Pembicaraan tentang permertahanan bahasa tidak terlepas dari konteks pembicaraan kekhawatiran pergeseran bahasa (language shift), dan kematian kepunahan bahasa (language death).Kematian bahasa terjadi kalau bahasa tersebut tidak ada lagi penuturnya.Ini bisa karena penuturnya sudah mati semua, mungkin karena bencana alam (seperti bahasa Tambora di Sumbawa), atau secara alamiah penutur terakhir mati. Di Australia sudah banyak bahasa asli aborigin yang mati, atau akan segera mati karena penuturnya sekarang bisa dihitung dengan jari dan sudah tua-tua. Dalam kebanyakan hal, istilah kematian bahasa sering dipergunakan dalam konteks hilangnya bahasa (language loss) atau beralihnya penutur bahasa ke bahasa lain (language shift).
Kematian bahasa adalah titik akhir suatu proses, yang biasanya didahului oleh adanya kontak bahasa (language contact) yang mengkondisikan adanya perbubahan dan/atau peralihan bahasa. Proses ini umumya bersifat pelan dan bertahap dalam jangka waktu yang relatif lama (gradual) pada situasi diglosia ke arah bahasa yang lebih berprestise (Dorian 1982; Fasold 1992:213). Adalah suatu kenyataan bahasa selalu berubah.Ini adalah hukum alam, dan tidak bisa dicegah.Yang memprihatinkan adalah jika perubahan tersebut bersifat negative, dan mengarah pada ke kematian bahasa.Ini sudah terjadi terkait dengan perubahan bahasa minoritas di berbagai belahan dunia dewasa ini (lihat misalnya, Dixon 1991; Krauss 1992).Ini seiring dengan meluasnya penggunaan bahasa (inter)nasional tertentu, mis.b. Inggris di Australia yang mendesak bahasa asli aborigin, bahasa Rusia di Rusia. Dalam konteks Indonesia, bahasa Indonesia dan bahasa Melayu regional telah terbukti mengancam bahasa daerah minoritas.
Untuk bahasa minoritas, terpinggirkan, dan terancam punah, masalah pemertahanan bahasa menjadi isu dan mesti dilakukan penuh kesadaran dan dengan berbagai upaya. Karenanya, definisi pemertahanan bahasa yang ada biasanya dikaitkan dengan pemertahanan bahasa untuk bahasa terdesak/minoritas, yang didalamnya terkandung usaha terencana dan sadar untuk mencegah merosotnya penggunaan bahasa dalam kaitan berbagai kondisi tertentu, yang bisa mengarah ke perpindahan bahasa (language shift) atau ke kematian bahasa (language death), (Marshall 1994).
Menurut Fasold (1984:213), pemertahanan dan pergeseran bahasa ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Ia merupakan hasil kolektif dari pilihan bahasa (language choice). Selanjutnya, dikemukakan bahwa pemertahanan bahasa dan pergeseran bahasa adalah :
“language shift simply means that a community gives up a language completely
in favourof another one. The members of the community, when the shift has taken plece, have collectivelly chosen a new language where and old one used to be used. In language maintenance, the community collectivelly decides to continue using the language in domains formely shift in progress. If the members of speech community are monolingual and are not collectively acquiring another language, then they are obvisiously maintaining theirlanguage use pattern…(Fasold 1984:213).
Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa pergeseran bahasa itu terjadi manakala masyarakat pemakai bahasa memilih suatu bahasa baru untuk mengganti bahasa sebelumnya. Dengan kata lain, pergeseran bahasa itu terjadi karena masyarakat bahasa tertentu beralih ke bahasa lain, biasanya bahasa yang dominan dan berprestise, lalu digunakan dalam ranah-ranah pemakaian bahasa yang lama, pemertahanan bahasa dalam masyarakat bahasa tetap menggunakan bahasa-bahasa secara kolektif atau secara bersama-sama dalam ranah-ranah pemakaian tradisional.
Faktor yang menentukan terjadinya pemertahanan bahasa: (1)karena mikro sosial keluarga sebagai agen spontan penyebaran bahasa antargenerasi; dan (2) karena makro sosial perkampungan kelompok dalam teritori. Kekuatan mutlak demografi dari suatu keompok mempunyai arti sedikit jika anggotanya terpencar luas, menyediakan hanya sedikit pengaturan sosial untuk menggunakan bahasanya diluar keluarga.Dan jika bahasa berhenti disalurkan secara domestik, dasar dari keberlanjutan tradisi menjadi rusak.Faktor sosial makro dan mikro yang diinteraksikan dalam keluarga dipengaruhi dalam penggunaan bahasa mereka oleh komunitas sekitar.Keluarga dan area perumahan minoritas yang terpusat adalah domain dan teritori bahasa.
Dibawah kondisi normal satu pendatang baru tidak dapat membuat penutur asal mengubah menjadi bahasa mereka karena penutur asal dapat berkomunikasi lebih mudah diantara mereka dengan menggunakan bahasa asal mereka.Pendatang baru, meskipun begitu, mempunyai kecenderungan jika tidak untuk mengasimilasi setidaknya untuk mengadopsi bahasa komunitas pribumi.Bagaimanapun, dalam pengaturan sosial yang dikarakterisasikan oleh kekuatan ekstrim yang berbeda seperti karakteristik situasi penjajahan, minoritas kecil dapat mnginvasi teritori bahasa karena anggota tertentu dari pribumi, tunduk kepada penjajah dengan menggunakan bahasa mereka.Prinsip cuius region, euis lingua„siapa yang berkuasa, siapa yang berbicara‟ dapat dilihat disini.
