BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Telaah Pustaka
2.1.3 Pemerikaan Payudara Klinis (SADANIS)
Deteksi dini kanker payudara tidak hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI saja, pemeriksaan payudara juga dapat dibantu oleh tenaga kesehatan medis atau yang disebut dengan pemeriksaan payudara klinis (SADANIS). SADANIS diketahui lebih mudah dan murah dari pada pemeriksaan melalui Mammography25. SADANIS diinovasikan dengan berlandaskan pemberdayaan masyarakat dengan pelayanan kesehatan pada kerjasama lintas pendidikan dan tenaga
kesehatan agar dapat melakukan pemeriksaan payudara (SADANIS) 26.
2.1.3.1 Langkah-Langkah SADANIS
Tata cara melakukan deteksi dini kanker payudara dengan metode SADANIS dibantu oleh petugas kesehatan, dimana bertujuan untuk:
1) Pemeriksaan kedua payudara dan puting bertujuan guna melihat jika terdapat adanya perubahan bentuk dan ukuran, keadaan abnormal seperti; perubahan warna, perukaan dan keluarnya cairan dari puting payudara.
2) Pemeriksaan kedua payudara dan ketiak yang bertujuan untuk melihat jika terdapat adanya kista maupun massa yang menebal dan dicurigai sebagai cairan (tumor).
Persiapan seorang tenaga kesehatan saat melakukan SADANIS kepada pasien harus mengikuti beberapa alur dibawah ini: 2
1) Mengatakan bahwa Anda yang bertugas dalam pemeriksaan payudara pasien;
- Pada saat ini juga baik untuk mengetahui adanya perubahan pada payudara pasien dan mengetahui apakah pasien melakukan pemeriksaan payudara sendiri secara rutin.
- Sebelum melepas baju pasien, jelaskan bahwa Anda akan menjelaskan tata cara pemeriksaan payudara.
- Setelah melepas baju pasien, Anda memulai observasi dari mulai pinggang bagian bawah hingga ke atas, lalu pintalah pasien untuk duduk diatas meja periksa dengan posisi kedua lengannya berada di sisi tubuhnya. Jika dilakukan oleh seorang dokter bedah, maka:
- Melakukan pemeriksaan dan mendiagnosa kasus rujukan.
- Pemeriksaan biopsy pada suspek kanker payudara.
- Melakukan identifikasi umum perawatan paliatif, seperti;
penghilang nyeri.
- Pengawas dan mendukung kerja petugas klinis.
- Memberikan rujukan atau menjelaskan tumor temuan diposisi mana (jika perlu).
- Bagi kanker payudara yang telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan USG/Mammography (jika perlu).
Berikut tata cara melakukan pemeriksaan payudara klinis yang dikutip dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2015):
1) Inspeksi Payudara
Gambar 2. 10 Tampilan Payudara dan Kerutan atau Lekukan pada Payudara
Pada tahap ini lihat lah pada bentuk dan ukuran pada payudara.
Perhatikan jika adanya perubahan bentuk, ukuran putting, adanya kerutan dan bintik yang dicurigai. Terkadang, adanya perbedaan ukuran dan bentuk pada payudara tidak selalu merupakan gejala kanker payudara. Tetapi, adanya keadaan ketidakaturan ukuran dan bentuk dapat mengindikasikan adanya masa (tumor) pada payudara pasien.
Gambar 2. 11 Tampilan Payudara Lengan di Atas dan Tangan di Pinggang Membungkuk
Selanjutnya, mintalah pasien untuk mengangkat kedua lengan ke atas kepala kemudian menekan pinggang dengan kedua tangannya guna bertujuan untuk mengencangkan otot dadanya. Lalu, periksa ukuran, bentuk, posisi dan kesimetrian payudara, serta keadaan abnormalitas yang dicurigai.
2) Palpasi Payudara
- Meminta pasien untuk berbaring diatas meja periksa.
- Letakkanlah bantal dibawah punggung sisi payudara yang akan diperiksa. Dengan begitu membuat jaringan ikat payudara menyebar, dan membantu pada saat pemeriksaan payudara.
- Letakkanlah kain bersih pada posisi atas perut pasien.
- Letakkan lengan kiri pasien diatas kepalanya. Lalu, perhatikan jika ada perbedaan ukuran pada payudara dan jika terdapat lekukkan yang dicurigai.
