B O G O R
2011
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Jamu galohgor mengandung kadar beta karoten 10300 µg/g atau setara dengan 171 667 RE/100 g, kadar zat besi sebesar 22,1 mg/100 g, dan kadar seng sebesar 3.4 mg/100 g.
Pemberian Galohgor menyebabkan kadar beta karoten relatif lebih tinggi dibandingkan kontrol, baik pada kelompok yang dilukai maupun tidak. Sebaliknya kadar retinol pada kelompok tikus yang mendapat perlakuan pemberian jamu relatif lebih rendah dibandingkan kontrol, baik pada kelompok yang dilukai maupun tidak.
Pemberian Galohgor tidak menunjukkan pengaruh terhadap kadar seng dan zat besi dalam darah, serta gambaran darah tikus.
Jamu galohgor dapat mempercepat proses penyembuhan luka pada tikus berdasarkan jumlah sel radang, pembentukan sel epitel, pembentukan pembuluh kapiler dan serabut kolagen.
Perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut mengenai kandungan provitamin A pada tikus laktasi dan mekanisme penyembuhan luka dengan adanya pemberian jamu galohgor.
DAFTAR PUSTAKA
Albers R et al. 2005. Markers to measure immunomodulation in human nutrition intervention studies. British Journal of Nutrition 94:452-481.
Almatsier S. 2004. Prinsip dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Baratawidjaja KG dan Rengganis I. 2006. Imunologi Dasar. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Bowman BA, Robert MR, Editor. 2001. Nutrition. Ed ke-8. Washington: ILSI Press.
Ganong WF. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Handayani I. 2006. Aktivitas sediaan gel dari ekstrak lidah buaya (Aloe barbadensis miller) untuk proses penyembuhan luka pada mencit (Mus musculus) [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Kalangi SJR.. 2004. Peran Kolagen pada Persembuhan Luka. http: //www. Dexa-medica. Com/test/htdocs/dexamedica/article_files/kolagen.pdf. html. Krause’s. 2000. Food Nutrition & Diet Therapy. Edisi 11. W.B. USA: Saunder
53
Mutschler E . 1991. Dinamika Obat. Ed Ke-5. Bandung: ITB Press.
Pajar. 2002. Kandungan Gizi dan Senyawa Aktif Jamu Tradisional untuk Kesehatan Ibu Melahirkan dan Menyusui (Produk Jamu dari Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor) [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Permaesih D. 2009. Efikasi suplementasi dan fortifikasi vitamin A pada minyak goring terhadap status vitamin A dan faktor imunitas Air Susu Ibu [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Prasad AS. 2000. Effect of Zn deficiency on immune function. Journal of Trace Elements in Experimental Medicine 13:1-20.
Reifen R. 2008. Vitamin A as an Anti-imflammatoryAgent. Cambridge University Press.
Roitt IM. 2003. Essential Immunology. Blackwell Science Limite Oxford.
Roosita, K. 2003. Efek Jamu Galohgor Pada OInvolusi Uterus dan Produksi Air Susu Tikus Putih (Ratus sp.) [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Rukmono. 1973. Kumpulan Kuliah Patologi. Jakarta: Bagian Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Sediaoetama, Ahmad Djaeni. 2006. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi.
Jakarta: Dian Rakyat.
Singer Aj, Clark RAF. 1999.Cutaneus wound healing. N England J Med 341(10): 738-154.
Smith JB, Mangkoewidjojo S. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis., Australia: Departement of Education and Culture. Directorate Generale of Higher Education, DGHE-IDP.
Stephensen CB. 2001.Vitamin A, infection, and immunity. Annu Rev Nutr
21:167-192.
Tilaar M. 1994. Indonesian herbs and its effect om health. Di dalam: Indonesian Nutrition. Association and The Asian Forum of Dietetics Professionals.
Proceeding: The First Asian Conference on Dietetics. Beyond Nutrition: Challenges and Opportunities for Profesionals in Dietetics. Hlm 257-260.
54
Tortora GJ. 2004. Principles of Anatomy and Physiology. New York: Harper & Row.
Vegad JL. 1995. A Textbook of Veterinary General Pathology; Healing and Repair. New Delhi: Vikas Publishing House.
Villamor E, Fawzi WW, 2005. Effect of vitamin A supplementation on immune respon and correlation with clinical outcomes. Clinical Microbiology Review 18(3): 446-464.
Winarno, 2002. Kimia Pangan dan Gizi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Winarsi H. 2007. Antioxidan Alami dan Radikal Bebas. Jakarta: Kanisius.
Wintergerst ES, Maggini S, Hornig DH. 2007. Contribution of selected vitamins and trace elements to immune function. Ann Nutr Merb 51:301-323.
Wolvers M, Broekmans WMR, Logman MHGM, Wielen RPJ, Albers R. 2006. Effect of a micture of micronutrients, but not of bovine colostrums concentrate, on immune function parameters in healthy volunteers: a randomized placebo-controlled study. Nutritional Journal 5:28
56
LAMPIRAN
Lampiran 1. Prosedur Analisis Senyawa Aktif 1. Identifikasi Penentuan adanya Alkaloid
a. 1 gram contoh digiling halus bersama-sama pasir sambil dibasahi 5 ml kloroform yang mengendung beberapa tetes amoniak (± 3 tetes).
b. Ditambahkan lagi 5 ml kloroform dan beberapa tetes amoniak (± 5 tetes), kemudian disaring ke dalam tabung reaksi tertutup.
57
c. Ekstrak kloroform dalam tabung reaksi dikocok dengan 10 tetes H2SO4
d. Spot diteteskan pada spot plate dan ditambahkan 3 pereaksi Dragendorf, Mayer, dan Wagner yang akan menimbulkan warna berturut-turut: merah jingga, putih, dan coklat.
2 M, kemudian dipisahkan lapisan asamnya ke dalam tabung reaksi lain.
2. Identifikasi Adanya senyawa Flavonoid dan Senyawa Fenol Hidrokuinon a. 1 gram contoh ditambahkan methanol sampai semua sampel terendam dan
dipanaskan.
b. Larutan dipipet dan diteteskan pada 2 plat tetes masing-masing 5 tetes. Pada plet tetes pertama ditambahkan NaOH 10 %.
c. Timbulnya warna merah menandakan adanya senyawa fenol hidrokuinon. Pada plat tetes yang kedua ditambahkan 1 tetes H2SO4
3. Penentuan Adanya Triterpenoid/Steroid
pekat. Timbulnya warna merah menendakan adanya senyawa flavonooid.
a. 1 gram contoh ditambahkan 12,5 ml etanol dan dipanaskan, lalu disaring. Filtrate diuapkan dan ditambahkan eter.
b. Lapisan eter yang terbentuk dipipet dan diteteskan pada plat tetes, lalu ditambahkan pereaksi LB (3 tetes asetat anhidrat dan 1 tetes H2SO4
c. Adanya triterpenoid ditandai dengan timbulnya warna merah dan ungu, sedangkan adanya steroid ditandai dengan timbulnya warna hijau.
pekat).
4. Penentuan Flavonoid, Saponin, dan Tanin
a. 1 gram sampel dimasukkan ke dalam gelas piala lalu ditambhakan 12 ml air panas dan dididihkan selama 5 menit. 3 ml larutan dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi.
b. Ke dalam tabung tabung reaksi pertama dimasukkan serbuk Mg dan 0,2 ml HCl pekat lalu ditambahkan amil alkohol. Campuran dikocok dan dibiarkan memisah.
c. Adanya flavonoid ditandai ditandai adanya warna merah coklat pada lapisan amil alkohol. Pada tabung reaksi kedua dilakukan pengocokan secara vertical 10 detik dan dibiarkan 10 menit. Adanya saponin ditandai
58
dengan adanya busa yang stabil. Untuk tannin, sisa campuran dididihkan lagi 10 menit, lalu disaring. Filtrate ditambahkan beberapa ml larutan FeCl3 1 %. Adanya tannin ditandai dengan adanya warna biru tua/hijau kehitaman.
Lampiran 2. Penetapan Besi (Fe) dan seng (Zn) dalam jamu galohgor dengan menggunakan AAS
59
1. HCl 6 N, 3 N, dan 0,3 N 2. Lantanum klorida 10 % w/v 3. Aquades bebas ion
4. Kertas saring Whatman No. 541 yang telah dicuci dengan menggunakan HCl 3 N untuk menghilangkan tracemetal
5. Larutan stock standar, 1000 mg/L. Ditimbang sejumlah pereaksi “AR Grade” seperti yang tertera pada tabel 1. Garam dilarutkan dalam 25 ml HCl 3 N kemudian diencerkan dengan air.
