| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 143 ]
pelatihan bagi perempuan, (3) perempuan dan kesehatan, (4) kekerasan terhadap perempuan, (5) perempuan dan konflik bersenjata, (6) perempuan dan ekonomi, (7) perempuan dalam kedudukan pemegang kekuasaan dan pengambilan keputusan, (8) mekanisme kelembagaan untuk pemajuan perempuan, (9) hak asasi perempuan, (10) perempuan dan media masa, (11) perempuan dan lingkungan hidup, dan (12) anak perempuan ( the girl child).
Setiap bidang kritis ditentukan sasaran strategis seperti kritis kekerasan terhadap perempuan yaitu; (1) melakukan langkah tindak terpadu untuk mecegah dan meghapus tindak kekerasan terhadap perempuan, (2) mempelajari sebab dan akibat kekerasan terhadap perempuan dan mempelajari langkah tindak pecegahan, (3) mengahapus perdagangan perempuan dan membantu para korban kekerasan yang terkaitan degan pelacuran dan perdagangan perempuan. Terkait dengan hak asasi perempuan maka ada beberapa sasaran strategi yaitu ; (1) memajukan dan melindungi hak asasi perempuan, melalui penerapan secara penuh semua perangkat hak asasi manusia, terutama Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (2) menjamin persamaan (kesetaraan dan keadilan) dan non diskriminasi berdasarkan hukum maupun dalam praktik, (3) mencapai sadar hukum.
Dari berbagai instrumen tentang menegakkan hak asasi perempuan baik internasional maupun nasional pada prnsipnya adalah dalam rangka memberikan perlindungan terhadap perempuan diruang publik maupun ruang privat. Oleh karena itu perlu adanya kesadaran bersama untuk terus meningkatkan dan bahkan tidak berhenti untuk selalu mengedepankan pemahaman mengenai HAM perempuan dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat terutama lingkungan keluarga, agar terhindar dari tindak kekerasan terhadap perempuan.
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 144 ]
perempuan dalam posisi subordinat dibandingkan dengan laki-laki. Dengan kata lain, akar penyebabnya adalah persoalan-persoalan gender dan budaya patriarki. Di satu sisi ketimpangan peran gender menyebabkan perempuan terkungkung dengan peran reproduksi di bawah control suami. Dengan paradigma tersebut akibatnya sikap dan tindakan perempuan yang mengabaikan peran domestik dianggap sebagai pembangkangan terhadap suami. Di sisi lain budaya patriaki memperkukuh ketimpangan peran gender tersebut, karena laki-laki ditempatkan pada posisi tinggi dibanding perempuan.
Dalam budaya patriarki (budaya yang bersifat phallo-centris), maskulinitas berperan sebagai norma sentral sekaligus pertanda bagi tatanan simbolis masyarakat, yaitu memberikan privillage pada jenis kelamin laki- laki untuk mengakses material bacic of power daripada mereka yang berjenis kelamin perempuan.3 Akses tersebut dimulai sejak usia dini, bahkan sebelum seorang individu dapat memilih bentuk sosialisasi mana yg cukup memadai untuk dirinya. Proses pengkondisian ini berjalan terus menerus sehingga membentuk common sence tentang kebenaran ruang sosial, cara berpakian, dan perperilaku. Siapapun yang akan menagbaikan kebenaran tersebut akan mendapat sanksi sosial. 4
Lebih lanjut disebutkan bahwa pada ranah domestik nilai partiarki yang merupakan refleksi dari nilai sosial, budaya dan agama, tersebut menekan lembaga keluarga bahkan dijadikan mekanisme kepentingan- kepentingan pencapaian tujuan keluarga yang tidak seimbang antara status dan peran laki-laki dan perempuan. disatu sisi tujuan keluarga dapat tercapai tapi disisi lain akan mengorbankan hak-hak dan kepentingan perempuan bahkan dilakukan dengan cara-cara kekerasan baik fisik maupun psikologis.
