• Tidak ada hasil yang ditemukan

YANG MENGEKSKLUSI MINORITAS DI BANDA ACEH

Dalam dokumen BEREBUT KONTROL ATAS KESEJAHTERAAN (Halaman 182-186)

T. Muhammad Jafar Sulaiman

tersebut. Dalam konteks ini, berbicara minoritas berarti berbicara tentang hak-hak warga negara yang juga harus dipenuhi oleh negara.

Hasil Survei PWD 2013 di Kota Banda Aceh menunjukkan bahwa 26% informan menganggap persoalan hak-hak warga negara merupakan isu publik utama yang dianggap penting oleh orang banyak di kota ini. Angka ini tergolong tinggi bila dibandingkan dengan isu lainnya, seperti pendidikan (16%), pelayanan kesehatan (20%), keamanan fisik (8%), kemakmuran dan keamanan sosial (16%), transportasi publik (11%), lalu lintas (17%), dan perumahan rakyat (7%).

Pemenuhan hak-hak warga negara ini dilihat dalam dua aspek yaitu ada atau tidak adanya diskriminasi dan persoalan-persoalan yang timbul dari peraturan berbasis agama. Ternyata kedua aspek tersebut menunjukkan angka permasalahan yang tinggi, yaitu diskriminasi terhadap minoritas menunjukkan angka 36%. Jumlah yang sama juga tampak dalam penerapan peraturan berbasis agama. Temuan ini mengindikasikan bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh masih menghadapi masalah dalam pemenuhan kesetaraan warga negara, terutama terkait eksistensi minoritas dan cenderung mengeksklusi minoritas melalui kebijakan-kebijakannya.

Diskriminasi terhadap minoritas di Banda Aceh terjadi dalam berbagai bentuk, di antaranya terkait dengan kebebasan berekspresi.

Seperti ketika pada 2012, Pemerintah Kota Banda Aceh melarang etnis Tionghoa untuk menampilkan atraksi Liong Barongsai sebagai bagian dari rangkaian kegiatan peringatan tujuh tahun perdamaian Aceh (15 Agustus 2005-2012).1 Peringatan tujuh tahun perdamaian ini mengangkat tema “Aceh Damai dalam Keberagaman”. Tema ini diambil sebagai bentuk kampanye di ruang publik bahwa Aceh sangat beragam dan damai. Aceh adalah dambaan dan milik semua yang beragama di Aceh. Tujuan menampilkan Liong Barongsai adalah menampilkan keberagaman sebagai bagian dari Aceh. Bahwa Aceh adalah sebuah wilayah yang dihuni oleh berbagai agama, suku, etnis, budaya dan kelas sosial.

Pemerintah Kota Banda Aceh melarang dengan alasan bahwa pertunjukan tersebut akan mengganggu kekhusyukan ibadah puasa umat Islam karena waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan sucinya umat Islam. Bagi masyarakat sipil, pelarangan tersebut merupakan bentuk diskriminasi dan pelanggaran terhadap kebebasan

168

BAGIAN KETIGA

POLITIK IDENTITAS: STRATEGI EKSKLUSI DAN INKLUSI KEPENTINGAN

berekspresi. Akhirnya, dengan adanya pelarangan tersebut, kegiatan pekan kampanye yang seyogianya dilaksanakan dari tanggal 11-15 Agustus 2012 ini diputuskan untuk dibatalkan. Padahal kegiatan tersebut dimaksudkan oleh kelompok masyarakat sipil untuk peringatan damai Aceh.

Kemudian bentuk diskriminasi lainnya muncul dalam bentuk peraturan berbasis agama. Terdapat Peraturan Gubernur Nomor 25 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pendirian Rumah Ibadah yang perumusannya berbasis pada agama Islam. Bagi agama-agama lainnya, Peraturan Gubernur ini membuat mereka tereksklusi.

Peraturan Gubernur ini tidak dapat dilepaskan dari kekhususan Aceh dalam hal syariat Islam, atau dalam bahasa hukum sering sekali disebut dengan lex specialis derogat lex generalis (aturan hukum yang khusus akan mengesampingkan aturan hukum yang umum).

Realitas tingginya angka diskriminasi ini mendapat respon dan perhatian serius dari Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Banda Aceh. Bagi OMS, diskriminasi ini merupakan persoalan penting yang harus dilawan karena perlakuan diskriminasi merupakan pengabaian negara terhadap tanggung jawab negara untuk memenuhi hak-hak konstitusional warganya. Hal ini terkonfirmasi dalam hasil riset PWD yang menunjukkan bahwa kepedulian dan respon OMS cukup tinggi dalam membicarakan isu diskriminasi ini dengan angka partisipasi sebesar 55%. Mereka menjadikan isu ini sebagai topik debat di ruang publik. Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan aktor negara yang membicarakan isu tersebut di ruang publik dengan angka sebesar 25%. Sementara itu aktor negara justru lebih sibuk membicarakan masalah moral privat di ruang publik yakni sebesar 30%.

Bagi OMS, persoalan ini adalah persoalan konstitusional, di mana semua orang mempunyai hak yang setara sebagai warga negara, apa pun agama dan status sosialnya. Aktor negara menganggap persoalan ini bukan sebagai prioritas yang harus mendapat perhatian serius.

Alasannya, negara bertolak dari pandangan ideologis bahwa minoritas harus tunduk terhadap mayoritas dan minoritas harus menyesuaikan diri dengan konteks mayoritas. Cara pandang seperti ini tentu sangat bermasalah dalam aspek pengelolaan keberagaman, karena dalam pengelolaan keberagaman isu utamanya adalah bagaimana negara mengakomodasi kaum minoritas.

Dalam mengelola seni perlawanan terhadap praktik diskriminasi dan pengabaian hak-hak minoritas, OMS melakukan gerakan bersama-sama dengan minoritas, baik minoritas yang menjadi korban maupun minoritas lainnya yang tidak menjadi korban secara langsung. Kolaborasi ini sekaligus juga sebagai kampanye keberagaman dan toleransi di ruang publik Aceh secara setara dan bermartabat. Tujuannya ialah agar implementasi qanun yang berbasis agama tersebut bisa dikelola dengan baik agar tidak terus-menerus mengeksklusi kaum minoritas. Minoritas yang dimaksud adalah minoritas suku dan etnis, seperti Tionghoa, Jawa, Minang, Sunda, Batak, Gayo bahkan Papua, minoritas agama seperti Kristen, Katolik, Budha, kaum difabel, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya.

Bentuk kolaborasi yang dilakukan di antaranya adalah kolaborasi budaya, menggunakan pendekatan budaya. Bentuk lainnya adalah melalui pernyataan pers bersama, diskusi lintas agama dan etnis serta pertemuan. Kerja sama lintas budaya di ruang publik memanfaatkan momen tertentu seperti peringatan hari toleransi internasional, (16 November 2012) dan pawai obor perdamaian memperingati hari perdamaian Internasional (21 September 2013).

Fakta menarik ini melahirkan pertanyaan penting untuk menjawab latar belakang di atas, yaitu bagaimana seni perlawanan kelompok minoritas dan aktor alternatif terhadap implementasi qanun berbasis agama? Mengapa kelompok minoritas dan aktor alternatif melawan implementasi qanun berbasis agama? Bagimana dampak dari upaya perlawanan tersebut dalam mempengaruhi kebijakan diskriminatif?

Tulisan ini bertujuan memberikan gambaran tentang peran yang dilakukan oleh OMS selaku aktor alternatif dalam mengelola perlawanan bersama minoritas terhadap qanun yang praktiknya mengeksklusi minoritas di Kota Banda Aceh, untuk mendapatkan jawaban mengapa masyarakat sipil dan minoritas berkoalisi menentang praktik qanun berbasis agama dalam pemenuhan kesetaraan warga negara serta mengapa perlawanan yang besar tersebut belum mampu mempengaruhi kebijakan. Tema ini menarik untuk diangkat karena bertujuan untuk melihat wajah Aceh dari sisi yang berbeda dari yang selama ini sering ditampilkan, yakni pembentukan opini kesuksesan pelaksanaan syariat Islam. Bahwa ternyata dalam pelaksanaan

170

BAGIAN KETIGA

POLITIK IDENTITAS: STRATEGI EKSKLUSI DAN INKLUSI KEPENTINGAN

Dalam dokumen BEREBUT KONTROL ATAS KESEJAHTERAAN (Halaman 182-186)