Gambar 2. 12 Tahap Palpasi Payudara
Dengan menggunakan 3 jari tangan, lakukanlah palpasi payudara dengan teknik spiral. Teknik ini dimulai dari sisi luar payudara, lalu tekan jaringan ikat payudara secara kuat kearah tulang rusuk, setelah selesai pemetiksaan dengan satu putaran secara bertahap, pindahkan jari-jari Anda menuju area areola pasien. Lakukan hal yang sama. Perhatikan jika ada benjolan atau keluhan nyeri pada pasien.
Gambar 2. 13 Tahap Palpasi Payudara
Menggunakan ibu jari, dan jari telunjuk, tekan bagian putting secara perlahan. Lihatlah jika ada cairan yang tidak normal, seperti; nanah.
Tetapi, jika dilakukan pada ibu menyusui, ada keluar cairan berwarna putih maka dianggap normal. Lakukan hal tersebut pada setiap payudara.
Gambar 2. 14 Tahap Palpasi Payudara
- Lakukan pemeriksaan ulang jika terdapat kecurigaan atau keraguan.
- Pada mempalpasi bagian pangkal payudara, pintalah pasien duduk dan mengangkat lengan kirinya setinggi bahu. Jika diperlukan, letakkan tangannya pada bahu Anda. Lakukan penekanan secara perlahan dari otot pektoralis menggunakan jari-jari ke arah pangkal ketiak. Hal ini bertujuan untuk melihat jika ada pembesaran pada kelenjar getah bening. Lakukan kembali pada payudara lainnya.
- Jelaskan dan paparkan temuan tersebut. Jika hasilnya normal, maka katakan normal dan sehat dan jelaskan waktu pemeriksaan lagi secara mandiri. Dapat melakukan pemeriksaan payudara sendiri secara individu menggunakan minyak kelapa, lotion ataupun baby oil.
3) Pencatatan Hasil Temuan
Beberapa atribut dan hal-hal penting yang ada di laporan hasil temuan pada saat melakukan pemeriksaan payudara klinis (SADANIS) : - Bentuk apakah terdapat perbedaan ukuran bentuk pada payudara?
- Kulit bagaimana tampilan kulitnya? Apakah halus, berkerut ataupun ada cekungan?
- Cairan apakah terdapat cairan abnormal yang keluar dari puting pasien? Jelaskan wujud cairan tersebut berdasarkan warna, kekentalan, bau dan banyaknya.
- Massa atau benjolan adakah sekelompok sel yang saling menempel.
Hal tersebut dapat diakibatkan oleh adanya abses, kista, ataupun tumor jinak maupun ganas.
- Ukuran seberapa besar ukuran masanya (cm)? jika bentuknya bulat, ukuralah diameternya?
- Konsistensi bagaimana bentukk dan wujud dari massa dan benjolan tersebut? Apakah rasanya lunak, keras, berisi cairan ataupun berupa daging yang mengeras?
- Mobilitas saat dilakukannya palpasi, apakah ada pergerakan pada benjolan tersebut?
2.1.4 Faktor-Faktor Berhubungan Dengan Perilaku SADARI 2.1.4.1 Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu. Pengetahuan didapatkan dari proses pengindraan seorang individu terhadap objek yang ditelitinya.
Jenis-jenis pengindraan pada manuasia, yakni indra penglihatan, pendengar, penciuman, perasa dan peraba. Faktor pengetahuan merupakan domain kognitif dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior)6.
Terdapat enam tingkatan dalam domain kognitif yang mencangkup pengetahuan, yakni6;
1. Tahu (know)
Tahu merupakan tingkat domain kognitif pengetahuan yang paling rendah. Sebagai contohnya, yakni mengingat kembali (recall).
Contohnya; dapat menjelaskan tanda-tanda kanker payudara dan tidakan SADARI dengan tepat.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai kemampuan individu yang dapat menjelaskan dan mempresentasikan materi yang telah didapat dengan benar. Contohnya; dapat menjelaskan mengapa remaja harus rutin mempratikkan SADARI.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi merupakan kemampuan seseorang untuk mengimplementasikan dan mempratikkan materi yang telah didapat.
4. Analisis (analysis)
Analisis merupakan kemampuan seseorang dalam menjabarkan suatu objek atau materi ke dalam bentuk berbagai komponen, hanya saja masih dalam struktur organiasasi yang sama.
