9 % melawan H1 : > 79,9 % Keterangan:
= Parameter hasil belajar secara klasikal 2. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
Aktivitas siswa Kelas VIII MTs Darul Muttaqin selama mengikuti pembelajaran matematika dengan menerapkan model Kooperatif tipe Think Pair Share berada pada kategori baik, yaitu persentase jumlah siswa yang terlibat aktif .
3. Respon siswa terhadap pembelajaran
Respon siswa Kelas VIII MTs Darul Muttaqin terhadap pembelajaran matematika dengan menerapkan model Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) positif, yaitu persentase siswa yang menjawab ya
27 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian Pra-Eksperimen dengan melibatkan satu kelompok atau satu kelas. Dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran matematika melalui penerapan model kooperatif.
B. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa, aktivitas siswa dalam pembelajaran, dan respon siswa terhadap pembelajaran matematika melalui model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
2. Desain penelitian
Adapun jenis desain penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest-Post test yang dikenal dengan desain Pra Eksperimental.
Adapun desain Pra Eksperimental adalah sebagai berikut : Tabel 3.1 Desain Penelitian
Pretest Treatment Posttest
01 X 02
Emzir, (2015: 96) Keterangan :
X : Perlakuan (treatment) 01 : Tes awal (Pretest) 02 : Tes Akhir (Posttest)
C. Satuan Eksperimen dan Perlakuan 1. Satuan Eksperimen
Satuan eksperimen dalam penelitian ini adalah siswa Kelas VIII MTs Darul Muttaqin tahun pelajaran 2016/2017, dengansampel penelitian yaitu Kelas VIII MTs Darul Muttaqin yang berjumlah 36 siswa.
2. Perlakuan
Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) untuk mengetahui keefektifan dalam pembelajaran matematika. Maka ada 3 indikator keefektifan yang digunakan, yaitu: hasil belajar matematika siswa setelah proses pembelajaran, aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran.
D. Definisi Operasional Variabel
Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang variabel dalam penelitian ini, maka diberikan batasan operasional variabel sebagai berikut:
1. Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
Dalam pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS), interaksi sosial menjadi salah satu faktor penting, yang didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain.
29 2. Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai akhir yang diperoleh dari tes hasil belajar yang diberikan setelah siswa diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
3. Aktivitas Siswa
Aktivitas siswa adalah keterlaksanaan aktivitas atau perilaku siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung yang diukur dari lembar observasi siswa.
4. Respon Siswa Terhadap Pembelajaran
Respon siswa adalah ukuran kesukaan, minat, ketertarikan, atau pendapat siswa tentang model pembelajaran, cara mengajar guru, dan suasana kelas.
Respon siswa diukur dengan pemberian angket respon siswa.
E. Prosedur Penelitian
Adapun prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
a. Konsultasi dengan dosen pembimbing, guru dan kepala sekolah sebelum melakukan penelitian di sekolah.
b. Menyusun perangkat pembelajaran yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS).
2. Tahap Pelaksanaan
Melaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang telah disusun dalam RPP serta observasi terhadap aktivitas siswa disetiap pertemuan.
3. Tahap Akhir
Kegiatan yang dilakukan untuk tahap akhir adalah sebagai berikut:
a. Mengelola data hasil penelitian.
b. Menganalisis dan membahas data hasil penelitian.
c. Menyimpulkan hasil penelitian
F. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Lembar tes hasil belajar, digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran yaitu berupa soal essay sesuai dengan materi yang diajarkan.
2) Lembar observasi
a. Lembar observasi kemampuan guru mengelolah pembelajaran
Lembar observasi ini digunakan untuk mengamati kemampuan guru mengelolah pembelajaran dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung.
b. Lembar observasi aktivitas siswa
Lembar observasi ini digunakan untuk mengamati aktivitas siswa dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung.
3) Angket respon siswa digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa selama pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
31 G. Teknik Pengumpulan data
Data hasil penelitian dari kelompok perlakuan, dikumpulkan dengan menggunkan instrumen penelitian berupa tes hasil belajar matematika, lembar observasi guru, lembar observasi siswa, dan angket respon siswa.
1. Data mengenai hasil belajar matematika siswa diperoleh dari pretest yang dilaksanakan pada awal pertemuan dan posttest yang dilaksanakan pada akhir pertemuan penelitian.
2. Data tentang kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran diperoleh dari lembar observasi atau pengamatan, peneliti menggunakan teknik observasi atau pengamatan berdasarkan empat kriteria, yaitu (1) Kurang baik, (2) cukup baik, (3) baik, (4) sangat baik.
