• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persyaratan Khusus

Dalam dokumen Buku Lisensi Atau Waralaba eBook (Halaman 35-40)

Adanya klausul dengan waktu tertentu dan syarat tertentu ini tampaknya merupakan esensi pembeda antara perianjian pengalihan Hak Rahasia Dagang dengan lisensi,oleh karena pernyataan "waktu

Pengaturan Lisensi Dalam Hukum PositifdiIndonesia 29

tertentu"ini beberapa kali diulang dalam beberapa rumusan untuk membedakannya dengan perjanjian pengalihan.

Jika kita baca Penjelasan Pasal 7 Undang-Undang No. 30 Tahun 2000, yang berbunyi:

Ketentuan ini dimaksudkan untuk menegaskan prinsip babwa Artinya, lisensi tetap memberikan kemungkinan kepada pemilie Rabasia Dagang untuk memberikan lisensi kepada pibak ketiga lainnya. Apabila akan dibuat sebaliknya,bal ini barus dinyatakan secara tegas dalam perjanjian lisensi tersebut

dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa sebenamya selain syarat jangka waktu, Undang-Undang No. 30 Tahun juga memberikan syarat noneksklusif bagi lisensi. Namun ketentuan ini tidaklah ber-.

sifat memaksa,yang berarti dapat disimpangi atas persetujuan dari para pihak, dalam hal ini yang terpenting adalah Pemilik Rahasia Dagang.

Berdasarkan pada analogi serupa yang kita terapkan untuk rumusan Penjelasan Pasal33 Undang-Undang No.31 Tahun 2000 dan Penjelasan Pasal 25 Undang-Undang No. 32 Tahun 2000,maka hal serupa juga dapat kita terapkan pada ketentuan Penjelasan Pasal 34 Undang No. 31 Tahun 2000 dan Penjelasan Pasal 26 Undang-Undang No. 32 Tahun 2000. Artinya, bahwa pemberian Iisensi senantiasa dikaitkan dengan pemberian hak penggunaan Hak atas Kekayaan Intelektual berupa Desain Industri maupun Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dalam suatu batas jangka waktu tertentu.

Dari penjelasan yang kita peroleh dari ketentuan Undang

-Undang No. 30 Tahun 2000, -Undang--Undang No.31 Tahun 2000 dan Undang-Undang No. 32 Tahun 2000, dapat kita ketahui bahwa Iisensi, adalah suatu bentuk pemberian izin pemanfaatan atau penggunaan Hak atas Kekayaan Intelektual, yang bukan pengalihan

30 Lisensi atau Waralaba:Suatu Pengantar Praktis

hak, yang dimiliki oleh pemilik lisensi kepada Penerima Lisensi, dengan imbalan berupa royalti. Dalam pengertian ini tersirat bahwa searang Penerima Lisensi adalah independen terhadap Pemberi Lisensi, dalam pengertian bahwa Penerima Lisensi menjalankan sendiri usahanya, meskipun dalam menjalankan kegiatan usahanya tersebut ia mempergunakan atau memanfaatkan Hak atas Kekayaan Intelektual milik Pemberi Lisensi, yang untuk hal ini Penerima Lisensi membayar royalti kepada Pemberi Lisensi.

B. PENGATURAN LISENSI DALAM UNDANG-UNDANG

MEREK

Pengaturan lisensi dalam Undang-Undang Merek dapat kita temukan dalam Pasal 43 hinggaPasal 49 Bagian Kedua BAB Vjo,Pasal 1 angka 13. Definisi lisensi yang diberikan dalam Pasall angka 13 Un-dang-Undang No, 15 Tahun 2001, dapat kita pilah-pilah ke dalam beberapa unsur,yang meliputi:

"1. adanya izin yang diberikan oleh Pemegang Merek; 2. izin tersebut diberikan dalam bentuk perjanjian;

3. izin tersebut merupakan pemberian hak untuk menggunakan Merek tersebut (yang bukan bersifat pengalihan hak);

4. izin tersebut diberikan baik untuk seluruh atau sebagian jenis barang dan/ataujasa yang didaftarkan;

5. izin tersebut dikaitkan dengan waktu tertentu dan syarat tertentu. Pemberian Izin aleh Pemegang Merek

Sama seperti halnya penjelasan di atas mengenai lisensi Ra-hasia Dagang, lisensi Desain Industri dan lisensi Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, keharusan adanya pemberian izin oleh Pemegang Merek merupakan suatu hal yang mutlak, jika Penerima Lisensi

Pengaturan lisensiDalam Hukum Positifdi Indonesia 31

Merek tidak mau digugat dengan alasan telah melanggar Hak atas Merek (Pasal 76 Undang-Undang Merek). Di samping itu pelang-garan merek dapat dikenakan sanksi berdasarkan ketentuan Pasal 90, Pasal91 dan Pasal94 Undang-Undang No.15 Tahun 2001.

