Peta KonsepKata Kunci
PEMBICARAAN TINGKAT II
Dilaksanakan dalam Rapat Komisi, Rapat Badan Legalisasi, Rapat Panitia anggaran, atau rapat Panaus, dengan kegiatan:
a. Pandangan dan pendapat
• RUU dari Presiden: pandangan dan pendapat Fraksi-fraksi atau fraksi-fraksi dan DPD apabila RUU terkait dengan DPD
• RUU dan DPR: pandangan dan pendapat Presiden atau Presiden beserta DPD apabila RUU terkait dengan DPD
b. Tanggapan
RUU dari presiden tanggapan presiden.
RUU dari DPR: tanggapan Pimpinan alat kelengkapan DPR yang membuat RUU c. Pembahasan RUU oleh DPR dan presiden berdasarkan Daftar Inventarisasi masalah
(DIM)
PEMBICARAAN TINGKAT II
Pengambilan keputusan dalam rapat paripurna, yang didahului oleh:
a. Laporan hasil Pembicaraan Tingkat I
b. Pendapat akhir fraksi yang disampaikan oleh Anggotanya dan apabila dipandang perlu dapat pula disertai dengan catatan tentang sikap fraksinya.
c. Pendapat akhir Presiden yang disampaikan oleh Menteri yang mewakilinya.
Gambar : Bagan bagan penyusun UU usul dari Pemerintah
Pembicaraan Tingkat 1 di DPR
Pembicaraan tingkat 1 dalam rapat komisi, rapat badan legislasi, rapat panitia anggaran, atau rapat panitia khusus bersama pemerintah, dengan acara sebagai berikut.
1. Pemandangan umum fraksi terhadap RUU.
2. Jawaban pemerintah atas pemandangan umum fraksi.
3. Pembahasan RUU oleh DPR dan pemerintah dalam rapat kerja berdasarkan daftar inventarisasi masalah (DIM).
(Catatan: RUU dari pemerintah dapat ditarik kembali sebelum pembicaraan tingkat 1 berakhir).
Pembicaraan Tingkat 2 di DPR
Setelah pembicaraan tingkat 1, diadakan pembicaraan tingkat 2 dalam rapat paripurna dengan acara sebagai berikut.
1. Pengambilan keputusan yang didahului oleh:
a. laporan hasil pembicaraan tingkat 1,
b. pendapat akhir fraksi yang disampaikan oleh anggotanya, apabila dipandang perlu dapat disertai catatan tentang sikap fraksi,
2. Penyampaian sambutan pemerintah. Pimpinan DPR menyampaikan RUU beserta penjelasannya dari pengusul kepada media massa dan Kantor Berita Nasional untuk disiarkan kepada masyarakat. Setelah pimpinan DPR menerima RUU dari pemerintah maka dalam rapat paripurna, ketua rapat memberitahukan dan membagikan usul RUU kepada anggota DPR. Pemerintah/presiden menyampaikan RUU beserta penjelasannya secara tertulis kepada pimpinan DPR dengan surat pengantar yang menyebutkan menteri yang akan mewakili pemerintah.
3. Materi muatan peraturan pemerintah berisi materi untuk menjalankan UU.
4. Materi muatan peraturan presiden berisi materi yang diperintahkan oleh UU atau materi untuk melaksanakan peraturan pemerintah.
5. Materi muatan peraturan daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah, tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah, serta penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
6. Materi muatan peraturan desa/setingkat adalah seluruh materi dalam rangka penyelenggaraan urusan desa/setingkat serta penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
b. Proses Penyusunan Peraturan Pemerintah Penganti Undang-Undang (Perpu)
Proses penyusunan Peraturan Pemerintah Penganti Undang-Undang (Perppu) tidak serumit atau sepanjang proses penyusunan undang-undang. Hal ini mengingat, bahwa Perppu disusun berdasarkan keadaan darurat atau mendesak yang memerlukan pengaturan cepat, sementara jika dengan undang-undang diperlukan proses yang lama.
