• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menegakkan Hak Asasi Perempuan

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 137 ]

terhadap perempuan bukan masalah pribadi/individu tetapi merupakan tanggung jawab bersama dalam kehidupan bermasyarakat.

Kekerasan terhadap perempuan secara umum tidak diatur hanya ada beberapa pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yaitu Bab Kejahatan terhadap Kesusilaan, seperti perkosaan terhadap perempuan bukan istrinya yaitu Pasal 285 KUHP, perempuan yang pingsan Pasal 286 KUHP, perempuan di bawah umur Pasal 288 KUHP, perbuatan cabul/pelecehan seksual Pasal 294 KUHP, perdagangan perempuan Pasal 297 KUHP, dan penganiayaan istri Pasal 356 KUHP. Penempatan pasal-pasal tersebut di bawah bab tentang kejahatan terhadap kesusilaan (crime againt ethics) sendiri menimbulkan persoalan konseptual karena eksistensi perempuan direduksi menjadi nilai-nilai kesusilaan belaka dan bukan dalam rangka melindungi eksistensinya sebagai manusia. 1

Untuk penganiayaan terhadap istri ( domestic violence) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana memberikan pemberatan pidana, dan hanya mengatur kekerasan fisik sebagai bentuk kejahatan, tetapi tidak mempertimbangkan kekerasan fisik atau seksual.

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 138 ]

DUHAM merupakan standar umum dan mendorong penghormatan pada hak dan kebebasan manusia sebagai landasan dari keadilan, kebebasan dan kedamaian. Setelah proklamasi DUHAM 1948 oleh Majelis Umum PBB, ada beberapa intrumen internasioal yang tidak hanya terkait dengan prinsip non-diskriminasi, tetapi juga ditujukan pada kelompok perempuan yang rentan dalam hal-hal tertentu. Konvensi tentang Penindasan Perdagangan Orang dan Eksploitasi Melacurkan orang lain, ( Convention on the Suppression of the Traffic in Persons and the Exploitation of the Prostitution of Others ), Konvensi pertama yang memberi perhatian pada rentannya perempuan dalam keadaaan khusus.

Selain itu ada Instrumen HAM internasional yang ditujukan pada perempuan di ranah publik adalah Convention on the political Rights of Women ( Konvensi tentang Hak Politik Perempuan) yang menjamin hak partisipasi politik bagi perempuan, usaha untuk melakukan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan masih terbatas pada ranah publik.

Indonesia meratifikasi Konvensi tersebut dengan Undang-Undang RI No.

68 tahun 1958, tentang Pengesahan Konvensi Hak Politik Wanita.

Suatu Deklarasi tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, maka dilakukan langkah-langkah untuk merumuskan suatu Konvensi Internasional yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat Negara- negara anggota PBB. Upaya dan usaha telah dilakukan oleh kelompok perempuan seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dengan menggunkan strandar dan norma HAM dalam instrumen internasional yang sudah ada, dirumuskan instrumen HAM perempuan yang komprehensif yaitu Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women ( CEDAW) Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan.

Indonesia meratifikasi Konvensi tersebut melalui UU RI No. 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita, dengan persyaratan terhadap Pasal 29 ayat (1) tentang perselisihan mengenai penafsiran atau penerapan Konvensi ini.

Indonesia termasuk salah satu Negara pihak yang meratifikasi CEDAW yang dilatar belakangi bebarapa alasan prinsip yang dapat dilihat dalam konsideran Undang-Undang No. 7 tahun 1984 yaitu ;

(a) Bahwa segala warga Negara bersamaan kedudukannya didalam hukum pemerintahan, sehingga egala betuk diskriminasi terhadap

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 139 ]

wanita harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang dasar 1945.

(b) Bahwa Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di dalam sidangnya tanggal 18 Desember 1979, telah menyetujui Konvesi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women).

(c) Bahwa ketentuan dalam Konvensi tersebut di atas pada dasarnya tidak bertentangan dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan peraturan perundangan-undangan Republik Indonesia.

(d) Bahwa Pemerintaha Republik Indonesia telah menandatangani Konvesi tersebut pada tanggal 29 Juli 1980 sewaktu diadakan Konferensi Sedunia Dasawarsa Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi Wanita di Kopenhagen.

(e) Bahwa dengan hal tersebut di atas maka dipandang perlu mengesahkan Konvensi sebagaimana tersebut pada huruf b di atas dengan Undang-undang. 2

Walaupun berbagai instrumen internasional tentang HAM perempuan dan Konvensi CEDAW telah terbit namun kekerasan terhadap perempuan tetap berlanjut. Sehingga pada tahun 1992 Komite CEDAW mengeluarkan Rekomendasi Umum No. 19 tahun 1992 tentang Kekerasan Terhadap Perempuan. Dalam Rekomendasi Umum ini menegaskan bahwa;

1. Definisi diskriminasi terhadap perempuan seperti ditentukan dalam Pasal 1 Konvensi CEDAW, termasuk juga kekerasan berbasis gender, yaitu kekerasan yang langsung ditujukan terhadap perempuan, karena dia adalah perempuan, atau tindakan-tindakan yang memberi akibat pada perempuan secara tidak proposional.