Contoh lainnya dari invasi bahasa yang sukses adalah pada saat konferensi ilmiah di negara kecil seperti Belanda. Dalam pengaturan konferensi, seorang partisipan penutur non-Belanda akan menggunakan bahasa Inggris yang pernah menginvasi teritori Belanda. Teori akomodasi komunikasi terhitung untuk cara
dimana individu memodifikasi sikap cara berbicara mereka dalam hubungannya dengan teman berbicara (Fasold:P.139). Partisipan konferensi Belanda yang memilih bahasa Inggris dapat dijelaskan dalam hal pemilihan lingua franca untuk domain sains internasional dalam cara akomodasi. Bagaimanapun, pada saat yang sama iini merupakan contoh invasi domain jika domain referensinya adalah academia Belanda. Dalam kasus tertentu ini, invasi domain difasilitasi oleh kenyataan bahwa wacana ilmiah merupakan satu dari domain yang paling rentan terhadap serangan globalisasi.
Kejadian seperti tersebut di atas pernah terjadi pada Kongres bahasa Aceh yang pernah diadakan pada tahun 2010 yang lalu. Beberapa makalah ditulis dalam bahasa Aceh dan disajikan dengan bahasa pengantar bahasa Aceh , padahal tidak semua utusan kabupaten bisa berbahasa Aceh, diantaranya masyarakat Gayo, Singkil, Simeulue, dan juga Tamiang. Secara tidak langsung kongres itu “memaksakan” bahasa Aceh sebagai bahasa yang dominan untuk bisa mendominasi bahasa-bahasa daerah lain yang ada di Aceh.
Penelitian kedwibahasaan atau kemultibahasaan mempunyai tujuan salah satunya adalah berusaha menemukan gejala sosial dan bahasa yang ditunjukkan oleh keberadaan dua bahasa atau lebih di dalam repertoar bahasa pada masyarakat yang diteliti.Weinreich dalam Siregar (1998:13) memperkenalkan istilah interferensi bahasa yang dianggap sebagai penyimpangan-penyimpangan tertentu yang muncul akibat kontak bahasa.Namun selanjutnya istilah penyimpangan tersebut berubah setelah dilakukan serangkaian pengamatan yang lebih mendalam oleh para pengamat sosiolinguistik dan dianggap sebagai gejala bahasa yang
normal seperti gejala bahasa lainnya dengan pertimbangan bahwa interferensi pasti mengikuti pola yang teratur dan dilakukan karena faktor-faktor tertentu.
Pemikiran dan pendapat Siregar (1987) mengenai pola yang timbul pada pemertahanan bahasa diterapkan pada penelitian ini.Pemikiran bahwa pola yang mungkin timbul adalah pola pemertahanan bahasa aktif dan pemertahanan bahasa pasif. Dalam masyarakat yang mempunyai pola pemertahanan bahasa yang aktif akan muncul sikap membeda-bedakan bahasa untuk melambangkan beberapa jenis nilai, sikap, dan perilaku bahasa yang tidak tumpang tindih. Sehingga pada pemertahanan bahasa yang aktif akan terbentuk hubungan bahasa yang diglosik.
Sementara pemertahanan yang pasif mempunyai ciri bahasa dalam masyarakat yang tidak bertumpang tindih baik dalam penggunaan maupun kaidah- kaidah kebahasaan. Sehingga terjadilah apa yang dikatakan pergeseran bahasa (language Shift) atau bisa juga perubahan bahasa (language change) bahkan jika lebih serius akan terjadi kehilangan bahasa (language loss). Hal tersebut bisa terjadi meskipun anggota masyarakatnya beranggapan bahwa bahasa daerahnya merupakan jati diri dari etnik mereka, namun sikap bahasa ini tidak sejalan dengan perilaku bahasa di dalam kegiatan berbahasa.Artinya masyarakat tersebut tidak mempunyai kebiasaan menggunakan bahasa daerahnya sesuai dengan fungsinya sebagai lambang daerah mereka.
Tiga masalah dasar dalam pemertahanan bahasa yaitu (1) Upaya masyarakat dalam mempertahankan bahasanya (2) Bentuk bahasa yang dipertahankan (3) Wujud pemertahanan bahasa.Bagian pertama memfokuskan penelitian pada usaha yang dilakukan oleh masyarakat bahasa dalam mempertahankan bahasanya.Bagian kedua memfokuskan penelitian terhadap
satuan bahasa yang dipertahankan.Bagian ketiga memfokuskan penelitian pada kondisi atau keadaan yang sedang berlangsung pada suatu masyarakat bahasa yang sedang mempertahankan bahasanya.
Pemertahanan bahasa lazim didefinisikan sebagai upaya yang disengaja untuk mempertahankan penggunaan bahasa tertentu di tengah “ancaman” bahasa yang lain. Ada tiga faktor utama yang berhubungan dengan keberhasilan pemertahanan bahasa.Pertama, jumlah orang yang mengakui bahasa tersebut sebagai bahasa ibu mereka.Kedua, jumlah media yang mendukung bahasa tersebut dalam masyarakat, (sekolah, publikasi, radio, dan lain-lain). Ketiga, indeks yang berhubungan dengan jumlah orang yang mengakui dengan perbandingan total dari media-media pedukung.
Klasifikasi situasi bahasa menurt Miller yang hidup lestari, sakit-sakitan, atau bahkan mati dan punah bergantung pada apakah anak-anak mempelajari bahasa ibunya, apakah penutur orang dewasanya berbicara dengan sesamanya dalam seting yang beragam menggunakan bahasa ibu tersebut, dan berapa jumlah penutur asli bahasa ibu yang masih ada.