• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembinaan Pengelolaan Administrasi Keuangan dan

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

A. Capaian Kinerja Organisasi

3. Pembinaan Pengelolaan Administrasi Keuangan dan

Target dan capaian indikator kegiatan Pembinaan pengelolaan administrasi keuangan dan barang milik negara dapat dijelaskan pada tabel berikut :

Tabel 10

Target dan Capaian Biro Keuangan dan BMN Tahun 2017

Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian

a. Persentase Satker yang menyampaikan laporan keuangan tepat waktu dan berkualitas sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) untuk mempertahankan WTP

100% 100% 100%

b. Persentase nilai aset tetap yang telah mendapatkan Penetapan Status Penggunaan (PSP) sesuai ketentuan

70% 85% 121%

c. Persentase Pengadaan Barang/jasa (e-procurement) sesuai ketentuan

90% 98% 109%

Uraian capaian kinerja dari masing-masing indikator dijabarkan sebagai berikut:

1) Persentase Satker yang menyampaikan laporan keuangan tepat waktu dan berkualitas sesuai dengan SAP untuk mempertahankan WTP

Definisi operasional yaitu “Persentase Jumlah Satker Kantor Pusat, Kantor Daerah, dan Dekonsentrasi yang melaporkan (ADK & Laporan Keuangan) semester dan Tahunan tepat waktu secara berjenjang sesuai Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) serta ketentuan Peraturan Keuangan Negara yang dibuktikan dengan melakukan rekonsiliasi secara berkala”.Dari Indikator Pertama pada tahun 2017 telah mencapai target yang ditetapkan, yaitu dari sejumlah 418 Satker seluruhnya menyampaikan laporan keuangan tepat waktu dan berkualitas. Dengan rincian 48 satker Kantor Pusat, 166 satker Kantor Daerah dan 204 Dekonsentrasi.

Tabel 11

Target dan Realisasi Indikator Pertama

Tahun 2016 Tahun 2017

Total Satker 418 Satker 418 Satker

Target IKK 100% 100%

Persentase Capaian IKK 100% 100%

Laporan Kinerja (LKJ) 29

a. Hal-hal yang Mempengaruhi Pencapaian Target

1) Pelaksanaan proses likuidasi aset di lingkungan Kementerian Kesehatan dengan mengoptimalkan dasar hukum yaitu Surat Edaran Sekretariat Jenderal Nomor HK.03.03/II/345/2016 tanggal 18 Februari 2016 tentang Pelaksanaan Likuidasi di lingkungan Kementerian Kesehatan.

2) Sosialisasi kebijakan-kebijakan terkait tata laksana keuangan, perbendaharaan dan penyusunan laporan keuangan baik BLU maupun Non BLU yang berkesinambungan.

3) Adanya aplikasi e-rekon sehingga dapat mengidentifikasi ketidaksesuaian lebih dini.

4) Koordinasi dengan unit organisasi yang memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan pelatihan dalam rangka meningkatkan kompetensi SDM bidang pengelolaan keuangan dan anggaran.

5) Memberikan reward kepada satker untuk kategori satker dengan pengelolaan anggaran terbaik di lingkungan Kementerian Kesehatan.

b. Permasalahan

Walaupun target kinerja Indikator Pertama tercapai namun masih ada permasalahan yang muncul sebagai berikut:

1) Kurangnya kualitas SDM dalam bidang akuntansi.

2) Sistem aplikasi yang sering berubah dan perubahan sangat dekat waktunya dengan jadwal rekon.

3) Rotasi pengelola keuangan yang terlalu sering.

4) Kesalahan Penggunaan akun dalam perencanaan dan pelaksanaan anggaran.

c. Pemecahan Masalah

1) Peningkatan kemampuan SDM melalui pelatihan/penyuluhan kepada petugas penyusun laporan keungan.

2) Meningkatkan koordinasi dengan KPPN dan DAPK Kementerian Keuangan.

3) Mengoptimalkan peranan APIP dalam melakukan review mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pelaporan.

d. Rencana Tindak Lanjut

1) Memaksimalkan ketersediaan anggaran pada DIPA Biro Keuangan dan BMN untuk kegiatan peningkatan kemampuan penyusun Laporan Keuangan.

2) Pelaksanaan review RKAKL dan LK mulai dari level satker sampai dengan Kementerian pada setiap periode pelaporan keuangan. 3) Penyusunan dan sosialisasi Pedoman Akuntansi dan Penyusunan

Laporan Keuangan.

4) Rapat koordinasi dengan APIP, DAPK Kementerian Keuangan setiap triwulan.