Berdasarkan Pasal 22 ayat (1) UUD 1945 hasil amandemen ditegaskan bahwa dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa, presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah penganti undang-undang. Jadi jelas, bahwa Perppu dikeluarkan karena adanya kegentingan yang memaksa dan demi terjaminnya keselamatan negara.
Ada 2 kemungkinan dalam proses penyusunan peraturan pemerintah penganti undang-undang (Perppu).
1. Kemungkinan Pertama
Menteri atau kepala lembaga pemerintah nonkementerian memberi tahu presiden melalui Sekretariat Negara. Kemudian Presiden akan membuat suatu rancangan Perppu. Setelah diselesaikan oleh Sekretariat Negara (dalam hal ini oleh Biro Hukum dan Perundang-undangan), maka Presiden kemudian menetapkan Perppu tersebut.
2. Kemungkinan Kedua
Presiden berpendapat bahwa perlu dibentuk suatu peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu). Dalam hal demikian, presiden meminta dibuat suatu konsep rancangan Perppu yang akan diselesaikan oleh sekretariat (biro hukum dan Perundang-undangan).
Setelah selesai, rancangan perppu diserahkan kembali kepada presiden untuk ditetapkan dan ditanda tangani. Perppu, yang telah ditetapkan presiden tersebut kemudian diundangkan oleh menteri sekretaris negara, dan dimasukkan dalam lembaran negara. Perppu ini sudah berlaku dan mengikat umum.
Meskipun begitu, berdasarkan Pasal 22 ayat (2) dan (3) UUD 1945 hasil amandeman, perppu ini harus disampaikan dalam sidang pertama DPR setelah perppu tersebut diundangkan untuk mendapat persetujuan DPR. Apabila DPR setuju, maka Perppu ini berubah menjadi undang-undang. akan tetapi, apabila DPR tidak setuju, maka Perppu itu harus dicabut.
4. Peraturan Pemerintah
Muatan peraturan pemerintah berisi materi untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestiny. Jadi, peraturan pemerintah dibentuk untuk menjalankan undang-undang. Mengenai peraturan pemerintah, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan menegaskan sebagai berikut.
a. Perencanaan penyusunan peraturan pemerintah dilakukan dalam suatu program penyusunan peraturan pemerintah
b. Perencanaan penyusunan peraturan pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggara-kan urusan pemerintahan di bidang hukum
c. Perencanaan penyusunan peraturan pemerintah ditetapkan dengan keputusan presiden.
d. Rancangan peraturan pemerintah (RPP) berasal dari kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian sesuai dengan bidang tugasnya.
e. Dalam keadaan tertentu, kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian dapat mengajukan RPP di luar perencanaan penyusunan peraturan pemerintah.
f. RPP dibuat berdasarkan kebutuhan undang-undang atau putusana Mahkamah Agung.
g. Dalam penyusunan RPP, pemrakarsa membentuk panitia antarkementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian.
h. Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi RPP dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang hukum.
5. Peraturan Presiden
Peraturan Presiden adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan perintah peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan.
Proses penyusunan Peraturan Presiden ditegaskan dalam pasal 55 UU Nomor 12 Tahun 2011, yaitu sebagai berikut.
1. Pembentukan panitia antarkementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian oleh pengusul.
2. Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Presiden dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum.
3. Pengesahan dan penetapan oleh presiden.
Muatan Peraturan Presiden berisi materi sebagai berikut:
a. Yang diperintahkan dalam undang-undang b. Untuk melaksanakan peraturan pemerintah
c. Untuk melaksanakan penyelenggaraan kekuasaan pemerintah 6. Peraturan Daerah Provinsi
Peraturan Daerah (Perda) Provinsi adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh DPRD provinsi dengan persetujuan bersama gubernur. Peraturan Daerah dibuat dengan untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Perda juga dibuat dalam rangka melaksanakan kebutuhan daerah. Perda tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Pemerintah Pusat dapat membatalkan Perda yang nyata-nyata bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.
