BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.11. Pemetaan risiko
Pemetaan risiko dapat menunjukkan tingkatan dari setiap risiko yang telah teridentifikasi dengan menggunakan dua aspek risiko, yaitu consequences (severity) dan likelihood (occurance). Matriks yang digunakan berbentuk 5x5 dengan kombinasi nilai severity dan occurance yang memberikan pengertian tingkatan risiko masing-masing.
Tingkatan risiko terdiri atas risiko rendah (low risk) berwarna hijau, risiko menengah (medium risk) berwarna kuning, dan risiko tinggi (high risk) berwarna merah. Pemetaan dilakukan untuk mengetahui tingkatan dari setiap risiko keterlambatan yang terjadi. Gambar berikut ini menunjukkan matriks yang dipakai sebagai pemetaan risiko berdasarkan consequences (severity) dan likelihood (occurance).
5
4
3
2
1
1 2 3 4 5
Gambar 2.9. Matriks pemetaan risiko
Untuk dapat menjelaskan penilaian dan hasil pemetaan risiko dengan baik, maka diperlukan pemahaman dari setiap indikator diatas. Tabel berikut akan menjelaskan definisi dari ketiga indikator pemetaan risiko (Thakur, 2015).
Tabel 2.4. Definisi indikator pemetaan risiko
Tingkatan risiko Definisi
High Risk
Merupakan risiko yang memerlukan penanganan yang secepatnya, sampai risiko tersebut dipastikan tidak berpengaruh terhadap aktivitas/kinerja
Medium Risk
Merupakan risiko yang memerlukan penanganan smart thinking dan logical planning serta tidak membutuhkan penanganan yang cepat
Low Risk
Merupakan risiko yang tidak memberikan pengaruh yang signifikan, tetapi akan lebih baik ditangani untuk performa aktivitas/kinerja yang lebih baik.
Tingkat keparahan risiko keterlambatan (severity)
Tingkat kemungkinan risiko keterlambatan terjadi (occurance)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Lokasi Penelitian
Gambar 3.1. Lokasi penelitian
Proyek pembangunan Bendungan Lau Simeme secara administrasi berada di Kabupaten Deli Serdang, tepatnya berada di Desa Kuala Dekah, Desa Rumah Gerat, Desa Sari Laba Jahe, dan Desa Penen dengan sumber material/quarry berada di Desa Mardinding Julu. Letak proyek secara geografis berada diantara 03°19'14"-03°21'12" Lintang Utara dan 98°37'35"-98°39'08" Bujur Timur.
3.2. Tinjauan Proyek 3.2.1. Data Proyek
1. Nama Proyek : Proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket – I
2. Alamat Proyek : Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang 3. Nilai Kontrak : Rp. 582.072.480.000
4. Penyedia Jasa : PT. WIKA-BUMI KARSA, KSO
3.2.2. Waktu Pelaksanaan Proyek
Sesuai dengan time schedule yang telah ditetapkan, pekerjaan proyek konstruksi berlangsung sejak tahun 2018 sampai dengan tahun 2022, yaitu selama 1.567 hari kalender.
3.3. Metode Penelitian 3.3.1. Sumber Data Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua sumber data, yaitu data primer dan data sekunder.
a. Data Primer
Data primer merupakan data yang didapatkan langsung dari objek penelitian.
Data primer pada penelitian ini didapatkan dari suvery opini berupa kuesioner yang diisi oleh para pihak yang berkaitan langsung dengan proyek Bendungan Lau Simeme Paket-I
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang bersumber dari dokumen proyek yang sedang dikerjakan, seperti Rencana Anggaran Biaya (RAB), Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP), Time Schedule, dan laporan mingguan proyek.
3.3.2. Prosedur Penelitian
Penenlitian ini menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Adapun diagram alir penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Mulai
Identifikasi dan Perumusan Masalah
Studi Literatur terkait
Melakukan pengumpulan data
Data Sekunder:
- RAB dan AHS - Kurva S
- Laporan Mingguan Data Primer:
- Survei lapangan - Wawancara - Kuesioner
Mengidentifikasi potensi risiko dengan metode Fault Tree Analysis (FTA)
Menggambar konstruksi Fault Tree Analysis (FTA)
Melakukan penilaian risiko dengan metode Failure Mode and Effect Analysis
Menentukan nilai severity, occurance, dan detectability
Menentukan nilai Risk Priority Number (RPN)
Selesai
Kesimpulan dan Saran
Melakukan pemeringkatan dan pemetaan risiko
Gambar 3.2. Diagram alir penelitian
Prosedur penelitian tugas akhir ini akan dijabarkan sebagai berikut.
1. Identifikasi Masalah
Pada tahap ini dilakukan perumusan masalah pada topik tugas akhir agar mendapatkan tujuan penelitian yang terarah. Selanjutnya dilakukan studi literatur agar mendapatkan referensi dan bahan perbandingan dalam penelitian ini.