Tabel 1. Berat (gram) untuk membuat larutan standar logam
Logam Pereaksi Berat pereaksi (g) per 250 ml larutan Besi (Fe) Fe2(SO4)3(NH4)2SO4.24H2
O
2.158
Seng (Zn) ZnSO4.7H2O 1.100
6. Larutan standar
Larutan stock standar diencerkan dengan air (jika persiapan sampel dilakukan dengan pengabuan basah) atau HCl 0,3 N (pengabuan kering) sampai konsentrasinya berada dalam kisaran kerja logam yang bersangkutan.
Tabel 2. Kondisi yang direkomendasikan untuk analisis logam
Unsur Panjang gelombang (λ) Limit Deteksi (µg logam ml) Kisaran kerja (µg logam ml) Besi (Fe) 248.3 0.03 0.05-5 Seng (Zn) 213.9 0.004 0.1-2(1)
Peralatan
1. Spektrofotometer Absorbsi Atom (SAA)
2. Alat-alat gelas yang sebelumnya telah dicuci dengan HNO3
Cara Kerja
encer.
1. Ditimbang 5 gram sampel dan dimasukkan ke dalam labu kjehldahl, di dalam labu ditambahkan 10 ml H2SO4 dan 10 ml HNO3
2. Campuran ditambahkan 1-2 ml HNO
dan batu didih.. kemudian dipanaskan perlahan-lahan sampai larutan berwarna gelap.
3
3. Kemudian ditambahkan HNO
, lalu pemanasan dilanjutkan sampai berwarna lebih gelap lagi.
3
4. Setelah itu ditambahkan 10 ml aquades dan dipanaskan sampai berasap, lalu larutan didinginkan dan ditambahkan 5 ml aquades, kemudian larutan dipanaskan kembali.
lalu dipanaskan kembali 5-10 menit sampai larutan tidak gelap lagi dan didinginkan.
5. Larutan didinginkan dan diencerkan sampai volume tertentu. Larutan siap dibaca pada alat AAS.
60
Lampiran 3. Pemeriksaan gambaran darah lengkap
Peralatan : Partikel Counter merk ERMA INC model PCE-210 Cara Kerja :
1. Darah sebanyak 350 µl dipipet lalu dimasukan ke dalam tabung
2. Tabung tersebut dimasukkan ke dalam alat partikel counter. Maka akan keluar hasil pemeriksaan gambaran darah lengkap.
61
Lampiran 4. Prosedur Penetapan Zn Serum
2 ml sampel serum dilarutkan dalam aquabides dengan perbandingan 1:1, aquabides yang digunakan tidak mengandung seng. Baca pada alat AAS pada panjang gelombang 213 nm, dan deret standar yang dilarutkan dalam 10 % gliserol. Kadar seng (Zn) adalah hasil baca sampel dikali faktor pengenceran.
62
Lampiran 5. Prosedur Analisis Serum Ferritin
Metode : ELISA (Enzime-linked immunoassays) Reagen : Antibodi (DAKO) Ferritin-1 dan Ferritin-2 Cara Kerja :
1. Penyiapan plate dan antibody-1, yaitu stock antibody-1 2,6 µl diencerkan dengan coating buffer (0,01 mol/l phosphate buffer, 0,15 mol/l NaCl) sebanyak 12 ml. larutan antibody tersebut dimasukkan sebanyak 100 µl/well dalam plate untuk diinkubasi semalam pada refrigerator.
2. Plate dicuci dengan washing buffer (0,01 mol/l phosphate buffer, 0,5 mol/l NaCl, 0,1 % Tween 20), diulang sebanyak 4 kali yang didiamkan di antara waktu tersebut masing-masing selama 3 menit.
3. Siapkan sampel serum, larutan standard an control. Serum diencerkan (1:10) dengan washing buffer. Larutan control dibuat dari 15 µl liquicheck
control dengan 150 µl washing buffer (1:10). Proses yang sama dilakukan untuk larutan standar (level 1 sampai 5). Larutan serum, control dan standar masing-masing dimasukkan sebanyak 100 µl/well dalam plate yang ditutup dengan parafilm, kemudian diinkubasi selama 2 jam pada suhu kamar.
4. Plate dicuci ulang dengan washing buffer sebanyak 4 kali yang didiamkan di antara waktu tersebut masing-masing selama 3 menit.
