• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemetaan Aktor-aktor Dominan dan Alternatif

Dalam dokumen BEREBUT KONTROL ATAS KESEJAHTERAAN (Halaman 53-63)

yang dipakai oleh aktor dominan maupun aktor alternatif untuk mempopulerkan isu-isu publik, serta saluran yang dipakai oleh kedua aktor tersebut untuk mengubah isu publik menjadi agenda politik.

Perbandingan strategi yang digunakan kedua aktor tersebut menjadi bahan analisis utama untuk menunjukkan dinamika praktik mobilisasi dukungan dalam politik perkotaan di Kota Bandung.

Konstelasi Politik Kota Bandung:

Pemetaan Aktor-aktor Dominan dan Alternatif

Kota Bandung mengalami perkembangan yang pesat seiring dengan meluasnya pergerakan ekonomi dari Jakarta ke kota-kota satelit yang ada di sekelilingnya. Dilihat dari posisi geografisnya, Kota Bandung berada pada lokasi yang sangat strategis bagi perekonomian nasional,

38

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

karena terletak pada pertemuan poros jalan utama di Pulau Jawa, yaitu: antara barat-timur, di mana Kota Bandung menjadi poros tengah yang menghubungkan ibukota Provinsi Banten dan Jawa Tengah, serta antara utara dan selatan, di mana Kota Bandung menjadi penghubung antara ibukota negara dengan wilayah selatan serta lokasi titik temu antara daerah penghasil perkebunan, peternakan, dan perikanan.

Hal ini mendorong percepatan pertumbuhan wilayah, kependudukan, ekonomi, dan politik Kota Bandung hingga sekarang.

Wilayah Kota Bandung mengalami perluasan selama 80 tahun terakhir1. Luas Kota Bandung pada 1 April 1906 adalah 900 ha, menjadi 2.150 ha pada 12 Oktober 1917, 3.305 ha pada tahun 1945, 8.098 ha pada tahun 1949, dan akhirnya menjadi sekitar 16.730 ha pada 22 Januari 1987. Perluasan wilayah ini juga diikuti dengan pertambahan penduduk yang tumbuh pesat melampaui perencanaan awal. Perencanaan tata kota dan perluasan wilayah kota ditetapkan untuk pertama kali pada tahun 1930 oleh E.H. Karsten, yang memproyeksikan masa 25 tahun ke depan jumlah penduduk sebesar 750.000 orang (Plan Karsten).

Jumlah ini bertambah drastis ketika Rencana Induk Kota Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung disusun tahun 1985, yang memproyeksikan jumlah penduduk sebanyak 1.665.000 orang dengan luas wilayah 8.096 ha pada tahun 2005. Revisi Rencana Induk tahun 1985-2005 yang dibuat pada tahun 1992, memproyeksikan jumlah penduduk sebanyak 2.509.448 orang pada tahun 2005 dengan luas wilayah sekitar 16.730 ha. Proyeksi jumlah penduduk tahun 2005 didasarkan pada jumlah penduduk tahun 1991 sebanyak 2.096.463 orang dan laju pertambahan penduduk rata-rata di Kota Bandung.

Letak Kota Bandung yang berdekatan dengan Jakarta sebagai ibukota negara juga menambah daya tarik pendatang ke Kota Bandung, tidak hanya untuk keperluan pendidikan tapi juga industri, perdagangan, dan jasa. Posisi strategis Kota Bandung juga terlihat dalam PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), di mana Kota Bandung ditetapkan dalam sistem perkotaan nasional sebagai bagian dari Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Kawasan Perkotaan Bandung Raya. Selain itu, Kota Bandung juga ditetapkan sebagai Kawasan Andalan Cekungan Bandung, yaitu kawasan yang memiliki nilai strategis nasional, yang pengembangan potensinya diarahkan untuk memenuhi kepentingan nasional.

