Sejarah globalisasi menunjukkan bahwa setiap perubahan zaman memiliki core (penggeraknya) masing-masing. Uraian Ritzer, dan Toffler menunjukkan bahwa gerak perubahan itu selalu dipicu oleh perkembangan teknologi yang melahirkan era revolusi industri 4.0, yang tidak hanya tidak hanya sekadar membuka interaksi secara luasnamun juga mendisrupsi berbagai bidang kehidupan manusia.41 Disruptif pada awalnya merupakan fenomena yang terjadi dalam dunia ekonomi, khususnya di bidang bisnis.
40Pasal 5 Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia:
Penyetaraan capaian pembelajaran yang dihasilkan melalui pendidikan dengan jenjang kualifikasi pada KKNI terdiri atas: a. lulusan pendidikan dasar setara dengan jenjang 1; b. lulusan pendidikan menengah paling rendah setara dengan jenjang 2; c. lulusan Diploma 1 paling rendah setara dengan jenjang 3; d.
lulusan Diploma 2 paling rendah setara dengan jenjang 4; e. lulusan Diploma 3 paling rendah setara dengan jenjang 5; f. lulusan Diploma 4 atau Sarjana Terapan dan Sarjana paling rendah setara dengan jenjang 6; g. lulusan Magister Terapan dan Magister paling rendah setara dengan jenjang 8; h. lulusan Doktor Terapan dan Doktor setara dengan jenjang 9; i. lulusan pendidikan profesi setara dengan jenjang 7 atau 8; j. lulusan pendidikan spesialis setara dengan jenjang 8 atau 9.
41 Alvin Toffler, The Third Wave. (Bantam Books, 1980) hlm 10-11 dan George Ritzer, Globalization: A Basic Text (English: Wiley-Blakwell. 2010), hlm 332
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 165 ]
Clayton Christensen menyebutnya sebagai distruption innovative.42 Disruptif sendiri merupakan kondisi ketika sebuah bisnis dituntut untuk terus berinovasi mengikuti perkembangan, sehingga bisnis tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekarang, namun dapat mengantisipasi kebutuhan di masa mendatang. Di era sekarang, disrupsi tidak hanya berlaku pada dunia bisnis. Fenomena disrupsi memberikan dampak perubahan yang besar dalam berbagai bidang. Disrupsi tidak hanya mengubah bisnis, tapi fundamental bisnisnya.43 Mulai dari struktur biaya sampai ke budaya, dan bahkan ideologi dari sebuah industri. Paradigma bisnis pun bergeser dari penekanan owning menjadi sharing (kolaborasi).
Contoh nyata dapat dilihat pada perpindahan bisnis retail (toko fisik) ke dalam e-commerce yang menawarkan kemudahan dalam berbelanja, ditambah merebaknya taksi online kemudian mengancam eksistensi bisnis taksi konvensional. Fenomena disrupsi tidak hanya terjadi dalam dunia bisnis saja. Namun telah meluas dalam bidang lainnya seperti pendidikan, pemerintahan, budaya, politik, dan hukum. Bidang hukum pun sekarang pun juga terdisrupsi. Peraturan-peraturan hukum pun harus mengikuti perkembangan teknologi yang ada, sebagaimana ketika kementerian perhubungan kesulitan menerapkan aturan untuk memberikan aturan terhadap angkutan online. Singkatnya, dalam disruptive akan terjadi disruptive regulation, disruptive culture, disruptive mindset, dan disruptive marketing.44
Ada beberapa alasan mengapa berbagai tujuan pendidikan hukum tidak terlihat tercapai secara signifikan pada lulusan yang dihasilkan oleh fakultas hukum dan dihadapkan denga keharusan penyesuaian kebutuhan dan tantangan zaman.45 Pertama, kurikulum inti pendidikan hukum yang
42 Clayton M. Christensen, The Innovator’s Dilemma. (Harvard: Harvard Business, 1997). hlm 51
43 Renald Khasali, Strawberry Generation. (Jakarta: Mizan, 2018). hlm 22
44 Mark D. Fenwick, Wulf A. Kaal dan Erik P.M Vermeulen bahkan mengemukakan “regulators find themselves in a situation where they believe they must opt for either reckless action (regulation without sufficient facts) or paralysis (doing nothing). Inevitably in such a case, caution tends to trump risk. But such caution merely functions to reinforce the status quo and makes it harder for new technologies to reach the market in a timely or efficient manner.” [Mark D. Fenwick, Wulf A. Kaal dan Erik P.M Vermeulen. "Regulation Tomorrow:
What Happens When Technology Is Faster than the Law?," (American University Business Law Review, Vol. 6, No. 3, 2017), hlm 561]
45 Pada umumnya tujuan program studi ilmu hukum adalah: tujuan program studi ilmu hukum yakni menyiapkan peserta didik menjadi sarjana hukum yang: (a) menguasai hukum Indonesia, (b).
