• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberian Hak untuk Merek yang Bukan Bersja: Pengaliban Hak

Dalam dokumen Buku Lisensi Atau Waralaba eBook (Halaman 40-50)

Prinsip penggunaan merek dagang ini olehUndang-Undang

No. 15 Tahun 2001 telah diperluas hingga tidak hanya meliputi penggunaan secara fisik dalam teritorial wilayah Negara Republik Indonesia,tetapi juga meliputi:

1. hak untuk mengajukan gugatan terhadap pelaku pelanggaran merek yang terdaftar (Pasal44);

2. dimungkinkannya pemberian sublisensi penggunaan merek (Pasal45).

Selanjutnya oleh karena lisensi merek ini berhubungan dengan suatu merek terdaftar yang diberi perlindungan eksklusif oleh negara,

Undang-Undang Merek mensyaratkan bahwa jangka waktu pembe-rian lisensi ini tidak boleh lebih lama dari pembepembe-rian perlindungan atas merek yang terdaftar tersebut. Mengenai makna "yang bukan bersifat pengalihan hak", meskipun tidak ada penjelasan lebih lanjut dalam Undang-Undang No. 15 Tahun 2001,pada prinsipnya keterang-an mengenai hal yketerang-ang sama seperti dalam penjelasketerang-an kami pada uraian Pengaruran Lisensi dalam Undang-Undang Rahasia Dagang,

34 Lisensi atau Waralaba: Suatu PengantarPraktis

Desain Industri dan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dapat diber-lakukan disini.

Hanya Diberikan untuk Merek yang Terdaftar

Ada satu ketentuan yang menarik yang kita temukan dalam 2001 yang mengatur mengenai merek terdaftar, yaitu yang diatur dalam Pasal 48 yang menyatakan bahwa:

1. Penerima Lisensi yang beriktikad baik, tetapi kemudian Merek itu dibatalkan atas dasar adanya persamaan pada pokoknya atau keselurubannya dengan merek lain yang terdaftar, tetap berbak melaksanakan perjanjian lisensi tersebut sampai dengan berakbimya jangka waktu perjanjian lisensi.

2. Perjanjian lisensi sebagai dimaksud dalam ayat(1) tidak lagi wajib meneruskan pembayaran royalti kepada Pemberi Lisensi yang dibatalkan, melainkan wajib melaksanakan pembayaran royalti kepada pemilik merek yang tidak dibatalkan.

Dalam bal Pemberi Lisensi sudab terlebib dabulu menerima royalti secara sekaligus dari Penerima Lisensi,Pemberi Lisensi tersebut wajib menyerabkan bagian dari royalti yang diteri

-manya kepada pemilih merek yang tidak dibatalkan,yang besamya sebanding dengan sisa jangka waktu perjanjian lisensi.

Jika kita simak rumusan tersebut dalam Pasal 48 Undang-Un -dang No. 15 Tahun 2001, ketentuan tersebut secara tidak langsung mengakui pemberian lisensi paksa atau lisensi wajib, meskipun lisensi wajib atau lisensi paksa tersebut digantungkan pada suatu peristiwa pembatalan merek yang terdaftar.

Pengaturan Lisensi Dalam Hukum Positifdi Indonesia 35

C. PENGATURAN LISENSI DALAM UNDANG-UNDANG

PATEN

[ika kita baca rumusan lisensi yang diberikan dalam ketentuan Pasal 1 angka 13 Undang-Undang No. 14 Tahun 2001,yang serupa dengan rumusan yang dimuat dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 2000, Undang-Undang No. 31 Tahun 2000, dan Undang-Undang No.32 Tahun 2000 dapat kita katakan bahwa pengertian lisensi yang diberikan dalam Undang-Undang Paten ini juga tidak berbeda dari pengertian yang diberikan dalam tiga undang-undang tersebut.

Pengaturan Lisensi dalam Undang-Undang Paten diatur daIam Pasal 69 hingga Pasal 73 Bagian Kedua Bab Vtentang Lisensi dan Pasal 74 sampai Pasal87Bagian Ketiga Bab Vtentang Lisensi Wajib.

Rumusan yang diberikan dalam Pasal 69 Undang-Undang Paten, yang menyatakan bahwa:

1. Pemegang Paten berhak memberi lisensi kepada orang lain berdasarkan surat perjanjian lisensi untuk melaksanakan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal16.

·2. Kecuali jika diperjanjikan lain, maka lingkup lisensi seba -gaimana dimaksud dalam ayat1meliputi semua perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasall6, berlangsung selama jangka waktu lisensi diberikan dan:berlaku untuk seluruh

wilayah Negara Republik Indonesia.