3. Data tentang aktivitas belajar mengajar diambil pada saat dilakukannya tindakan dengan menggunakan lembar observasi keaktifan siswa.
4. Data tentang respon siswa diperoleh dengan cara memberikan angket kepada siswa.
H. Teknik Analisis Data
1. Analisis Statistika Deskriptif
Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh adalah dengan menggunakan analisis statistika deskriptif. Analisis statistika deskriptif adalah menyajikan informasi dalam bentuk yang tepat, dapat digunakan dan mudah dimengerti. Statistika deskriptif berupaya melukiskan dan menganalisis kelompok yang diberikan tanpa membuat atau menarik kesimpulan tentang populasi atau kelompok yang lebih besar. (Tiro,2008:9)
a. Hasil Belajar
Hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan analisis statistika deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan hasil belajar matematika yang diperoleh siswa, guna mendapatkan gambaran yang jelas tentang hasil belajar matematika yang dikelompokkan kedalam 5 kategori, yaitu sangat tingi, tinggi, sedang, rendah, sangat rendah.
Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori hasil belajar matematika dinyatakan dalam tabel berikut:
Tabel 3.2 Kategorisasi Standar hasil belajar siswa
Skor Kategori Kriteria yang digunakan untuk menentukan hasil belajar adalah menurut standar kategorisasi yang telah ditetapkan di sekolah, yaitu:
Tabel 3.3 Kategorisasi Standar Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII MTs Darul Muttaqin
Skor Kategorisasi Ketuntasan Belajar
0 ≤ x 70 70 ≤ x ≤100
Tidak Tuntas Tuntas
(Nurfitri, 2014:32) Hasil belajar matematika siswa juga diarahkan pada pencapaian hasil belajar secara individual dan klasikal. Kriteria seorang siswa dikatakan tuntas apabila memiliki nilai paling rendah 70 dari skor ideal 100 sesuai dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang telah di tetapkan oleh pihak sekolah.
33 Sedangkan ketuntasan klasikal tercapai apabila minimal 80% siswa di kelas tersebut telah mencapai skor paling sedikit 70.
Hasil belajar klasikal
b. Peningkatan hasil belajar siswa
Menurut Hake, (Biologipedia, 2011) untuk mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa, diuji dengan menggunakan rumus Normalized Gain.
Dengan g adalah gain yang dinormalisasi (N-gain), skor posttest nilai rata-rata hasil belajar siswa setelah pembelajaran melalui model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS), skor pretest adalah nilai rata-rata hasil belajar siswa sebelum pembelajaran melalui model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan skor maksimal adalah nilai skor maksimal ideal.
Tinggi rendahnya gain yang dinormalisasi (N-gain) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Tabel 3.4 Interpretasi Nilai Gain Ternormalisasi Koefisien Normalisasi Gain Klasifikasi
g < 0,3
Analisis dilakukan terhadap hasil penilaian dari satu observer yang mengamati kegiatan guru dalam mengelolah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Pengamatan dilakukan terhadap kegiatan guru dalam melaksanakan tiap-tiap komponen dari model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
Langkah-langkah dalam menganalisis keterlaksanaan pembelajaran dalam proses pembelajaran adalah :
1) Menghitung banyaknya kategori keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam setiap pertemuan.
2) Mencari persentase frekuensi setiap kategori yaitu banyaknya kategori yang terlaksana dibagi dengan jumlah keseluruhan kategori keterlaksanaan pembelajaran kemudian dikalikan 100
RSP = Keterangan:
RSP : Rata-rata skor penilaian : Skor Penilaian
N : banyaknya aspek penilaian
Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori keterlaksanaan pembelajaran adalah berdasarkan teknik kategori persentase keterlaksanaan pembelajaran, yaitu :
Tabel 3.5 Kriteria Keterlaksanaan Pembelajaran
Persentase Kualifikasi
Kurang Baik Cukup Baik
Baik Sangat Baik
(Nurfitri, 2014:30) Dari hasil pengamatan yang diperoleh dicari rata-rata keseluruhan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran, aktivitas tersebut dikatakan efektif jika berada dalam kriteria baik atau sangat baik.
35 d. Aktivitas Siswa
Data tentang aktifitas siswa dianalisis dengan mencari presentase aktivitas siswa untuk tiap indikator. Rumus mencari aktvitas siswa untuk tiap-tiap indikator adalah sebagai berikut:
Keterangan:
Si = persentase aktivitas siswa indikator ke- i Xi = banyak aktivitas siswa indikator ke- i N = banyaknya siswa
Kriteria keberhasilan aktivitas siswa dalam penelitian ini ditunjukkan dengan sekurang-kurangnya 75% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran baik aktivitas siswa yang bersifat fisik maupun mental.
e. Respon Siswa
Data tentang respon siswa diperoleh dari angket yang dianalisis dengan mencari persentase jawaban siswa untuk tiap-tiap pertanyaan dalam angket.
Respon siswa dianalisis dengan melihat presentase dari respon siswa. Persentase ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
P = Persentase respon siswa yang menjawab ya dan tidak F= frekuensi siswa yang menjawab ya dan tidak
N= banyaknya siswa yang menjawab ya atau tidak
Kriteria yang ditetapkan untuk menyatakan bahwa para siswa memiliki respon positif terhadap model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) jika minimal 75% siswa memberikan respon positif terhadap jumlah aspek yang dinyatakan.
2. Analisis Statistika Inferensial
Menurut Tiro, (2008:9) Statistika Inferensial adalah menganalisisi data sampel untuk menarik kesimpulan atau perampatan terhadap populasi. Teknik statistik ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian. Untuk menguji hipotesis penelitian ini dilakukan dengan tahapan uji normalitas.
1) Uji Normalitas Data
Pengujian normalitas bertujuan untuk melihat apakah data tentang hasil belajar matematika siswa sebelum dan setelah perlakuan berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Dalam pengujian ini digunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirow dengan menggunakan tarif signifikan 5% atau 0,05, dengan syarat :
Jika Pvalue maka distribusinya adalah normal Jika Pvalue maka distribusinya adalah tidak normal 2) Uji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis penelitian yang dirumuskan dan hipotesis kerja atau statistik digunakan uji t one sample test dengan sebelumnya menghitung normalized gain pada data pretest dan data posttest. Normalized gain dilakukan untuk mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran Kooperatif tipe Think Phair Share (TPS) dalam pembelajaran matematika pada siswa Kelas VIII MTs. Darul Muttaqin. Kriteria
37 pengujian hipotesisnya adalah jika p = 0,05 berarti H0 ditolak dan H1 diterima.
Artinya terjadi peningkatan hasil belajar matematika siswa Kelas VIII MTs. Darul Muttaqin setelah diterapkan metode pembelajaran Kooperatif tipe Think Phair Share (TPS) dalam pembelajaran matematika dimana nilai gainnya 0,30.
1. Rata-rata hasil belajar siswa setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Think Phair Share (TPS) dirumuskan dengan hipotesis kerja atau statistik digunakan uji t one sample test. Kriteria pengujian hipotesisnya adalah jika p = 0,05 berarti ditolak dan diterima.
Artinya terjadi ketuntasan belajar matematika siswa Kelas VIII MTs Darul Muttaqin setelah diterapkan model pembelajaran Kooperatif tpe Think Pair Share (TPS) dalam pembelajaran matematika dimana nilai rata-rata KKM lebih dari 69,9.
2. Hasil belajar siswa setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) secara klasikal dihitung dengan menggunakan uji proporsi yaitu membandingkan nilai Zhitung dan Ztabel. Untuk uji proporsi dengan menggunakan taraf signifikan 5%. Kriteria pengujian hipotesisnya adalah jika Zhitung > Ztabel berarti H0 ditolak dan H1 diterima artinya ketuntasan hasil belajar siswa telah memenuhi kriteria yaitu >79,9%.
3. Peningkatan hasil belajar yang dirumuskan dengan hipotesis kerja atau statistik digunakan uji t one sample test dengan sebelumnya menghitung normalized gain pada data pretest dan data posttest. Normalized gain dilakukan untuk mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran Kooperatif tpe Think Pair Share (TPS) dalam
pembelajaran matematika pada siswa Kelas VIII MTs Darul Muttaqin. Kriteria pengujian hipotesisnya adalah jika p = 0,05 berarti ditolak dan diterima. Artinya terjadi peningkatan hasil belajar matematika siswa Kelas VIII MTs Darul Muttaqin setelah diterapkan model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dalam pembelajaran matematika dimana nilai lainnya lebih dari 0,29.
39 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Hasil Analisis Statistik Deskriptif
Hasil analisis deskriptif menunjukkan deskripsi tentang karakteristik distribusi skor hasil belajar matematika siswa pada materi Operasi Bentuk
Hasil analisis deskriptif menunjukkan deskripsi tentang karakteristik distribusi skor hasil belajar matematika siswa pada materi Operasi Bentuk