| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 132 ]
DAFTAR PUSTAKA
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 133 ]
eJournal Ilmu Pemerintahan, 2017, 6 (2): 553-566 ISSN 2477-2458 (online), ISSN 2477-2631 (cetak), ejournal.ip.fisip-unmul.ac.id, 2017.
Hesperian. 2013, Health Guides (Pertambangan dan Kesehatan). Hesperian, 471-472. http://hesperian.org/wpcontent/uploads/ [03 Desember 2014].
I Putu Gede Ardhana, “Kajian Kerusakan Sumber Daya Hutan Akibat Kegiatan Pertambangan”, dalam Jurnal Ecotrophic, 6 (21), 2011.
Kaltim Post, 5 September 2001.
Marek Piechowiak, The Concept of Human Rights and Their Extra-Legal Justification dalam buku An Introduction to the International Protection of Human Rights, Turku/Abo, Finlandia: Institute for Human Rights Abo Akademi University, 2000.
Pasal 1 ayat (2) Konvensi ILO 169.
Pertiwi, H.D. Dampak Keberadaan Perusahaan Pertambangan Batubara Terhadap Aspek Ekologi, Sosial dan Ekonomi Masyarakat di Era Otonomi Daerah (Kasus: Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda). Skripsi. Institute Pertanian Bogor (IPB): Bogor. 2011.
The Asia Foundation, Indonesia Rapid Decentralization Appraisal (IRDA), (Jakarta: The Asia Foundation, 2003.
Teuku Ade Fachlevi, Eka Intan Keumala Putri, Sahat M.H. Simanjuntak, Dampak Dan Evaluasi Kebijakan Pertambangan Batubara Di Kecamatan Mereubo, dalam Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Vol. 2 No. 2, Agustus 2015.
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 134 ]
MENEGAKKAN HAK ASASI PEREMPUAN DALAM TINDAK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN
Dr. Bahria Prentha, SH. MH
A. Pendahuluan
Dalam pembangunan nasional hukum tidak hanya difungsikan sebagai sarana penunjang tetapi sebagai sarana pembaharuan dan pengayoman masyarakat. Hukum tidak hanya dibangun untuk mengikuti perkembangan masyarakat, tetapi lebih jauh lagi untuk mengarahkan pembentukan masyarakat yang dicita-citakan, disamping itu hukum juga berperan sebagai sarana untuk mencegah, menyelesaikan dan mengatasi konflik yang terjadi dengan cara-cara damai untuk menciptakan ketertiban. Pembentukan masyarakat yang dicita-citakan salah satunya adalah menghindari terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Tindak kekerasan terhadap perempuan sudah ada sejak adanya peradaban manusia dan selalu menjadi topik yang hangat untuk dibicarakan, tetapi sulit untuk diatasi atau dicegah. Yang menarik adalah pada tahun 1993 dalam Koferensi Hak Asasi Manusia II di Wina dinyatakan sebagai isu global dan ditetapkan sebagai pelanggaran terhadap Hak Asasi manusia.
Dengan di undangkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap wanita (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women) disingkat CEDAW, Indonesia melaksanakan perbuatan hukum mengikat diri pada perjanjian Internasiona, menciptaka kewajiban dan akuntabilitas Negara untuk memberikan penghormatan, pemenuhan , perlindungan hak asasi perempuan dan penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Konvensi yang telah disahkan dengan undang-undang menjadi sumber hukum dalam arti fomal, disamping peraturan perundang-undangan, kebiasaan, yurisprudensi dan doktrin. Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang RI No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 7 ayat (2) “ Ketentuan hukum internasional yang telah diterima Negara Republik Indonesia yang menyangkut hak asasi manusia menjadi hukum nasional “.
Secara tegas Instrumen tentang Hak Asasi Manusia telah ditetapkan dalam Pembukaan UUD Negara RI Tahun 1945 menyatakan “ Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 135 ]
itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilan”. Selanjutnya Susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berrdasarkan pada : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam Konvensi Hak Asasi Manusia II di Wina tahun 1993 kekerasan terhadap perempuan dinyatakan sebagai isu global dan ditetapkan sebagai pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Pada Konvensi Dunia PBB IV tentang perempuan di Beijing, China, pada tanggal 4 -15 September 1995 disebutkan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah suatu penghambatan bagi tercapainya sasaran–sasaran persamaan , pembangunan dan perdamaian, selain itu juga merupakan salah satu dari 12 Critical areas of concern dan telah diidentifikasi sebagai salah satu dari 12 hambatan dalam mencapai kesetaraan, pembangunan dan perdamaian. Dari tahun 1989 CEDAW telah membuat rekomendasi bahwa semua Negara yang telah meratifikasi konvensi penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan harus memasukan masalah kekerasan terhadap perempuan dalam laporan mereka.
