• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Membangun Legitimasi dan Dukungan

Dalam dokumen BEREBUT KONTROL ATAS KESEJAHTERAAN (Halaman 91-96)

Sebagai pemimpin daerah yang terlegitimasi tetapi tidak memiliki dukungan massa dari partai politik, Risma sadar pentingnya dukungan dari arah lain untuk memuluskan program kerjanya selama menjabat. Berdasarkan data Survei PWD Kota Surabaya (2013), Risma menggunakan beberapa strategi untuk mendapatkan dukungan massa. Salah satu modelnya ialah dengan memanfaatkan semua basis modal yang dimilikinya, terutama basis sosial (hubungan sosial). Basis sosial Risma merupakan modal yang paling besar jika dibandingkan dengan basis modal lainnya, yakni sebesar 39%. Seperti diketahui, Risma menjadi birokrat selama 13 tahun. Di samping itu salah satu informan survei meyakini bahwa selama itu pula Risma menjaga komunikasi sangat baik dengan para akademisi di almamaternya Institut Sepuluh November (ITS). Informan tersebut menggunakan ungkapan ”memiliki hubungan erat” yang menggambarkan relasi antara Risma dengan akademisi tersebut sejak Risma menjadi Kepala Bappeko Kota Surabaya2. Basis ekonomi bukan merupakan faktor utama PDIP meminang Risma mendampingi Bambang D.H. pada waktu itu. Terbukti basis ekonomi dalam survei mendapat peringkat kedua yakni sebesar 26%, dilanjutkan dengan modal lainnya, yaitu basis budaya (pengetahuan) yang memiliki prosentase sebesar 20%.

Temuan ini cukup menarik karena selain ketiga modal di atas, ternyata basis koersif atau tekanan memiliki prosentase yang cukup tinggi yakni sebesar 15%. Hal ini menunjukkan Risma berhasil menjadi tokoh yang popular, sekaligus digunakannya modal koersif (tekanan)

76

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

untuk mencapai legitimasi tersebut. Modal koersif dapat diartikan digunakannya tekanan atau paksaan yang dianggap sebagai kapasitas politik aktor untuk menjadi pemimpin yang terlegitimasi. Dalam survei PWD penggunaan modal koersif ini tidak hanya digunakan oleh aktor dominan saja, aktor alternatif juga menggunaan basis modal ini. Menyangkut Risma, digunakannya modal ini contohnya pada saat pemeriksaan identitas kependudukan di ruang-ruang publik seperti Taman Bungkul. Salah satu informan mengatakan sejak Risma menjabat kerap sekali dilakukan razia kependudukan. Hal tersebut membuat beberapa kelompok masyarakat seperti komunitas LGBT merasa tidak aman3.

Indikator keberhasilan Risma memanfaatkan basis modal yang dimilikinya yaitu berhasil menjadi pimpinan politik yang kuat dan berkuasa (30%) meskipun data menyebutkan bahwa salah satu hambatan Risma memanfaatkan basis kekuatannya adalah lemahnya basis massa yang dimiliki, juga karena rentannya hubungan dengan institusi demokrasi seperti DPRD Kota Surabaya (11%). Risma yang diusung PDIP karena pengalaman kerja dan profesionalitas sebagai birokrat pada posisi-posisi strategis di beberapa SKPD Kota Surabaya kemudian mulai berubah sikap saat ditariknya dukungan PDIP pasca Risma menjabat. Risma lebih sering melakukan kegiatan yang bersentuhan dan terlihat oleh masyarakat langsung, seperti menjenguk anak yang jatuh dari kereta api di Kecamatan Semampir sambil berjanji akan menggelar Nikah Isbat dan Pengurusan Akte Kelahiran Gratis.

Pendekatan langsung praktis digunakan oleh Risma setelah penarikan dukungan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan program-program lain yang melibatkan Risma secara langsung. Hubungan Risma dengan DPRD Kota Surabaya mengalami kondisi pasang surut, tidak terkecuali dengan partai pengusungnya sendiri, PDIP. Hubungannya dengan PDIP semakin meruncing saat Risma menyampaikan akan mengundurkan diri dari jabatan walikota karena partai memilih wakil walikota yang bersebrangan dengan dirinya, Wisnu Sakti Buana. Bahkan sebesar 13% informan menyatakan bahwa Risma tidak memiliki tantangan atau hambatan dalam memanfaatkan basis modal yang dimilikinya untuk menjadi Walikota periode kedua. Menjadi hal yang menarik saat sebagian besar anggota legislatif berkonfrontasi dengan Risma, tetapi basis massa Risma malah menunjukkan sebaliknya, terus

meningkat. Anggota legislatif merupakan representasi dari rakyat yang memilihnya. Norris (1999) pernah menyebutkan fenomena seperti ini yakni saat populisme hadir dikarenakan menurunnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga modern seperti partai dan DPR, di mana lembaga-lembaga tersebut merupakan indikator demokrasi.

