• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Darussalam Ciputat

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Darussalam Ciputat

SMA Darussalam Ciputat memiliki target pembelajaran pendidikan agama Islam, karena dengan target pembelajaran keberhasilan pendidikan agama Islam dalam mencapai tujuannya dapat tercapai. Target pembelajaran pendidikan agama Islam di SMA Darussalam Ciputat antara lain:

a. Siswa memiliki pengetahuan fungsional tentang agamanya.

4

b. Siswa memiliki pribadi yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti yang luhur.

c. Siswa dapat mentaati peraturan yang ada di sekolah.

d. Siswa mampu membaca kitab suci al-Qur’an dan berusaha memahaminya.

e. Siswa giat belajar, rajin belajar, dan gemar berbuat baik

f. Siswa mampu menciptakan suasana hidup rukun antar umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dari macam-macam target diatas menjadi harapan besar untuk para guru di SMA Darussalam Ciputat guna terlaksananya keberhasilan pembelajaran pendidikan agama Islam yang diajarkan kepada siswa didalam kelas.

2. Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Darussalam Ciputat

Pada pelaksanaannya, pelajaran pendidikan agama Islam di SMA Darussalam Ciputat dalam membentuk akhlak siswa berdasarkan kurikulum yang telah dibuat oleh pihak sekolah dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta sarana dan prasarana yang ada. Pendidikan agama Islam di SMA Darussalam di tunjukan untuk menimbulkan kesadaran siswa untuk beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. serta membiasakan kepada tingkah laku, sikap dan pandangan hidup yang sesuai dengan ajaran agama Islam.

SMA Darussalam melaksanakan pengajaran agama Islam dua jam perminggu, materi pendidikan agama Islam yang diajarkan di SMA Darussalam berupa sejumlah bahan materi tentang akhlak, misalnya mengenai akhlak terpuji kepada Allah, sifat terpuji bagi diri sendiri dan terhadap orang lain serta akhlak terpuji kepada lingkungan. Pembelajaran pendidikan agama Islam ini bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan peserta didik yang diwujudkan dalam akhlaknya yang terpuji, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan serta pengamalan peserta didik tentang akhlak Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah swt.

Agar tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam dalam membentuk akhlak tercapai maka seorang guru harus memiliki kemampuan untuk memilih cara yang tepat dalam penyampain pelajaran. Guru harus mampu menggunakan metode yang bervariasi sesuai dengan materi yang diajarkan. Berbicara mengenai metode, dari hasil wawancara dengan guru pendidikan agama Islam, metode pengajaran yang digunakan di SMA Darussalam adalah metode ceramah, metode diskusi, tanya jawab, penugasan dan observasi atau kunjungan kesuatu tempat yang relevan dengan materi pendidikan agama Islam.5

Untuk mengukur keberhasilan siswa dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, guru pendidikan agama Islam melakukan sistem penilaian dengan menilai ketiga ranah belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Untuk mengukur ranah kognitif siswa, guru menggunakan pertanyaan lisan di kelas, tugas rumah, tugas individu atau kelompok, ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Sedangkan ranah afektif dan psikomotorik siswa, guru menilai perkembangan perilaku siswa setelah mendapatkan pembelajaran. 3. Bentuk-bentuk krisis akhlak yang ditemukan di SMA Darussalam

Ciputat

Usaha-usaha untuk mengoptimalkan pendidikan agama Islam dan berbagai usaha untuk mengatasi krisis akhlak telah dilakukan oleh SMA Darussalam Ciputat, namun berdasarkan hasil pengamatan penulis, masih dijumpai beberapa bentuk krisis akhlak siswa antara lain:

a. Siswa yang berbohong kepada sesama temannya. b. Siswa yang melalaikan nasehat guru dan orang tua.

c. Siswa yang tidak memiliki tutur kata yang baik dan sopan. d. Siswa yang melalaikan nasehat guru dan orang tua.

e. Meminta uang dengan paksa kepada teman (memalak). f. Siswa yang mengambil hak milik orang lain tanpa izin. g. Berkelahi atau tawuran di jalan.

h. Siswa yang melanggar tata tertib sekolah. i. Sering malas atau membolos tidak sekolah.

j. Suka bergaul dengan orang yang reputasinya jelek. k. Menjelekan nama keluarga dan sekolah.

Semua bentuk krisis akhlak yang ditemukan penulis di SMA Darussalam memang tidak tergolong pelanggaran yang diatur dalam KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana), akan tetapi tingkah laku dan perbuatan para siswa ini bertentangan dengan nilai-nilai agama.

4. Upaya–upaya Guru dalam Mengatasi Krisis Akhlak Siswa di SMA Darussalam Ciputat

Upaya guru dalam mengatasi krisis akhlak di SMA Darussalam dapat dilakukan melalui berbagai cara. Dari hasil wawancara penulis dengan guru Pendidikan Agama Islam, yaitu: mengenai usaha peningkatan pelaksanaan pendidikan agama Islam di SMA Darussalam dalam membentuk akhlak siswanya, diantaranya memberikan suri tauladan yang baik dan melakukan pembiasaan akhlak yang baik kepada siswa. Upaya-upaya untuk mengatasi krisis akhlak di sekolah antara lain:

a. Melakukan bimbingan. Bimbingan dilakukan oleh semua guru di sekolah, tidak hanya melibatkan guru BP/BK saja, tetapi menjadi keharusan bagi tiap-tiap guru untuk melakukan bimbingan untuk membentuk kepribadian siswa yang sehat mental dan spiritual.

b. Bekerja sama dengan pihak-pihak terkait, yaitu orang tua, sesama guru, dan masyarakat lingkungan sekolah. Hal ini dapat dilihat dari tiap tiga bulan sekali diadakan pertemuan untuk membahas perkembangan anak-anak mereka di sekolah.

c. Sekolah secara intensif melakukan panggilan, peringatan dan hukuman kepada siswa yang melakukan pelanggaran dan kenakalan di sekolah.6 5. Sistem Evaluasi dan Antisipasi Terhadap Krisis Akhlak Siswa

SMA Darussalam terus berusaha melaksanakan upaya-upaya untuk mengatasi krisis akhlak siswa, walaupun demikian perlu juga adanya evaluasi

dan antisipasi terhadap krisis akhlak agar upaya tersebut menjadi semakin mantap dan maksimal. SMA Darussalam memiliki evaluasi dan antisipasi sebagai berikut:

a. Mengintensifkan pelajaran Pendidikan Agama Islam.

b. Mengadakan pembenahan dan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan.

c. Penerapan metodologi mengajar dan belajar yang efektif, yaitu dengan menggunakan metode ceramah, penugasan, diskusi dan observasi atau kunjungan kesuatu tempat yang relevan.7

d. Dalam pelaksanaan kurikulum hendaknya memperhatikan keseimbangan aspek kognitif, apektif, dan psikomotorik yang memadai.

e. Peningkatan pengawasan dan disiplin terhadap tata tertib sekolah.

f. Mengadakan identifikasi dan bimbingan mengenai bakat, minat, kemampuan dan penyalurannya.

g. Melatih atau membiasakan siswa untuk dapat bekerja sama, berorganisasi dengan bimbingan guru melalui kegiatan organisasi sekolah, misalnya olah raga, OSIS, ROHIS dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang diadakan di sekolah.8

Dokumen terkait