• Tidak ada hasil yang ditemukan

Realitas Inklusivitas Program JKA di Aceh Selatan

Dalam dokumen BEREBUT KONTROL ATAS KESEJAHTERAAN (Halaman 130-143)

Pemerintah daerah menyadari bahwa kemajuan daerah hanya bisa diatasi dengan cara pengembangan sumber daya manusia.

Pengembangan ini salah satunya ditempuh melalui penyelenggaraan dan penyediaan kebutuhan kesehatan hingga fasilitas kesehatan yang memadai dan terjangkau. Kenyataannya, masyarakat selama ini, karena berbagai faktor, belum bisa memperoleh hak-hak mereka dalam

pelayanan kesehatan. Kondisi ini tentu menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu, pemerintah daerah mencoba mengatasinya dengan membuat kebijakan dan program kesehatan.

Dalam konteks Aceh, Pemerintah Daerah Provinsi Aceh sadar betul bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan sangat penting, di mana umumnya masyarakat tidak bisa mengakses kesehatan karena faktor finansial. Penerapan program JKA yang dibuat oleh Pemerintah Aceh merupakan tindakan konkret mengatasi keterbatasan akses pelayanan kesehatan tersebut. Sesuai dengan prinsip inklusivitas, yaitu keterbukaan, pengakuan terhadap diversitas, dan kebersamaan, serta sejalan dengan tujuan dari UHC, tentunya program JKA diharapkan mampu menjawab atau mengatasi tantangan dan kendala pelayanan kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang baik.

Namun, kebijakan inklusivitas program JKA tidak selalu berjalan sesuai harapan dan mekanisme yang mengaturnya melalui regulasi atau peraturan. Menurut Muhammad Hamzah, Direktur Eksekutif Pemberdayaan Masyarakat dan Advokasi Kawasan Pesisir dan Kelautan (PUGAR)4, fakta implementasi dari JKA memunculkan kendala yang dirasakan oleh pasien, seperti lemahnya pemahaman dan pengetahuan JKA dari pemberi layanan kesehatan (medis/paramedis) dan lemahnya puskesmas dalam mensosialisasikan aturan JKA. Menurutnya, pemberi layanan kesehatan harus diberi ketegasan bahwa masyarakat sudah bayar terlebih dahulu melalui pajak untuk mendapatkan asuransi JKA, jadi sama sekali tidak gratis. Jangan sampai dimaknai gratis, di mana rakyat tidak bayar. Fakta lainnya, fungsi quality control yang lemah mengakibatkan program JKA mendapatkan masalah ketika diimplementasikan. Seharusnya mekanisme kontrol dari hulu hingga hilir berjalan secara optimal, tetapi nyatanya PUGAR menemukan evaluasi fungsi kontrol masih sangat lemah ketika dipraktikan. Hal ini terkait dengan SDM kabupaten/kota Provinsi Aceh yang masih minim pemahaman dan melaksanakan fungsi kontrol JKA.

Hasil Survei PWD 2013 menemukan fakta dari 39% informan menyatakan bahwa program kesehatan JKA yang diterapkan di Aceh Selatan tahun 2010-2012 masih terdapat kendala dari masyarakat/

pasien yang belum memahami aturan program tersebut. Umumnya mereka mengerti berobat gratis tanpa bayar, tetapi tidak memahami

116

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

seutuhnya isi dari program JKA secara mendalam. Bahkan sebanyak 22% informan menyatakan masyarakat sama sekali tidak tahu siapa dan lembaga apa yang mengurusi isu kesehatan.

Minimnya pemahaman dan pengetahuan dari pelaksana program JKA berefek pada kinerja yang kurang optimal dalam pelayanan kesehatan. Lemahnya pemahaman dan pengetahuan dari masyarakat/pasien berdampak pada tidak terlayaninya mereka sebagai pengguna layanan program JKA. Oleh karena itu, JKA harus memiliki quality control yang baik, apalagi setelah terintegrasi dengan JKN.