Isu global kekerasan terhadap perempuan sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia, dimaksudkan adalah bagaimana tiap warga negara di negara manapun wajib mendapatkan perlindungan akan semua haknya disegala bidang seperti rasa aman yang menjadi haknya, dan rasa aman tidak hanya fisik tetapi termasuk psikis. Oleh karenanya upaya untuk memperjuangkan hak asasi manusia harus terus dilakukan dan negara berkewajiban memberikan perlindungan terhadap korban dan menindak pelaku kekerasan terhadap perempuan. Pencegahan terhadap terjadinya kekerasan terhadap perempuan, sejalan dengan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara RI Tahun 1945. Negara berpandangan bahwa segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga (keluarga) adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusian serta bentuk diskriminasi yang harus dihapus.
Pandangan negara tersebut didasarkan pada Pasal 28 Undang- Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 beserta perubahannya. Pasal 28 G ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 menentukan bahwa “ Setiap orang berhak atas perlndungan diri pribadi, keluarga, kehormatan,
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 136 ]
martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi”. Pasal 28 H ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 menentukan bahwa “ Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.
Dasar filosofi yang terdapat dalam Konsideran Undang-Undang No.
23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga menjelaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa amandan bebas dari segala bentuk kekerasansesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945. Segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggara hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusian serta bentuk diskriminasi yang harus dihapus. Bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga yang kebanyakan adalah perempuan, harus mendapat perlindungan dari negara dan/ atau masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman kekerasa, penyiksaan, atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan. Bahwa dalam kenyataannya kasus kekerasan dalam rumah tangga banyak terjadi, sedangkan sistem hukum di Indonesia belum menjamin perlindungan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga.
Perkembangan dewasa ini menunjukkan adanya tindak kekerasan secara fisik seperti penagniayaan, perampasan hak-hak istri, psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga pada kenyataannya terjadi maka diperlukan suatu pemahaman bersama atau suatu definisi tentang kekerasan terhadap perempuan atau “ Gender based violence “ yang disepakati secara internasional. Gender based violence adalah segala tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat pada kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, dan psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yg terjadi didepan umum atau dalam kehidupan pribadi.
Tindak kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah bersama. Sehingga tidak berlebihan apabila masyarakat temasuk negara ikut bertanggung jawab dalam memerangi kekerasan berdasarkan jenis kelamin. Untuk itu diperlukan adanya perubahan sikap bahwa kekerasan
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 137 ]
terhadap perempuan bukan masalah pribadi/individu tetapi merupakan tanggung jawab bersama dalam kehidupan bermasyarakat.
Kekerasan terhadap perempuan secara umum tidak diatur hanya ada beberapa pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yaitu Bab Kejahatan terhadap Kesusilaan, seperti perkosaan terhadap perempuan bukan istrinya yaitu Pasal 285 KUHP, perempuan yang pingsan Pasal 286 KUHP, perempuan di bawah umur Pasal 288 KUHP, perbuatan cabul/pelecehan seksual Pasal 294 KUHP, perdagangan perempuan Pasal 297 KUHP, dan penganiayaan istri Pasal 356 KUHP. Penempatan pasal-pasal tersebut di bawah bab tentang kejahatan terhadap kesusilaan (crime againt ethics) sendiri menimbulkan persoalan konseptual karena eksistensi perempuan direduksi menjadi nilai-nilai kesusilaan belaka dan bukan dalam rangka melindungi eksistensinya sebagai manusia. 1
Untuk penganiayaan terhadap istri ( domestic violence) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana memberikan pemberatan pidana, dan hanya mengatur kekerasan fisik sebagai bentuk kejahatan, tetapi tidak mempertimbangkan kekerasan fisik atau seksual.