• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.4 Hasil Belajar

2.1.5.3 Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Pembelajaran matematika adalah proses yang dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan seseorang dapat belajar matematika. Siswa harus diberi kesempatan untuk terlibat aktif dalam menemukan dan memahami konsep matematika dalam kegiatan belajarnya. Unsur pokok dalam kegiatan pembelajaran matematika yaitu guru sebagai perancang kegiatan pembelajaran, siswa sebagai pelaksana kegiatan pembelajaran, dan matematika sebagai objek (mata pelajaran) yang dipelajari dalam kegiatan pembelajaran.

Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat (UUSPN Tahun 2003 Pasal 4). Berdasarkan pernyataan tersebut maka mata pelajaran matematika dimaksudkan untuk mengembangkan budaya berhitung. Pembelajaran matematika mulai diberikan di tingkat sekolah dasar. Melalui pembelajaran matematika, siswa dibekali kemampuan untuk berpikir logis, analitis, sistematis, kreatif, serta kemampuan bekerjasama.

Kemampuan tersebut diperlukan agar siswa kelak dapat bertahan hidup menghadapi situasi dan kondisi yang terus berkembang, semakin cepat berubah, penuh persaingan, serta dapat memecahkan permasalahan. Mengingat pentingnya hal tersebut, guru hendaknya dapat melaksanakan pembelajaran matematika

dengan efektif sehingga konsep abstrak dalam matematika dapat dipahami dengan baik oleh siswa. Salah satu cara untuk melaksanakan pembelajaran matematika agar efektif yaitu melalui pemanfaatan media pembelajaran. Media pembelajaran dapat membantu guru dalam menjelaskan konsep abstrak serta menarik minat siswa untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Menurut Heruman (2012: 2), pembelajaran yang ditekankan pada konsep-konsep matematika meliputi: (1) penanaman konsep-konsep dasar (penanaman konsep-konsep), yaitu pembelajaran suatu konsep baru matematika, ketika siswa belum pernah mempelajari konsep tersebut; (2) pemahaman konsep, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep, yang bertujuan agar siswa lebih memahami konsep matematika; serta (3) pembinaan keterampilan, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep dan pemahaman konsep yang bertujuan agar siswa lebih terampil menggunakan berbagai konsep matematika.

Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan Tahun 2006, tujuan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar (SD) adalah untuk: (1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah; (2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan, dan pernyataan matematika; (3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; serta (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam

mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

UUSPN Tahun 2003 menyebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran matematika bagi lulusan Sekolah Dasar/Sekolah Dasar Luar Biasa/Madrasah Ibtidaiyah yaitu meliputi: (1) aritmatika, mencakup bilangan bulat, bilangan berpangkat dan akar pangkat dua, pecahan biasa dan pecahan desimal, bilangan romawi, dan pengukuran; (2) geometri, mencakup bangun datar, sudut, koordinat, bangun ruang, dan transformasi; dan (3) statistika, mencakup pengumpulan, penyajian, dan penafsiran data, serta ukuran tendensi sentral.

Aziz (2009) menyatakan bahwa pembelajaran matematika yang terjadi selama ini adalah pembelajaran yang menekankan pada perolehan hasil dan mengabaikan proses. Siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa sebagai subjek pasif yang hanya diberi konsep dan materi sehingga pembelajaran lebih bersifat teacher centered. Pembelajaran yang demikian dapat membuat pembelajaran kurang bermakna dan materi yang dipelajari kurang bertahan lama pada diri siswa. Konsep dan materi abstrak dalam pembelajaran matematika tidak disampaikan menggunakan media dan model pembelajaran yang tepat sehingga siswa mengalami kesulitan untuk memahaminya. Hal tersebut membuat siswa memandang matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dipelajari.

Sudah saatnya untuk mengubah keadaan yang demikian. Pada saat menyampaikan materi kepada siswa, guru harus mampu menarik perhatian siswa. Salah satu cara untuk menarik perhatian siswa yaitu dengan menggunakan media pembelajaran yang bervariasi dan merangsang keingintahuan siswa. Media

pembelajaran yang digunakan juga dapat mengkonkretkan konsep dan materi matematika yang abstrak sehingga siswa dapat dengan mudah memahaminya. 2.1.6 Karakteristik Siswa Sekolah Dasar

Setiap manusia akan mengalami perkembangan dalam hidupnya. Chaplin (1989) dalam Soeparwoto, dkk (2007: 3) mengartikan perkembangan sebagai perubahan berkesinambungan dan progresif dalam organisme dari lahir sampai mati. Perkembangan tiap-tiap individu berbeda. Terdapat tahap-tahap perkembangan manusia. Pada tiap tahapan perkembangan terdapat karakteristik dan tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Karakteristik perkembangan dari tahap yang satu ke tahap yang lain saling berkaitan.