Sjihabuddin (2013) menyatakan bahwa kontrol dari kebijakan terletak pada Standard Operating Procedures (SOP), standar pelayanan, survei kepuasan pelanggan, dan pengelolaan sistem pengaduan. Keempat hal tersebut dapat menjadi jawaban dalam mengatasi tantangan dalam pelaksanaan JKA dan harus selalu dievaluasi untuk memastikan program ini telah berjalan baik dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat juga harus proaktif dalam mencari tahu aturan program JKA.

Berdasarkan penelusuran data dari berbagai media online dan cetak ditemukan banyak kasus di Kabupaten Aceh Selatan terkait pelayanan JKA. Kasus tentang dana kapitasi JKA (periode April-November 2011) untuk 21 puskesmas di Aceh Selatan senilai Rp.

2,6 milyar masih mengendap di masing-masing rekening puskesmas, karena harus menunggu Peraturan Bupati yang seharusnya tidak perlu, guna dibagikan kepada paramedis dan dokter. Informasi ini diperoleh berdasarkan temuan dari Ketua Tim Pengawas JKA, Rustam Efendi mengutip pengakuan Kepala Puskesmas Lhok Bengkuang, Aceh Selatan, dr. Cut Tri Elpita. Terkait kasus pencairan dana JKA yang terlambat, Kadis Kesehatan Aceh, dr. M. Yani melalui Humas JKA, Saifullah Abdul Gani yang dimintai tanggapannya mengatakan, dari 23 kabupaten/kota yang telah menerima dana kapitasi puskesmas program JKA, hanya Aceh Selatan yang harus menunggu Peraturan Bupati untuk pencairannya. Padahal, kata Saifullah, tidak harus ada Peraturan Bupati sebagaimana telah berjalan di 22 kabupaten/kota lainnya. Dirinya menegaskan kembali Dinas Kesehatan Aceh membuat peraturan pembagian dana kapitasi JKA yang baru harus ditetapkan oleh Kepala Puskesmas dan persetujuan Kepala Dinas Kesehatan

kabupaten/kota untuk tujuan memberikan otonomi atau kewenangan penuh kepada kepala puskesmas dan kepala dinas.5

Survei PWD 2013 terkait regulasi formal yang mendukung inklusivitas, terutama mengenai aturan hukum dan independensi pemerintah dalam membuat keputusan serta kapasitas untuk mengimplementasikannya. Sebanyak 50% informan mengatakan bahwa regulasi terkait aturan hukum di Kabupaten Aceh Selatan buruk dan selama lima tahun terakhir tidak ada perubahan (67%).

Sedangkan untuk regulasi mengenai independensi Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dalam membuat keputusan serta kapasitas untuk mengimplementasikannya, sebanyak 56% informan menyatakan sedang, tetapi selama lima tahun terakhir regulasi ini sama sekali tidak ada perubahan yang dijawab oleh 50% informan. Kasus terlambatnya pencairan dana kapitasi di atas tidak perlu terjadi jika ada komunikasi antara pelaksana program JKA di Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dengan Pemerintah Provinsi Aceh dan kepastian regulasi yang jelas, terutama tentang pembagian peran dan tanggung jawab antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dalam melaksanakan program JKA, sehingga hak- hak tenaga medis/paramedis tidak terabaikan.

Realitas lainnya, alokasi dana untuk ketersediaan obat-obatan selalu telat proses realisasinya, sehingga berakibat stok obat bagi pasien kosong. Kasus telat obat telah membawa dampak bagi Surhemi, keluarga pasien pengguna kartu JKA yang mengeluhkan pada saat membeli obat di apotik harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu rupiah.

Saya harus mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah, untuk membeli obat di luar apotik puskemas, dan biasanya obat tersebut dirembes (reimbursed-ed.) kembali, tapi pihak pengelola tidak merembesnya. Tindakan tersebut sudah berlangsung sejak masa Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) beralih ke Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Program itu hanya berbeda nama saja, karena di lapangan obat masih banyak harus dibeli di luar dan lebih anehnya pihak pengelola tidak mau mengganti uang obat yang sudah dibeli.”6

118

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

Kasus serupa juga dialami Khairida yang tercatat sebagai mahasiswa Labuhan Haji Barat Kabupaten Aceh Selatan yang sangat kecewa terhadap pelayanan rumah sakit, karena tidak mau membayar obat pasien. Khairida meminta kepada pihak rumah sakit untuk menyediakan obat sesuai dengan daftar obat yang ditanggung oleh JKA agar pasien tidak perlu membeli obat di luar.