Ini berarti Lisensi Paten memberikan hak kepada pemegang lisensi untuk:

a. dalam halpaten produk: membuat, menggunakan,menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan,atau menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan hasil produksz -yang diberi paten;

b. dalam hal paten proses: menggunakan proses produksiyang diberi paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya sebagaimana dimaksud dalam hurufa;

36 Lisensi atauWara/aba: Suatu Pengantar Praktis

c. dalam bal paten proses:melarang pibak lain yang tanpa persetujuannya melakukan impor produk yang semata-mata dibasilkan dari penggunaan paten-proses.

Pemberian lisensi oleh Pemberi Lisensi kepada Penerima Lisensi, tidak secara hukum melarang Pemberi Lisensi, sebagai Pemegang Paten untuk tetap melaksanakan sendiri paten yang dimiliki olehnya, termasuk juga untuk memberikan lisensi lebih lanjut kepada pihak ketiga lainnya untuk melaksanakan Hak Paten sebagaimana disebut· kan dalam Pasal16 diatas, yaitu untuk:

a. membuat, menjual, mengimpor, menyewakan,menyerabkan, memakai, menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserabkan basilproduksi yang diberi paten;

b. menggunakan proses produksi yang diberi paten untuk mem-buat barang clan tindakan lainnya sebagaimana dimaksud dalam burufa;

c. mengimpor dan melarang pibak lain untuk mengimpor

produk yang semata-mata dibasilkan penggunaan

paten-proses.

Pasal 70 Undang-Undang Paten menentukan bahwa Penerima Lisensi berhak dalam perjanjian pemberian paten melarang Pemegang Paten untuk selanjutnya melaksanakan sendiri atau memberi lisensi kepada pihak ketiga lainnya untuk melaksanakan Hak Paten tersebut dalam Pasal16 Undang-Undang Paten.

Pasal 72 ayat (1) Undang-Undang Paten mewajibkan perjanjian lisensi untuk dicatatkan pada Kantor Paten dan dimuat dalam Daftar Umum Paten. Atas pencatatan tersebut, maka mereka yang rnenca-tatkan paten dikenakan biaya pencatatan. Dalam hal perjanjian lisensi tidak dicatatkan di Kantor Paten, maka perianiian lisensi tersebut tidak mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga.Rumusan Pasal 73 Undang-Undang Paten menyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut

Pengaturan lisensi Dalam Hukum Positijdi Indonesia 37

mengenai perjaniian lisensi diatur dengan Peraturan Pemerintah. Oleh karena itu, maka segala ketentuan mengenai perjanjian lisensi dibuat dan tunduk pada ketentuan umum sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan kesepakatan para pihak selama tidak bertentangan dengan aturan-aturan hukum lainnya yang berlaku, termasuk rumusan Pasal 71 Undang-Undang Paten yang melarang dieantumkannya ketentuan dalam perjanjian lisensi yang memuat ketentuan yang seeara langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau membuat pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya dan yang berkaitan dengan penemuan yang diberi paten tersebut. Dalam hal yang demikian maka Kantor Paten memiliki hak untuk menolak pencatatan lisensi paten atas perjaniian lisensi yang memuat tersebut. Ini berarti perjanjian lisensi yang memuat ketentuan yang demikian tidak akan dilindungi oleh hukum yang berlaku.

Lisensi Wajib dalam Undang-Undang Paten

Perkataan Lisensi WajiblLisensi Paksa merupakan teriemahan dari"Compulsory License",yang diartikan sebagai:

"An authorization given bya national authority toa person, without or against the consent of the title-holder, for the exploitation of a subject matter protected by a patent or other intellectual property rights.n(Carlos M.Correa, 1999: 5)

Ketentuan mengenai Lisensi Wajib dalam Undang-Undang Paten diatur dalam Pasal 74 hingga Pasal 87. Menurut ketentuan Pasal 74,

Lisensi Wajib diartikan sebagai lisensi untuk melaksanakan suatu paten

yang diberikan berdasarkan keputusan Direktorat ]enderal Hak atas Kekayaan Intelektual.Ini berarti Lisensi Wajib diberikan atas per

38 Lisensi atau\Varalaba:Suatu Pengantar Praktis

Intelektual. Permohonan tersebut dapat diajukan oleh setiap orang setelah lewatnya jangka waktu 36 bulan terhitung sejak tanggal pemberian paten. Permohonan harus diajukan kepada Direktorat jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual untuk melaksanakan paten yang bersangkutan,dan wajib diberikan dalam jangka waktu 90 hari terhitung sejak permohonan diajukan.

