BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
1. Pembiayaan Bermasalah
a. Pengertian Pembiayaan Bermasalah
Menurut peraturan OJK NO.42/POJK.03/2017 BAB 1 Pasal 1, yang dimaksud dengan pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa:
1) Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah
2) Transaksi menyewa dalam bentuk ijarah atau
sewa-menyewa dalam bentuk ijarah muntahiya bitamlik
3) Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam,
istishna
4) Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qard, dan
5) Transaksi sewa menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa,
Berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank syariah dan/atau Unit Usaha Syariah (UUS) dan pihak lain yang mewajibkan
pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk
imbalan ujrah. Undang-undang Nomor 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah. Pembiayaan berdasarkan Pasal 1 butir 12 UU No.10 Tahun 1998. UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan, adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. (Djamil, 2012)
b. Prinsip dan Penilaian Pembiayaan
Sebelum suatu fasilitas pembiayaan diberikan, bank harus merasa yakin bahwa pembiayaan yang diberikan benar-benar akan kembali. Keyakinan tersebut diperoleh dari hasil penilaian penilaian pembiayaan sebelum pembiayaan tersebut disalurkan. Penilaian pembiayaan oleh bank dapat dilakukan dengan berbagai cara untuk mendapatkan keyakinan tentang nasabahnya, seperti melalui prosedur penilaian yang benar. Begitu pula dengan ukuran-ukuran yang ditetapkan sudah menjadi standar penilaian setiap bank. Adapun penjelasan untuk analisis dengan 5C dan 7P pembiayaan, yang tercantum dalam buku (kasmir, 2014) adalah sebagai berikut :
1) Analisis 5 C a) Character
Suatu keyakinan bahwa, sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikan pembiayaan benar-benar dapat dipercaya, hal ini tercermin dari latar belakang si nasabah baik yang bersifat latar belakang pekerjaan maupun yang bersifat pribadi seperti: cara hidup atau gaya hidup yang dianutnya, keadaan keluarga, hoby dan sosial standingnya. Ini semua merupakan ukuran
“kemauan” membayar.
b) Capacity
Untuk melihat nasabah dalam kemampuannya dalam bidang bisnis yang dihubungkan dengan pendidikannya, kemampuan bisnis juga diukur dengan kemampuannya dalam memahami tentang ketentuan-ketentuan pemerintah. Begitu pula dengan kemampuannya dalam menjalankan usahanya selama ini. Pada akhirnya akan terlihat “kemampuannya” dalam mengembalikan pembiayaan yang disalurkan.
c) Capital
Untuk melihat penggunaan modal apakah efektif, dilihat dari laporan keuangan (neraca dan laporan rugi laba) dengan melakukan pengukuran seperti dari segi likuiditas, solvabilitas,
rentabilitas, dan ukuran lainnya. Capital juga harus dilihat dari
sumber mana saja modal yang ada sekarang ini. d) Collateral
Merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah keridit yang diberikan. Jaminan juga harus diteliti keabsahannya sehingga jika terjadi suatu masalah, maka jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat mungkin.
e) Condition
Dalam menilai pembiayaan hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi dan politik sekarang dan di masa yang akan datang sesuai sektor masing-masing serta prospek usaha dari sektor yang ia jalankan. Penilaian prospek bidang usaha dari sektor yang ia jalankan. Penilaian prospek bidang usaha yang dibiayai hendaknya benar-benar memiliki prospek yang baik sehingga kemungkinan pembiayaan tersebut bermasalah relative kecil.
Kriteria penilaian yang harus dilakukan oleh bank untuk mendapatkan nasabah yang benar-benar menguntungkan, selain melakukan analisis 5 C bank juga harus menggunakan anlisis 7 P.
2) Analisis 7 P a) Personality
Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-sehari maupun masa lalunya. Personality juga mencakup sikap, emosi, tingkah laku, dan tindakan nasabah dalam menghadapi suatu masalah.
b) Party
Yaitu mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifikasi tertentu atau golongan-golongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya. Sehingga nasabah dapat digolongkan ke golongan tertentu dan akan mendapatkan fasilitas yang berbeda dari bank.
c) Perpose
Yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil pembiayaan, termasuk jenis pembiayaan yang diingankan nasabah. Tujuan pengambilan pembiayaan dapat bermacam-macam. Sebagai contoh apakah untuk modal kerja atau investasi, konsumtif atau produktif, dan lain sebagainya.