Perkembangan Kota Bandung tidak dapat dilepaskan dari kedudukan strategis tersebut, termasuk dalam hal pembentukan identitas Kota Bandung sebagai Kota Jasa. Wacana mengenai hal ini sudah dimulai pada akhir tahun 1990-an yang mengemuka dalam diskusi-diskusi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Dari diskusi-diskusi ini, Pemerintah Kota Bandung kemudian menerjemahkan visi kota jasa ke dalam kebijakan pembangunan yang memprioritaskan pertumbuhan kawasan jasa dan perdagangan sebagai pilar utama yang menggerakan aktivitas sosial dan ekonomi di Kota Bandung. Konsep kota jasa kemudian dikembangkan menjadi kota kreatif sejak tahun 2008, seiring dengan berkembangnya wacana kota kreatif sebagai alternatif dalam merespon krisis ekonomi global.

Berbeda dengan konsep kota jasa yang dikembangkan dengan pendekatan state-centered di mana Pemerintah Kota menjadi leading sector, pengembangan Bandung sebagai kota kreatif justru mengemuka dari kalangan non pemerintah. Berawal dari penunjukan Kota Bandung sebagai pilot project dalam pengembangan industri kreatif di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara oleh British Council, konsep kota kreatif kemudian dikembangkan oleh para tokoh muda yang bergerak di berbagai sektor ekonomi kreatif. Beberapa figur yang gencar mewacanakan gagasan kota kreatif, antara lain Ridwan Kamil, Fiki Satari, Poppy Rufaidah, Perry Tristianto, Togar M. Simatupang, Agus Gustiar yang kemudian dilibatkan oleh Pemerintah Kota Bandung dalam Bandung Creative City Forum, sebuah forum multistakeholders yang dibentuk Pemerintah Kota untuk mengembangkan konsep kota kreatif ke dalam program dan rencana aksi (Pikiran Rakyat, 30 Oktober 2007). Meskipun konsep kota kreatif muncul setelah kota jasa, tapi keduanya berjalan seiring sebagai konsep utama yang melandasi pembangunan Kota Bandung.

Perkembangan Bandung di masa sekarang tidak dapat dilepaskan dari berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah maupun stakeholders untuk mewujudkan visi sebagai kota jasa yang berbasis pada ekonomi kreatif. Sebagai kota jasa yang berbasis ekonomi kreatif, isu sektor bisnis adalah isu strategis yang saling berkaitan dengan isu-isu lainnya. Pengelolaan ekonomi kreatif ini bersifat multistakeholders, tidak hanya melibatkan perusahaan-perusahaan dengan kapital besar tapi juga berbagai usaha independen yang

40

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

dikelola oleh para wirausahawan muda. Kehadiran dua pelaku bisnis dengan kapasitas yang berbeda ini menjadikan dinamika ekonomi di Kota Bandung menjadi unik karena di satu sisi ada sektor bisnis yang dikelola melalui jaringan investor besar, seperti industri perhotelan, permukiman, dan pasar-pasar modern, tapi di sisi lain ada juga sektor bisnis yang dikelola dengan berbasis komunitas, seperti yang dikembangkan oleh para pelaku Usaha Makro, Kecil dan Menengah (UMKM), wirausahawan mandiri (independent stores atau lebih populer dengan singkatan distro), dan sebagainya.

Pergerakan kapital dalam sektor ekonomi kreatif ini turut membentuk konfigurasi aktor-aktor politik yang berpengaruh dalam penentuan kebijakan pembangunan di Kota Bandung. Secara umum, konfigurasi aktor-aktor politik tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yakni aktor-aktor dominan dan aktor-aktor alternatif.

Aktor dominan adalah mereka yang memiliki akses langsung terhadap pengambilan kebijakan strategis dan umumnya menduduki jabatan formal dalam institusi pemerintahan, sedangkan aktor alternatif pada umumnya adalah mereka yang berada di luar institusi pemerintahan.

Pemilahan ini agak menyederhanakan peta relasi kekuasaan yang sesungguhnya, tapi setidaknya dapat memberikan gambaran umum tentang siapa saja yang memiliki akses untuk menentukan alokasi sumber daya.

Terkait dengan akses terhadap sumber daya, para aktor yang dipandang berpengaruh dalam pembahasan isu-isu publik berada pada posisi sebagai berikut:

Tabel 1. Posisi Aktor-aktor Berpengaruh di Kota Bandung

NO. POSISI %

1 Anggota dewan di tingkat nasional/lokal 8 2 Pimpinan partai politik/tokoh politik terkemuka 16

3 Pejabat publik 8

4 Pelaku usaha 20

5 Aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat 23

6 Tokoh masyarakat/tokoh adat/tokoh etnis 10 Sumber: Hasil Survei PWD di Kota Bandung, 2013

Tabel 1. di atas menunjukkan bahwa sebagian besar aktor berpengaruh berada di posisi sebagai aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pelaku usaha, pimpinan partai politik/tokoh politik, tokoh masyarakat, anggota dewan, dan pejabat publik. Berdasarkan posisi tersebut, hasil Survei PWD (2013) di Kota Bandung menunjukkan bahwa aktor-aktor dominan terutama berasal dari para pimpinan partai politik/tokoh politik (35%), tokoh masyarakat (16%), anggota parlemen (13%), dan pejabat publik (13%). Sementara itu, aktor-aktor alternatif berasal dari para aktivis LSM (44%), kaum profesional/

akademisi (18%), tokoh masyarakat (18%). Konfigurasi ini menegaskan posisi diametral antara aktor dominan yang sebagian besar berada di ranah institusi formal kenegaraan dan aktor-aktor alternatif yang berada di ranah institusi informal kemasyarakatan.

Hasil survei juga menemukan adanya tokoh pengusaha sebagai aktor yang berpengaruh dalam penciptaan isu publik. Hal ini menunjukkan kuatnya relasi antara penguasa dan pengusaha dalam dinamika politik Kota Bandung. Secara rinci, para informan ahli yang diwawancarai menyebutkan sejumlah aktor di dunia usaha yang dinilai berpengaruh di Kota Bandung, yakni Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), dan sejumlah nama kelompok usaha di tingkat lokal, seperti Istana Group dan Kagum Group yang keduanya bergerak di sektor properti. Keberadaan kelompok-kelompok pengusaha ini menjadi kunci untuk memahami sirkulasi kapital di Kota Bandung, yang bergerak dari sektor properti dalam bentuk sarana pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, serta berbagai objek wisata kuliner dan fashion yang berada di bawah pengelolaan kelompok-kelompok tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah informan ahli dalam Survei PWD di Kota Bandung (2013), terungkap bahwa pengaruh dari para pelaku usaha ini ditunjukkan dengan sejumlah kebijakan tata ruang yang cenderung berpihak pada kepentingan pengusaha.

Eratnya hubungan antara penguasa dan pengusaha sudah dimulai sejak laju industrialisasi tumbuh kuat di Kota Bandung pada dekade 1990-an. Isu ini makin kasat mata ketika pembangunan Kota Bandung mulai didominasi dengan maraknya bangunan pusat perbelanjaan yang terutama berlokasi di pusat kota dan bagian barat Kota Bandung.

42

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

Di sisi lain, bagian utara yang semula diperuntukan sebagai kawasan konservasi juga mulai dipenuhi dengan bangunan hotel dan rumah peristirahatan yang dimiliki orang-orang dari luar Kota Bandung.

Kapitalisasi lahan yang berjalan seiring dengan politik perizinan menjadi basis bagi pertumbuhan sektor jasa dan perdagangan di Kota Bandung, sekaligus menjadi penggerak bagi mesin politik Kota Bandung.

Kendati hasil survei menunjukkan peta politik yang diametral, tapi pada kenyataannya, relasi kekuasaan di antara para aktor berlangsung dalam pola berjejaring. Dada Rosada merupakan aktor politik yang menjadi simpul dari kekuatan-kekuatan politik dominan. Selama menjabat sebagai Walikota Bandung (2003-2008 dan 2008-2013), ia membangun basis legitimasinya melalui mekanisme jejaring birokrasi, politisi, dan akademisi yang terutama berperan memberikan justifikasi bagi kebijakan pembangunan yang diambilnya. Sebagai birokrat karir yang telah berkecimpung dalam penyelenggaraan pemerintahan sejak masa Orde Baru, Dada Rosada memiliki jaringan yang kuat dalam tubuh birokrasi dan Partai Golkar yang secara historis punya kaitan erat dengan birokrasi. Selain dengan birokrasi dan Partai Golkar, jaringan ini juga meluas ke berbagai organisasi kemasyarakatan yang terkait dengan Partai Golkar, seperti Angkatan Muda Siliwangi (AMS), Pemuda Pancamarga, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), dan sejenisnya. Keberhasilannya dalam membina jejaring ini terbukti ketika Dada Rosada berhasil terpilih kembali sebagai walikota pada periode kedua (2008-2013) dengan meraih 64,98% suara. Terpilihnya kembali Dada Rosada sebagai walikota membuktikan kekuatan jaringan politik yang dimilikinya karena Dada Rosada terpilih melalui dua mekanisme politik yang berbeda, yakni pada periode pertama (2003-2008) melalui pemilihan oleh DPRD Kota Bandung dan periode kedua (2008-2013) melalui pemilihan secara langsung oleh rakyat.