Permohonan lisensi wajib hanya dapat dilakukan jika paten yang diberikan perlindungan tersebut tidak dilaksanakan atau dilak-sanakan tidak sepenuhnya di Indonesia oleh Pemegang Paten atau dilaksanakan dalam bentuk dan dengan cara yang merugikan kepen-tingan masyarakat. Ini berarti permohonan lisensi wajib juga dapat diajukan meskipun paten telah dilaksanakan di Indonesia oleh Peme-gang Paten atau PemePeme-gang Lisensi Paten tersebut, selama hal yang tersebut terdahulu dipenuhi (yaitu paten tidak dilaksanakan atau dilaksanakan dalam bentuk dan dengan cara yang merugikan kepen-tingan masyarakat).Jika Direktorat Ienderal Hak atas Kekayaan Intelektual berpendapat bahwa jangka waktu 36 bulan yang disyarat-kan belum cukup bagi Pemegang Paten untuk melaksanadisyarat-kannya secara komersial di Indonesia atau wilayah yang lebih luas secara geografis, maka Direktorat jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual dapat menunda keputusan pemberian lisensi wajib tersebut atau menolak permohonan lisensi wajib tersebut untuk sementara waktu.

Pasal 76 ayat(1) Undang-Undang Paten menyatakan lebih lanjut bahwa Lisensi Wajib hanya dapat diberikan apabila:

a. Orang yang mengajukan permintaan tersebut dapat menunjuk-kan bukti yang meyakinmenunjuk-kan bahwa la:

• Mempunyai kemampuan untuk melaksanakan sendiri paten yang bersangkutan secara penuh;

• Mempunyai sendiri fasilitas untuk melaksanakan paten yang bersangkutan dengan secepatnya,

Pengaturan lisensi Dalam Hukum Positifdi Indonesia 39 • Telah berusaha mengambil langkah-Iangkah dalam jangka waktu yang cukup untuk mendapatkan lisensi dari Peme-gang Paten atas dasar persyaratan dan kondisi yang wajar, tetapi tidak memperoleh hasil.

b. Direktorat [enderal Hak atas Kekayaan Intelektual berpendapat bahwa paten tersebut dapat dilaksanakan di Indonesia dalam skala ekonomi yang layak dan dapat memberi kemanfaatan ke-pada sebagian besar masyarakat.

Pasal 76 ayat (2) Undang-Undang Paten selanjutnya menentu-kan bahwa pemeriksaan atas permintaan lisensi wajib dilakumenentu-kan oleh Direktorat [enderal Hak atas Kekayaan Intelektual dengan mendengarkan pula pendapat instansi dan pihak-pihak terkait, dan pemegang paten yang bersangkutan. Lamanya jangka waktu Lisensi yang diberikan oleh Direktorat [enderal Hak atas Kekayaan Intelektual tidak boleh lebih dari jangka waktu pemberian perIin-dungan Paten itu sendiri. Dalam putusan Direktorat [enderal Hak atas Kekayaan Intelektual mengenai pemberian Lisensi dicantum-kan hal-hal sebagai berikut:

a. Lisensi bersifat noneksklusif; b. Alasan pemberian Lisensi

c. Bukti termasuk keterangan atau penjelasan yang diyakini untuk dijadikan dasar pemberian Lisensi

d. [angka waktu Lisensi

e. Besamya royaIti yang harus dibayarkan Pemegang Lisensi kepada Pemegang Paten dan cara pembayarannya;

f. Syarat berakhimya Lisensi dan hal yang dapat memba-talkannya,

g. Lisensi semata-mata digunakan untuk mernenuhi kebu-tuhan pasar di dalam negeri;

h. Lain-lain yang diperlukan untuk menjaga kepentingan para pihak yang bersangkutan secara adil (PasaI79).

40 LisensiatauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis

Pasal 80 Undang-Undang Paten mewajibkan pemberian Lisensi Wajib untuk dicatat dan diumumkan dalam Daftar Umum Paten. Lisensi Wajib yang telah didaftarkan secepatnya diumumkan oleh Kantor Paten dalam Berita Resmi Paten. Lisensi Wajib baru dapat dilak-sanakan setelah didaftarkan dan dibayamya biaya-biaya pencatatan, pengumuman, dan pendaftaran paten tersebut. Pelaksanaan Lisensi Wajib dianggap sebagai pelaksanaan paten.

Pasal 78 Undang-Undang Paten menegaskan kernbali bahwa lisensi wajib tidaklah diberikan dengan suka rela. Pelaksanaan Lisensi Wajib disertai dengan pembayaran royalti oleh Pemegang Lisensi kepada Pemegang Paten. Besamya royalti yang harus diba-yarkan dan cara pembayarannya, ditetapkan Pengadilan yang mem-berikan Lisensi Wajib. Penetapan besarnya royalti dilakukan dengan memperhatikan tata eara yang lazim digunakan dalam perjanjian H-sensi paten atau yang lainnya yang sejenis.