d) Prospect
Yaitu untuk menilai usaha nasabah di masa yang akan datang menguntungkan atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai propek atau sebaliknya. Hal ini penting mengingat jika suatu
fasilitas pembiayaan yang dibiayai tanpa mempunyai prospek, bukan hanya bank yang rugi, tetapi juga nasabah.
e) Payment
Merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan pembiayaan yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian pembiayaan. Semakin banyak sumber penghasilan debitur, akan semakian baik. Dengan demikian, jika salah satu usahanya merugikan dapat ditutupi oleh sektor lainnya.
f) Profitability
Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba. Profability diukur dari periode ke periode apakah akan tetap sama atau akan semakin meningkat, apalagi dengan tambahan pembiayaan yang akan diperolehnya.
g) Protection
Tujuannya adalah bagaimana menjaga agar usaha dan jaminan mendapatkan perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan barang atau orang atau jaminan asuransi.
3) Penetapan golongan kualitas pembiayaan. (kasmir, 2014)
Untuk menetapkan golongan kualitas pembiayaan, pada masing-masing komponen ditetapkan kriteria-kriteria tertentu untuk masing-masing kelompok produk pembiayaan. Untuk
menentukan berkualitas atau tidaknya suatu pembiayaan perlu diberikan ukuran-ukuran tertentu. Bank Indonesia menggolongkan kualitas pembiayaan menurut ketentuan sebagai berikut:
a) Lancar
Suatu pembiayaan dapat dikatakan lancar apabila pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat waktu, pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat waktu, memiliki mutase rekening yang aktif atau bagian dari pembiayaan yang dijamin dengan agunan tunai (cash collateral).
b) Dalam Perhatian Khusus (special mention)
Dikatakan dalam perhatian khusus apabila memenuhi kriteria terdapat tunggakan pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga yang belum melampaui 90 hari, kadang-kadang terjadi cerukan, jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan, mutasi rekening akif atau didukung dengan pinjaman baru.
c) Kurang Lancar (substandard)
Dikatakan kurang lancar apabila memenuhi kriteria seperti terdapat tunggakkan pembayaran angsuran pokok atau bunga yang telah melampaui 90 hari, sering terjadi cerukan, terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari, frekuensi mutase rekening reklatif rendah, terdapat
indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur atau dokumen pinjaman yang lemah.
d) Diragukan (doubtfull)
Dikatakan meragukan apabila memenuhi kriteria seperti adanya terdapat tunggakkan pembayaran angsuran pokok atau bunga yang telah melampaui 180 hari, terjadi cerukan yang bersifat permanen, terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari, terjadi kapitalisasi bunga dan dokumen hukum yang lemah, baik untuk perjanjian pembiayaan maupun peningkatan jaminan.
e) Macet (loss)
Dikatakan macet apabila terdapat tunggakkan pembayaran angsuran pokok atau bunga yang telah melampaui 120 hari, kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru dan dari segi hukum dan kondisi pasar serta jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai yang wajar.
c. Sebab-Sebab Pembiayaan Bermasalah
Dalam penjelasan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 jo. UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan maupun dalam penjelasan Pasal 37 UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah antara lain dinyatakan bahwa pembiayaan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang diberikan oleh bank mengandung
risiko, sehingga dalam pelaksanaanya bank harus memperhatikan asas-asas perpembiayaanan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang sehat.
Apabila bank tidak memperhatikan asas-asas pembiayaan yang sehat dalam menyalurkan pembiayaan, maka akan timbul berbagai risiko yang harus ditanggung oleh bank antara lain berupa:
a) Utang/kewajiban pokok pembiayaan tidak dibayar;
b) Margin/bagi hasil/fee tidak dibayar;
c) Membengkaknya biaya yang dikeluarkan;
d) Turunnya kesehatan pembiayaan (finance soundness).
Risiko-risiko tersebut dapat mengakibatkan timbulnya
pembiayaan bermasalah (non performing finance/NPF) yang disebabkan oleh faktor intern bank. Secara umum pembiayaan bermasalah disebabkan oleh faktor-faktor intern dan faktor-faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam perusahaan sendiri, dan faktor utama yang paling dominan adalah faktor manajerial. Timbulnya kesulitan-kesulitan keuangan perusahaan yang disebabkan oleh faktor manajerial dapat dilihat dari beberapa hal, seperti kelemahan dalam kebijakan pembelian dan penjualan, lemahnya pengawasan biaya dan pengeluaran, kebijakan piutang yang kurang tepat, penempatan yang berlebihan pada aktiva tetap, dan
permodalan yang tidak cukup. Faktor eksten adalah faktor-faktor yang berada di luar kekuasaan manajemen perusahaan, seperti bencana alam, peperangan, perubahan dalam kondisi perekonomian dan perdagangan, perubahan-perubahan teknologi, dan lain-lain.
d. Penyelamatan dan Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah/Macet
1) Upaya-upaya untuk mengantisipasi risiko pembiayaan
bermasalah/macet.