Selama dua periode tersebut, politik berbasis figur dipraktikkan dengan baik oleh Dada Rosada dengan dukungan instrumen ekonomi dan politik, antara lain dengan menempatkan para pendukungnya pada jabatan-jabatan strategis di birokrasi pemerintahan, mulai dari camat hingga kepala-kepala dinas, badan, lembaga, dan sekretariat di lingkungan Pemerintah Kota Bandung. Untuk membina dukungan dari organisasi-organisasi kemasyarakatan, mekanisme pemberian bantuan sosial yang menggunakan anggaran publik menjadi instrumen

utama yang membentuk loyalitas organisasi-organisasi tersebut, seperti diungkapkan oleh salah seorang informan ahli dalam Survei PWD (2013):

...dua periode kepemimpinan kemarin (Walikota Dada Rosada-pen.) yang saya bilang sebagai anomali, karena Bandung ini konon katanya gudang kaum intelektual, bahkan ada kaitan historis dengan gerakan di masa lalu, tapi ternyata begitu sulitnya untuk lepas dari hegemoni pemerintah Kota Bandung. Tapi mungkin juga bisa dilihat kasus bansos (bantuan sosial-pen.) kemarin saya kira memang tidak sederhana, saya kira ada kaitannya, karena saya melihat pada saat di lapangan, berbagai LSM, ormas, itu paling banyak di Kota Bandung yang paling banyak mendapat kucuran dana dari APBD jika dibandingkan dengan provinsi. Begitu pula di Dinas Pendidikan ada banyak ‘wartawan yang tanpa surat kabar’.

Mereka kelihatannya ‘dipelihara’ dalam kaitan dengan penyaluran dana-dana APBD juga…”2

Kuatnya jaringan patronase untuk memelihara loyalitas organisasi-organisasi kemasyarakatan juga cukup mampu meredam kritik terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah Kota Bandung. Bahkan yang terjadi kemudian adalah benturan di antara organisasi-organisasi masyarakat pendukung Dada Rosada dengan aktivis LSM yang mengkritik kebijakan Dada Rosada. Konflik ini misalnya terjadi ketika Bandung Institute of Governance Study (BIGS), LSM yang dipimpin oleh Dedi Haryadi mempublikasikan penilaian kinerja Pemerintah Kota Bandung yang dinilai buruk. Setelah publikasi ini dilakukan, kantor BIGS didatangi massa yang mengatasnamakan sebuah organisasi kemasyarakatan yang melakukan pengrusakan dan pengancaman agar BIGS segera meralat hasil evaluasi tersebut. Kendati peristiwa ini sempat ramai mewarnai pemberitaan media massa lokal, tapi tidak pernah ada tindak lanjut terhadap konflik yang muncul.

Bagi aktor dominan, kritik yang disampaikan oleh aktor-aktor alternatif melalui berbagai media, misalnya yang dilakukan BIGS melalui publikasi hasil riset tentang kinerja Pemerintah Kota pada masa pemerintahan Dada Rosada justru digunakan untuk memetakan konstelasi politik di Kota Bandung, yakni untuk mengidentifikasi siapa

44

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

lawan dan siapa kawan.3 Informasi ini tidak digunakan untuk melakukan perbaikan dalam tata pemerintahan. Pemanfaatan informasi ini makin menegaskan posisi diametral antara aktor dominan dan alternatif.