2) Persentase nilai aset tetap yang telah mendapatkan Penetapan Status Penggunaan (PSP) sesuai ketentuan

Laporan Kinerja (LKJ) 30 Definisi operasional yaitu “Presentase Nilai aset tetap yang berproses mendapatkan Penetapan Status Penggunaan (PSP) yang mencakup satker Kantor Pusat, Kantor Daerah dan Dekonsentrasi”.

Capaian kinerja Indikator ini tahun 2017 melampaui target yang ditetapkan, dari total nilai aset yang harus ditetapkan status penggunaannya yaitu Rp 39.727.025.395.104,- persentase nilai aset tetap yang telah mendapatkan penetapan status penggunaan sesuai ketentuan adalah sebesar Rp 33.633.495.966.468,- (85%), melampaui target di tahun 2017 sebesar Rp 27.808.917.776.573,- (70%).

Terjadi peningkatan sebesar 21% untuk capaian pada indikator kedua, jika pada tahun 2016 sebesar 54% maka pada tahun 2017 berhasil ditingkatkan menjadi sebesar 85%. Peningkatan terlihat dari naiknya jumlah aset yang ditetapkan status penggunaannya yaitu sebesar Rp 7.597.740.266.572,-. Dalam waktu 3 (tiga) tahun pengukuran indikator kedua ini selalu melebihi target yang telah ditetapkan, namun gap selisih persentase capaian semakin mengecil. Hal ini dikarenakan aset yang sudah selesai di PSP-kan memang sudah sesuai dengan rencana dan prediksi Biro Keuangan dan BMN sedangkan aset tersisa yang harus diselesaikan dalam proses PSP memiliki kendala yang lebih kompleks dan memerlukan effort yang lebih dalam penyelesaiannya.

Analisis Pencapaian Kinerja :

a. Hal-hal yang mempengaruhi pencapaian target kinerja

1) Sosialisasi Keputusan Menteri Kesehatan Nomor

HK.02.02/MENKES/558/2016 tentang Pelimpahan sebagian

wewenang Menteri Kesehatan selaku Pengguna Barang dalam Pengelolaan Barang Milik Negara di lingkungan Kementerian Kesehatan;

2) Sosialisasi Surat Edaran Sekretaris Jenderal Nomor

HK.03.03/II/2037/2016 tanggal 13 September 2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Inventarisasi Barang Milik Negara di lingkungan Kementerian Kesehatan;

3) Sosialisasi Surat Edaran Sekretaris Jenderal Nomor HK.03.03/III/2016 tanggal 28 September 2016 tentang Rencana Kebutuhan BMN di lingkungan Kementerian Kesehatan;

4) Sosialisasi kepada satker di lingkungan Kementerian Kesehatan dalam percepatan proses revaluasi aset BMN;

5) Komitmen pimpinan dalam pengelolaan BMN termasuk dalam hal ini usul dan proses PSP;

6) Koordinasi yang intensif dan optimal dengan Unit Utama dan Kementerian Keuangan.

b. Permasalahan

Walaupun capaian kinerja Indikator Kedua melampaui target, masih ada permasalahan yang terjadi, yaitu:

1) Pendelegasian wewenang yang memungkinkan Satker melakukan Penetapan Status Penggunaan di KPKNL Setempat.

2) Petugas SIMAK BMN baru dan belum berpengalaman sehingga terhambat dan atau salah kewenangan pengajuan usulan PSP. 3) Data dukung yang tidak lengkap.

4) Anggaran untuk monitoring terhadap Satker yang capaian PSP nya rendah sangat terbatas sehingga tidak semua Satker terpapar regulasi-regulasi baru mengenai PSP.

Laporan Kinerja (LKJ) 31 1) Akan melakukan koordinasi intensif dengan satker terutama yang capaian PSP-nya masih rendah dibawah 50% dan petugas SIMAK yang masih baru.

2) Pendampingan satker yang capaian nya masih rendah.

d. Rencana Tindak Lanjut

1) Melakukan pertemuan tingkat satker dan sosialisasi regulasi-regulasi serta kebijakan menyangkut proses usulan PSP.

2) Melakukan pendampingan kepada satker yang tingkat capaian realisasi PSP-nya masih rendah.

3) Membuat aplikasi yang berisi template PSP sehingga memudahkan Petugas SIMAK untuk mengusulkan PSP serta mengurangi tingkat kesalahan usulan PSP.

3) Persentase Pengadaan Barang/Jasa (e-procurement) sesuai ketentuan

Gambar 6

Target dan Realisasi Persentase Pengadaan Barang/Jasa (e-procurement) 65% 80% 90% 100% 100% 73% 91% 98% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120%

TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2019 TARGET RENSTRA CAPAIAN

Definisi operasional yaitu “Persentase Jumlah satker Kantor Pusat dan Kantor Daerah yang proses pengadaannya menggunakan SPSE”.Capaian kinerja Indikator Ketiga tahun 2017 melampaui target yang ditetapkan, dari 214 Satker Kantor Pusat dan Kantor Daerah ditargetkan 193 Satker (80%) melakukan pengadaan melalui e-procurement, hasilnya sebanyak 210 Satker (98%) sudah melakukan pengadaan melalui e- procurement.