Pihak rumah sakit adalah pelayan publik dan hari ini Aceh mempunyai jaminan kesehatan bagi warga Aceh khususnya berupa JKA, kenapa harus membeli obat di luar rumah sakit ini terkesan Jaminan kesehatan Aceh hanya simbol dan sekedar teori belakang.”7

Temuan tentang stok obat yang kosong menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah, baik provinsi maupun daerah, dalam menyelesaikan anggaran pendapatan dan belanja daerah tepat waktu, sehingga proses tender obat menjadi terlambat. Penjelasan yang tidak akurat terkait obat-obatan yang ditanggung JKA dan bagaimana prosedur penggantian uangnya merupakan kelemahan dari pelaksana program JKA. Dalam hal ini bisa saja karena petunjuk teknis yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi tidak seutuhnya dipahami oleh pelaksana di lapangan. Kedua hal tersebut merupakan kegagalan inklusivitas dalam prinsip keterbukaan. Ini sejalan dengan hasil PWD tentang regulasi “tatakelola pemerintah yang transparan, tidak berpihak, dan akuntabel” yang dijawab buruk oleh 44% informan dan selama lima tahun terakhir tidak ada perubahan berarti terkait regulasi tersebut di Kabupaten Aceh Selatan.

Anggaran kesehatan yang dipergunakan untuk program JKA berdasarkan hasil penelitian dari Public Expenditure Analysis & Capacity Strengthening Program (PECAPP) tahun 2012 selama ini masih bertumpu pada belanja kuratif (penyembuhan) daripada preventif (pencegahan).

Diharapkan ke depan, upaya preventif maupun promotif mendapat porsi penganggaran yang lebih besar. Tren membesarnya upaya kuratif dimulai sejak 2010, saat program JKA dimulai. Sebelumnya, pada 2007, anggaran kesehatan untuk kuratif hanya 37 persen. Anggaran untuk preventif di Provinsi Aceh hingga 2012, masih jauh di bawah angka

survei sebesar 30 persen, seperti yang dipublikasikan oleh Pusdiklat Aparatur Kementerian Kesehatan.

Besarnya anggaran itu masih belum disertai pencapaian beberapa indikator kesehatan yang lebih baik. Beberapa tantangan sektor kesehatan di antaranya angka kematian ibu masih tinggi.

Pada 2011 tercatat 158 per 100.000 kelahiran hidup (KH). Sementara nasional menargetkan 112 per 100.000 KH pada 2014. Masalah lainnya adalah ketersediaan sarana dan prasarana serta sumberdaya tenaga kesehatan yang belum mencukupi dan terdistribusi secara merata di Aceh. Keberadaan sarana dan fasilitas Puskesmas di Aceh dinilai sudah mencukupi, dengan rasio 1:14.000 penduduk, sementara target nasional hanya 1:30.000 penduduk. Akan tetapi, rasio dokter di Aceh masih berada di bawah target nasional, yaitu 1:4.000 penduduk, sementara target nasional 1:2.500 penduduk.8

Bahkan kisah miris diceritakan keluarga Yuniwati (nama samaran) dalam wawancara 24 Oktober 2014, masyarakat Aceh Selatan, ketika mengalami tindakan dokter yang sengaja mengarahkan pasien untuk membeli obat di luar yang sudah ditentukan JKA tersebut. Lebih menyakitkan lagi, perbedaan perlakuan dokter ketika memeriksa Yuni yang bestatus JKA. Dirinya melihat sendiri ketika pemeriksaan dan penanganan lebih cepat responnya ketika pasien berkelas satu.