5. Sintesis (siynthesis)
Sintesis merupakan kemampuan dalam menghubungkan komponen- komponen menjadi suatu keseluruhan yang baru. Contohnya;
menyusun, mencocokkan, meringkas dan menyesuaikan suatu teori yang telah ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan seseorang dalam menilai suatu materi.
Hal tersebut didasarkan kepada kriteria-kriteria yang telah ada.
Contohnya; dapat menjelaskan sebab-akibat mengapa seseorang tidak mau melakukan SADARI.
Penelitian yang dilakukan oleh Andriani (2018) di SMA Negeri 1 Pomala Kabupaten Kolaka menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pengetahuan dengan perilaku SADARI pada Siswi di SMA tersebut.
Dimana, mayoritas Siswinya memiliki proporsi kategori pengetahuan kurang baik yakni 59,15% Siswi dan diketahui pula Siswi yang memiliki pengetahuan kurang baik berisiko 5,72 kali lebih besar memiliki perilaku SADARI kurang baik (PR 5,72 P-value= 0,017).
Mendukung penelitian yang sebelumnya, Rica Tri Septinora (2018) dalam penelitiannya menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dengan perilaku SADARI pada Siswi SMA Swasta Surya Ibu Kota Jambi.
Mayoritas Siswi memiliki pengethuan kurang baik dengan proporsinya yakni 53,7% sementara proporsi perilaku SADARI kurang baik yakni 73,2% (P-value= 0,002). Mengutip dari penelitian Puspita Sari dkk (2020) diketahui responden yang memiliki pengetahuan baik maka akan berperilaku pelaksanaan SADARI yang baik pula. Hal ini terbukti bermakna secara statistik (P-value= 0,05) 8.
Penilaian pengetahuan seseorang juga dapat dilakukan dengan sesi wawancara atau dengan menggunakan formulir angket yang bertanya mengenai pokok-pokok hal yang akan diukur dari responden. Menurut Notoatmodjo (2003) ada 2 kriteria tingkat pengetahuan, yakni: baik jika menguasai materi 76%-100%, dan kurang baik jika menguasai materi 75%-0%.
2.1.4.2 Sikap
Sikap didefinisikan sebagai kecenderungan yang dipelajari seseorang guna mengevaluasi sesuatu dengan berbagai cara yang ia mau. Hal ini terdiri dari evaluasi seseorang terhadap suatu masalah, objek maupun suatu peristiwa28. Proses pembentukan sikap melalui 4 tahap, yakni; adopsi, deferensiasi, intergritasi, dan trauma.
Adopsi merupakan tahap awal terbentuknya sikap. Pada tahap ini terjadi fenomena kejadian yang terjadi secara berulang-ulang dengan terus-menerus. Dan pada beberapa waktu nantinya, akan diserap oleh seorang individu dan akan mempengaruhi proses pembentukan yang akan mempengaruhi sikap seorang individu terhadap fenomena tersebut.
Deferensiasi adalah tahap kedua terbentuknya sikap. Seiring bertambahnya usia seseorang maka, pada tahap ini terjadi perkembangan pengalaman, pandangan dan intelegensi seseorang yang pada semulanya dianggap sebagai hal yang homogeny (sama) menjadi suatu hal yang heterogen (berbeda-beda).
Intergritasi yakni tahap ketiga terbentuknya sikap. Pada tahap ini, terjadi bertahap. Tahapan pertama di awali dengan beberapa pengalaman atau kejadian yang saling berkaitan antar satu sama lain. Sehingga, pada akhirnya tahapan-tahapan tersebut akan membentuk sikap seseorang individu mengenai hal tersebut.
Trauma merupakan tahapan terakhir terbentuknya sikap. Trauma dimaknai sebagai sebuah pengalaman yang terjadi langsung kepada seseorang dengan secara tidak sengaja mengejutkan dan meninggalkan kesan dan pesan mendalam (baik dan atau buruk) bagi orang yang merasakannya.