menguasai dasar ilmiah dan dasar kemahiran kerja untuk mengembangkan ilmu hukum dan hukum, (c). mengenal dan peka terhadap masalah keadilan dan masalah kemasyarakatan, (d). mampu menganalisis hukum dalam masyarakat, (e) mampu menggunakan hukum sebagai sarana untuk memecahkan masalah kemasyarakatan dengan bijaksana dan berdasarkan atas prinsip hukum.
[Harkristuti Harkrisnowo. 2003. “Pendidikan Tinggi Hukum dalam Sistem Peradilan Terpadu,” diakses
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 166 ]
berlaku sejak masa pemerintahan kolonial hingga sekarang masih berlaku.
Kalaupun ada perbedaan, perbedaan tersebut terletak pada pemberlakuan sistem perkuliahan semata dan penekanan pada mata kuliah yang bernuansa terapan, mata kuliah terapan atau praktis tersebut pun dirasakan sangat kurang dan tidak sebanding dengan teori-teori hukum yang disuapkan kepada mahasiswa selama masa studi.46 Selanjutnya, bila dicermati mayoritas substansi mata kuliah dalam kurikulum inti dan metode pengajaran tidak berubah secara mendasar sejak dulu hingga sekarang.
Substansi mata kuliah dan metode pengajaran telah terlanggengkan karena banyak faktor. Pengajar dengan metode ceramahnya sangat langgeng dengan ciri khasnya masing-masing yang tak berubah meskipun tujuan pendidikan hukum telah berubah. Pelanggengan juga terjadi karena buku pegangan yang digunakan dari tahun ke tahun tidak berubah. Apa yang disampaikan dalam perkuliahan oleh pengajar senior dijadikan bahan ajar berupa diktat ataupun buku oleh pengajar berikutnya. Mahasiswa sulit kebebasan atau kesempatan untuk mencari perspektif yang berbeda.
Mahasiswa menjadi percaya, dan tindakan dosen tampaknya mendukung keyakinan ini, bahwa dosen ingin mahasiswa menjawab pertanyaan ujian dengan jawaban yang diharapkan dari mereka dan tidak untuk membandingkan, membandingkan, atau menganalisis berdasarkan berbagai perspektif yang ditawarkan oleh pihak lain atau ahli pada pertanyaan yang relevan.47Kedua, keadaan semakin di perburuk dengan mayoritas pemberi kerja lulusan cenderung lebih memilih jenis lulusan yang mengetahui hukum dan peraturan dibandingkan dengan yang memiliki pemahaman luas tentang hukum. Dapat dikatakan bahwa hukum di Indonesia telah direduksi menjadi peraturan. Oleh karena itu, apa pun tujuan yang ditentukan dalam pendidikan hukum, fakultas hukum akan terus menghasilkan lulusan yang sesuai dengan selera pengusaha.
dari http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol7255/pendidikan-tinggi-hukum-dalam-sistem- peradilan- terpadu.] Ia mengutip SK Mendikbud No. 0325/U/1994, yang mengubah Keputusan Mendikbud No. 017/D/0/1993, pada 30 Agustus 2016.