Dari kisah Yuni bisa disimpulkan terdapat karakter dokter yang tidak sepenuh jiwa mengabdikan dirinya untuk menolong masyarakat yang sedang sakit dan kesusahan secara finansial. Hasil evaluasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Aceh Selatan menemukan peran dan fungsi keberadaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan selama ini sangat jauh dari kata baik, apalagi prima.9

Karakter tenaga medis/paramedis yang pilih kasih menunjukkan kegagalan pelayanan kesehatan yang inklusif dalam hal pengakuan terhadap diversitas dan kebersamaan. Regulasi yang mengatur tentang hak asasi manusia yang universal di Kabupaten Aceh Selatan tidak berjalan baik, walaupun tidak bisa dikatakan buruk karena 56%

informan menjawab sedang dan sebanyak 72% informan mengatakan tidak ada perubahan kebijakan selama 5 tahun berdasarkan Survei PWD 2013. Kebijakan yang mengatur budaya kerja perlu dikembangkan

120

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

dan diterapkan secara konsisten, sehingga akan terwujud iklim kerja yang berorientasi pada etos kerja dan produktivitas yang tinggi, serta terinternalisasinya budaya kerja yang membentuk perubahan sikap dan perilaku serta motivasi kerja (Marsono, 2014).

Baru-baru ini ketika tulisan dibuat, Pemerintah Aceh mengeluarkan fatwa (ultimatum) yang mengharuskan masyarakat Aceh untuk mendaftarkan diri ke Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Menurut informasi disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr M. Yani, M.Kes, sejumlah 600.000 warga Aceh terancam tidak bisa dilayani berobat gratis. Soalnya, Pemerintah Aceh tidak sendiri melaksanakan program jaminan kesehatan ini, melainkan bekerjasama dengan BPJS sehingga berbagai prosedur yang telah dibuat bersama harus diikuti. Mekanisme setelah terdaftar di BPJS baru direspon setelah tiga bulan mendaftarkan diri.10

Berbanding terbalik informasi dari beberapa pasien ketika dicek ke RSUD dr. Zainal Abidin. Menurut beberapa pasien mengatakan lebih mudah birokrasinya sebelum tunduk dengan regulasi nasional. Dahulu cukup Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) langsung diberikan pelayanan kesehatan. Sekarang cenderung berbelit-belit begitulah yang dirasakan sebagian pasien ketika diminta pendapatnya.

Kelemahan sosialisasi akan hak-hak kesehatan berupa pelayanan kesehatan bagi masyarakat Aceh belum optimal dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Aceh dan institusi terkait lainnya. Pandangan itu dikatakan oleh Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Kota Banda Aceh, Farid Nyak Umar. Ia menegaskan lagi bahwa pada benak sebagian warga luas di Aceh masih menganggap mereka cukup membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) saja. Di sinilah letak kendala mengapa mereka tidak mengurus ke BPJS.11

Prinsip keterbukaan, pengakuan terhadap diversitas, dan adanya kebersamaan harus menjadi elemen penting dalam menguatkan sosialisasi hak-hak kesehatan masyarakat, terutama program JKA di Kabupaten Aceh Selatan, sehingga sosialisasi ini tidak hanya menjadi simbol saja, tapi memang dirasakan manfaatnya berupa pemahaman, baik oleh pelaksana maupun penerima program JKA. Partisipasi masyarakat perlu dikembangkan untuk bekerjasama mensosialisasikan hak dan kewajiban dalam bidang kesehatan. Survei PWD 2013 menyatakan 39% narasumber di Kabupaten Aceh Selatan menilai

aturan-aturan tentang partisipasi berbasis hak-hak warga negara dalam tatakelola publik sudah cukup baik. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada mengenai tidak optimalnya sosialisasi JKA yang terintegrasi dengan JKN.

Uraian di atas menunjukkan masih terdapat tantangan dalam menerapkan inklusivitas program ini di Kabupaten Aceh Selatan, yakni: (1) tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang JKA, baik dari sisi pemberi layanan kesehatan (medis, paramedis, puskesmas, rumah sakit) maupun penerima layanan kesehatan (masyarakat/pasien) masih kurang, apalagi setelah JKA terintegrasi dengan JKN; (2) lemahnya fungsi quality control program JKA; (3) lambatnya dana kapitasi JKA bagi puskesmas; (4) ketersediaan obat-obatan untuk pengguna program JKA yang kosong karena alokasi anggaran yang terlambat; serta (5) karakter pemberi pelayanan kesehatan (dokter dan paramedis) yang lebih mementingkan pasien umum dibandingkan pasien JKA.