Tidak akurnya Risma dengan partai politik pengusung dan dengan DPRD Kota Surabaya, mengakibatkan adanya proses eksklusi terhadap aktor-aktor demokrasi lainnya, terutama DPRD dan Wakil Walikota. Proses eksklusi dalam survei dimaknai sebagai salah satu cara aktor, baik aktor dominan maupun aktor alternatif untuk tidak melibatkan atau mengabaikan masyarakat atau perwakilannya dalam proses-proses politik. Sedangkan demokratisasi sendiri menghendaki agar semua kelompok sosial bisa terlibat dan ikut serta mengontrol urusan publik. Hal ini tampak ketika Risma melakukan proses eksklusi tersebut pada saat pengambilan keputusan ditutupnya Lokalisasi Dolly, sebesar 67% informan menyatakan Risma sering melakukan pengambilan keputusan sendiri. Risma menutup Lokalisasi Dolly tanpa berkonsultasi DPRD maupun tanpa sepengetahuan Wakil Walikota.

Meskipun memiliki hubungan yang tidak mesra dengan PDIP, sebanyak 70% informan meyakini bahwa Risma akan terpilih dengan mudah menjadi pemimpin yang sah dan terlegitimasi jika nanti di tahun 2015 dia mengajukan diri menjadi calon walikota untuk kedua kalinya (Survei PWD Kota Surabaya, 2013). Harus diakui di tahun 2010 jika bukan karena diusung oleh PDIP, Risma tidak akan bisa menjadi walikota. Sebanyak 16% informan menyebutkan faktor yang memfasilitasi Risma bisa menjadi walikota hingga sekarang adalah karena dukungan partai, selebihnya karena pengalaman panjang sebagai birokrat (13%). Fakta tersebut menunjukkan bahwa aktor dominan yang tidak memiliki basis massa politik, bisa menjadi begitu popular bahkan dijamin memiliki jalan mulus jika ingin mencalonkan kembali sebagai walikota, tanpa tergantung pada dukungan partai politik. Padahal, demokrasi sendiri memiliki syarat mutlak keterwakilan rakyat terhadap lembaga representasi seperti DPRD dan partai politik.

Pertentangan antara politik berbasis figur dan politik representasi ini menjadi tantangan tersendiri dalam demokrasi di Indonesia, terutama dalam jangka panjang terkait dengan sinergitas relasi kekuasaan antara eksekutif dan legislatif.

78

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

Di sisi lain, survei juga menunjukkan Risma akan sulit terpilih lagi meneruskan jabatannya, karena basis massa partai yang dimiliki Risma sangat sedikit (14%) dan juga karena tekanan politik yang luar biasa (14%). Hal ini dikarenakan Risma bukan dari simpatisan maupun kader partai mana pun. Dukungan Fraksi PDIP Kota Surabaya pun sudah meluntur di awal kepemimpinan Risma. Motivasi Fraksi PDIP memang tidak bisa diketahui atau diukur publik pada saat ikut menandatangani petisi hak angket, tetapi salah satu informan yakin bahwa dicalonkannya Risma sebagai Walikota dan didampingi Mantan Walikota sebelumnya sebagai Calon Wakil walikota memang skenario yang sudah dirancang oleh Fraksi PDIP Kota Surabaya, hingga terbongkar saat penandatanganan tersebut4. Rencananya setelah pemilihan kepala daerah dimenangkan oleh pasangan calon Risma-Bambang, Risma akan diturunkan sehingga Bambang bisa menggantikan jabatan Risma sekaligus meneruskan jabatannya terdahulu menjadi tiga kali periode kepemimpinan, yang tentu saja bertentangan dengan undang-undang kalau dilakukan melalui mekanisme yang benar.