46 Penulis tidak mengetahui secara persis mengapa metode seperti ini bertahan sejak tahun 1950- 1965 . Adapun spekulasi logis yang mungkin diajukan adalah metode demikian berkembang dan tertanam dalam cara mengajar para pengajar, yang kemudian terus terjadi sampai tahun 1990an, sampai akhirnya terlembagakan pada tahun 1994 di mana kebetulan timbul paradigma bahwa untuk melaksanakan pendidikan hukum yang praktis yang perlu dilakukan hanyalah melanjutkan metode tersebut dengan menambahkan pelajaran-pelajaran tentang keterampilan hukum. Hikmahanto Juwana bahkan mengamini bahwa telah terbentuk self-perpetuating cycle baik dari segi materi maupun segi metode mengajar dari dosen fakultas hukum, yang membuat metode ini terus berlangsung dan sulit untuk berubah. [Hikmahanto Juwana, Reformasi Pendidikan Hukum di Indonesia….Op. Cit, hlm 19]
47 Ibid, hlm 21
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 167 ]
Sepanjang sejarah fakultas hukum Indonesia, belum banyak fakultas hukum yang cukup berani untuk menghasilkan lulusan yang berbeda dari fakultas hukum lainnya, bahkan untuk tujuan memenuhi tujuan pendidikan hukum sebagaimana ditentukan oleh arah kehendak politik. Pada akhirnya keadaan ini disebabkan persepsi masyarakat telah menghasilkan keseragaman, sifat dan tipe, lulusan yang dihasilkan oleh fakultas hukum.
Masyarakat stereotip fakultas hukum lulusan menjadi sangat legalistik, baik dalam menghafal, dan di atas semua yang setia dengan doktrin hukum.
Konsekuensinya adalah bahwa penyelenggara pendidikan hukum, dosen, dan bahkan mahasiswa menganggap bahwa tidak ada pilihan lain selain menyesuaikan diri dengan stereotip masyarakat yang dirasakan. Secara singkat, dapat disimpulkan bahwa beberapa tujuan pendidikan hukum yang dicatat dalam kenyataannya tidak berdampak pada lulusan yang dihasilkan oleh fakultas hukum. Fakultas hukum sudah melakukan dan akan terus menghasilkan lulusan yang menyerupai lulusan yang diproduksi oleh fakultas hukum yang pertama kali diperkenalkan oleh pemerintah kolonial.
Kesimpulan ini juga dapat secara wajar dinyatakan untuk menunjukkan bahwa tujuan pendidikan hukum benar-benar mewakili sesuatu yang netral.
Juga masuk akal untuk menyatakan bahwa tujuan pendidikan hukum dalam konteks Indonesia tidak sesuai dengan preferensi para pemimpin politik atau kondisi spesifik negara karena pada akhirnya lulusan fakultas hukum Indonesia pada umumnya sama.48
Keterbukaan terhadap studi hukum lintas disiplin merupakan fokus utama dalam merespon 4IR. Keterbukaan ini memiliki legitimasinya di dalam epistemologi hukum sendiri. Sejatiny, ilmu hukum terdiri atas dua bagian besar. Pertama, adalah ilmu dogma dan konsep dasar hukum dan kedua adalah ilmu kenyataan hukum. Akomodasi bagi ilmu hukum yang mempelajari masyarakat, juga sains dan teknologi, bisa diletakkan dalam ilmu kenyataan hukum. Universitas di negara lain sudah lama mengembangkan kuliah “law and science”, “law and technology”, “law and medicine”, atau “economic analysis of law”. Demikian pula kolaborasi interdisiplin ilmu hukum dan ilmu sosial-humaniora telah lama melahirkan percabangan ilmu baru, socio-legal studies. Universitas otonomi dan bersistem kredit di Indonesia harus menyediakan kuliah pilihan yang luas. Mahasiswa harus diberi ruang untuk mendapatkan pengetahuan yang bisa
48 Ibid, hlm 22
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 168 ]
menyempurnakan keahliannya sebagai sarjana hukum. Bagaimanapun kelak mereka akan menjadi penentu kebijakan dalam bidang hukum yang tidak steril dari konteks politik, kultural, ekonomi, sains, dan teknologi.