Hasil Survei PWD 2013 menyatakan bahwa aturan dan regulasi mengenai kewarganegaraan yang setara dan tatakelola kepemerintahan di Kabupaten Aceh Selatan berada pada posisi sedang, yakni sebesar 46% untuk penilaian kewarganegaraan yang setara dan 47% untuk tatakelola pemerintahan. Hal ini tentu menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan cukup baik dalam melaksanakan aturan dan regulasi tentang program JKA yang diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi Aceh. Namun, ketegasan dan komitmen pengambil kebijakan pada tingkat pemerintah daerah juga harus diperkuat, sehingga masalah seperti lambatnya kapitasi dana JKA bagi puskesmas dan kosongnya stok obat tidak terjadi lagi. Strategi implementasi, misalnya terkait administrasi dan sosialisasi program, harus diperbaiki. Apalagi pada 2014, pengintegrasian JKA ke dalam JKN dalam bentuk BPJS juga menjadi tantangan baru dalam mensosialisasikan program ini kepada masyarakat dan tenaga medis/paramedis. Jangan sampai perubahan ini memberi implikasi tidak tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang optimal, karena banyaknya masyarakat yang tidak bisa menerima manfaat dari pengintegrasian tersebut.

Berdasarkan tantangan-tantangan yang terjadi, dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Aceh dan khususnya Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan belum optimal memberikan pelayanan inklusif dari program JKA yang bersumber ketersediaan dana cukup besar

122

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

dari APBN, APBA, Otsus, dan Migas. Tantangan tersebut berimplikasi dalam penerapan prinsip inklusivitas pelayanan kesehatan program JKA dan maksud dari UHC yang diusung oleh JKA tidak tercapai.

Prinsip inklusivitas tentu membutuhkan manajemen sistem yang kuat untuk mengatasi tantangan/kendala di atas. Perbaikan dalam aspek kebijakan (terkait anggaran dan petunjuk teknis JKA), implementasi (terkait administrasi, ketersediaan obat, sosialisasi program), dan sistem pengaduan (responsif terhadap pengaduan dan masalah), serta perbaikan dalam aspek budaya kerja (terkait etos dan karakter medis dan paramedis) merupakan strategi yang dapat digunakan agar penerapan prinsip inklusivitas program JKA terwujud.

Penutup

Kebijakan inklusivitas pelayanan kesehatan dari Pemerintah Aceh melalui program JKA bagi seluruh kabupaten/kota, termasuk Kabupaten Aceh Selatan memberikan dampak signifikan dan dirasakan manfaatnya bagi masyarakat Aceh Selatan, walaupun banyak hambatan dan kendala ketika diimplementasikan. Hambatan dan kendala ini menjadi tantangan bagi Pemerintah Aceh untuk terus memperbaiki program JKA. Kendala program JKA yang terjadi di lapangan, khususnya di Kabupaten Aceh Selatan, yaitu masih lemahnya pengetahuan dan pemahaman JKA, baik di kalangan masyarakat maupun dikalangan tenaga medis dan paramedis; fungsi kontrol yang tidak berjalan dengan baik; ketersediaan obat-obatan bagi pasien yang pengadaannya tidak tepat waktu karena alokasi anggaran yang terlambat; lambatnya dana kapitasi JKA bagi puskesmas karena menunggu peraturan bupati yang belum disahkan; dan karakter dokter/paramedis yang lebih mementingkan pasien umum dibandingkan pasien JKA.

Memperbaiki kondisi di atas diperlukan kerjasama semua pihak, baik dari tingkat Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, pelaksana program JKA, maupun penerima manfaat (masyarakat), sehingga program ini menjadi tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat pengguna serta tujuan pembangunan kesehatan yang optimal terwujud. Pada tingkat pemerintah, baik provinsi maupun daerah, strategi perbaikan kebijakan tentu harus dilakukan, terutama terkait anggaran dan petunjuk teknis.

Strategi lain yang harus dilakukan agar program JKA ini menjadi inklusif, yaitu memperkuat fungsi kontrol yang melibatkan partisipasi lintas komponen masyarakat sipil, sehingga mampu meminimalisasi terjadinya pelayanan yang buruk dan penyimpangan dalam penggunaan anggaran program JKA. Salah satunya dapat dilakukan dengan cara pengembangan sistem pengaduan yang responsif terhadap pengaduan dan masalah.