Bagan 2.1 Diagram Terbentuknya Sikap dan Reaksi
Sumber : Notoatmodjo (2014) Proses Stimulus Stimulus
rangsangan
Stimulus rangsangan
Sikap (tertutup)
Menurut Khairunnissa (2018) terkait faktor yang berhubungan dengan perilaku SADARI, diketahui bahwa ada hubungan antara sikap dengan perilaku SADARI. Dengan begitu, semakin baik sikap responden maka akan semakin baik perilaku SADARI nya29. Sejalan dengan penelitian sebelumnya, Selvita Barus (2019) menunjukkan bahwa Siswi yang memiliki sikap negatif berpeluang 1,716 kali memliki perilaku SADARI kurang baik pada Siswi SMA RK Delimurni Bandar Baru (P-value= 0,031;
PR 1,716 ).
Pengukuran sikap dapat dilakukan melalui metode likert atau yang biasa disebut sebagai summated rating method. Skala likert menggunakan beberapa pertanyaan dengan 5 pilihan jawaban atas pertanyaan tersebut.
Alternative jawaban yang ada pada skala likert yakni adaalah30: 1. Strongly approve (Sangat setuju)
2. Approve (Setuju) 3. Undecided (Ragu-ragu) 4. Disapprove (Tidak setuju)
5. Strongly disapprove (Sangat tidak setuju) 2.1.4.3 Keterpaparan Informasi
Sumber informasi merupakan segala bentuk perantara yang digunakan untuk menyampaikan informasi yang dipergunakan sebagai komunikasi masa (dalam jumlah banyak). Menurut Notoatmodjo (2003) terdapat 3 jenis sumber informasi kesehatan, yakni; media cetak (majalah, koran, poster), media elektronik (internet, radio, tv) dan petugas kesehatan.
Adanya sumber informasi yang bermanfaat baik kaitanya terhadap peningkatan tingkat pengetahuan dan sikap yang baik terhadap perilaku pencegahan penyakit31.
Penelitian yang dilakukan Shinta Deby Afianty (2019) menunjukkan proporsi Siswi yang mengatakan pernah terpapar informasi SADARI yakni sebesar 67,74% responden dan mayoritas responden memiliki perilaku SADARI kategori baik yakni sebesar 75,3% responden. Berdasarkan analisis uji statistik menjelaskan bahwa Siswi yang tidak pernah terpapar informasi terkait SADARI berpeluang 1,485 kali memiliki risiko perilaku
SADARI kurang baik di SMA Negeri 5 Kota Pekanbaru.
Penelitian Kalayu Birhane (2017) menunjukkan adanya beberapa studi terdahului di Berhan terkait pelaksanaan SADARI yang hasilnya tidak selalu konsisten. Disebabkan adanya keterpaparan informasi yang didapat oleh subjek penelitian berbeda-beda. Hasilnya, 32,8% subjek penelitian tidak melakukan SADARI. Hal tersebut didukung oleh studi-studi literatur lainnya31.
2.1.4.4 Dukungan Keluarga/Orang Tua
Menurut Friedman (2013) dukungan keluarga merupakan sikap menerima tindakan keluarga terhadap anggota keluarga yang membutuhkan32. Hal ini dapat berupa dukungan emosional, dukungan informasional, dukungan instrumenal, dukungan affirmasional, sehingga seseorang merasa diperhatikan. Individu yang berada pada keluarga yang suportif, umumnya akan memiliki kondisi yang lebih baik, dari pada yang tidak.
Hal ini dikarenakan, adanya efek nyaman dari dukungan keluarga yang dianggap berkontribusi dalam menjaga kesehatan mental, spiritual, dan fisik individu tersebut33.Bentuk dukungan informasi keluarga pada penelitian ini adalah peran anggota keluarga dalam memberikan informasi terkait informasi SADARI dan kanker payudara. Pada dukungan jenis ini, peran anggota keluarga dapat dilakukan melalui memberikan nasehat, ajakan, dan petunjuk yang berguna dalam mendeteksi gejala dan tanda curiga kanker payudara menggunakan metode SADARI.
Dukungan penilaian keluarga di penelitian ini merupakan peran anggota keluarga dalam memberikan feedback yang baik, menyelesaikan suatu masalah dan juga penilaian identitas anggota keluarganya. Bertujuan memberikan pembenaran pada keberadaan informasi, yakni perilaku SADARI.
Dukungan instrumenal keluarga merupakan peran anggota keluarga dalam mewadahi media baik praktis maupun konkrit secara nyata.
