BAB II LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
3. Pembelajaran
Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsiran tentang “belajar”. Seringkali pula perumusan dan tafsiran itu berbeda satu sama lain. Dalam uraian ini kita akan berkenalan dengan beberapa perumusan tentang belajar menurut Suyahman (2006 :1, 2, 3) belajar adalah modifikasi atau
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
12
memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing).
Menurut pengertian ini, belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, merupakan perubahan kelakuan.
Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian lain tentang belajar, yang menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, belajar adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan, dan seterusnya.
Sejalan dengan perumusan di atas, ada pula tafsiran lain tentang belajar, yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.
Dibandingkan dengan pengertian pertama, maka jelas, tujuan belajar itu prinsipnya sama, yakni perubahan tingkah laku, hanya berbeda cara atau usaha pencapaiannya. Pengertian ini menitikberatkan pada interaksi antara individu dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman belajar.
Dari pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1) Situasi belajar harus bertujuan, dan tujuan-tujuan itu diterima baik oleh
masyarakat. Tujuan merupakan salah satu aspek dari situasi belajar.
2) Tujuan dan maksud belajar timbul dari kehidupan anak sendiri.
3) Di dalam mencapai tujuan itu, siswa senantiasa akan menemukan kesulitan, rintangan-rintangan dan situasi-situasi yang tidak menyenangkan.
4) Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat.
5) Kegiatan-kegiatan dan hasil-hasil belajar dipersatukan dan dihubungkan dengan tujuan dalam situasi belajar
6) Siswa memberikan reaksi secara keseluruhan.
7) Siswa mereaksi sesuatu aspek dari lingkungan yang bermakna baginya.
8) Siswa dibantu dan diarahkan oleh orang-orang yang berada dalam lingkungan itu.
commit to user
9) Siswa diarahkan ke tujuan-tujuan lain, baik yang berkaitan maupun yang tidak berkaitan dengan tujuan utama dalam situasi belajar. (Suyahman, 2006 : 2, 3)
Sedangkan pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik. Oleh karena pembelajaran merupakan upaya sistematis dan sistemik untuk memfasilitasi dan meningkatkan proses belajar maka kegiatan pembelajaran berkaitan erat dengan jenis hakikat dan jenis belajar serta hasil belajar tersebut.
Pembelajaran harus menghasilkan belajar, tetapi tidak semua proses belajar terjadi karena pembelajaran. Proses belajar terjadi juga dalam konteks interaksi social-kultural dalam lingkungan masyarakat. (Udin S Winaputra, dkk, 2004 : 1.18)
Menurut Suyahman (2006 : 39, 40, 41, 42) ada tiga aliran psikologi yang memberikan batasan tentang pembelajaran, yaitu :
1. Psikologi Behavioristik
Menurut aliran ini pembelajaran adalah selalu memberi stimulus kepada siswa agar menimbulkan respon yang tepat seperti yang kita inginkan.
2. Psikologi Kognitif
Pembelajaran menurut psikologi kognitif yaitu dengan mengaktifkan indera siswa agar memperoleh pemahaman, sedangkan pengaktifan indera dapat dilaksanakan dengan jalan menggunakan alat bantu belajar/ media, misalnya media cetak, media elektronik, dan lainnya sesuai dengan kebutuhan.
3. Psikologi Humanistik
Pembelajaran menurut psikologi humanistik yaitu guru sebagai pembimbing, memberi pengarahan agar siswa dapat mengaktualisasi dirinya sesuai dengan potensi-potensi yang ada. Hal ini disebabkan karena siswa memiliki kemampuan unsur belajar secara alami. Untuk itu, agar siswa dapat belajar secara efektif, maka meteri/ bahan pelajaran diusahakan sesuai dengan maksud atau kehandak siswa, karena siswa akan menolaknya bila mendorong perubahan dalam persepsi siswa. Bimbingan dan pengarahan guru diperlukan sekali oleh siswa, agar siswa tidak merasa terancam oleh perubahan persepsi yang datang dari luar. Dengan demikian siswa memperoleh pengalaman dengan berbagai cara, sehingga proses belajar terjadi.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
14
Dalam pembelajaran ini, siswa perlu melakukan berdasar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadinya secara utuh (perasaan maupun intelektual) dalam proses belajar, agar dapat memperoleh hasil. Selain itu, yang penting guru berusaha untuk membimbing atau memberi pengarahan untuk menimbulkan kepercayaan diri sehingga kreativitas siswa dapat muncul.
b. Tujuan Pembelajaran
Yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata ajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dikembangkan, dan diapresiasikan. Berdasarkan mata ajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapt ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Guru sendiri adalah sumber utama tujuan bagi para siswa dan dia harus mampu menulis dan memilih tujuan-tujuan pendidikan yang bermakna dan terukur.
Menurut Suyahman (2006 : 44), suatu tujuan pembelajaran hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Tujuan itu menyediakan situasi atau kondisi untuk belajar, misalnya dalam situasi bermain peran
2. Tujuan mendefinisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan dapat diamati.
3. Tujuan menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki.
Tujuan merupakan dasar untuk mengukur hasil pembelajaran, dan juga menjadi landasan untuk menentukan isi pelajaran dan metode mengajar.
Berdasarkan isi dan metode itu selanjutnya ditentukan kondisi-kondisi kegiatan pembelajaran yang terkait dengan tujuan tingkah laku tersebut, yang disebut dengan kondisi internal. Kegiatan-kegiatan yang tidak terkait dengan tujuan tingkah laku disebut kondisi luar (eksternal). Berdasarkan pemikiran ini maka perlu menentukan kondisi-kondisi eksternal yang berguna untuk meyakinkan bahwa perilaku yang diperoleh benar-benar disebabkan oleh kegiatan belajar, bukan karena sebab-sebab lainnya.
commit to user
Tujuan merupakan tolak ukur terhadap keberhasilan pembelajaran. Karena itu perlu disusun suatu deskripsi tentang cara mengukur tingkah laku. Deskripsi ini disusun dalam bentuk deskripsi tingkah laku yang dapat diukur atau tingkah laku yang tidak dapat diamati secara langsung.
4. Metode Pembelajaran Kooperatif Model Team Games Tournament (TGT) Ismail (2002:12) dalam (http://bio-sanjaya.blogspot.com/2012/03/skripsi-ptk-model-kooperatif-tipe-teams.html#ixzz1rogGj0M3) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran mengutamakan adanya kerja sama, yakni kerja sama antara siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran dan berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas).
TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok, siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi dan siswa bekerja dalam kelompok mereka masing-masing. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama-sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang tidak mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggung jawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru.
Untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan diberikan permainan. Dalam permainan siswa akan dibagi menjadi dua kelompok, dimana kelompok satu akan berkompetisi dengan kelompok lainnya dalam permainan yang disajikan oleh guru. Siswa akan berkompetisi untuk mendapatkan nilai tertinggi untuk memenangkan permainan.
Beberapa kajian telah mengemukakan bahwa ketika para siswa bekerja bersama-sama untuk meraih sebuah tujuan kelompok, membuat mereka mengekspresikan norma-norma yang baik dalam melakukan apa pun yang diperlukan untuk keberhasilan kelompok, selain itu juga ada lima komponen utama dalam TGT, yaitu:
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
5. Penghargaan kelompok (team recognise)
5. Penerapan Model Belajar Kooperatif Team Games Tournament Dalam