Sedangkan pada ranah publik nilai patriarki mempengaruhi terjadi perilaku dan perlakuan yang merendahkan perempuan baik secara fisik maupun psikologis seperti pelecehan seksual hingga terjadinya tindak pidana perkosaan dan lain-lain. Kekerasan terhadap perempuan dalam aspek hukum sama dengan penyimpangan perilaku atau perilaku menyimpang. Untuk dapat disebut sebagai perbuatan melanggar hukum
3 Mc Donald, Gerald, Family Power, The Assesment of Decode of Theory and Research, Journal of Marriage and Family, 1980, Vol 42
4 Siti Homzah, Kekerasan terhadap Perempuan, Tinjauan dalam Berbagai Disiplin Ilmu & Kasus Kekerasan, Bandung, Refika Aditama, 2010, hal 3
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 145 ]
terutama perbuatan pidana, maka perbuatan itu adalah keadaan yang dibuat oleh seseorang atau barang sesuatu yang dilakukan. Perbuatan tersebut
Untuk dapat disebut sebagai perbuatan pidana maka harus terlebih dahulu dirumuskan dalam undang-undang sebagai perbuatan yang dapat dihukum. Dalam arti bahwa kekerasan terhadap perempuan dapat dipidana jika perbuatan pelaku telah memenuhi unsur rumusan norma dalam undang-undang sebelum perbuatan itu terjadi. Perbuatan pidana atau tindak pidana adalah terjemahan dari strafbaar feit dari bahasa Belanda dengan berbagai pengertian : (a) perbuatan yang dapat/boleh dihukum, (b) peristiwa pidana, (c) perbuatan pidana, (d) tindak pidana dan (e) delik.
Para ahli hukum pidana Indonesia menggunakan beberapa istilah untuk menterjemahkan strafbaar feit seperti Moeljatno dan Roeslan Saleh memakai istilah yang sama yaitu perbuatan pidana, dengan rumusan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana barangsiapa melanggar larangan tersebut. Moeljatno menolak menggunakan istilah peristiwa pidana karena peristiwa itu adalah pengertian yang konkrit yang hanaya menunjuk pada suatu kejadian yang tertentu saja misalnya matinya orang. Hukum pidana tidak melarang orang mati, tetapi melarang adanya orang mati karena perbuatan orang lain. 5
Ahli hukum pidana yang lain sepertii Sudarto menggunakan istilah tindak pidana untuk menterjemahkan strafbaar feit dengan alasan bahwa istilah ini sudah lazim dimakai oleh pembentuk undang-undang dan sudah diterima oleh masyarakat. Menurut Sudarto perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang dilakukan oleh orangyang memungkinkan pemberian pidana. 6 Terkait dengan tindak kekerasan terhadap perempuan dalam Pasal 1 Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan menyatakan ; kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan berdasarkan jenis kelamin (gender based violence) yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum ataupun dalam kehidupan pribadi. 7
5 Andi Hamzah, Azas Hukum Pidana, Jakarta, Rineka, 2008, hal 94
6 Sudarto, Hukum Pidana, Semarang, Yayasan Sudarto, 1990, hal 9
7 Komariah Emong Sapardjaja, Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Perspektif Ilmu Hukum, Bandung, Refika Aditama, 2010, hal 78
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 146 ]
Dalam Pasal 2 Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, dirumuskan beberapa bentuk kekerasan terhadap perempuan yaitu :
(1) Kekerasan fisik, seksual, dan psikolagis yang terjadi didalam keluarga (domestic violence), termasuk pemukulan dan penyalagunaan seksual terhadap anak-anak perempuan dalam rumah tangga.
(2) Kekerasan yang bertalian dengan yang tidak dibayarkan, perkosaan yang terjadi dalam ikatan perkawinan, perusakan kemaluan perempuan (genital mutilation), kekerasan yang terjadi di luar hubngan suami-isteri, dan kekeraan lain yang berhubungan dengan eksploitasi, serta praktek-praktek tradisional lain yang merugikan kaum perempuan.
(3) Kekerasan terhadap perempuan juga meliputi sterilisasi dalam keluarga berencana (enforcedsterilization) dan pengguguran kandungan yang dipaksakan, penggunaan alat-alat kontrasepsi secara paksa, pembunuhan bayi-bayi perempuan dan pemilihan jenis kelamin bayi pra kelahiran.
Kekerasan terhadap perempuan dalam hukum pidana terutama Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) telah memberi ruang pengaturan tentang perbuatan pidana berupa tindak kekerasan tetapi tidak secara khusus mengatur tentang tindak kekerasan terhadap perempuan.
Rumusan norma yang terdapat dalam KUHP sebagian besar bersifat umum seperti korbannya laki-laki/perempuan, dewasa/anak-anak dan terbatas pada fisik saja. Walaupun demikian pada beberapa pasal dalam KUHP terdapat indikasi tindakan tersebut ditujukan kepada perempuan, pasal- pasal dimaksud seperti ; Pornografi Pasal 282 ayat (1), Perbuatan cabul Pasal 290, Panganiayaan Pasal 351 ayat (1), Penganiayaan terhadap anggota keluarga Pasal 356 ke 1 : Pidana yang ditentukan Pasal 351,353, 354, dan 355, Perkosaan Pasal 285, Penggururan kandungan Pasal 347, Melarikan perempuan Pasal 332 ke 1. Sedangkan dalam Rancangan Undang-Undang Kitab Undang Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) telah merumuskan tentang Kekerasan terhadap Perempuan, walaupun tidak secara spesifik menyebut kekerasan terhadap perempuan yaitu Bab Tindak Pidana Penganiayaan Bagian Ketiga; Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Paragraf 1 Kekersan fisik, Paragraf 2 Kekerasan psikis, Paragraf 3 Kekerasan seksual.
