• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGATURAN LISENSI DALAM UNDANG-UNDANG RAHASIA DAGANG, DESAIN INDUSTRI DAN DESAIN

Dalam dokumen Buku Lisensi Atau Waralaba eBook (Halaman 30-35)

PENGATURAN LISENSI DALAM HUKUM POSITIF DI INDONESIA

A. PENGATURAN LISENSI DALAM UNDANG-UNDANG RAHASIA DAGANG, DESAIN INDUSTRI DAN DESAIN

TATA LETAK SIRKUIT TERPADU

Definisi mengenai lisensi yang diberikan dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, Undang-Undang No.31 Tahun 2001 tentang Desain Industri, dan Undang-Undang No.32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dapat kita pilah-pilah ke dalam beberapa unsur, yang meliputi:

1. adanya izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Rahasia Dagang, Hak atas Desain Industri, maupun Hak atas Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu;

2. izin tersebut diberikan dalam bentuk perjanjian:

3. izin tersebut merupakan pemberian hak untuk menikrnati manfaat ekonomi (yang bukan bersifat pengalihan hak);

4. izin tersebut diberikan untuk Rahasia Dagang, Desain Industri maupun Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu yang diberi perlin-dungan;

5. izin tersebut dikaitkan dengan waktu tertentu, dan syarat tertentu.

Pemberian lzin aleh Pemegang Hak

Adanya izin merupakan syarat mutlak adanya lisensi. Ketiga undang-undang tersebut mensyaratkan bahwa izin tersebut harus diberikan oleh Pemegang Hak yang berhak (dan atau Pemilik Hak menurut Undang-Undang No. 30 Tahun 2000). Tidak hanya pengung-kapan Rahasia Dagang yang dapat dikenakan sanksi pidana,

penggu-24 Lisensi atauWaralaba:Suatu Pengantar Praktis

naan dan pemakaian Rahasia Dagang secara tidak berhak, perolehan Rahasia Dagang secara tidak sah atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat dikenakan sanksi pidana. Demikian juga mereka yang tanpa persetujuannya membuat, me-makai, menjual, mengimpor, mengekspor, dan/atau mengedarkan barangyangdiberi Hak Desain Industri (Pasal9 ayat(1)Undang-Undang No. 31 Tahun 2000),dan tanpa hak memakai,menjual, mengimpor, mengekspor dan/atau mengedarkan barang yang di dalamnya terdapat seluruh atau sebagian Desain yang telah diberi Hak Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang No. 32 Tahun 2000) juga dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal54 ayat (1) Undang-Undang No.31 Tahun 2000 dan Pasal 42 ayat (1) Undang-Undang No.32 Tahun 2000.]adi jelas bahwa izin dari pihak yang berhak dan berwenang untuk memberikan Iisensi merupakan suatu hal yang mutlak harus dipenuhi agar terhindar dari sanksi pidana.

.Izinyang Dituangkan Dalam Bentuk Perjanjian

Ketentuan ini membawa konsekuensi bahwa Iisensi harus di-buat secara tertulis antara pihak Pemberi Lisensi (yaitu Pemegang Hak yang sah termasuk Pemilik Hak Rahasia Dagang) dengan pihak Penerima Lisensi. Ini berarti juga perjanjian pemberian Iisensi ini merupakan perjanjian formal, yang harus memenuhi bentuk yang tertulis.

Sebagai suatu perjanjian, ketentuan-ketentuan yang diatur da -lam Pasal9 ayat(1) Undang-Undang No. 30 Tahun 2000, Pasal36 ayat

(1)Undang No. 31 Tahun 2001 dan Pasal28 ayat (1) Undang-Undang No. 32 Tahun 2001 merupakan batasan syarat objektif bagi sahnya perjanjian Iisensi di negara Republik Indonesia.Adapun rumusan Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang No.30 Tahun 2000,Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang No. 31 Tahun 2001 dan Pasal 28 ayat (1)

Pengaturan Lisensi Dalam Hukum Positl]di Indonesia 25 ndang-Undang No.32 Tahun 2001 adalah sebagai berikut:

Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaba tidak sebat sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam hal terdapat suatu perjanjian lisensi yang memuat keten-yang dapat menimbulkan akibat keten-yang merugikan perekono-mian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan per-saingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka Direktorat ]enderal yang membawahi pencatatan perjanjian lisensi tersebut wajib menolak pencatatan perjanjian lisensi yang memuat ketentuan tersebut.

Pemberian Hak untuk Menikmati Manfaat Ekonomi yang Bukan Bersifat Pengaliban Hak

Tidak ada suatu pengertian yang jelas maupun pasti dari rumusan yang diberikan tersebut, hanya saja dalam Penjelasan Pasal 6 Undang-Undang No. 30 Tahun 2000, yang lengkapnya berbunyi:

Berbeda dengan perjanjian yang menjadi dasar pengaliban Ra-basia Dagang, Lisensi banya memberikan bak secara terbatas dan dengan waktu yang terbatas pula.Dengan demikian, Lisensi banya diberikan untuk pemakaian atau penggunaan Rabasia Dagang dalam jangka waktu tertentu.Berdasarkan pertimbangan babwa si/at Rabasia Dagang yang tertutup bagi pibak lain, pelak-sanaan Lisensi dilakukan dengan mengirimkan atau mem-perbantukan secara langsung tenaga abli yang dapat menjaga Rabasia Dagang itu.