Keterbukaan terhadap sains dan teknologi bagi mahasiswa hukum tidak dapat dihindarkan. Pertama, didorong oleh kebutuhan program reformasi hukum. Pada umumnya di seluruh dunia problem yang dihadapi masyarakat terkait proses yudisial adalah keterlambatan, ketiadaan akses, dan korupsi.49 Teknologi informasi (TI) akan mendukung dan memastikan tata kelola administrasi dan proses peradilan yang baik. Masa kelam proses peradilan, di mana nepotisme, kolusi, dan korupsi menggerogoti wibawa pengadilan50, tidak boleh terulang lagi. TI juga dibutuhkan dalam proses pembuktian di pengadilan melalui penggunaan video, audio dalam sesi persidangan, pelaporan elektronik, video konferensi untuk saksi, dan penyimpanan file. Pendeknya semua proses pengambilan keputusan di persidangan membutuhkan TI.51 Mahkamah Konstitusi (MA) dan Mahkamah Agung (MA) telah mengakomodasi ini dengan menggunakan teknologi untuk mereformasi administrasi peradilan. MK meluncurkan secara resmi Sistem Informasi MK yang terdiri dari Permohonan Online, Tracking Perkara, Anotasi Putusan MK, e-Minutasi, e-BRPK, Kunjungan MK, Live Streaming, dan Layanan Persidangan Jarak Jauh (video conference), dan MA dengan diterbitkannya Perma No 3 Tahun 2018 tentang Administrasi Perkara di Pengadilan secara Elektronik bertanggal 29 Maret 2018, maka lengkap MK dan MA mulai melakukan serangkaian inovasi dan pembaharuan sistem peradilannya.52 Kedua, pergeseran (shifting) besar- besaran terjadi ketika satu juta pekerjaan konvensional akan hilang karena digantikan oleh kecerdasan buatan atau robotic, termasuk profesi hukum,
49 Dory Reiling mengemukakan “Technology for Justice examines impacts of information technology on the administration of justice. It contributes to knowledge of information and IT in court processes. World wide, court users complain about long delays, lack of access to justice and court corruption. This study examines how IT can help remedy these complaints. It is relevant for courts and court reform, for the IT industry and for legal aid.”
Dory Reiling, Technology for Justice How Information Technology can support Judicial Reform, [Leiden University Press Law, Governance and Development Dissertation Series, 2009) hlm 4
50 Sebastian Pompe, Runtuhnya Institusi Mahkamah Agung, (LeIP: Jakarta, 2012)
51 Dory Reiling, Technology for Justice How Information Technology……Op. Cit, hlm 14
52 Pan Mohamad Faiz mengemukakan, setidaknya ada empat hal yang tercermin dari pembaharuan tersebut. Pertama, para advokat yang akan berperkara harus sudah terdaftar datanya dalam sistem pendataan elektronik. Kedua, pendaftaran perkara mulai diarahkan secara elektronik (online), termasuk untuk pembayaran biaya perkaranya. Ketiga, panggilan bagi para pihak akan dikirimkan secara elektronik berdasarkan database yang didaftarkan. Keempat, Salinan putusan atau penetapan pengadilan juga akan dikirimkan secara elektronik kepada para pihak paling lambat 14 hari sejak putusan atau penetapan diucapkan. [Pan Mohamad Faiz, MK dan E-Court Di Era Disruptif, Majalah Konstitusi No. 134, April 2018, hlm. 79-80]
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 169 ]
seperti notaris dan advokat. Richard Susskind menyebutkan terdapat 3 (tiga) faktor pendorong perubahan dalam profesi hukum yaitu (1) tantangan, (1) liberalisasi, dan (2) teknologi informasi.53 Pendorong pertama adalah tantangan yaitu kemauan klien untuk mendapatkan lebih banyak layanan dengan harga yang lebih ekonomis, serta peluang dari firma hukum dan pengacara untuk dapat menyediakan layanan tersebut. Pendorong kedua adalah liberalisasi yang berarti bahwa meskipun dalam sejarah panjang diketahui bahwa hanya pengacara berkualifikasi yang dapat menyediakan layanan hukum, namun saat ini telah terdapat perubahan dari pendekatan standar selama ini bagaimana sebuah layanan hukum dapat diberikan karena garis batas antara profesi hukum dan profesi non-hukum menjadi sangat kabur, hal ini berakibat pada konsultasi hukum yang dapat diberikan pula oleh para professional di bidang hukum, tetapi tidak sepenuhnya berprofesi sebagai pengacara. Pendorong ketiga adalah teknologi informasi.