Risma mulai memobilisasi dan menggalang dukungan massa dengan melakukan proses pendekatan (20%) pada komunitas atau warga Surabaya. Pendekatan yang dipilih oleh Risma adalah pendekatan langsung dan terlihat oleh publik. Seperti setiap hari Senin Risma kerap ikut mengatur lalu lintas didepan RSI Surabaya juga saat membersihkan taman kota sebelum jam kantor. Seorang informan mengatakan, kedekatan Risma dengan para akademisi tersebut melebihi kedekatan dengan partai pengusung. Setiap kebijakan yang menyangkut tata letak kota selalu meminta pertimbangan akademisi di Institut Sepuluh November Surabaya (ITS), tanpa berkonsultasi dengan PDIP5. Ini yang membuat PDIP merasa dimanfaatkan oleh walikota sehingga semakin memperburuk hubungan yang rentan tadi. Pendekatan Risma yang bersifat langsung, terlihat publik, dan selalu menjadi sorotan media massa baik lokal maupun nasional berhasil membuat Risma menjadi pemimpin yang popular di kalangan masyarakat Surabaya. Risma tidak lagi perlu membangun kedekatan dengan DPRD sebagai representasi rakyat di Kota Surabaya, tetapi bisa diartikan Risma mengabaikan jalur-jalur kontrol rakyat yang terlembaga pada sistem demokrasi.

Abercrombie (1998) pernah menyebut gejala ini sebagai definisi populisme yakni suatu retorika politik, yang menganggap keutamaan

dan keabsahan politik terletak pada rakyat. Sasaran-sasaran politik akan dicapai paling baik melalui cara hubungan langsung antara pemerintah dan rakyat, tanpa perantaraan lembaga-lembaga politik yang ada.

Selain melakukan proses eksklusi terhadap partai pengusungnya, Risma mengimbangi hal tersebut dengan melibatkan masyarakat dan akademisi dalam penyusunan program kerja. Adanya Forum Rembug Kota Surabaya yang dijalankan juga seringnya Risma melibatkan mantan tentornya di ITS menjadi alternatif masukan pembangunan kota selain masukan dari DPRD Kota Surabaya. Risma juga membuat

“Suara Warga Surabaya”, situs aduan online terintegrasi antar SKPD agar keluhan mudah ditangani dengan cepat. Risma membangun kekuatan lain selain dukungan dari Partai politik pengusung. Sebesar 20%

informan mengatakan Risma menggunakan cara-cara persuasif untuk mengatasi eksklusi dalam proses politik.

Strategi selanjutnya yang digunakan oleh Risma untuk memperoleh dukungan masyarakat yakni kapasitas melakukan politisasi dan menciptakan agenda. Data Survei PWD Kota Surabaya (2013) menunjukkan isu-isu yang diprioritaskan oleh Risma terutama berkenaan dengan kesejahteraan (30%), berbanding lurus dengan permasalahan utama yang dikeluhkan masyarakat Surabaya, yakni pendidikan (38%) dan kesehatan (17%). Mengenai dua permasalahan ini, Risma memiliki program bebas SPP 12 tahun bagi sekolah negeri.

Bidang Kesehatan Risma menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk berobat gratis di rumah sakit milik Pemkot dan rumah sakit Provinsi. Terlihat di sini Risma dan tim kecilnya mendekati konstituen menggunakan isu-isu yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Isu kesejahteraan masih menjadi isu strategis untuk memenangkan hati rakyat. Seperti yang disebutkan oleh Deiwiks (2009), situasi ketimpangan ekonomi, pengangguran, kemiskinan merupakan humus yang subur bagi klaim-klaim populisme. Isu-isu tersebut dikemas sebagai isu prioritas yang bersifat strategis, sebesar 70% informan mengatakan Risma membingkai problem-problem kesejahteraan sebagai agenda yang bersifat strategis. Hambatan Risma dalam menjadikan isu kesejahteraan sebagai isu yang bersifat strategis adalah kurangnya dukungan dari DPRD dan partai politik. Ini nampak pada hasil survei sebanyak 26% informan percaya itu akan mempersulit Risma mengimplementasikan program-program kerjanya.

80

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

Kapasitas Risma meneguhkan posisinya adalah pada kemampuannya memobilisasi masyarakat untuk mendukung program-program kerja serta isu yang diusung. Hasil survei menunjukkan angka tinggi terhadap metode yang digunakan oleh Risma yakni 54% informan mengutarakan Risma menggunakan populisme. Populisme di sini dimaknai sebagai membangun hubungan langsung antara elit dan massa dengan mengusung isu-isu popular.

Sedangkan cara yang dilakukan untuk mengimplementasikan metode di atas demi memobilisasi dan mengorganisasi dukungan yaitu dengan menggunakan pendekatan yang egaliter. Sebanyak 20%

informan meyakini Risma menggunakan kedekatan tersebut untuk mengorganisir dan memobilisasi mereka guna memuluskan isu-isu prioritas di atas.

Implementasi Nilai-nilai Demokrasi

Dalam dokumen BEREBUT KONTROL ATAS KESEJAHTERAAN (Halaman 91-96)