2. Studi Literatur
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai analisa dalam penelitian ini, maka diperlukan studi literatur yang mendukung topik penelitian ini.
3. Pengumpulan data primer dan sekunder
Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan untuk mendapatkan bahan yang mendukung analisa penelitian. Data yang diperlukan merupakan data yang berkaitan dengan evaluasi kinerja perusahaan dan kondisi terkini objek penelitian.
4. Melakukan identifikasi potensi risiko dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA)
Dalam mengidentifikasi potensi risiko-risiko yang ada dengan metode Fault Tree Analysis (FTA) diperlukan 3 tahap sebagai berikut:
- Menentukan tujuan dari masing-masing kegiatan yang ada
- Menentukan fault event yang terjadi dari masing-masing kegiatan - Menentukan risiko penyebab kegagalan
5. Menggambarkan diagram Fault Tree Analysis (FTA)
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menggambar Fault Tree adalah sebagai berikut.
- Menetapkan kejadian utama (top event)
- Menentukan intermediate event tingkat pertama terhadap kejadian utama
- Menentukan hubungan intermediate event tingkat pertama terhadap kejadian utama menggunakan gerbang logika (logic gate)
- Menetapkan intermediate event tingkat kedua
- Menentukan hubungan intermediate event tingkat kedua terhadap intermediate event tingkat pertama menggunakan gerbang logika (logic gate)
- Melanjutkan sampai basic event
6. Melakukan penilaian risiko dengan menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)
Pada tahap ini dilakukan penilaian risiko terhadapt risiko-risiko yang telah diidentifikasi. Tahap ini diawali dengan menentukan potensial effect, risk cause, dan current control. Identifikasi terhadap potensial effect diperlukan untuk mengetahui tingkat keparahan jika risiko terjadi atau severity. Identifikasi terhadap risk cause diperlukan untuk menilai seberapa sering kemungkinan suatu kegagalan dapat terjadi atau occurance. Kemudian identifikasi terhadap current control diperlukan untuk mengukur kemampuan mendeteksi suatu risiko. Identifikasi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung dan wawancara dengan pihak terkait yang kompeten.
7. Menentukan nilai severity, occurance, dan detectability
Risiko-risiko yang telah diidentifikasi kemudian dilakukan penentuan nilai severity, occurance, dan detectability. Penentuan nilai severity, occurance, dan detectability dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kepada pihak terkait yang kompeten.
Adapun penentuan nilai severity, occurance, dan detectability dilakukan dengan skala pengukuran sebagai berikut.
Tabel 3.1. Skala severity
Rating Kriteria
1 Dapat diabaikan
2 Ringan
3 Moderat
4 Tinggi
5 Fatal
Tabel 3.2. Skala occurance
Rating Kriteria
1 Jarang terjadi
2 Kecil kemungkinan terjadi 3 Mungkin dapat terjadi
4 Sering terjadi
5 Hampir pasti terjadi
Tabel 3.3. Skala detectability
Rating Kriteria
1 Sangat mudah
2 Mudah
3 Sedang
4 Sulit
5 Sangat sulit
8. Melakukan perhitungan Risk Priority Number (RPN)
Setelah melakukan penilaian terhadap risiko, selanjutnya dilakukan perhitungan Risk Priority Number (RPN) dari keseluruhan risiko. Risk Priority Number dapat diperoleh melalui rumus 2.2 pada subbab 2.10.
9. Melakukan pemeringkatan dan pemetaan risiko
Setelah perhitungan terhadap nilai Risk Priority Number (RPN) didapat, maka selanjutnya dilakukan pemeringkatan risiko untuk menentukan prioritas risiko berdasarkan perhitungan.
Selanjutnya dilakukan pemetaan risiko dengan menggunakan dua penilaian yaitu severity dan occurance. Pemetaan risiko dilakukan dengan level risiko yang terdiri dari low risk, medium risk, dan high risk.
10. Kesimpulan dan saran
Pada tahap terakhir dilakukan penarikan kesimpulan atas penelitian yang sudah dilakukan dan menyertakan saran sebagai pengembangan untuk penelitian yang akan dilakukan di masa mendatang.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pelaksanaan Penelitian
Pada bab ini akan dipaparkan mengenai pengumpulan dan pengolahan data yang terdiri dari profil perusahaan kontraktor, profil proyek, identifikasi risiko yang terjadi, serta penilaian risiko yang dilakukan pada penelitian Tugas Akhir ini.
4.1.1. Profil Perusahaan Kontraktor
Perusahaan kontraktor yang menangani proyek pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket–I adalah PT. Wijaya Karya Tbk. yang merupakan salah satu perusahaan konstruksi milik Pemerintah Indonesia. Pada awal pendiriannya, kegiatan usaha yang dijalankan PT. Wijaya Karya Tbk. adalah pekerjaan instalasi listrik dan pipa air, sebelum akhirnya menjadi perusahaan kontraktor sipil dan bangunan.