5. Antibodi-2 dimasukkan lalu diencerkan sebanyak 1,5 µl dengan coating buffer 12 ml, dan diambil sebanyak 100 µl/well dimasukkan ke dalam plate dan ditutup dengan parafilm, kemudian diinkubasi selama 1 jam pada suhu kamar.
6. Plate dicuci dengan washing buffer sebanyak 4 kali yang didiamkan di antara waktu tersebut masing-masing selama 3 menit.
63
63
8. Plate dikeringkan, setelah itu ditambahkan 5 µl H2O2
9. 100 ml larutan OP dimasukkan, kemudian ditunggu sampai warna kuning muncul
30 % pada larutan OP.
10.Dimasukkan larutan H2SO4
11.Plate dibaca pada Multiscan Ascent dengan panjang gelombang 450 nm. sebanyak 150 µl/well sehingga terjadi perubahan warna menjadi merah muda.
64
Lampiran 6. Pemeriksaan Kadar Retinol Serum Metode : Ekstraksi
Bahan : 1. Serum
2. odium Dodecyl Sulphate (SDS) 3. Alkohol
4. Butylated hidroxytoluene (BHT) Cara Kerja :
1. Dimasukkan serum plasma 100 µl dan ditambahkan 100 µl SDS dan dicampur sampai homogen.
2. Ditambahkan internal standar sebanyak 200 µl dan dicampur beberapa sampel dalam tabung tertutup pada mixer vortex selama 1 menit.
3. Ditambahkan 1000 µl heptane yang mengandung 0,5 g/L BHT
4. Dicampur secara merata dalam tabung tertutup pada mixer vortex 3 menit. 5. Disentrifuge selama 10 menit pada 1000 rpm (2500 x g) pada suhu 10 o 6. Dipindahkan 700 µl pada tabung ukuran 100 x 17 mm dari lapisan heptane
paling atas dan keringkan dengan dialiri cairan nitrogen pada suhu 40 C.
o
7. Setelah semuanya kering, disusun kembali dengan fase aktif 100 µl yang mengandung 0,01 g/L BHT.
C.
8. Dicampur dalam mixer vortex selama 15 detik.
9. Dimasukkan sampel ke dalam botol kecil yang hampa udara dan ditempatkan sampling dalam korosel untuk dianalisis.
10.Dianalisis selama 24 jam dan disimpan di dalam ruang gelap pada suhu 4 o
11.Dimasukkan dalam HPLC dengan cara diinjeksikan sampel secara terpisah sebanyak 50 µl dengan fase aktif 100 x 4,6 mm yang mengandung 0,01 g/L BHT pada kolom cartridge 3 µl secara urut.
C sampai semua sampel siap dianalisis.
12.Dideteksi retinol pada 325 nm dan 292 nm dan baca output data kromatografi.
65
Lampiran 7 Metode Pengukuran
Parameter Metode Pengukuran
Kadar zat besi jamu : Diukur dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrofotometry (AAS) Kadar seng jamu : Diukur dengan menggunakan Atomic
Absorption Spectrofotometry (AAS) Kadar β-karoten jamu : Diukur dengan menggunakan High
Performance Liquid Chromatography (HPLC)
Kadar retinol serum : Diukur dengan menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC)
Kadar β-karoten serum : Diukur dengan menggunakan High
Performance Liquid Chromatography (HPLC)
Kadar feritin serum : Diukur dengan menggunakan metode ELISA (Enzime-linked immunoassays)
Kadar seng serum : Diukur dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrofotometry (AAS) Jumlah eritrosit : Dihitung dengan menggunakan
hemocitometer Neubauer dan larutan Larutan Hayem
Jumlah leukosit : Dihitung dengan menggunakan hemocitometer Neubauer dan larutan Larutan Turk
Diferensial Leukosit : Diperoleh dengan cara menghitung jenis-jenis sel leukosit dan persentase masing-masing jenis pada preparat
66
ulas darah.
Kadar hemoglobin : Dihitung dengan menggunakan metode cynomet-hemoglobin
Kadar hematokrit : Dihitung dengan mikrohematokrit menggunakan tabung hematokrit Volume rataan sel darah
merah (Mean
Corpuscular Volume = MCV)
: Dihitung dengan membagi kadar hematokrit dengan jumlah sel darah merah dengan rumus sebagai berikut
Rataan konsentrasi hemoglobin dalam sel darah merah (Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration = MCHC)
: Dihitung dengan membagi konsentrasi
hemoglobin dengan hematokrit dengan rumus sebagai berikut:
Pengamatan histopatologi kulit.