Mengenai peraturan daerah provinsi, dalam undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 diatur sebagai berikut.
a. Materi muatan peraturan daerah provinsi berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi
b. Peraturan daerah provinsi dapat memuat ancaman pidana kurungan atau pidana denda sesuai yang diatur dalam peraturan perundang-undangan
c. Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan dalam prolegda Provinsi d. Penyusunan Prolegda Provinsi dilaksanakan oleh DPRD Provinsi dan pemerintah Provinsi e. Dalam menyusunan Prolegda Provinsi, penyusunan daftar Raperda Provinsi didasarkan atas:
1) Perintah peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi 2) Rencana Pembangunan Daerah
3) Penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan 4) Aspirasi masyarakat daerah
f. Penyusunan prolegda Provinsi antara DPRD Provinsi dan Pemerintah Daerah Provinsi dikoordinasikan oleh DPRD Provinsi melalui alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi
g. Penyusunan Prolegda Provinsi dilingkungan DPRD Provinsi dikoordinasikan oleh oleh DPRD Provinsi melalui alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi
h. Penyusunan Prolegda Provinsi pada pemerintah daerah provinsi dikoordinasikan oleh biro hukum dan dapat mengikutsertakan instasi vertikal terkait
i. Prolegda Provinsi ditetapkan dengan keputusan DPRD Provinsi
j. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi (Raperda Provinsi) dapat berasal dari DPRD Provinsi atau Gubernur
k. Raperda Provinsi disertai penjelasan atau keterangan dan/ atau naskah akademik l. Dalam hal Raperda Provinsi mengenai:
1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi 2) Pencabutan Perda Provinsi
3) Perubahan Perda Provinsi yang hanya terbatas mengubah beberapa materi, disertai dengan keterangan yang memuat pokok pikiran dan materi muatan yang diatur
m. Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan Raperda Provinsi yang berasal dari DPRD Provinsi, dikoordinasikan oleh perangkat DPRD Provinsi yang menangani bidang legislasi
n. Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan Raperda Provinsi yang berasal dari Gubernur, dikoordinasikan oleh Biro Hukum dan dapat mengikutsertakan instansi vertikal dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang hukum
o. Raperda Provinsi dapat diajukan oleh anggota, komisi, gabungan komisi, atau alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi
p. Raperda Provinsi yang telah disiapkan oleh DPRD Provinsi, disampaikan dengan surat Pimpinan DPRD Provinsi kepada Gubernur
q. Raperda yang telah disiapkan oleh Gubernur, disampaikan dengan surat pengantar Gubernur kepada Pimpinan DPRD Provinsi
r. Apabila dalam satu masa sidang DPRD Provinsi dan Gubernur menyampaikan Raperda Provinsi mengenai materi yang sama, yang dibahas adalah Raperda yang disampaikan oleh DPRD Provinsi sedang Raperda yang disampaikan Gubernur dijadikan bahan untuk dipersandingkan
s. Pembahasan Raperda Provinsi dilakukan oleh DPRD Provinsi dan Gubernur
t. Pembahasan bersama dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan dalam rapat komisi/panitia/
badan/perangkat DPRD yang menangani bidang legislasi dan rapat paripurna
u. Raperda Provinsi dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPRD Provinsi dan Gubernur v. Raperda Provinsi yang sedang dibahas, hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan
bersama DPRD Provinsi dan Gubernur.
Proses penyusunan Peraturan Daerah Provinsi sesuai UU Nomor 12 Tahun 2011 sebagai berikut.
a. Rancangan Perda Provinsi dapat diusulkan oleh DPRD Provinsi atau Gubernur.
b. Apabila rancangan diusulkan oleh DPRD Provinsi, proses penyusunan adalah sebagai berikut.
1) DPRD Provinsi mengajukan rancangan perda kepada gubernur secara tertulis.
2) DPRD Provinsi bersama gubernur membahas Rancangan perda Provinsi.
3) Apabila memperoleh persetujuan bersama, Rancangan Perda disahkan oleh gubernur menjadi Perda Provinsi.
c. Apabila rancangan diusulkan oleh Gubernur, proses penyusunan adalah sebagai berikut.