Dalam membangun Bendungan Lau Simeme Paket–I, PT. Wijaya Karya Tbk. membentuk sebuah kerjasama operasional dengan PT. Bumi Karsa membentuk WIKA-BUMI KARSA, KSO. PT. Bumi Karsa sendiri merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan telah memiliki pengalaman dan kompetensi di sektor jasa konstruksi selama lebih dari 45 tahun.
4.1.2. Profil Proyek
Proyek pembangunan Bendungan Lau Simeme secara administrasi berada di Kabupaten Deli Serdang, tepatnya berada di Desa Kuala Dekah, Desa Rumah Gerat, Desa Sari Laba Jahe, dan Desa Penen dengan sumber material/quarry berada di Desa Mardinding Julu. Letak proyek secara geografis berada diantara 03°19'14"-03°21'12" Lintang Utara dan 98°37'35"-98°39'08" Bujur Timur.
Karena tingginya debit banjir yang terjadi menyebabkan genangan yang cukup lama dan merugikan bagi perputaran ekonomi di Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan, maka dilakukan pencarian alternatif sebagai solusi untuk mengurangi dampak akibat banjir tersebut. Alternatif yang kemudian untuk
mengatasi permasalahan banjir yang terjadi karena besarnya debit banjir Sungai Percut dan Sungai Deli adalah dengan pembangunan Bendungan Lau Simeme.
Pembangunan Bendungan Lau Simeme di Kabupaten Deli Serdang mempunyai tujuan sebagai bentuk pengendalian banjir di kota Medan dan sekitarnya dari periode ulang 25 tahunan (Q25) menjadi periode ulang 40 tahunan (Q40), penyediaan air baku untuk kebutuhan Kota Medan dan sekitarnya sebanyak 3000 l/dt, penyediaan energi listrik sekitar 2,80 MW, serta menyediakan area pariwisata baru.
Studi kelayakan telah dilakukan sejak tahun 1992 oleh Japan International Cooperation Agency (JICA). Pembuatan desain struktur utama Bendungan Lau Simeme dimulai sejak tahun 2008. Tahapan kontruksi kemudian dilaksanakan pada tahun 2017 dan dijadwalkan selesai pada tahun 2022.
4.2. Identifikasi Risiko
4.2.1. Konstruksi Diagram Fault Tree Analysis (Analisa Kualitatif)
Identifikasi risiko keterlambatan pada proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme dilakukan dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis. Dalam mengidentifikasi risiko keterlambatan yang ada dilakukan dengan tiga tahapan berikut.
- Menentukan tujuan dari masing-masing kegiatan yang ada
- Menentukan fault event yang terjadi dari masing-masing kegiatan - Menentukan risiko penyebab kegagalan
Gambar di bawah ini merupakan fault tree dari aktivitas yang ada pada proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme.
a. Pekerjaan Persiapan
b. Pekerjaan Jalan
Jalan akses sempit dan berliku-liku
R-1
Kesulitan mobilisasi sumber daya
T-1 Mobilisasi sumber daya
ke lokasi
Kondisi tanah tidak stabil
R-2
Permintaan masyarakat untuk menambah lebar dan bahu jalan
R-3 Pekerjaan peningkatan
jalan masuk
Perubahan desain pada waktu pelaksanaan
T-2
Gambar 4.1. Fault tree aktivitas A1-1
Gambar 4.2. Fault tree aktivitas A2-1
c. Pekerjaan bendungan
Pekerjaan dewatering
Cuaca tidak menentu/hujan
R-7
Lokasi kerja tergenang
T-4
Sungai banjir
R-8
Pompa air tidak berfungsi dengan baik
R-5 Kekurangan alat
dewatering R-4
Pengalihan air tanah kurang efektif
T-3
Kapasitas pompa air tidak cukup besar
R-6
Gambar 4.3. Fault tree aktivitas A3-1
Gambar 4.4. Fault tree aktivitas A3-2 bagian pertama
Pekerjaan main dam dan cofferdam
Lahan disposal terkena luapan air akibat banjir
R-11
Akses menuju lahan disposal sulit
R-12 Luas lahan disposal
sangat terbatas
R-9
Jarak lahan disposal jauh
R-10
Keterbatasan mobilisasi sumber daya akibat
COVID-19
Gambar 4.5. Fault tree aktivitas A3-2 bagian kedua
1
Lahan sudah terlebih dahulu ditempati
masyarakat
R-14 Ijin pelepasan kawasan
hutan lama dikeluarkan
R-13
3
Pengalihan sebagian besar anggaran proyek untuk sektor kesehatan akibat pandemi
COVID-19 R-17
2
Pembatasan Sosial Berskala Besar akibat