Pemberian izin untuk menggunakan merek ini oleh ketentuan Pasal 77 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 juga ternyata mem-bawa hak lebih lanjut kepada Penerima Lisensi untuk mengajukan gugatan atas pelanggaran merek. Yang dimaksud dengan pelanggaran merek adalah perbuatan yang seeara tanpa hak menggunakan merek yang terdaftar, yang mernpunyai.persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis. Gugatan yang diajukan dapat berupa:

1. gugatan ganti rugi,dan/atau

2. penghentian semua perbuatanyang berkaitan dengan penggu-naan merek tersebut.

Ketentuan tersebut menunjukkan pada kita semua bahwa, berbeda dari-tiga Hak.atasKekayaan Intelektual terdahulu, yaitu tentang Rahasia Dagang, Desain Industri dan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu,Undang-Undang No. IS Tahun 2001 seeara tegas mengakui jenis kompensasi dalam bentuk Indirect Nonmonetary Compensation.

Izin yang Diberikan Dituangkan Dalam Bentuk Perjanjian Sama seperti penjelasan yang disampaikan terdahulu, keten-tuan ini membawa akibat hukum bahwa lisensi harus dibuat seeara tertulis antara pihak Pemberi Lisensi (yaitu Pemegang Hak yang sah termasuk Pemilik Hak Rahasia Dagang) dengan pihak Penerima Li-sensi. Ini berarti juga perjanjian pemberian lisensi ini merupakan perjanjian formal, yang harus memenuhi bentuk yang tertulis.

32 Lisensi atau Waralaba:Suatu Pengantar Praktis

Kewajiban agar perjanjian Iisensi ini dibuat secara tertulis juga diperkuat dengan kewajiban pendaftaran Iisensi sebagaimana dise-butkan dalam Pasal43 ayat (3) jo. Pasal43 ayat (4) jo. Pasal49 Undang-Undang No. 15 Tahun 2001.

Perjanjian Iisensi yang didaftarkan ini berlaku di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia, kecuali jika diperjanjikan lain. Dalam pengertian ini wilayah Negara Republik Indonesia dianggap sebagai batasan teritorial yang paling memungkinkan untuk pelaksa-naan hak dari merek yang terdaftar. Ketentuan ini diperkuat oleh ketentuan Pasal 46 yang menyatakan bahwa penggunaan merek terdaftar di Indonesia oleh Penerima Lisensi dianggap sama dengan penggunaan merek tersebut di Indonesia oleh Pemilik Merek. Ini berarti meskipun dimungkinkan terjadinya penyempitan wilayah teritorial penggunaan merek ataupun diperluasnya pemberian lisensi hingga meliputi luar wilayah teritorial Negara Republik Indonesia, ketentuan ini tidak mengatur mengenai pemberian Iisensi yang semata-mata pelaksanaannya berada di luar wilayah Indonesia, meski-pun (ingin) dicatatkan diIndonesia.

Ketentuan yang memuat syarat objektif suatu-perjanjian seperti yang diatur dalam Pasal9 ayat (1) Undang-Undang No.30 Tahun 2000, Pasal36 ayat (1) Undang-Undang No. 31 Tahun 2001 dan Pasal28 ayat (1) Undang-Undang No.32 Tahun 2001, juga dapat kita temukan dalam ketentuan Pasal47 ayat (1) Undang-Undang No. 15 Tahun 2001, yang menyatakan bahwa:

Perjanjian lisensi dilarang memuat ketentuan baik yang langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan akibat yang me-rugikan perekonomian Indonesia atau memuat pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya.

Pengaturan Lisensi Dalam Hukum Positifdi Indonesia 33

langsung maupun tidak langsung dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat pembatasan yang menghambat kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai dan mengembangkan teknologi pada umumnya tidak akan dapat di-berlakukan di Indonesia. Sebagai konsekuensinya maka Direktorat [enderal yang membawahi permohonan pencatatan perjanjian lisensi merek wajib menolak untuk melakukan pencatatan perjanjian lisensi yang memuat hal tersebut, dengan memberitahukan alasan-nya kepada Pemilik Merek dan/atau Kuasaalasan-nya.

Pemberian Hak untuk Merek yang Bukan Bersja:

Dalam dokumen Buku Lisensi Atau Waralaba eBook (Halaman 35-40)