• Tidak ada hasil yang ditemukan

REFORMASI PERADILAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA

C. Reformasi Birokrasi Sistem Peradilan dalam Upaya Pemberantasan Korupsi

2. Pemberantasan Korupsi dengan Cara Luar Biasa

Menurut Satjipto Rahardjo, bahwa bertindak dan berpikir biasa adalah berpikir dan bertindak sesuai dan berdasarkan konvensi-konvensi yang sudah disepakati. Dalam hukum, lembaga yang banyak menjadi landasan dalam pemberantasan korupsi, bahwa konvensi itu berarti: aturan, konsep, asas, doktrin dan sebagainya. Berpikir biasa adalah, berpikir yang tidak meninggalkan dan tidak boleh meninggalkan aturan-aturan yang telah disepakati. jadi bertindak dan berpikir disini dengan sifat yang linier, mekanistis, marginal, rasional, logis dan ketat berdasarkan aturan.

Sedangkan apabila kita memutuskan untuk menempuh jalur yang luar biasa (extra ordinary), maka yang akan kita lakukan adalah cara yang berlawanan dengan yang dikatakan “biasa” di atas. Berbeda dengan cara berpikir dan bertindak yang biasa, maka kita harus merubah cara berpikir dan bertindak tersebut dengan cara-cara yang melompat, kreatif, mematahkan aturan lama (rule breaking) dengan membuat aturan baru (rule making).

Pernyataan dalam UUD kita, bahwa “Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum”, belum menjawab persoalan secara tuntas, melainkan masih membawa banyak masalah di belakangnya. Misalnya adalah, bagaimana kita memberi arti pada hukum dan menentukan batas-batasnya.

Dikatakan dan seperti kita ketahui bahwa dimanapun di dunia ini, masyarakat hukum itu adalah komunitas yang kolot, esoterik (ekseklusif), dan anti perubahan. Maka tidak heran kalau Bung Karno pernah mengakatan bahwa: “kita tidak bisa ber-revolusi dengan para ahli hukum”, dan Shakespeare pun berkata: “let’s kill all of the lawyer”.

Masyarakat / komunitas hukum di negeri ini masih berpikir dengan cara-cara yang klasik. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai putusan hukum bahwa pengadilan, kejaksaan, kepolisian masih berpikir dan bertindak secara klasik sebagaimana yang dikatakan oleh Alvin Tofler dalam buku

“Order Out Of Choos”. Para ahli hukum masih bersikap sangat submisif

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 72 ]

terhadap hukum positif, tidak kreatif, apalagi berani bertentangan dengan aturan yang ada (rule breaking).

Pemberantasan korupsi di Indonesia, seperti apa yang saya katakan pada pendahuluan, tetap berjalan dan dijalankan menurut hukum. Tetapi, ironisnya kalau hukum itu diterima, dipahami dan dijalankan menurut cara-cara klasik, maka peranan hukum dalam pemberantasan korupsi makin tidak tuntas, bahkan jangankan hukum akan berperan, sebaliknya hukum itu bahkan dapat menghambat pemberantasan korupsi. Bahwa para ahli dan penegak hukum, para yuris, jaksa, hakim, advokat dan polisi di Indonesia masih terikat dengan cara berpikir klasik. Hal ini sesungguhnya tidak sepenuhnya kesalahan mereka, karena memang itulah “ilmu” yang mereka dapatkan dan mendidik mereka di fakultas-fakultas hukum di negeri ini, seperti umumnya di negra-negara lain..

Namun, sekarang untuk melakukan terobosan dalam pemberantasan korupsi, kita harus berpikir dan bertindak luar biasa dan kritis terhadap segala yang kita anggap menghambat tujuan-tujuan baik kita dalam pemberantasan korupsi.

E. Penutup

Dari pokok-pokok pikiran yang penulis uraikan dimuka, maka untuk memberikan gambaran mengenai seberapa panjang perjalanan yang akan ditempuh oleh bangsa Indonesia dalam upaya melakukan reformasi hukum dan mencari solusi dari keterpurukan hukum kita saat ini, adalah tergantung para perubahan/perbaikan cara pandang (paradigma) kaum akademisi dan praktisi hukum terhadap hukum itu sendiri. Oleh sebab itu, sebagai renungan lebih lanjut perlu disampaikan beberapa masalah yang dapat dijadikan bahan diskusi di kalangan aparat penegak hukum/Peradilan dan mahasiswa hukum khususnya, yaitu : pertama, proses reformasi hukum Indonesia tidak akan sampai pada tujuannya tanpa diawali dari perubahan cara pandang yang benar terhadap hukum itu sendiri, karena hukum itu hanyalah berupa alat/sarana saja untuk mencapai tujuan bangsa. Kedua, jika para lulusan pendidikan tinggi hukum dibiarkan terbelenggu oleh cara pandang (paradigma/pola pikir) legalistis-positivistis semata, maka selamanya mereka tidak akan mampu menemukan hakekat/makna yang tersembunyi dibalik aturan-aturan hukum. Padahal, tanpa mengetahui makna yang terkandung dalam/dibalik ketentuan-ketentuan/aturan hukum itu secara keseluruhan (holistik) maka mustahil para aparat hukum akan

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 73 ]

menemukan jalan penyelesaian atau solusi dalam penyelesaian permasalahan hukum secara adil dan memuaskan.

Ketiga, batas-batas perbedaan yang dapat diterima dari penyelenggaraan pendidikan tinggi hukum menurut levelnya masing-masing (S1, S2, S3) hanyalah menyangkut bobot (muatan) kurikulumnya saja, dan bukan menyangkut pembedaan cara pandang/pola pikir terhadap hukum itu sendiri. Artinya, para pendukung hukum progresif harus sudah mulai melakukan proses pencerahan, yaitu dengan membina para mahasiswa hukum khususnya, untuk berfikir dan memecahkan masalah-masalah hukum secara progresif.

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa eksponen hukum progresif ingin selalu melihat hukum dalam pola pikir masyarakat Indonesia yang bersifat holistis, dalam fungsinya untuk mensejahterakan bangsa dengan menyelesaikan persoalan-persoalan sosial menurut hati nurani masyarakat.

Membina pola pikir yang demikian jelas tidak mudah, karena untuk menggabungkan diri kedalam eksponen hukum progresif dibutuhkan pengetahuan yang luas. Tanpa pengetahuan yang luas, mustahil seorang ilmuan dan praktisi hukum akan mampu menjelaskan dan memecahkan semua persoalan bangsa dengan pendekatan yang holistis. Akhirnya disarankan agar para aparat penegak hukum yaitu: kepolisian, kejaksaan, hakim dan advokat, mulai saat ini untuk berani mereformasi diri dengan cara berpikir dan bertindak bebas dan kreatif, tidak hanya submisif, demi untuk menyelamatkan bangsa dari keambrukan karena korupsi. Demikian pula khususnya kepada para mahasiswa yang di masa depan diharapkan akan memimpin bangsa ini, semoga.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Ali, Keterpurukan hukum di Indonesia (Penyebabnya dan Solusinya), Ghalia Indonesia, Jakarta, 2001.

---, Tinjauan Normatif dan Sosiologis Kasus Dugaan Suap Hakim Agung, Diktum (Jurnal Kajian Putusan Pengadilan), LeIP, Edisi I tahun 2002.

Arief Sidarta, Refleksi tentang Struktur Ilmu Hukum, Disertasi Program Doktor Unpad, 1996.

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 74 ]

Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana Tentang Sistem Peradilan Pidana Terpadu (Integrated Criminal Justice System), Badan Penerbit UNDIP, Semarang, 2006.

---, Beberapa Aspek Pengembangan Ilmu Hukum Pidana (Menyongsong Generasi Baru Hukum Pidana Indonesia), Pidato Pengukuhan Penerimaan Jabatan Guru Besar Dalam Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum UNDIP, Semarang, 1994.

Bernard L. Tanya, Hukum, Politik, dan KKN, Srikandi, Surabaya, 2005.

Franz Magnis Suseno, Etika Politik (Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern), PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003.

Friedman, The Legal System, Rusel Sage Foundation, 1975.

Khudzaifah Dimyati, Teorisasi Hukum : Studi Tentang Perkembangan Pemikiran Hukum Di Indonesia 1945-1990, Muhammadiyah University Press, Surakarta, 2004.

Mardjono Reksodiputro, Hak Asasi Manusia dalam System Peradilan Pidana, Pusat Pelayanan dan Pengabdian Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 1998.

Nash hamid Abu Zayd, Al Qur’an, Hermeneutik dan Kekuasaan, RQiS, Bandung, 2003.

Poepoprodjo, Hermeneutik, Pustaka Setia, Bandung, 2004.

Roberto Mangaibera Unger, Law and Modern Society Toward a Critism of Social Theory, The Free Press, New York, 1976.

Roeslan Saleh, Penjabaran Pancasila dan UUD 45 Dalam Perundang-Undangan, Aksara Baru, Jakarta, 1979.

Steven Vago, Law and Society, Prentice Hall, 1991.

Satjipto Rahardjo, Mengajarkan Keteraturan, Menemukan Ketidak-teraturan (Teaching Order, Finding Disorder), Tigapuluh Tahun Perjalanan Intelektual dari Bojong ke Pleburan, Pidato Emiritus Guru Besar UNDIP, 2000.

---, Menuju Produk Hukum Progresif, Makalah disampaikan dalam Diskusi Terbatas yang diselenggarakan oelh FH UNDIP, 2004.

---, Hukum Progresif : Hukum yang Membebaskan, Jurnal Hukum Progresif, Vol.1/No.1/April 2005, PDIH Ilmu Hukum UNDIP.

---, Polisi Indonesia Mandiri (dalam Jurnal Polisi Indonesia), Program Pascasarjana KIK UI bekerjasama dengan Yayasan Obor Indonesia, Jakarta September 1999 – April 2000, 2000.

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 75 ]

---, Rekonstruksi Pemikiran Hukum di Era Reformasi, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional tentang Menggugat Pemikiran Positivisme di Era Reformasi, diselenggarakan oleh Mahasiswa Program Doktor UNDIP, Semarang, 2000.

---, Hukum Adat Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (Perspektif Sosiologi Hukum), makalah disampaikan pada lokakarya hukum adat, oleh Mahkamah Konstitusi, 2005.

---, Masalah Penegakan Hukum Tinjauan Sosiologis, BPHN, Jakarta, 1983.

---, Pembangunan Hukum Nasional dan Perubahan Sosial, Identitas Hukum nasional, FH UII, 1997.

---, Sistem Peradilan Pidana dan Wacana Kontrol Sosial, Jurnal Hukum Pidana dan Kriminologi, Vol.I/I/1998.

---, Transformasi Nilai dalam Penemuan dan Pembentukan Hukum Nasional, BPHN, Jakarta, 1995.

Soetandyo Wignjosoebroto, Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional – Dinamika Sosial-Politik Dalam Perkembangan Hukum di Indonesia, PT.

Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995.

Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000.

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 76 ]

AKTUALISASI HUKUM UNTUK MENGATASI KRISIS NILAI