Dengan demikian pencapaian kinerja melebihi target. Dasar penetapan target dan realisasi ini adalah perhitungan jumlah Satker Kantor Pusat dan Kantor Daerah yang melaksanakan pengadaan dengan menggunakan e-procurement.

Terjadi peningkatan sebesar 7% untuk capaian pada indikator ketiga tahun 2017 (98%) jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2016 (91%). Peningkatan terlihat dari naiknya jumlah satker yang menggunakan LPSE Kementerian Kesehatan dalam melakukan pengadaan barang/jasa yaitu sebanyak 15 satker.

Laporan Kinerja (LKJ) 32

a.

Hal-hal yang mempengaruhi pencapaian target kinerja

Tercapainya target kinerja Indikator Ketiga tidak lepas dari terobosan yang dilakukan oleh Biro Keuangan dan BMN yaitu sebagai berikut: 1) Pelatihan dan sertifikasi PBJ yang secara simultan dilaksanakan setiap

tahunnya untuk meningkatkan kualitas SDM pelaksana PBJ;

2) Dilaksanakannya workshop monitoring dan evaluasi pengadaan barang dan jasa;

3) Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pra-DIPA 2017; 4) Pelaksanaan pengadaan barang/jasa melalui e-katalog;

5) Sosialisasi pelaksanaan pengadaan barang/jasa melalui mekanisme lelang cepat kepada satker di lingkungan Kementerian Kesehatan; Melalui kegiatan pengadaan menggunakan LPSE Kementerian Kesehatan telah menyelesaikan 1.964 paket dengan pagu selesai sebesar Rp 4.647.070.222.774,- dengan hasil lelang sebesar Rp 4.040.553.645.850,- dan mampu menghemat keuangan negara sebesar Rp 606.516.576.924,- dari nilai pagu selesai yang dilelangkan di LPSE Kementerian Kesehatan. Nilai tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan yang dicapai pada tahun 2016. Pada tahun 2016 pengadaan menggunakan LPSE Kementerian Kesehatan telah menyelesaikan 10.056 paket dengan pagu selesai sebesar Rp 7.381.249.364.062,- dengan hasil lelang sebesar Rp 6.731.139.280.750,- dan mampu menghemat keuangan negara sebesar Rp 650.110.083.312,-. Hal tersebut dikarenakan pada tahun 2017 terdapat pengadaan melalui e-Purchasing dengan paket selesai sebanyak 20.862 paket dan nilai hasil lelang sebesar Rp 6.437.425.775.494,-.

Hasil yang melebihi target tersebut seharusnya dapat lebih maksimal dengan inovasi-inovasi dari para pengelola PBJ seperti pelaksanaan Kontrak Payung dan optimalisasi pengadaan melalui e-catalogue.

b.

Permasalahan :

1) Pembaharuan aplikasi RUP oleh LKPP yang menghambat pengisian RUP oleh satker pada Triwulan I tahun 2017.

2) Adanya kebijakan efisiensi anggaran berdampak pada terjadinya lelang ulang dan tidak terlaksana.

3) Terlambatnya pelaksanaan PBJ yang disebabkan oleh terlambatnya penyiapan dokumen PBJ dan kualitas dokumen PBJ.

4) Perencanaan dan pelaksanaan PBJ Pra-DIPA masih belum optimal. 5) Pembahasan e-catalogue bidang kesehatan di LKPP membutuhkan

waktu yang cukup lama dikarenakan LKPP memerlukan bantuan teknis dari kementerian terkait.

c.

Pemecahan Masalah

1)

Berkoordinasi dengan LKPP terkait kebijakan updating aplikasi agar tidak menghambat proses pelaksanaan PBJ.

2)

Optimalisasi pelaksanaan pengadaan barang/jasa Pra-DIPA tahun 2018.

3)

Peningkatan kualitas SDM terkait pemahaman dan penyusunan dokumen PBJ.

4)

Membuat rancangan pembuatan aplikasi PBJ dengan melibatkan tenaga IT di lingkungan Biro Keuangan dan BMN dan Narasumber dari LKPP.

5)

Sosialisasi dan koordinasi dengan para pelaku PBJ di lingkungan Kemenkes untuk mengurangi lelang ulang dan proses gagal lelang.

Laporan Kinerja (LKJ) 33

6)

Penyusunan e-catalogue sectoral di delegasikan ke Kementerian terkait (Kementerian Kesehatan) sehingga tidak perlu menunggu dari LKPP.