1) Gubernur mengajukan Rancangan Perda kepada DPRD Provinsi secara tertulis 2) DPRD Provinsi bersama gubernur membahas Rancangan Perda Provinsi
3) Apabila memperoleh persetujuan bersama, Rancangan Perda disahkan oleh gubernur menjadi Perda Provinsi
7. Peraturan Daerah Kabupaten
Kabupaten/Kota adalah peraturan perundangundangan yang dibentuk oleh DPRD Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama bupati/walikota.bPerda dibentuk sesuai dengan kebutuhan daerah yang bersangkutan sehingga peraturan daerah dapat berbeda-beda antara satu daerah dan daerah yang lainnya.
Mengenai Peraturan Daerah Kabupaten/ Kota, dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 diatur sebagai berikut:
a. Materi muatan Perda Kabupaten /Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelanggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undang yang lebih tinggi
b. Perda Kabupaten/ Kota dapat memuatan ancaman pidana kurungan atau pidana denda sesuai yang diatur dalam peraturan perundang-undangan
c. Ketentuan-ketentuan lainnya sama dengan ketentuan dalam penyusunan Perda Provinsi, hanya tingkatannya saja yang berbeda, yaitu tingkat kabupaten/ kota.
Proses penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sesuai UU Nomor 12 Tahun 2011 sebagai berikut.
a. Rancangan Perda Kabupaten/Kota dapat diusulkan oleh DPRD Kabupaten/Kota atau bupati/
walikota.
b. Apabila rancangan diusulkan oleh DPRD Kabupaten/Kota, proses penyusunan adalah sebagai berikut.
1) DPRD Kabupaten/Kota mengajukan rancangan perda kepada bupati/walikota secara tertulis 2) DPRD Kabupaten/Kota bersama bupati/ walikota membahas Rancangan Perda Kabupaten/
Kota.
3) Apabila memperoleh persetujuan bersama, Rancangan Perda disahkan oleh bupati/ walikota menjadi Perda Kabupaten/Kota.
c. Apabila rancangan diusulkan oleh bupati/walikota, proses penyusunan adalah sebagai berikut.
1) Bupati/Walikota mengajukan Rancangan Perda kepada DPRD Kabupaten/Kota secara tertulis.
2) DPRD Kabupaten/Kota bersama bupati/walikota membahas Rancangan Perda Kabupaten/
Kota.
3) Apabila memperoleh persetujuan bersama, Rancangan Perda disahkan oleh bupati/walikota menjadi Perda Kabupaten/Kota.
Menampilkan Sikap sesuai dengan peraturan perundang-undangan
Kepatuhan berarti sikap taat atau siap sedia melaksanakan aturan.bersikap patuh akan membentuk perilaku displin. Banyak manfaat yang dapat diperoleh apabila seseorang terbiasa hidup taat pada aturan, diantaranya adalah kepatuhan lebih menguntungkan daripada melanggar aturan. contohnya, orang yang melanggar lalu lintas akan dikenakan denda sekian rupiah. kepatuhan terhadap peraturan perundang undangan nasional berkaitan dengan terbentuknya kesadaran hukum setiap warganegara.
kesadaran hukum warga negara dapat diukur dari beberapa indikator berikut:
1. Pengetahuan Hukum
Pengetahuan hukum meliputi pengetahuan tentang perbuatan-perbuatan yang dilarang hukum, seperti penganiayaan, penipuan, penggelapan. Selain itu, juga pengetahuan tentang perbuatan-perbuatan yang diperbolehkan oleh hukum, seperti jual-beli, sewa-menyewa, dan perjanjian.
2. Pemahaman Kaidah-Kaidah Hukum
Pemahaman terhadap kaidah hukum ditandai dengan menghayati isi hukum yang berlaku seperti memahami tujuan hukum yang mewujudkan ketertiban dan keamanan bersama.
3. Sikap terhadap Norma-Norma Hukum
Perilaku ini ditunjukkan dalam bentuk penilaian terhadap norma-norma hukum berupa nilai baik dan buruk terhadap kaidah-kaidah (aturan-aturan) hukum. Misalnya, pencurian termasuk dalam perbuatan tercela karena merugikan orang lain.