: Diamati dengan membuat histopat kemudian dihitung jumlah neutrofil dan makrofag serta kolagen yang terbentuk
67
Lampiran 8 Hasil uji beda limfosit antar kelompok perlakuan pada pengamatan hari ke-3
Group Statistics
klp N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
Limfosit "sampel" 2 1.5000 .70711 .50000
"kontrol" 2 5.5000 .70711 .50000
Independent Samples Test
Levene's Test for
Equality of Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig. (2-tailed)
Mean
Difference Std. Error Difference
95% Confidence Interval of the Difference
Lower Upper Limfosit Equal variances assumed . . -5.657 2 .030 -4.00000 .70711 -7.04243 -.95757
Lampiran 9 Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan jamu galohgor
Steamer Quencher
Chopper Drum Dryer
Blender Ayakan
Lampiran 10 Kandang pemeliharan tikus
69
Lampiran 11 Penyekokan jamu dengan menggunakan sonde (a) dan langkah-langkah pengambilan darah tikus (b)
70
(a)
METODE Waktu dan Tempat
Penelitian berlangsung mulai bulan Februari hingga April 2010. Pembuatan jamu galohgor dilakukan di Pilot Plant, SEAFAST, IPB. Pemeliharaan dan perlakuan tikus dilaksanakan di Laboratorium Percobaan Hewan Shigeta IPB.
Analisis β-karoten jamu galohgor dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (BALITTRO). Analisis serum retinol, kadar β-karoten, kadar Zn dalam serum dilakukan di Laboratorium Biokimia Puslitbang Gizi dan Makanan Depkes Bogor. Analisis Kadar ferritin dan hematologi lengkap dilakukan di laboratorium klinik. Sedangkan pengamatan histopatologi dilakukan di laboratorium patologi Fakultas Kedokteran Hewan, IPB.
Bahan dan Alat Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan jamu diperoleh langsung dari desa Sukajadi, yang terdiri dari golongan tumbuhan obat yang berasal dari daun, akar, dan batang; golongan rempah-rempah; golongan temu-temuan dan golongan kacang-kacangan, sebagaimana pada Tabel 2.
Bahan-bahan untuk analisis: proximat pada jamu, kadar β-karoten pada jamu, kadar Zn, Fe, retinol, dan karoten pada darah. Serta bahan-bahan yang diperlukan untuk analisis hematologi darah. Eter untuk euthanasia, larutan neutral buffer formalin
10 % untuk fiksasi, kapas dan bahan-bahan untuk pembuatan sediaan histopatologi yaitu larutan Mayer’s Hematoxylin, larutan Eosin, Xylol, alkohol dengan konsentrasi bertingkat (70 %, 80 %, 90 %, 95 %, 100 %), larutan Lithium Carbonat, aquades, asam asetat 1 %, Schiff Reagent, air sulfit, larutan Mordant,
larutan Carrazi’s Hematoxylin, larutan Orange G 0,75 %, larutan Ponceau Xylidine Fuchsin, larutan Phosphotungstic Acid 2,5 %, Anilin Blue, dan Parafin.
23
Alat
Alat yang digunakan adalah alat-alat untuk membuat jamu seperti autoclave, blancher, drum dryer, penggilingan dan ayakan 60 mesh. Kandang pemeliharaan tikus beserta botol minum dan tempat makan tikus, alat untuk pengambilan darah, peralatan untuk membuat perlukaan pada tikus, alat-alat untuk analisis proximat pada jamu, analisis kadar Zn dan Fe pada jamu menggunakan AAS, analisis kadar
β-karoten menggunakan HPLC, analisis kadar retinol dan karoten serum menggunakan HPLC, serta peralatan untuk membuat sediaan histopatologi seperti mikrotom, alat dehidrasi, gelas objek dan gelas penutup. Untuk pengamatan histopatologi digunakan mikroskop dan videomikrometer.
Hewan Percobaan
Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus (Rattus sp.) betina dewasa galur Spraque-Dawley (SD) yang berumur 2 bulan dengan berat ± 200 gram. Tikus tersebut diperoleh dari Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB.
