• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBICARA: GEDE PASEK SUARDIKA, SH., MH (BALI) Oh tidak bisa, sudah diketok

PEMBICARA: DJASARMEN PURBA, SH (KEP. RIAU) Saya tidak ada gunanya interupsi pak.

PEMBICARA: GEDE PASEK SUARDIKA, SH., MH (BALI)

Interupsi pimpinan. Interupsi pimpinan. Jadi begini dalam proses sidang itu kalau pilihannya setuju maka lawannya tidak setuju bukan interupsi kalau interupsi itu berarti mempermasalahkan sebuah proses dari pembicaraan. Jadi mestinya jawaban apakah setuju maka harusnya yang tidak setuju, jawabannya tidak setuju bukan interupsi. Saya kira itu pimpinan, itu yang pertama.

Yang kedua, jadi pilihannya kan setuju atau tidak setuju, jadi a atau b. Jawabannya bukan 1 atau 2 begitu loh. Saya kira itu sudah selesai lah nanti kita fokus saja Pansus-pansus yang lain.

PIMPINAN SIDANG: H. MOHAMMAD SALEH, SE (KETUA DPD RI)

Kita hargai ya walaupun tidak merubah keputusan ya, kita hargai pendapatnya Pak Djasermen.

PEMBICARA: GEDE PASEK SUARDIKA, SH., MH (BALI)

Pimpinan sedikit saja pimpinan. Pimpinan sedikit saja untuk sekedar biar tidak salah kita memaknai karena tadi kita bicara soal masalah retroaktif. Jadi kami ingin sampaikan begini permasalahan berlaku surut di dalam hukum pidana memang iya makanya bahasanya itu dituntut, tuntutan tetapi dalam sistem hukum tata negara itu berbeda aturannya. Kalau berpikir retroaktif dalam pidana pun itu bisa disimpangkan juga itu terjadi dalam Undang-Undang tentang terorisme itu berlaku surut.

Kemudian yang kedua ini sekedar pengayaan saja. Dalam sistem hukum tata negara kebijakan kebijakan itu bisa berlaku mundur. Contoh yang paling sederhana yang bisa kita temukan adalah soal KTP. E-KTP sebelumnya itu ada masa berlaku lalu Mendagri mengeluarkan surat bahwa E-KTP yang sudah dikeluarkan berlaku seumur hidup, KTP yang sudah keluar sebelumnya itu sudah keluar sekarang begitu lho. Tidak dimulai dari surat edaran itu baru kemudian terjadi. Jadi ini sekedar pemahaman untuk penambahan cara pandang kita bersama saja. Pemahaman tentang hukum tata negara, administrasi negara itu memang berbeda dengan pidana.

Terima kasih pimpinan.

PIMPINAN SIDANG: H. MOHAMMAD SALEH, SE (KETUA DPD RI) Sudah tunggu dulu masih ada agenda ini.

Sidang dewan yang saya muliakan.

Jadi kalaupun masih ada menyangkut, sebentar pak saya sampaikan dulu ya. Ini semua proses politik sudah selesai ya kalaupun mungkin ada konsekuensi hukumnya itu nanti akan di melalui judicial review ya, pasti begitu itu adalah normatifnya seperti itu. Nah sebelum ini saya sampaikan bahwa sebentar lagi saya dari sini saya akan langsung berangkat jam 4 nanti sidang akan dipimpin oleh Pak Farouk dan Ibu Hemas. Saya mohon izin kepada dewan yang mulia. Saya mohon maaf tidak bisa memimpin sidang sampai.

PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JAWA TENGAH) Ketua, interupsi dulu ketua sebelum ketua pergi. Dua hal.

PIMPINAN SIDANG: H. MOHAMMAD SALEH, SE (KETUA DPD RI) Sebentar. Pak John Pieris dulu.

PEMBICARA: Prof. Dr. JOHN PIERIS, SH., MS (MALUKU)

Ya saya tidak mementahkan persoalan Pak Ketua, cuma sedikit uruk rembuk dengan Pak Pasek. Kalau hukum administrasi negara bisa karena itu kebijakan-kebijakan kasuistik kalau tata negara memang tidak boleh retroaktif. Tidak bisa. Contoh masa jabatan presiden diatur dalam konstitusi. Kalau ada partai-partai politik melalui DPR dan massa yang cukup massive mengkhendaki harus ada pemotongan masa jabatan presiden, apakah dengan begitu kita harus mengamandemen Undang-Undang Dasar’45 kan tidak seperti itu mainnya kalau toh mau Dewan MPR untuk berlaku kedepan bukan berlaku surut jadi memang retroaktif itu sangat bertentangan ya dengan Undang-Undang Dasar’45. Saya mengutip apa yang dikatakan Andre tadi hukum itu panglima, ya hukum itu panglima dan kita sudah melakukan sumpah jabatan soal itu, setia pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar’45. Sampai saat ini saya setia, saya setia terhadap itu ya. Saya bisa berbeda tapi cara saya juga agak sulit untuk membendung ya suara yang cukup mayoritas, dalam politik itu biasa saja tapi hargailah standing point saya, political standing saya untuk tetap setia kepada Undang-Undang Dasar’45. Itu satu.