4. Perilaku Hukum
Perilaku hukum ditunjukkan dengan perbuatan menaati aturan-aturan hukum yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
a. memilik akta kelahiran
b. mematuhi aturan berlalu lintas
c. menyukseskan wajib belajar pendidikan dasar d. tidak melakukan tindakan yang melawan hukum.
Peraturan perundang-undangan yang telah mendapatkan persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat atau pemerintah dan telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, maka wajib ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh bangsa Indonesia. Mentaati berasal dari kata dasar taat yang artinya patuh atau tunduk. Orang yang patuh atau tunduk pada peraturan adalah orang yang sadar.
Seseorang dikatakan mempunyai kesadaran terhadap aturan atau hukum, apabila dia :
1. Memiliki pengetahuan tentang peraturan-peraturan hukum yang berlaku, baik di lingkungan masyarakat ataupun di negara Indonesia,
2. Memiliki Pengetahuan tentang isi peraturan-peraturan hukum, artinya bukan hanya sekedar dia tahu ada hukum tentang pajak, tetapi dia juga mengetahui isi peraturan tentang pajak tersebut.
3. Memiliki sikap positif terhadap peraturan-peraturan hukum
4. Menunjukkan perilaku yang sesuai dengan apa yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Orang yang mempunyai kesadaran terhadap berbagai aturan hukum akan mematuhi apa yang menjadi tuntutan peraturan tersebut. Dengan kata lain dia akan menjadi patuh terhadap berbagai peraturan yang ada. Orang menjadi patuh, karena :
1. Sejak kecil dia dididik untuk selalu mematuhi dan melaksanakan berbagai aturan yang berlaku, baik di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat sekitar maupun yang berlaku secara nasional (Indoctrination).
2. Pada awalnya bisa saja seseorang patuh terhadap hukum karena adanya tekanan atau paksaan untuk melaksanakan berbagai aturan tersebut. Pelaksanaan aturan yang semula karena faktor paksaan lama kelamaan menjadi suatu kebiasaan (habit), sehingga tanpa sadar dia melakukan perbuatan itu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Orang taat karena dia merasakan, bahwa peraturan yang ada tersebut dapat memberikan manfaat atau kegunaan bagi kehidupan diri dan lingkungannya (utiliy)
4. Kepatuhan atau ketaatan karena merupakan salah satu sarana untuk mengadakan identifikasi dengan kelompok.
Masalah kepatuhan hukum merupkan atau menyangkut pross internalisasi dari hukum tersebut. Jadi ketaatan terdhadap berbagai peraturan perundang-undangan, baik yang berlaku di rumah, sekoplah, masyarakat sekitar maupun dalam kehidupan berbangsa pada dasarnya berkisar pada diri warga masyarakat yang merupakan faktor yang menentukan bagi sahnya hukum.
Masalah ketaatan dalam penegakan negara hukum dalam arti material mengandung makna : 1. Penegakkan hukum yang sesuai dengan ukuranukuran tentang hukum baik atau hukum yang buruk 2. Kepatuhan dari warga-warga masyarakat terhadap kaidah-kaidah hukum yang dibuat serta
diterapkan oleh badan-badan legislatif, eksekutif dan judikatif 3. Kaidah-kaidah hukum harus selaras dengan hakhak asasi manusia
4. Negara mempunyai kewajiban untuk menciptakan kondisi-kondisi sosial yang memungkinkan terwujudnya aspirasi-aspirasi manusia dan penghargaan yang wajar terhadap martabat manusia 5. Adanya badan yudikatif yang bebas dan merdeka yang akan dapat memeriksa serta memperbaiki
setiap tindakan yang sewenang-wenang dari badanbadan eksekutif.
Tugas Kelompok
Kerjakan kegiatan berikut Bersama teman semejamu!
Di lingkungan sekolah tentu juga ada peraturan atau tata tertib sekolah. Bersama dengan teman semejamu, tuliskan tata tertib sekolahmu dan lakukan pengamatan selama satu minggu terhadap pelaksanaan tata tertib sekolah oleh teman-teman satu kelasmu. Tuliskan hasil pengamatan tersebut, jika ada yang melanggar tulis pelanggaran apa yang dilakukan dan apa konsekuensi yang diterima!