Tindakan-tindakan tersebut termasuk tindakan yang mengakibatkan kerugikan atau penderitaan fisik, mental, dan seksual, atau ancaman-ancaman seperti paksaan dan perampasan kebebasan lainnya.

2. Kekerasan berbasis gender yang merusak, menghalangi , atau meniadakan penikmatan oleh perempuan atas hak asasinya dan kebebasan fundamental berdasarkan hukum internasional atau

2 Achie Sudiarti Luhulima, Cedaw Menegakkan Hak Asasi Perempuan, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014, hal 38

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 140 ]

berdasar konvensi hak asasi manusia, adalah diskriminasi dalam pengertian Pasal 1 Konvensi.

Dalam Pasal 1 Konvensi CEDAW menjelaskan ; Untuk tujuan Konvensi, istilah “ diskriminasi terhadap perempuan “ berarti setiap pembedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan -kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apapun lainnya oleh prempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan.

Konferensi Dunia Hak Asasi Manusia pada tanggal 23 Juni 1993 menyetujuai The Vienna Declaration and Plan of Action ( Deklarasi dan Program aksi Wina. Program aksi Wina menyatakan beberapa hal tentang hak asasi perempuan antara lain :

1. Hak asasi perempuan ( the human rights of women) adalah bagian dari Hak Asasi Manusia yang tidak dapat dicabut, integral, dan tidak dapat dipisahkan.

2. Kejahatan berbasis gender dan semua bentuk pelanggaran dan pelecehan seksua, termasuk yang terjadi karena prasagka budaya dan trafiking internasioal, tidak sesuai denagn martabat dan harga diri seorang manusia dan harus dihapuskan.

3. Pentingnya usaha penghapusan kekerasan terhadap perempuan dalam kehidupan privat dan public, pengahapusan semua bentuk pelecehan seksual, eksploitasi dan trafiking perempuan , penghapusan prasangka atas dasar jenis kelaminn dalam pelaksanaan hukum, serta penghapusan konflik apapun yang dapat terjadi antara hak perempuan dan akibat buruk dari praktik- praktik tradisional atau kebiasaan tertentu, prasangka budaya serta ekstrem agama.

4. Pelanggaran hak asasi perempuan dalam situasi politik bersenjata adalah pelanggaran dari prinsip-prinsip fundamental hak asasi manusia internasional dan hukum kemanusiaan. Semua pelanggaran jenis ini termasuk pembunuhan, perkosaan sistematis, perbudakan seksual dan kehamilan secara paksa, menuntut tanggapan yang efektif.

Instrumen HAM Perempuan Internasional yang lain diantaranya adalah;

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 141 ]

a. Tahun Internasional tentang perempuan 1975 (Internasional Womens Year 1975). Tahun internasional tentang Perempuan 1975 dimaksudkan untuk mengingatkan dan meminta perhatian dunia bahwa diskriminasi terhadap perempuan terus-menerus terjadi di berbagai belahan dunia.

Tahun Internasioanal tentang Perempuan bersamaan dengan diselenggarakan Konferensi Dunia I tentang Perempuan 1975 di Mexico City, dengan fokus perlu dirumuskan dan dikembangkannya tujuan masa depan serta strategi yang efektif dan rencana aksi bagi pemajuan perempuan. Konfenrensi ini menghasil suatu Rencana Aksi Dunia (World Plan of Action) bagi pemajuan perempuan, dalam mencapai sasaran utama Tahun Internasional tentang Perempuan, yaitu Persamaan , kesetaraan, keadilan , pembangunan dan perdamaian (Equality, Development and Peace). Untuk dapat melaksanakan Rencana Aksi Dunia bagi Pemajuan Perempuan , Majelis Umum PBB mengidentifikasi tiga sasaran kunci sebagai dasar kerja PBB bagi perempuan ; (1) pemenuhan kesetaraan gender dan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, (2) integrasi dan partisipasi penuh perempuan dalam pembangunan, dan (3) sumbangan yang meningkat oleh perempuan dalam memperkuat perdamaian dunia.

b. Konferensi Dunia II tentang Perempuan 1980 di Kopenhagen, menghasilkan beberapa hal penting yaitu :

1. Suatu tonggak penting dalam pemajuan perempuan:

diadopsinya Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan dalam tahun 1979 oleh Majelis Umum PBB, dan terbuka ratifikasi dan aksesi pada Konvensi.