Menurut Hurlock (1991) dalam Kurnia, dkk (2007: 1-39), siswa usia SD berada pada tahap akhir masa kanak-kanak. Karakteristik anak pada tahap ini salah satunya yaitu masa dimana perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima teman sebaya.Keinginan tersebut berupa keinginan untuk diterima sebagai anggota kelompok terutama kelompok yang bergengsi dalam pandangan teman-temannya. Menurut Kurnia (2007: 1-21), karakteristik perkembangan siswa SD sebagai berikut:

Karakteristik siswa SD berada pada periode atau masa anak akhir dengan rentang usia 6-12 tahun. Karakteristik siswa SD senang bermain dalam kelompoknya dengan melakukan permainan yang konstruktif dan olahraga (bergerak). Siswa senang permainan olahraga, menjelajah daerah-daerah baru, mengumpulkan benda-benda tertentu, menikmati hiburan seperti membaca buku atau komik, menonton film dan televisi, juga melamun pada siswa yang kesepian dan sedikit mempunyai teman bermain.

Sementara tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Piaget (1988) dalam Rifa’i dan Anni (2009: 26), mencakup tahap sensorimotorik (0-2 tahun),

praoperasional (2-7 tahun), operasional konkret (7-11 tahun), dan operasional formal (11-15 tahun). Berdasarkan tahap perkembangan kognitif menurut Piaget tersebut maka siswa SD berada pada tahap operasional konkret dan operasional formal. Pada tahap operasional konkret, anak mampu mengoperasionalkan berbagai logika, namun masih dalam bentuk benda konkret. Pada tahap operasional formal anak sudah mampu berpikir abstrak, idealis dan logis. Anak sudah mampu menyusun rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis menguji solusinya.

Berkenaan dengan perkembangan aspek sosial, anak usia SD berada pada masa kanak-kanak akhir dan masa puber. Pada masa kanak-kanak akhir, anak lebih banyak melakukan hubungan dengan anak lain dan minat pada kegiatan keluarga berkurang. Pada waktu mulai sekolah, anak memasuki usiagang dan pada saat itulah kesadaran sosial berkembang pesat. Hurlock (1978) dalam Soeparwoto, dkk (2007: 117) menjelaskan bahwa pada masa puber, sikap dan perilaku anak semakin meningkat ke arah anti sosial.

Dengan demikian, karakteristik siswa SD yaitu mereka masih senang bermain, ingin dapat diterima oleh kelompoknya, serta berada pada tahap operasional konkret dan formal. Sesuai dengan karakteristik siswa SD tersebut, maka dalam pembelajaran matematika materi sifat-sifat bangun datar guru menggunakan media dan model pembelajaran. Media dan model pembelajaran yang digunakan harus dapat membantu perkembangan siswa sesuai dengan tahap dan tugas perkembangan yang harus dilaluinya.

Media pembelajaran dapat membantu siswa memahami konsep yang abstrak karena siswa SD kelas V masih berada pada tahap operasional konkret. Selain itu, siswa dapat memanipulasi media pada pembelajaran sifat-sifat bangun datar sehingga materi dan pengalaman yang diperoleh dapat lebih bermakna dan bertahan lama. Media pembelajaran yang digunakan dapat pula menjadi alat permainan edukatif bagi siswa, karena karakteristik siswa SD juga masih senang bermain. Melalui media tangram, siswa diberi kesempatan untuk belajar sambil bermain untuk memasangkan potongan tangram. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Ismail(2006: 120) yang menyatakan bahwa permainan edukatif memiliki muatan pendidikan yang dapat mengembangkan diri secara seutuhnya.

Sesuai dengan karakteristik siswa yang masih senang bermain dan ingin dapat diterima oleh kelompoknya, maka guru juga dapat menerapkan model pembelajaran yang dapat membantu perkembangan siswa. Pada pembelajaran matematika materi sifat-sifat bangun datar, model yang akan digunakan peneliti yaitu model PAIKEM. Model PAIKEM dapat membantu interaksi antarsiswa sehingga sesuai dengan perkembangan siswa SD yang ingin diterima oleh kelompoknya.Model pembelajaran yang digunakan juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk bergerak, bermain, serta memecahkan permasalahan.

Melalui media tangram dan model PAIKEM pada pembelajaran matematika materi sifat-sifat bangun datar, guru dapat melaksanakan kegiatan belajar sambil bermain. Selain itu, guru juga dapat melibatkan siswa untuk menjalin hubungan sosial yang baik dalam pemecahan masalah. Dengan demikian,aspek afektif, psikomotorik, dan kognitif siswa juga akan berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya.