• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Obyektif Mengenai Korupsi di Indonesia

Menurut Lembaga Tranparency International tahun 2006, bahwa Indonesia merupakan negara terkorup ke-5, dari 146 negara di dunia, sejajar dengan Negara Angola, Kongo, Pantai Gading, Georgia, Tajikistan dan Turmenistan. Data ini menunjukkan bahwa masalah korupsi merupakan masalah yang sangat serius bagi kelangsungan pembangunan nasional.

Secara statistik hasil laporan BPK, bahwa pada semester pertama tahun 2004, menunjukan adanya kebocoran anggaran negara di sektor birokrasi sebesar 166.532 trilyun rupiah, bersumber dari kegiatan berupa manipulasi anggaran, tender yang kolutif, proyek fiktif, penyunatan proyek- proyek pemerintah dan lain-lain ( Kompas, 21 Oktober 2005). Bagi Indonesia, korupsi adalah penyakit kronis hampir tanpa obat, menyelusup di segala segi kehidupan dan tampak sebagai pencitraan budaya buruk bangsa Indonesia.

Secara sinis orang dapat menyebut jati diri Indonesia adalah “Perilaku Korupsi”. Pencitraan tersebut tentunya tidak sepenuhnya salah, sebab dalam realitanya kompleksitas korupsi dirasakan bukan lagi masalah hukum semata, akan tetapi sesungguhnya sudah merupakan pelanggaran atas hak- hak ekonomi dan sosial masyarakat.

Korupsi telah menimbulkan kemiskinan dan kesenjangan sosial yang besar, masyarakat tidak dapat menikmati pemerataan hasil pembangunan dan tidak mendapatkan hak yang seharusnya diperoleh. Secara umum, korupsi telah melemahkan ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat dan bangsa Indonesia. Dalam upaya reformasi pemberantasan tindak pidana korupsi secara empirik telah dilakukan langkah-langkah yang progresif, baik dari segi perubahan dan penyempurnaan perundang-undangan, maupun diciptakannya lembaga-lembaga baru.

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 44 ]

Dalam ranah perundang-undangan telah diundangkan U.U. no.28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Berwibawa dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan TIPIKOR yang telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 yang memuat ketentuan-ketentuan dan semangat baru baik dari aspek pembuktian kualifikasi tindak pidana, sanksi pidana dan yang menyangkut pertanggung jawaban pidana, serta U.U. no.30 Tahun 2002 tentang KPK, disamping dikeluarkannya Inpres no.II Tahun 2005 tentang Tim Koordinasi Pemberantasan TIPIKOR, dan lain-lain.

Dari obyek kelembagaan berdasarkan U.U. no.30 Tahun 2002 telah dibentuk KPK, sebagai lembaga independen dan bersifat superbody yang mempunyai kewenangan-kewenangan luar biasa, meliputi koordinasi, supervisi, penindakan, pencegahan dan monitoring. Hal yang menarik dari lembaga KPK ini, yaitu mempunyai kewenangan mengambil alih (take over) penyidikan yang telah dilakukan oleh polisi maupun jaksa.

Jadi, apabila kita melihat dari aspek hukum berupa peraturan- peraturan dan lembaga yang telah dibentuk maka, rasanya sudah cukup memadai dalam upaya pemberantasan TIPIKOR namun nyatanya korupsi sampai saat ini belum juga secara signifikan dapat diberantas dan belum juga ditemukan obat penangkalnya. Jangankan berkurang, dari waktu ke waktu korupsi malah semakin parah. Kalau dimasa Orde Baru, praktik korupsi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, saat ini sudah dilakukan secara terbuka, sungguh sangat mudah menunjukkan terjadinya korupsi di negara kita ini.

Korupsi dapat dilihat dengan mata telanjang di berbagai lembaga, baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Masih jelas dalam ingatan kita dari berbagai kasus korupsi yang dilakukan oleh para pemegang amanah rakyat, seperti kasus korupsi yang dilakukan para pejabat BI dan anggota-anggota baik DPR maupun DPRD atau para petugas pengadilan yang dilakukan secara “berjamaah”. Kebiasaan-kebiasaan menerima suap yang diperankan oleh anggota-anggota DPR/DPRD dan kebiasaan jual beli perkara baik oleh polisi, jaksa, advokat, maupun hakim dalam proses peradilan. Dalam kegiatan politik pun, korupsi dangan mengikuti pernyataan Lord Acton bahwa “Power tends corrupt, Absolut power corrupts absolutely”. Di Indonesia hal ini dapat diamati dari Pilkada, ketika berbagai kecurangan dan politik uang begitu terang benderang dilakukan oleh para elit politik yang menghalalkan segara cara untuk mendapatkan kekuasaan yang diinginkan,

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 45 ]

sehingga setelah mereka terpilih sedapat mungkin mencari cara untuk berupaya mengembalikan “modal” yang telah dikeluarkan, bahkan tidak tanggung-tanggung, yaitu melebihi dari apa yang telah mereka keluarkan.

Jadi politik sekarang sudah menjadi mata pencaharian.

Jadi dapat disimpulkan bahwa korupsi adalah sumber dari segala bencana dan kejahatan yang menimpa negeri kita ini (the root of evil). Harus ditegaskan bahwa koruptor adalah lebih berbahaya dari teroris. Uang trilyunan rupiah yang dijarah oleh koruptor adalah biaya hidup matinya puluhan juta penduduk miskin Indonesia. Dalam hal inilah, jelas bahwa koruptor adalah the real teroris dan hanya omong kosong apabila pemerintah berniat dan berupaya untuk memberantas kemiskinan dan ketidakadilan, meningkatkan mutu pendidikan dan kesehatan dan lain-lain, bila korupsi masih merajalela di negara ini.

Pemberantasan korupsi adalah perang melawan mafia/koruptor yang sangat solid di semua lini. Upaya untuk memerangi sekaligus memberantas korupsi tidak akan efektif tanpa didasari adanya itikad baik (polotical will) dari pemerintah, khususnya aparat penegak hukum yang menjerat para koruptor dengan sungguh-sungguh dengan jeratan hukum yang maksimal, dimana sebagai shock therapi bagi orang-orang yang mencoba melakukan tindak korupsi. Namun kenyataan yang terjadi, jangankan aparat kita memberikan hukuman yang berat, aparat penegak hukum yang menjadi garda terdepan dalam pemberantasan korupsi, ternyata ikut terlibat dan menjadi bagian dari jamaah korupsi tersebut.

Fenomena ini merupakan gambaran suram dalam penegakan hukum di Indonesia. Kita sudah dan sangat muak berbicara tentang kebobrokan dan kebusukan aparat dan pejabat hukum di Indonesia sampai pada titik yang paling rendah.

Upaya pemberantasan korupsi di negara kita, tidak bisa lagi dilakukan hanya menggunakan pendekatan nalar dan hukum semata.

Mengingat korupsi dilakukan dengan cara-cara yang canggih dan sistematis, maka untuk pemberantasannya pun harus dilakukan dengan cara yang sama, yaitu menyimak seperti apa yang dikatan oleh Sayidina Ali, bahwa kebenaran yang tidak terorganisir dengan baik, akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik.

Ringkasnya, bahwa bangsa ini sudah sampai pada batas kesabaran dalam menghadapi korupsi yang telah menggerogoti hampir seluruh aspek kehidupan. Batas kesabaran itu seperti yang telah disampaikan oleh Presiden

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 46 ]

SBY dalam acara pencanangan Hari Anti Korupsi tanggal 9 Desember 2004, yang mengatakan bahwa korupsi harus diberantas dengan bentuk dan cara- cara yang luar biasa (exstra ordinary).