2. Konvensi juga mengakui adanya kesenjangan antara hak perempuan yang dijamin oleh perundang-undangan dan kemampuan perempuan untuk menggunakan dan mendapat manfaat dari haknya yang dijamin oleh undang-undang.

3. Konvensi mengidentifikasi 3 bidang yang harus diberi perhatian penuh dan dilaksanakan bagi perempuan, yaitu ; (a) kesetaraan penuh dalam akses pada pendidikan, (b) kesetaraan dalam akses

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 142 ]

pada kesempatan kerja, dan (c) keseteraan dalam akses pada pelayanan perawatan kesehatan.

4. Menentukan beberapa langkah tindak yang harus dilaksanakan oleh Negara-negara yaitu ; (a) menjamin hak pemilikan dan kontrol perempuan pada harta milik (property), terutama pemilikan atas tanah, rumah dan sebagainya, (b) memperkuat hak perempuan atas harta warisan, pengasuhan anak, dan kewarganegaraan, (c) mendorong diubahnya prasangka, kebiasaan dan sikap stereotype pern perempuan dan laki-laki.

c. Konferensi Dunia III tentang Perempuan 1985 di Nairobi, menghasilkan beberapa hal antara lain ;

1. Adanya pengakuan global mengenai gerakan mewujudkan kesetaraan gender, dengan hadirnya 15. 000 wakil-wakil LSM/NGO dari seluruh dunia dalam forum ini.

2. Pemerintah didorong untuk bertanggung jawab dengan menentukan prioritas dan langkah tindak yang dilakukan yaitu

; (a) langkah tindak legal dan konstitusional, (b) kesetaraan dalam partisipasi sosial dan (3) kesetaraan dalam partisipasi politik dan pengambilan keputusan.

d. Konferensi Dunia IV tentang Perempuan 1995 di Beijing, menghasilkan Deklarasi dan Landasan Aksi Beijing ( Declaration and the Beijing Platform for Action ) menegaskan kembali beberapa hal ;

1. Hak asasi perempuan adalah hak asasi manusia.

2. Di beberapa Negara, kesadaran perempuan tentang hak asasi perempuan merupakan kendala dan hambatan bagi perempuan untuk menikmati hak asasinya secara penuh dan mencapai kesetaraan dengan laki-laki, serta kesetaraan dan keadilan dalam keluarga dan masyarakat.

3. Perlunya perubahan dari pemberian fokus pada perempuan menjadi konsep gender.

4. Perlu adanya pendidikan bagi semua tentang HAM perempuan, termasuk pengetahuan tentang lembaga-lembaga yang dapat memberikan bantuan hukum serta prosedur untuk mendapat bantuan apabila perempuan mengalami pelanggaran HAM.

5. Ada 12 critical areas of concern yang merupakan keprihatinan dunia yaitu ; (1) perempuan dan kemiskinan, (2) pendidkan dan

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 143 ]

pelatihan bagi perempuan, (3) perempuan dan kesehatan, (4) kekerasan terhadap perempuan, (5) perempuan dan konflik bersenjata, (6) perempuan dan ekonomi, (7) perempuan dalam kedudukan pemegang kekuasaan dan pengambilan keputusan, (8) mekanisme kelembagaan untuk pemajuan perempuan, (9) hak asasi perempuan, (10) perempuan dan media masa, (11) perempuan dan lingkungan hidup, dan (12) anak perempuan ( the girl child).

Setiap bidang kritis ditentukan sasaran strategis seperti kritis kekerasan terhadap perempuan yaitu; (1) melakukan langkah tindak terpadu untuk mecegah dan meghapus tindak kekerasan terhadap perempuan, (2) mempelajari sebab dan akibat kekerasan terhadap perempuan dan mempelajari langkah tindak pecegahan, (3) mengahapus perdagangan perempuan dan membantu para korban kekerasan yang terkaitan degan pelacuran dan perdagangan perempuan. Terkait dengan hak asasi perempuan maka ada beberapa sasaran strategi yaitu ; (1) memajukan dan melindungi hak asasi perempuan, melalui penerapan secara penuh semua perangkat hak asasi manusia, terutama Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (2) menjamin persamaan (kesetaraan dan keadilan) dan non diskriminasi berdasarkan hukum maupun dalam praktik, (3) mencapai sadar hukum.

Dari berbagai instrumen tentang menegakkan hak asasi perempuan baik internasional maupun nasional pada prnsipnya adalah dalam rangka memberikan perlindungan terhadap perempuan diruang publik maupun ruang privat. Oleh karena itu perlu adanya kesadaran bersama untuk terus meningkatkan dan bahkan tidak berhenti untuk selalu mengedepankan pemahaman mengenai HAM perempuan dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat terutama lingkungan keluarga, agar terhindar dari tindak kekerasan terhadap perempuan.