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan ini merupakan rancangan acak lengkap dengan faktor perlakuan pemberian jamu dan kelompok hari. Sebanyak 24 ekor tikus dibagi secara acak ke dalam dua kelompok percobaan, yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak diberikan jamu. Sedangkan kelompok perlakuan adalah kelompok yang diberikan jamu. Kelompok kontrol dibagi menjadi 2 kelompok kecil, yaitu kelompok yang diberi perlukaan dan kelompok yang tidak diberi perlukaan. Begitu juga dengan kelompok perlakuan. Sehingga ada 4 kelompok perlakuan, yaitu kelompok kontrol tanpa perlukaan, kelompok kontrol dengan perlukaan, kelompok jamu tanpa perlukaan, dan kelompok jamu dengan perlukaan yang masing-masing sebanyak 6 ekor.
24
Percobaan Pembuatan Jamu
Penelitian diawali dengan pembuatan jamu dengan metode drum dryer; komposisi bahan sesuai dengan yang telah dilakukan dalam penelitian sebelumnya (Pajar, 2002). Dengan metode ini diperoleh jamu yang bertekstur lebih halus dibandingkan dengan metode tradisional, sehingga mudah untuk diberikan pada tikus pada saat pencekokan.
Tahapan pembuatan jamu yaitu, dilakukan inventarisasi terhadap bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan jamu. Jamu dibuat dengan menggunakan bahan sebanyak 56 campuran, yang semuanya merupakan bahan dari tumbuh-tumbuhan baik tanaman liar atau tanaman yang sudah dibudidayakan. Bagian tumbuhan yang digunakan terdiri dari bagian daun, buah, dan batang atau bagian tumbuhan secara keseluruhan. Komposisi jamu galohgor dapat dilihat pada Tabel 2.
Bahan-bahan yang berupa kacang-kacangan dan biji-bijian direndam dalam air mendidih selama 4 jam, ditiriskan, kemudian dihancurkan menggunakan
quencher. Sedangkan bahan-bahan yang berupa daun-daunan, rempah-rempah dan temu-temuan dicincang menggunakan chopper. Kemudian keduanya dicampur sehingga berbentuk pasta. Pasta tersebut dimasukkan kedalam drum dryer dengan volume 1 kilogram dengan suhu 80o
Tabel 2 Komposisi jamu galohgor
C selama 1 jam dan keluar dalam bentuk lempengan. Lempengan tersebut kemudian dihancurkan menggunakan blender
dan diayak menggunakan ayakan mekanis dengan ukuran 60 mess.
No. Nama Tradisional Nama Ilmiah Berat (g)
A. Tumbuhan Obat
(Herb Medicines) dari Bagian Daun, Akar, dan Batang
1. Antawali Tinospora cripsa mires 3,36
2. Babadotan Ageratum cony zades L 1,74
3. Beluntas Plucea indica Less 5,63
4. Kiranediuk Selaginella plana Hieron 3,33 5. Kiranelalap Selaginella wildenowii 1,33
Lanjutan Tabel 2 Komposisi jamu galohgor
25
6. Handeuleum Graptophylium pictum Griff 2,85
7. Harendong Astronia spectabilis BI 2,55
8. Hadas palasari 5,75
9. Jambu batu Psidium cujavillus 7,46
10 Alpukat Persea americana Miler 2,48
11. Jawerkotok Scutellaria discolor colebr 5,96
12. Jukut bau Hyptis suaveolus Poit 0,69
13. Kahitutan Paedoria foefida Linn 2,60
14. Karastula Chlorantus elatior R.Br 3,80
15. Kikarugrag Hyptis brevipes Poit 0,79
16. Kiremek daging Hemigraphie coclorata Hall 10,09
17. Kiremek tulang 3,62
18. Kiura Plantago major Linn 5,63
19. Kibeling Strobilanthes crispus L 2,01
20. Kicantung Gonia thalamus maerophyllus Ht 3,05
21. Kiclenceng 3,36
22. Kikanceh Ficus edelfelhi king 1,15
23. Kimulas Desmodium heteraphyllum Dc 3,36 24. Kumis kucing Orthosiphon aristatus miq 3,36 25. Mangkokan Micromelum pubescen. BI 6,67
26. Manglit Magnolia montana blume 2,19
27. Mereme Glochidion arborescens Bi 2,90