Teknologi ini menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru untuk menyediakan lebih banyak layanan hukum dengan biaya lebih sedikit dan efisiensi,54 terutama setelah muncul start up atau legal tech yang mampu memberikan konsultasi hukum secara lengkap dan tanpa biaya. Faktor- faktor lain yang dapat mempengaruhi perkembangan hukum adalah politik, globalisasi, ekonomi serta faktor sejarah. Namun dari semua faktor yang telah disebutkan sebelumnya, penantang terkejam terhadap perubahan profesi profesi adalah teknologi. Hal ini dikarenakan hanya melalui penemuan 1 (satu) alat baru atau mekanisme kecil, ribuan orang dapat menjadi pengangguran. Terlihat pula pada sektor hukum yang mulai terdisrupsi oleh teknologi, sebagai contoh di seluruh sistem pengadilan Amerika Serikat, dalam 1 (satu) tahun menerima klaim gugatan 3 (tiga) kali lebih sedikit dibandingkan dengan sistem penyelesaian sengketa melalui online eBay.55 Bahkan saat ini teknologi kecerdasan buatan adalah bagian sentral dari transformasi digital pada 4IR yaitu ketika teknologi big data memicu pembelajaran mesin (machine learning) maka teknologi kecerdasan
53 Richard Susskind, Tomorrow’s Lawyers: An Introduction To Your Future, (UK: Oxford University Press, 2013) hlm 8
54 Ibid, hlm 9
55 Richard Susskind dan Daniel Susskind, The Future Of The Professions: How Technology Will Transform The Work Of Human Experts, (Oxford University Press, 2015), hlm. 1-3.
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 170 ]
buatan akan semakin maju dan memiliki dampak pada segala bidang kehidupan, khususnya hukum.56
Ketiga, saat ini, hukum Belanda yang berakar sama dengan hukum Indonesia justru sudah berkembang ke arah lain. Yurisprudensi saat ini dianggap sebagai sumber hukum yang penting, di samping kodifikasi hukum. Tampak upaya semakin mendekatkan kepastian hukum dengan keadilan masyarakat.57 Selain itu, yurisprudensi dari kasus-kasus penting di Belanda menjadi rujukan dan bahan diskusi di berbagai perkuliahan di fakultas hukum. disisi lain terdapat kerja sama antara sekolah hukum dengan lembaga penegakan hukum dan parlemen.58 Paradigma berhukum di Belanda sendiri hukum idak hanya dibahas sebagai teks mati (black letter), tetapi diintegrasikan dengan persoalan hukum baru yang tidak bisa diisolasi dari perkembangan sosial dan sains.59 Penegakan rule of law tetap teguh sambil mengakomodasi perkembangan hukum baru berbasis keadilan.
Mahasiswa fakultas hukum Belanda tidak hanya belajar tentang konsep dasar dan dogma hukum, tetapi juga memahami hukum yang hidup melalui putusan hakim. Selalu ada jurang antara teks hukum dan hukum hidup yang senyatanya dianut masyarakat. Teks hukum masih berisi cita-cita dan idealisme, yang bertujuan melindungi masyarakat, tetapi belum merupakan hukum yang hidup. Untuk menjadi hukum yang hidup, teks hukum harus diuji dalam kasus sengketa, dan putusan hakim terhadap sengketa itulah hukum yang hidup.60
Berdasarkan hal sebagaimana terurai pendidikan tinggi hukum harus merespon, sehingga seorang mahasiswa hukum harus memiliki kemampuan multitasking. Perbaikan mata kuliah di mana terdapat penekanan baru terhadap pembelajaran dengan menggunakan alat komputerisasi. Hal ini ditenggarai dengan semakin banyak startup legaltech, asosiasi legaltech, serta konferensi legaltech yang diselenggarakan. Selain itu, beberapa kampus hukum di Amerika dan Eropa telah membuat pusat penelitian dan pelatihan terkait “hukum dan teknologi kecerdasan buatan”, telah mulai
56 Qur’ani Dewi Kusumawardani bahkan mengemukakan bahwa para pembuat kebijakan dan regulator di negara maju seperti Uni Eropa, Jepang, Inggris dan Amerika Serikat pun saat ini tengah bergulat dengan teknologi kecerdasan buatan dalam sektor hukum. [Qur’ani Dewi Kusumawardani, Hukum Progresif Dan Perkembangan Teknologi Kecerdasan Buatan, Veritas Et Justitia, Vol 5, No 1 (2019), hlm 184]
57 Richard J. Wilson, Practical Training in Law in the Netherlands: Law Model or Clinical Model, and the Call of Public Interest Law, (Utrecht Law Review, Vol 8, No 1, 2012) hlm 172.
58 Ibid, hlm 177.
59 Ernst van Bemmelen van Gent, Legal Education: A New Paradigm, (Bynkershoek Law Review, 2012), hlm2
60 Ibid, hlm 9-10
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 171 ]
dikembangkan pula pengacara robot (robolawyer) dan robot yang mampu menghasilkan putusan hukum (robojudge).61 Selain itu, tuntutan masyarakat adalah agar sekolah hukum melahirkan profesi hukum dengan pengetahuan dasar dan keterampilan hukum yang kuat; sekaligus mampu membangun budaya berkeadilan. Menegakkan rule of law, tanpa meninggalkan keadilan masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya reformasi kurikulum. kurikulum hukum sekarang didominasi perkuliahan wajib tentang dogma dan dasar hukum. Mahasiswa S-1 wajib menempuh 144 satuan kredit semester (SKS), terdiri dari kuliah wajib fakultas 100 SKS, wajib universitas 21 SKS, skripsi 4 SKS, dan sisanya 19 SKS masih berupa kuliah wajib jurusan atau program kekhususan, yang hanya menyisakan sekitar 6-9 SKS untuk kuliah pilihan.
Peluang mahasiswa untuk mengambil kuliah pilihan sangat minim, padahal saat ini ada banyak persoalan kemanusiaan dan kemasyarakatan yang membutuhkan ilmu hukum. Setidaknya dalam ruang kuliah pilihan dapat disemai ilmu kenyataan hukum, yaitu studi hukum interdisipliner, yang bersentuhan dengan ilmu sosial-humaniora, sains dan teknologi kekinian.
Selain itu, metode perkuliahan off class sudah menjadi kebutuhan untuk melihat praktik hukum di lapangan. Baik buruknya praktik hukum dapat ditelusuri dari substansi yang diajarkan pendidikan tinggi hukum.62 Ilmu hukum tidak bisa lagi dikungkung dalam romantisisme akademik masa lalu, dan dikukuhkan dalam rezim administratif-birokratik pendidikan tinggi yang kaku dan sukar berubah. Jika ilmuwan hukum bisa berkolaborasi secara luas dengan ilmuwan lain, lembaga pemerintah, industri, dan pegiat masyarakat, keberadaannya akan lebih dirasakan oleh pencari keadilan.
Masyarakat haus akan literasi hukum, advokasi, dan pendampingan hukum.