Perbaikan dalam etos dan karakter tenaga medis dan paramedis juga menjadi strategi yang menyokong penerapan inklusivitas program JKA di Kabupaten Aceh Selatan. Pemerintah daerah harus memperhatikan kualitas dan kuantitas tenaga medis dan paramedis yang dibutuhkan agar program ini berjalan baik. Hal ini dapat dilakukan melalui kebijakan-kebijakan, seperti pelatihan peningkatan mutu tenaga medis/paramedis, lokakarya sosialisasi program JKA/BPJS, lokakarya etos kerja, dan kebijakan lain yang mendukung program JKA dapat dirasakan manfaatnya oleh pelaksana dan penerima manfaat program. 

124

BAGIAN KEDUA

NEGARA KESEJAHTERAAN DAN POLITIK FIGUR

Referensi

Hasibuan, Zulhanuddin dan Nab Bahany As. 2012. JKA Dimata Rakyat.

Provinsi Aceh: Yayasan PUGAR.

Karim, Abubakar A. 2013. Makalah, dipaparkan dalam diskusi yang digagas oleh Jaringan peduli Anggaran (JPA) Aceh, 23 Oktober.

Marsono. 2014. Bunga Rampai Administrasi Publik: Strategi Membangun Inklusifitas Pelayanan Publik: Upaya Mewujudkan Keadilan dan Kesetaraan Pelayanan terhadap Seluruh Warga negara. Jakarta:

Lembaga Administrasi Negara (LAN).

Parson, Wayne. 2005. Public Policy: Pengantar Teori dan Praktik Kebijakan Publik. Jakarta: Penerbit Kencana.

Putra, Fadilah. 2005. Kebijakan Tidak untuk Publik. Yogyakarta:

Resist Book.

Saputra, Wiko. 2014. “APBN Konstitusi Bidang Kesehatan dan Jaminan Sosial Kesehatan 2014”. Makalah Presentasi. Jakarta:

Perkumpulan Prakarsa.

Seknas Fitra. 2012. “Press Release: Anggaran Kesehatan 2013 Tidak Menyehatkan”. Diakses dari http://seknasfitra.org/pressrelease/

anggara-kesehatan-2013-tidak-menyehatkan/, 28 April 2015.

Sjihabuddin, Achmad. 2013. “3 Indikator Prinsip Inklusivitas dalam Pelayanan”. Diakses dari http://www.setjen.kemenkeu.go.id/, 01 November 2014.

Tjahjono, Bambang. 2014. “Implementasi Pendidikan Inklusif”. Diakses dari http://bbppksjogja.depsos.go.id/, 01 November 2014.

WHO. 2005. “Achieving Universal Health Coverage: Developing the Health Financing System”. Technical brief for policy-makers, (No.1).

WHO. 2010. “News Release: WHO Urges All Countries to Strengthen Health Financing so more People can Use Services”. Diakses dari http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2010/

whr_20101122/en/, 28 April 2015.

tanggal 24 November 2014).

2. Wawancara dengan informan ahli, SA, di kantor Jaringan Survey Inisiatif, pukul 20.30 WIB, 4 Desember 2014

3. Sebagaimana dikemukakan oleh Dr. dr. Syahrul, SpS-K dalam artikel

‘Kartu Sakti’ Jokowi dan Nasib JKRA. Diunduh dari http://aceh.tribunnews.

com/, diakses 15 November 2014.

4. Wawancara tanggal 30 November 2014.

5. http://aceh.tribunnews.com/, diakses tanggal 5 Desember 2011.

6. http://diliputnews.com/, diunduh tanggal 10 Agustus 2012.

7. http://diliputnews.com/, diakses tanggal 10 Agustus 2012.

8. http://tekno.kompas.com/, diakses pada tanggal 2 April 2013.

9. http://www.antaraaceh.com/, diakses tanggal 29 Oktober 2014.

10. Serambi Indonesia, 14 Februari 2015; Serambi Indonesia, 17 Februari 2015).

11. Serambi Indonesia, 14 Februari 2015.

STRATEGI EKSKLUSI DAN INKLUSI

Dalam dokumen BEREBUT KONTROL ATAS KESEJAHTERAAN (Halaman 130-143)