Lisensi Wajib dapat pula sewaktu-waktu dimintakan oleh Pe-rnegang Paten atas dasar alasan bahwa pelaksanaan patennya tidak mungkin dapat dilakukan tanpa melanggar paten lainnya yang telah ada. Permintaan Lisensi Wajib tersebut hanya dapat dipertimbangkan apabila paten yang akan dilaksanakan benar-benar mengandung unsur pembaharuan teknologi yang nyata-nyata lebih maju daripada paten yang telah ada tersebut. Dalam hal yang demikian, maka:

a. Pemegang Paten berhak untuk saling memberikan lisensi

un-tuk menggunakan paten pihak lainnya berdasarkan persyaratan yangwajar;

b. Penggunaan paten oleh Pemegang Lisensi tidak dapat dialihkan

kecuali bila dialihkan bersama-sama dengan paten lainnya. Pengaliban Lisensi Wajib

bersa-Pengaturan lisensi Da/am Hukum Positifdi Indonesia 41

rnaandengan pengalihan kegiatan atau bagian kegiatan usaha yang menggunakan paten yang bersangkutan atau karena pewarisan. Li-ensi Wajib yang beralih karena pewarisan tetap terikat oleh syarat pemberiannya dan ketentuan lainnya terutarna mengenai jangka waktu dan harus dilaporkan kepada Kantor Paten untuk dicatat dan dimuat dalam Daftar Umum Paten.

Berakbirnya Lisensi Wajib

Lisensi Wajib berakhir dengan selesainya jangka waktu yang ditetapkan dalam pemberiannya, dibatalkan atau dalam hal Peme-gang Lisensi Wajib menyerahkan kembali Iisensi yang diperolehnya kepada Kantor Paten sebelum jangka waktu tersebut berakhir. Kantor Paten mencatat Lisensi Wajib yang telah berakhir jangka waktunya dalam buku Daftar Umum Paten,mengumumkan dalam Berita Res-mi Paten dan memberitahukannya secara tertulis kepada Pemegang Paten serta Pengadilan yang memutuskan pemberiannya. Batal atau berakhirnya Lisensi Wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 dan Pasal 84 berakibat pulihnya hak Pemegang Paten atas paten yang bersangkutan terhitung sejak tanggal pencatatannya dalam Daf-tarUmum Paten.

Pembatalan Lisensi Wajib

Atas permintaan Pemegang Paten, Direktorat ]enderal Hak atas Kekayaan Intelektual dapat membatalkan Lisensi Wajib yang semula diberikannya apabila:

a. alasan yang dijadikan dasar bagi pemberian Lisensi Wajib tidak ada lagi:

b. Penerima Lisensi Wajib ternyata tidak melaksanakan Lisensi Wajib tersebut atau tidak melakukan usaha persiapan yang se-pantasnya untuk segera melaksanakannya;

42 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis

c. Penerima Lisensi Wajib tidak lagi menaati syarat dan keten-tuan lainnya termasuk kewajiban pembayaran royalti yang di

-tetapkan dalam pemberian Lisensi Wajib.

Pernbatalan tersebut dicatat dalam Daftar Umum Paten dan di-umumkan dalam Berita Resmi Paten.

Ketentuan yang serupa dengan ketentuan Pasal 48 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 juga dapat kita temukan dalam Pasal 97 Undang-Undang Paten, namun hanya berlaku sebatas paten yang dibatalkan sebagai akibat adanya persamaan dengan paten lain untuk lisensi yang sama. selain karena alasan kebatalan karena adanya persamaan dengan paten lain yang terdaftar, maka pembatalan paten membawa akibat hukum hapusnya perjanjian lisensi paten.

D. PENGATURAN LISENSI DALAM HAK CIPTA

Undang-Undang Hak Cipta yang diatur dalam Undang-Undang

No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telahdiubah de

-ngan Undang-Undang No. 7Tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, dan terakhir diubah dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 1997 tentang Peru-bahan atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1987, tidak mengatur mengenai Lisensi Hak Cipta, walau demikian dengan mengacu pada ketentuan umum dan analogi pada ketentuan pem-berian lisensi yang diatur dalam undang-undang yang mengatur mengenai perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual sebagaimana telah dibahas terdahulu, lisensi Hak Cipta pada dasarnya tetap di-perbolehkan,selama dan sepanjang syarat-syarat lahirnya lisensi se-bagai suatu perjanjian terpenuhi secara sah.

43

4

PENGATURAN WARALABA

Dalam dokumen Buku Lisensi Atau Waralaba eBook (Halaman 40-50)