28. Memeniran Phyllanthua urinaria Lahan 2,94 29. Saga (daun) Abrus prekaterius Lahan 1,35 30. Sariawan usus Symplocos odoratissima chosy 0,21
31. Sembung Blumea balsamiera Dc 11,25
32. Seputuher 3,39
33. Sereh Piper betle L. 3,16
34. Siang Artemisia vulgaris L. 7,26
35. Singgugu Clerodendrum serratum Moon 4,26 36. Srikuning Nyctanthes arbor-tristis L. 3,77
37. Suruha 4,21
38. Tempuyung Soncuhus arvensis Linn 6,37
B. Rempah-rempah
(Spices)
1. Bawang merah Allium cepa Lahan 19,09
2. Kapulaga Amomun cardamomun Wild 50,00
3. Ketumbar Cariandrum saripun LINN 3,03
4. Lada Piper nigrom Lahan 1,31
5. Pala Myristica fragrans Hout 4,49
C. Temu-temuan
1. Panglaihideng Curcuma aeruginosa Roxb 7,57
2. Jahe Zingiber officinale Rosc 13,00
3. Kencur Kaempferia galanga L 7,08
4. Koneng Curcuma domestica Val 7,38
Lanjutan Tabel 2 Komposisi jamu galohgor
26
6. Lempuyang Zingiber zerambet SM 60,54
D. Biji-bijian
1. Jaat Psophocarpus tetrayonolobus Dc 21,30
2. Kacang ijo Phaseolus radiatus L 197,32
3. Kacang dadak Vigna sinensis ENDL 50,40
4. Kacang kedelai Glicine max 76,90
5. Kacang tanah Arachis hypogea LINN 39,70
6. Beras Oryiza sativa 122,36
7. Jagung Zea mays 500
Sumber : Pajar 2002 Pemeliharaan Tikus
Tikus dipelihara dalam kandang dari kotak plastik yang pada bagian atasnya diberi kawat kasa sebagai penutup sekaligus tempat pemberian pakan dan minum. Tiap kandang terdiri dari 2 ekor tikus dengan tiap tikus diberi penanda. Kecuali setelah mengalami perlukaan, tiap kandang terdiri atas 1 ekor tikus. Sebagai alas digunakan sekam yang berfungsi untuk menjaga suhu dan menyerap urine. Pakan yang diberikan yaitu pakan komersil dari PT INDOFEED dengan kandungan protein (18 %), lemak (4 %), serat (4 %), abu (11 %), dan metabolisme energi (2000 kkal). Pemberian pakan yang berbentuk pellet dan minum (aquadest) secara ad libitum. Sekam pada kandang tikus diganti 3 hari sekali.
Perlakuan pada tikus
Tikus kelompok kontrol dan tikus kelompok perlakuan sebelumnya mengalami proses adaptasi selama 10 hari. Selama proses adaptasi, semua tikus mengalami perlakuan yang sama. Semua tikus diberikan pakan standar dan air minum. Setelah 10 hari, masing-masing kelompok percobaan mengalami perlakuan sesuai kelompok masing-masing.
Tikus yang mengalami perlakuan jamu, pemberian jamu pada tikus dilakukan dengan cara melarutkan jamu dalam air dan dicekokan dengan menggunakan sonde (Smith dan Mangkoewidjojo 1988). Pencekokan jamu dilakukan satu kali sehari, yaitu pada pagi hari (jam 9-10 pagi) dengan dosis 0,37 g/kg berat badan. Selama pemberian jamu, semua tikus percobaan tetap diberikan pakan dan minum secara ad libitum. Tikus yang mendapatkan perlakuan perlukaan, akan dilakukan penyayatan setelah 3 hari pencekokan jamu. Sebelum
27
penyayatan, rambut di sekitar daerah sayatan dicukur hingga terlihat kulitnya (licin), lalu disayat sepanjang 0,5-1 cm pada bagian punggung secara aseptis.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis Data
Data yang diambil adalah data primer yang meliputi data profil jamu dan
tikus. Pemeriksaan jamu meliputi penentuan kadar proximat, Zn, Fe, dan β -karoten. Adapun pemeriksaan tikus meliputi pengamatan berat badan tikus dari hari ke-0 sampai hari ke-12, penentuan kadar seng, zat besi dalam serum, penentuan kadar retinol serum, dan pengamatan proses penyembuhan luka pada tikus. Masing-masing data dikumpulkan dan dilakukan analisis untuk