Memasuki periode pemerintahan kedua, peta kekuasaan mulai bergeser. Bandung adalah kota pertama yang mengusung calon kepala daerah independen. Dalam Pemilihan Walikota tahun 2008, ikut serta satu pasang calon perseorangan, yakni Hudaya Prawira dan Nahadi yang berhasil meraih suara sebesar 9,33%. Peluang bagi calon kepala daerah independen kemudian diakomodasi dalam regulasi nasional. Ini adalah bentuk kritik terhadap sistem pemilihan perwakilan. Pengajuan calon kepala daerah independen di tahun 2008 ini melalui mekanisme pemilihan oleh para aktivis sosial, dan terbukti bisa meraih suara cukup banyak meskipun tidak menang. Perlawanan ini sempat membuat walikota petahana saat itu khawatir dan menghimbau para ketua RW untuk mengarahkan warganya agar menolak jika ada tim sukses yang meminta KTP untuk mendukung calon independen.4 Ini merupakan bentuk eksklusi yang dilakukan aktor dominan terhadap perlawanan kritis yang dilakukan aktor-aktor alternatif.

Aktor-aktor alternatif yang kebanyakan berasal dari para aktivis lembaga swadaya masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang isu-isu publik yang diperjuangkannya, tapi umumnya mereka hanya bergerak secara sektoral. Kapasitas para aktor alternatif ini relatif terbatas untuk memperjuangkan isu-isu lintas sektor. Inklusi juga terjadi di lembaga-lembaga kemasyarakatan karena involusi dan proses rekrutmen yang kurang baik, sehingga berdampak pada kadar partisipasi.5 Agak sulit menemukan orang yang punya basis massa yang jelas karena dinamika sekarang lebih mengandalkan media untuk menciptakan simpul-simpul informasi. Jadi strategi yang dipakai lebih mengandalkan jaringan komunikasi personal ini. Tapi, simpul ini sangat sektoral sifatnya. Ketika aktor meninggalkan simpul ini, ia tidak punya basis sumber daya. Karakter sektoral ini menyulitkan ketika akan mendesakkan agenda-agenda bersama karena tidak ada figur yang mampu menjembatani lintas sektor tersebut dan tidak ada isu bersama yang dapat mempersatukan para aktor alternatif. Yang lebih banyak terjadi adalah kemunculan isu yang sama, tapi isu yang sama ini jarang dapat diubah menjadi isu bersama karena belum ada figur yang mampu meyakinkan bahwa itu itu memang ada isu bersama.6

Ketika pendulum demokrasi dan desentralisasi bergerak ke arah keterbukaan sistem pemilihan kepala daerah, yang memungkinkan kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat, polarisasi kekuasaan semakin meluas. Dalam Pilwalkot 2013 terdapat delapan pasangan calon, yang terdiri dari empat pasang calon perseorang dan empat pasang calon yang diajukan oleh gabungan partai politik. Kedelapan pasangan calon yang bertarung dalam Pilwalkot Bandung tahun 2013 adalah: Wawan Dewanta-Sayogo (perseorangan); Wahyudin Karnadinata-Tonny Aprilani (perseorangan); Budi Setiawan-Rizal Firdaus (perseorangan); Bambang Setiadi-Alex Tahsin Ibrahim (perseorangan); Edi Siswadi-Erwan Setiawan (Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, Hanura, Partai Bulan Bintang, Partai Kesatuan dan Persatuan Indonesia, Partai Peduli Rakyat Nasional); MQ Iswara-Asep Dedy Ruyadi (Partai Golkar, Partai Damai Sejahtera, Partai Indonesia Sejahtera, Patriot, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Partai Pemuda Indonesia, Partai Merdeka, Partai Nasional Banteng Kerakyatan, Partai Demokrasi Pembaruan, Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Kebangkitan Nasional Ulama, Partai Buruh Nasional, Partai Bintang Reformasi, Partai Kasih Demokrasi Indonesia, dan Partai Persatuan Daerah); Ayi Vivananda-Nani Rosada (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Amanat Nasional); serta Ridwan Kamil-Oded M. Danial (Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra). Variasi latarbelakang pendukung dari kedelapan pasang calon ini menunjukkan polarisasi kekuatan politik yang makin kuat seiring dengan berakhirnya masa jabatan walikota petahana. Aktor dominan tidak lagi cukup punya kekuatan untuk memelihara jaringan patronase karena aksesnya terhadap instrumen birokrasi dan politik ekonomi (melalui perizinan dan anggaran publik) makin lemah.