Dukungan instrumenal dapat berupa; uang, handphone, laptop, flyer, poster, televisi, radio, dan berbagai faktor pendorong informasi yang dapat
diberikan kepada salah satu anggota keluarga yang membutuhkannya.
Yang terakhir, yakni dukungan emosional. Dukungan emosional merupakan peran keluarga yang menjadi tempat beristirahat dan berteduh, yan memberikan efek tenang, nyaman dan aman bagi anggota keluarga yang membutuhkannya. Contohnya; rasa kasih sayang, cinta, pengertian, kepercayaan dan dapat mendengar keluhan anggota keluarganya.
Menurut Teori Green (1980) terkait perubahan perilaku terhadap tindakan kesehatan. Adanya dukungan, baik itu yang diperoleh dari keluarga ataupun orang tua merupakan faktor penguat bagi seorang remaja untuk melakukan tindakan deteksi dini. Penelitian Afianti dkk (2019) tentang determinan perilaku SADARI, menjelaskan adanya hubungan antara dukungan keluarga/orang tua dengan perilaku SADARI32. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Khairunnissa dkk (2018)6.
Penelitian yang dilakukan oleh Ester Ratnaningsih (2020) di SMA Negeri 16 Kota Semarang menjelaskan bahwa Siswi yang memiliki dukungan keluarga/ibu yang buruk berpeluang 2,273 kali lebih besar untuk memiliki perilaku SADARI kurang baik dan terbukti signifikan secara statistik (P-value= 0,000; PR= 2,273).
2.1.4.5 Dukungan Teman Sebaya
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan teman sebaya yakni kawan, sahabat atau orang yang bersama-sama dalam bekerja dan berbuat. Teman sebaya didefinisikan sebagai sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri karakteristik dan usia yang sama. Contohnya;
teman sekolah dan teman sekerja.
Dukungan teman sebaya merupakan salah satu pembentuk perilaku seseorang. Adanya kepercayaan dan keyakinan seseorang terkait sesuatu objek, akan mendukungnya dalam membentuk suatu perilaku terhadap objek tersebut.
Bentuk dukungan informasi teman sebaya pada penelitian ini adalah perannya dalam memberikan informasi terkait informasi SADARI dan kanker payudara. Pada dukungan jenis ini, dapat dilakukan melalui
memberikan nasehat, ajakan, dan petunjuk yang berguna dalam mendeteksi gejala dan tanda curiga kanker payudara menggunakan metode SADARI.
Dukungan penilaian teman sebaya di penelitian ini merupakan peran dalam memberikan feedback yang baik, menyelesaikan suatu masalah dan juga penilaian identitas temanya. Bertujuan memberikan pembenaran pada keberadaan informasi, yakni perilaku SADARI.
Dukungan instrumenal teman sebaya merupakan perannya dalam mewadahi media baik praktis maupun konkrit secara nyata. Dukungan instrumenal dapat berupa; uang, handphone, laptop, flyer, poster, televisi, radio, dan berbagai faktor pendorong informasi yang dapat diberikan kepada salah satu teman yang membutuhkannya.
Yang terakhir, yakni dukungan emosional. Dukungan emosional merupakan peraanya yang menjadi tempat beristirahat dan berteduh, yang memberikan efek tenang, nyaman dan aman bagi teman yang membutuhkannya. Contohnya; rasa kasih sayang, cinta, pengertian, kepercayaan dan dapat mendengar keluhan.
Penelitian Watiningsih (2020) menunjukkan adanya hubungan antara dukungan teman sebaya dengan perilaku SADARI. Artinya, semakin baik dukungan teman sebaya, maka, akan meningkat pula perilaku SADARI nya pada wanita usia subur34. Hal ini sejalan dengan literature review dukungan sosial (tempat kerja, teman, keluarga/ibu) meningkatkan sikap yang baik kepada tindakan pencegahan dalam kesehatan.
Sejalan dengan penelitian yang sebelumnya, menurut Ester Ratnaningsih (2020) dukungan teman sebaya merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan perilaku SADARI kurang baik pada Siswi SMA Negeri 16 Kota Semarang dan terbukti signifikan secara statistik. Siswi yang tidak didukung teman sebaya dalam melakukan SADARI berisiko 4,875 kali lebih besar untuk memiliki perilaku SADARI kurang baik (P-value= 0,000; PR= 4,875).