7)

Melakukan advokasi kepada pimpinan untuk mendorong pengelola PBJ, melakukan inovasi dalam proses PBJ seperti Kontrak Payung, pengadaan melalui e-catalogue dan/atau e-purchasing.

d.

Rencana Tindak Lanjut

1)

Melakukan advokasi kepada LKPP untuk mengurangi updating

aplikasi SIRUP di awal tahun anggaran.

2)

Membuat surat edaran dan koordinasi mengenai pengadaan barang/jasa melalui proses lelang Pra-DIPA kepada seluruh satuan kerja dan Unit Organisasi di lingkungan Kemenkes.

3)

Membuat atau mengembangkan aplikasi PBJ untuk pemantauan dan evaluasi pelaksanaan PBJ.

4)

Melaksanakan Sosialisasi dan koordinasi dengan para pelaku PBJ (KPA, PPK, PP dan Pokja ULP) di lingkungan Kemenkes untuk mengurangi lelang ulang dan proses gagal lelang.

Dengan berbagai usaha yang telah dilakukan seperti disebutkan diatas pada tahun 2017, Kementerian Kesehatan telah meraih Opini WTP dari Badan pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan TA 2017.

Analisis Penguunaan Sumber Daya a. Sumber Daya Manusia

Jumlah Pegawai Biro Keuangan dan BMN Sekretariat Jenderal sampai dengan Tanggal 31 Desember 2017 sebanyak 112 (seratus dua belas) pegawai.

Adapun proses peningkatan kapasitas dan pembangunan karakter yang telah dilakukan oleh Biro Keuangan dan BMN yaitu :

1. Melaksanakan capacity building dengan melibatkan seluruh pegawai Biro Keuangan dan BMN di Bandung Jawa Barat

2. Mengirimkan sebanyak 2 orang pegawai untuk mengikuti Pelatihan Tim Pelatih Program Kesehatan (TPPK)

Mengirimkan sebanyak 2 orang pegawai untuk mengikuti Australia Awards Scholarship for Strengthening E-Procurement In Indonesia Short Term Awards

3. Mengirimkan sebanyak 5 orang pegawai untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Bendahara Pengeluaran APBN Angkatan I Tahun 2017

4. Mengirimkan sebanyak 4 orang pegawai untuk mengikuti Pelatihan dan Sertifikasi Peningkatan SDM dalam rangka Pengadaan Barang/Jasa

b. Sumber Daya Anggaran

Seluruh Kegiatan Biro Keuangan dan BMN ini dibiayai dari DIPA Biro Keuangan dan BMN Nomor : SP DIPA-024.01.1.465921/2017 tanggal 7 Desember 2015 sebesar Rp15.934.983.000,-. Namun dalam pelaksanaan tahun berjalan terjadi beberapa kali Revisi DIPA, yaitu :

Laporan Kinerja (LKJ) 34 1. Revisi I pada tanggal 23 Januari 2017 dengan anggaran yang

tercantum dalam DIPA masih tetap yaitu sebesar

Rp15.934.983.000,-

2. Revisi II tanggal 14 Agustus 2017 merubah anggaran menjadi sebesar Rp14.280.126.662,-

Revisi ke-2 dilakukan karena dikeluarkannya Surat Edaran Sekretaris Jenderal Nomor PR.04.02/I/1979/2017 tentang Efisiensi Belanja Barang Kementerian Kesehatan TA 2017. Revisi yang dilakukan menekankan pada pengurangan belanja barang yang dirasa tidak efektif dan tidak dapat dilakukan.

c. Sumber Daya Sarana dan Prasarana

Berdasarkan Neraca Barang Milik Negara (BMN) Tahun Anggaran 2017, tampak bahwa sumber daya sarana dan prasarana di Biro Keuangan dan BMN adalah sebagai berikut :

Tabel 12

Barang Milik Negara yang menjadi Aset Biro Keuangan dan BMN AKUN NERACA SALDO PER 31 DESEMBER 2017

Barang Konsumsi 35.714.250

Tanah 14.694.375.000

Peralatan dan Mesin 8.750.280.385

Gedung dan Bangunan 4.338.060.839

Jalan, Irigasi dan Jaringan 632.784.666

Aset Tetap dalam Renovasi -

Aset Tetap Lainnya 213.525.000

Akumulasi Penyusutan Aset Tetap (8.099.884.104)

Aset Tak Berwujud 2.556.732.405

Akumulasi Amortisasi (1.909.221.155 110)

Aset Lain-lain 427.730.366

Akumulasi Penyusutan atas Aset

Lainnya (405.981.566)

BMN Ekstrakomptabel 11.640.561

Akumulasi Penyusutan

Ekstrakomptabel (10.500.752)

TOTAL ASET 21.245.255.895

Dokumen terkait