Memasuki akhir periode kedua masa pemerintahan Dada Rosada, hubungan dengan para pengusaha melalui politik perizinan mulai memicu kritik ketika masalah-masalah perkotaan, seperti kemacetan, banjir, penggusuran, dan kerusakan lingkungan hidup, mulai melanda Kota Bandung. Kemunculan masalah-masalah ini menjadi momen yang mengawali munculnya kritik dari para aktivis LSM yang berada di luar jejaring patronase walikota. Kelompok-kelompok LSM yang menjadi aktor politik alternatif memperoleh dukungan tambahan dari tokoh-tokoh masyarakat yang semula berada dalam lingkaran

46

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

pendukung Dada Rosada. Organisasi-organisasi kemasyarakatan, seperti Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (Banmus), dan Bandung Spirit mulai bergabung dengan aktor-aktor alternatif yang sejak awal mengkritisi kebijakan tata ruang Kota Bandung yang dinilai terlampau berpihak pada kepentingan kaum pemodal dari luar Bandung. Isu degradasi lingkungan hidup dan marginalisasi penduduk asli menjadi ‘pemersatu’ dari kekuatan-kekuatan alternatif ini.

Meskipun demikian, aliansi ini tidak bersifat permanen karena tidak ada figur yang cukup kuat untuk mempersatukan berbagai kelompok ke dalam agenda kebijakan yang disepakati bersama.

Pada Pilwalkot 2013, figur petahana yang mencalonkan kembali adalah Wakil Walikota, Ayi Vivananda yang berpasangan dengan istri Walikota terdahulu (Nani Rosada). Nani Rosada dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial, tapi kemunculannya dalam pilwalkot tetap dianggap sebagai representasi dari kepentingan politik suaminya.

Figur yang dianggap cukup kuat untuk menandingi popularitas petahana adalah Ridwan Kamil, tokoh muda aktivis sosial dan arsitek tatakota yang mulai menanjak popularitasnya setelah berhasil memberdayakan komunitas masyarakat miskin dan mengembangkan konsep Bandung Creative City. Kemunculan figur muda ini bukan hal yang baru karena pada Pilwalkot 2008 pun pasangan Taufikurahman dan Abu Syauqi yang juga diusung PKS membawa isu kepemimpinan muda dan perubahan sebagai tema kampanyenya. Tapi, pasangan ini gagal menyaingi popularitas Dada Rosada yang tidak hanya menguasai birokrasi pemerintahan hingga ke level kecamatan sebagai mesin politik, sekaligus dukungan dari partai dan ormas-ormas besar di Kota Bandung. Dalam Pilwalkot 2013, peran ormas masih cukup dominan sebagai sumber suara, sehingga pasangan calon yang dapat meraih dukungan ormas-ormas ini, terutama yang sudah sejak lama ada, seperti Angkatan Muda Siliwangi, Pemuda Pancasila, dan Buah Batu Corps (BBC) diprediksi akan memenangkan suara yang cukup banyak.

Figur Ridwan Kamil yang dimunculkan sebagai figur alternatif dalam pemilihan walikota 2013 tidak berasal dari kelompok aktor alternatif yang selama ini mengkritisi kebijakan Dada Rosada.

Aktivitasnya di lembaga Bandung Creative City Forum (BCCF) menjadi mitra bagi Pemerintah Kota dalam mengembangkan sektor ekonomi

kreatif di Kota Bandung. Kemunculan Ridwan Kamil sebagai aktor alternatif tidak mengubah peta relasi kekuasaan di Kota Bandung, tapi isu perubahan yang diusungnya mampu menggabungkan aktor-aktor alternatif yang semula terpolarisasi bahkan memunculkan semangat voluntarisme dari kelompok dan anggota masyarakat Kota Bandung untuk mendukungnya. Populisme menjadi strategi politik untuk melawan patronase kekuatan politik petahana.

Dalam dokumen BEREBUT KONTROL ATAS KESEJAHTERAAN (Halaman 53-63)