Hal itu berbeda, misalnya, dari pemberian bantuan teknis yang biasanya dilakukan dalam rangka pelaksanaan proyek,

peng-26 Lisensi atauWaralaba: Suatu Pengantar Praktis

operasian mesin baru atau kegiatan lain yang khusus dirancang dalam rangka bantuan teknik.

dapat kita tarik suatu kesimpulan sederhana bahwa dalam Lisensi dikenal adanya batas waktu, yang secara esensil (menurut Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 ini) berbeda dari pengalihan Hak Rahasia Dagang. Analogi yang serupa dapat juga kita terapkan terhadap lisensi Desain Industri dan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, mes-kipun Penjelasan tersebut tidak dapat kita temui dalam Penjelasan Pasal33 Undang-Undang No.31 Tahun 2000 dan Penjelasan Pasal25 Undang-Undang No.32 Tahun 2000.

Selanjutnya dari rumusan penjelasan tersebut dapat pula kita ketahui bahwa Lisensi ini secara prinsip juga berbeda dengan perjan-jian pemberian bantuan teknis (technical assistant) yang berkaitan dengan pelaksanaan proyek, pembelian mesin baru atau hal-hallain yang berkaitan dengan masalah teknik. Rumusan ini sebenarnya rnempertegas kembali makna dari Rahasia Dagang, sebagai suatu

inforrnasi yang bersifat rahasia dan hanya diketahui oleh kalangan terbatas, dalam arti bukan sesuatu yang telah diketahui secara luas oleh umum.

Hanya Diberikan untuk Hak yang Diberi Perlindungan

Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 tidak secara langsung me-ngatur mengenai perlindungan Rahasia Dagang. [ika kita lihat dari pengertian yang diberikan dalam rumusan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Rahasia Dagang tentang definisi Rahasia Dagang, dan rumus-an Pasal 1 rumus-angka 2 Undrumus-ang-Undrumus-ang Rahasia Dagrumus-ang, dapat kita lihat bahwa Undang-Undang Rahasia Dagang hanya mengatur masalah hak-hak yang diberikan kepada Pemegang Hak Rahasia Dagang (baik Pemilik Rahasia Dagang maupun Pemegang Rahasia Dagang) untuk secara eksklusif mempergunakan sendiri atau memberikan lisensi

Pengaturan LisensiDalam Hukum Positifdi Indonesia 27 kepada pihak ketiga unruk menggunakan atau memanfaatkan Rahasia Dagang tersebut secara ekonomis. Selanjutnya, jika kita baca keten-tuan Pasal 13 dan Pasal 14 Undang-Undang Rahasia Dagang, yang masing-masing secara lengkapnyaberbunyi:

Pasal

Pelanggaran Rahasia Dagang juga terjadi apabila seseorang de-ngan sengaja mengungkapkan Rahasia Dagang, mengingkari kesepakatan atau mengingkari kewajiban tertulis atau tidak tertulis untukmenjaga Rahasia Dagang yangbersangkutan. dan

Pasal14

Seseorang dianggap melanggar Rahasia Dagang pibak lainapabila ia memperoleh atau menguasai Rahasia Dagang tersebut dengan.

cara yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

yang dikaitkan dengan ketenruan Pasal 17 Undang-Undang Rahasia Dagang, yang berbunyi:

Pasal17

(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Rahasia Dagang pihak lain atau melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 atau Pasal 14 dipi-danadengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahundanl

atau denda paling banyak Rp 300.000.000,00tiga ratus juta

rupiab.

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) me-rupakan delik aduan.

dapat kita katakan secaraa'contrario bahwa yang dimaksud dengan Rahasia Dagang yang dilindungi adalah Rahasia Dagang yang Pe-megang Hak Rahasia Dagangnya bukanlah mereka yang melanggar ketentuan Undang-Undang Rahasia Dagang ini.

28 Lisensi atau Waralaba: Suatu Pengantar Praktis

Berbeda dengan Rahasia Dagang, perlindungan Hak atas De-sain Industri dirumuskan secara tegas dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 2000 dalam rumusan Pasal1 angka 5yang menyatakan bahwa:

"Hak Desain Industri adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara Republik Indonesia hepada pendesain atas hasil kreasinya untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri, atau membe-rikan persetujuannya kepada pibak lain untuk melaksanakan hak tersebut".

Serupa dengan .Hak Desain Industri, perlindungan Hak atas Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu juga dirumuskan secara tegas dalam Pasal 1 angka 6 Undang-Undang No. 32 Tahun 2000 yang mendefinisikan Hak Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu sebagai:

"hak eksklusif yangdiberikan oleh Negara ,Republik Indonesia kepada pendesainan atas hasil kreasinya, untuk selama waktu tertentu, melaksanakan sendiri,ataumemberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakan hakterseinu".

Untuk dapat dipenuhinya pemberian hak eksklusif oleh negara dalam kedua undang-undang tersebut dipersyaratkan adanya ke-wajiban pendaftaran,yang akan diikuti dengan proses pemeriksaan administratif, pengumuman, dan pemeriksaan substantif untuk me-nentukan terpenuhi tidaknya syarat pemberian perlindungan yang ditetapkan dalam masing-masing undang-undang tersebut. Hanya mereka yang telah memperoleh perlindungan yang diberikan oleh negara sajalah yang berhak untuk memberikan lisensi Hak Desain Industri dan atau Hak Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.

Dalam dokumen Buku Lisensi Atau Waralaba eBook (Halaman 30-35)