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 147 ] D. Penutup
Tindak kekerasan terhadap perempuan ada sejak adanya peradaban manusia di atas dunia. Tindak kekerasan terhadap perempuan telah menjadi fenomena tersendiri dan masuk dalam agenda global dan menjadi perhatian dalam berbagai konferensi dunia terutama Konferensi Hak Asasi Manusia II di Wina tahun 1993. Hal ini bukan tanpa alasan karena tindak kekerasan terhadap perempuan merupakan perbuatan yang melanggar hak asasi manusia dan tindakan itu merupakan pengabaian atas hak-hak perempuan.
Lebih dari itu hal tersebut telah diatur dalam Deklarasi PBB tentang Penghapusan Tindak Kekerasan terhadap Perempuan yang dapat dibaca dalam Pasal 3 sebagai berikut : Kaum perempuan berhak untuk menikmati dan memperoleh perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan asasi yang sama dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil, atau bidang- bidang lainnya.
Indonesia termasuk salah satu negara yang ikut menandatangani Deklarasi PBB tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada tanggal 20 Desember 1993, selain itu Indonesia juga telah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita pada tanggal 24 Juli 1984 di undangkan Undang-Undang Republik Indonesia No.
7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap wanita ( Convention on the Elimination of All forms of Discrimination againt Women).
Pengesahan atau ratifikasi adalah perbuatan hukum untuk mengikat diri pada suatu perjanjian internasional dalam bentuk ratifikasi. ( ratification), aksesi (accession), penerimaan (acceptance), dan persetujuan (approval). Sebagai bentuk tanggung jawab negara sebagai akibat ratifikasi tersebut maka pada tanggal 22 September 2004 diundangkan Undang- Undang No.23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Dalam Penjelasan Undang-Undang No. 23 tahun 2004 disebutkan negara berpandangan bahwa segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga adalah pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusian serta bentuk diskriminasi. Pandangan negara tersebut didasarkan pada Pasal 28 UUD Negara RI Tahun 1945, beserta perubahannya. Pasal 28G ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945 menentukan bahwa setiap oang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekeuasaannya, serta
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 148 ]
berhak atas aman dan perlindungan dan ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
Namun sejauh ini masih ditemui tindak kekerasan terhadap perempuan baik diruang publik maupun privat, hal ini dikarenakan tidak adanya rumusan norma tentang kekerasan terhadap perempuan secara khusus dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sebagai Ius Constitutum. Sedangakn dalam Rancangan Undang-Undang Kitab Undang- Undang Hukum Pidana sebagai Ius Constituendum memuat Bab Tindak Pidana Penganiayaan Bagian ketiga Kekerasan Dalam Rumah Tangga, terdiri dari Paragraf 1 Kekerasan fisik, Paragrap 2 Kekerasan psikis, Paragraf 3 Kekerasan seksual. Walaupun tidak secara spesifik menyebutkan kekerasan terhadap perempuan tetapi sebagaimana yang kita ketahui bahwa perempuan selalu menjadi korban tindak kekerasan. Seiring dengan semakin tumbuhnya tingkat kesadaran masyarakat akan kedudukan perempuan dan mainstream gender, maka secara perlahan dan pasti permasalahan ini semakin mendapat tempat dan perhatian msyarakat.
Jaminan kepastian hukum telah diatur dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dengan tegas menyebutkan bahwa tindak kekerasan terhadap perempuan adalah bagian dari pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusian serta bentuk diskriminasi.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku:
Achie Sudiarti Luhulima, 2014, Cedaw Menegakkan Hak Asasi Perempuan, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Andi Hamzah, 2008, Azas Hukum Pidana, Jakarta, Rineka Cipta.
Komariah Emong sapardjaja, 2010, Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Perspektif Ilmu Hukum, Bandung, Refika Aditama.
Mc Donald, Gerald, 1980, Family Power, The Assesment of Decode of Theory and Research, Journal of Marriage and Family, Vol 42.
Moerti Hadiati Soeroso, 2010, Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam Perseptif Yuridis Viktimologis, Jakarta, Sinar Grafika.
Siti Homzah, 2010, Kekerasan terhadap Perempuan, Tinjauan dalam Berbagai Disiplin Ilmu & Kasus Kekerasan, Bandung, Refika Aditama.
| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |
[ 149 ]
Sudarto, 1990, Hukum Pidana Jilid I, Unsoed Purwokerto.
______, 1990, Hukum Pidana, Semarang, Yayasan Sudarto.