Kedua, kalau kita berbicara Pasal 27 ayat (1) kita harus menjunjung hukum dan pemerintahan itu kecuali apa yang kita junjung Pancasila, Undang-Undang Dasar’45, MD3, Tatib itu menjunjung hukum, juga menjunjung, menjunjung pemerintahan ya. Pimpinan itu pemerintahan bukan begitu, oke tapi memang ya politik ini seperti itulah ya tapi tolong hargai pikiran saya untuk itu.

Terima kasih Pak Ketua.

PEMBICARA: ADRIANUS GARU, SE., M.Si (NTT) Pimpinan, saya sedikit.

PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JAWA TENGAH) Ketua, kiri dulu ketua.

PIMPINAN SIDANG: H. MOHAMMAD SALEH, SE (KETUA DPD RI) Silakan Pak Muqowam.

PEMBICARA: ADRIANUS GARU, SE., M.Si (NTT) Sebelum Pak Muqowam ya, saya satu menit.

PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JAWA TENGAH)

Terima kasih. Ya saya kira ini bukan sosialisasi MPR kok soal pemahaman kita sama saya kira. Tiga hal yang saya sampaikan. Pertama bahwa keputusan ini sudah kita ambil mohon syarat administrasi diselesaikan oleh baik pimpinan ataupun Sekjen. Ya pengalaman kemarin saya tidak akan buka lagi tapi hal itu akan menjadi peluang. Jadi pak harus ada tanda tangan ini tiga pimpinan ya.

PIMPINAN SIDANG: H. MOHAMMAD SALEH, SE (KETUA DPD RI) Saya kira begini saja Pak Muqowam.

PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (JAWA TENGAH)

Tidak-tidak ini saya ingatkan di forum ini penting. Lalu yang kedua Sekjen jangan mencoba-coba untuk tidak beri nomor ya saya kira itu harus dilakukan. Lalu yang ketiga adalah mohon karena ini 1 April itu adalah reses saya minta pimpinan, Sekjen untuk menyiapkan. Terima kasih.

PEMBICARA: ADRIANUS GARU, SE., M.Si (NTT)

Oke, terima kasih pimpinan. Saya hanya mau memberi jawaban ya seperti apa yang disampaikan oleh senior saya, Kakak John kaitan dengan hukum panglima terus dengan agenda-agenda di berapa jabatan negara di republik ini hanya yang menariknya ini yang membuat kita menarik baik di DPR maupun di DPD karena kita juga punya ada apa namanya Tatib. Tatib ini juga yang mau mengikat kita ya internal nah itulah hebatnya jabatan politik ini. Jadi sebetulnya hal yang biasa saja ini evaluasi dalam rangka kebaikan lembaga kenapa kita tidak mau begitu loh.

PIMPINAN SIDANG: H. MOHAMMAD SALEH, SE (KETUA DPD RI) Pak Adri saya kira apa yang ingin Pak Adri sampaikan ini semua kita.

PEMBICARA: ADRIANUS GARU, SE., M.Si (NTT) Sudah clear ya oke.

PIMPINAN SIDANG: H. MOHAMMAD SALEH, SE (KETUA DPD RI) Kita tidak berbantah-berbantahan nanti.

PEMBICARA: ADRIANUS GARU, SE., M.Si (NTT) Bukan, bukan bantah maksudnya meluruskan ya begitu.

PIMPINAN SIDANG: H. MOHAMMAD SALEH, SE (KETUA DPD RI)

Kita sudah membuat keputusan ya. Tadi saya sudah sampaikan iyakan apa secara normatif apabila ada sesuatu yang dianggap apa namanya bertentangan dengan hukum ada saluran yang bisa kita tempuh setuju ya. Baik, bapak-bapak, Ibu-ibu, sidang dewan yang mulia.

PEMBICARA: dr. DELIS JULKARSON HEHI, MARS (SULTENG)

Pimpinan, interupsi. Pimpinan, sebelum tutup sesuai dengan konsekuensi putusan ini tolong panitia jadwal menjadwalkan hari pemilihan. Terima kasih pimpinan.

PIMPINAN SIDANG: H. MOHAMMAD SALEH, SE (KETUA DPD RI)

Iya begini ya kami pimpinan memastikan bahwa hasil keputusan ini akan berjalan sesuai dengan mekanisme yang berlaku, saya garansi. Setuju ya. Yang dimaksudkan mau ada pemilihan kan. Tenang, saya juga tidak kok ya saya siap untuk berhenti itu. Tenang saja.

Tenang saja ya. Iya makanya pokoknya beginilah saya maksudkan semua mekanisme ini kita patuhi, apa yang sudah kita putuskan kita patuhi dan mekanismenya kita kembalikan nantikan mesti ada Pansus menetapkan jadwal kapan Sidang Paripurna ya eh Panmus sorry kapan Sidang Paripurna tenang itu pasti akan dilakukan ya. Oke. Setuju.

Dokumen terkait