Secara garis besar, penanggulangan pembiayaan bermasalah dapat dilakukan melaui upaya-upaya yang bersifat preventif dan upaya-upaya yang bersifat represif/kuratif. Upaya-upaya yang bersifat preventif (pencegahan) dilakukan oleh bank sejak permohonan pembiayaan diajukan nasabah pelaksanaan analisa yang akurat terhadap data pembiayaan, pembuatan perjanjian pembiayaan yang benar, pengikatan agunan yang menjamin kepentingan bank, sampai dengan pemantauan atau pengawasan terhadap pembiayaan yang diberikan.
Sedangkan upaya-upaya yang bersifat represif/kuratif adalah upaya-upaya penanggulangan yang bersifat penyelamatan atau penyelesaian terhadap pembiayaan bermasalah (non performing
2) Penyelamatan pembiayaan bermasalah
a) Pengertian penyelamatan pembiayaan bermasalah
Pengertian penyelamatan pembiayaan adalah istilah tekni yang biasa dipergunakan dikalangan perbankan terhadap upaya dan langkah-langkah yang dilakukan bank dalam usaha mengatasi permasalahan pembiayaan yang dihadapi oleh debitur yang masih memiliki prospek usaha yang baik, namun mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/atau kewajiban-kewajiban lainnya, agar debitur dapat memenuhi kembali kewajibannya. (Djamil, 2012).
Di Indonesia di kenal dua golongan pembiayaan bank, yaitu pembiayaan lancar dan pembiayaan bermasalah. Dimana pembiayaan bermasalah digolongkan menjadi tiga, yaitu pembiayaan kurang lancar, pembiayaan diragukan, dan pembiayaan macet. Yang sangat dikhawatirkan oleh setiap bank adalah pembiayaan macet, karena akan mengakibatkan
terganggunya kondisi keuangan bank, bahkan dapat
mengakibatkan berhenti kegiatan usaha. Penyelamatan
pembiayaan macet antara lain sebagai berikut : (1) Reschedulling
Suatu kegiatan yang diambil dengan cara memperpanjang jangka waktu pembiayaan atau jangka waktu angsuran.
Dalam hal ini, debitur memberikan keringanan dalam
masalah jangka waktu pembiayaan pembayaran
pembiayaan, misalnya perpanjangan jangka waktu
pembiayaan dari 6 bulan menjadi satu tahun sehingga debitur mempunyai waktu yang lebih lama untuk mengembalikannya. Memperpanjang angsuran hampir sama dengan jangka waktu pembiayaan. Dalam hal ini
jangka angsuran pembiayaannya diperpanjang
pembayarannya. Misalkan dari 36 kali menjadi 48 kali dan hal ini tentu saja jumlah angsuran pun menjadi mengecil seiring dengan penambahan jumlah angsuran.
(2) Reconditioning
Bank mengubah berbagai persyaratan yang ada
Restructiring.
(3) Restructiring
Tindakan bank kepada nasabah dengan cara menambah modal nasabah dengan cara menambah modal nasabah dengan pertimbangan nasabah memang membutuhkan tambahan dana dan usaha yang dibiayai memang masih layak.
(4) Kombinasi merupakan kombinasi dari ketiga jenis yang diatas.
(5) Penyitaan Jaminan
Penyitaan jaminan merupakan jalan terakhir apabila nasabah sudah benar-benar tidak punya itikad baik ataupun sudah tidak mampu lagi untuk membayar semua hutang-hutang. (Rifangga C.T Tengor, 2015)
b) Analisis dan Penyelesaian pembiayaan bermasalah
1) Analisa penyebab terjadinya kemacetan Analisis sebab-sebab kemacetan pembiayaan dapat dilakukan pada aspek internal dan eksternal:
a) Aspek Internal
Kelemahan dalam analisis pembiayaan
(1) Analisis pembiayaan tidak berdasarkan data akurat atau kualitas data rendah;
(2) Informasi pembiayaan tidak lengkap atau kuantitas data rendah;
(3) Pembiayaan terlalu sedikit; (4) Pembiayaan terlalu banyak; (5) Analisis tidak cermat;
(6) Jangka waktu pembiayaan terlalu lama; (7) Jangka waktu pembiayaan terlalu pendek; (8) Kurangnya akuntabilitas putusan pembiayaan