pandemi COVID-19
R-15
Pekerja terpapar virus COVID-19
R-16
Gambar 4.6. Fault tree aktivitas A3-2 bagian ketiga
Gambar 4.7. Fault tree aktivitas A3-2 bagian keempat
d. Pekerjaan bangunan pengelak
Demo oleh warga di sekitar batching plant
R-18 Pekerjaan terowongan
pengelak
Gejolak sosial di sekitar bangunan pengelak
T-9
Kondisi peralatan tidak memadai
T-10 Pekerjaan penyemprotan
shotcrete
Material sisa penyemprotan shotcrete
menumpuk
R-20 Alat penyemprotan
shotcrete rusak/tidak dapat digunakan
R-19
Gambar 4.8. Fault tree aktivitas A4-1
Gambar 4.9. Fault tree aktivitas A4-2
e. Pekerjaan bangunan pelimpah
f. Pekerjaan bangunan pengambil
Demo oleh warga dikarenakan jalan menuju disposal rusak
R-21
Pekerjaan galian dan timbunan
Gejolak sosial di sekitar bangunan pelimpah
T-11
Pekerjaan galian masih menggunakan sistem mekanis
R-22 Produktifitas rendah
T-12
Ketidakpastian kondisi di lapangan
T-13 Konstruksi bangunan
pengambil
Struktur tahan yang keras menghambat pekerjaan
galian
R-24 Area lahan kerja diluar
perkiraan berupa tebing batuan terjal
R-23
Gambar 4.10. Fault tree aktivitas A5-1
Gambar 4.11. Fault tree aktivitas A6-1
g. Pekerjaan bangunan fasilitas
Gambar berikut menunjukkan model fault tree dari keseluruhan risiko keterlambatan yang terjadi pada proyek pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket-1.
Terdapat gudang handak disekitar lokasi bangunan fasilitas
R-25 Konstruksi bangunan
fasilitas
Konstruksi bangunan fasilitas terhambat
T-14
Gambar 4.12. Fault tree aktivitas A7-1
Gambar 4.13. Model fault tree keseluruhan risiko keterlambatan
Tabel berikut menunjukkan hasil identifikasi risiko terhadap 7 pekerjaan pada proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme. Tabel 4.1. Hasil identifikasi risiko dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis Kode AktivitasAktivitasKode Event Fault EventKode RisikoRisikoTujuan Aktivitas A1Pekerjaan persiapan A1-1Mobilisasi sumber daya ke lokasiT-1Kesulitan mobilisasi sumber daya
R-1Jalan akses sempit dan berliku-likuMobilisasi peralatan konstruksi, fasilitas kontraktor (kantor, rumah, air bersih, komunikasi, listrik), dll. R-2Kondisi tanah tidak stabil A2Pekerjaan jalan A2-1Pekerjaan peningkatan jalan masukT-2Perubahan desain pada waktu pelaksanaanR-3Permintaan masyarakat untuk menambah lebar jalan dan bahu jalan
Memperlebar jalan masuk ke area konstruksi …..…..…..…..…..…..….. A7Pekerjaan bangunan fasilitas A7-1Konstruksi bangunan fasilitasT-14 Konstruksi bangunan fasilitas terhambatR-25Terdapat gudang handak disekitar lokasi bangunan fasilitas
Membangun rumah dinas, pos jaga, kantor konsultan dan PU, gudang, rumah generator, bengkel, gardu pandang, dan kantor kontraktor Hasil identifikasi risiko terhadap pekerjaan pada proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2
4.2.2. Probabilitas Basic Event (Analisa Kuantitatif)
Setelah menyelesaikan konstruksi diagram Fault Tree Analysis, langkah yang dilakukan selanjutnya adalah menentukan besarnya probabilitas dari setiap basic event, dalam hal ini probabilitas risiko keterlambatan yang teridentifikasi sebelumnya. Probabilitas dari masing-masing basic event memakai frequency index seperti pada tabel berikut.
Tabel 4.2. Frequency Index
FI Keterangan Nilai Kuantitaif 1 Tidak pernah terjadi 0
2 Jarang terjadi 0,25
3 Kadang terjadi 0,5
4 Sering terjadi 0,75
5 Sangat sering terjadi 1
Metode yang digunakan adalah kuesioner dan wawancara kepada pihak yang kompeten dan berpengalaman. Penilaian tersebut kemudian disesuaikan dengan tabel Frequency Index yang tersedia. Tabel di bawah ini menunjukkan besarnya probabilitas dari setiap basic event.
Tabel 4.3. Probabilitas Basic Event Kode
Aktivitas
Kode
Risiko Risiko Probabilitas
A1 Pekerjaan persiapan
A1-1
R-1 Jalan akses sempit dan berliku-liku 0,5
R-2 Kondisi tanah tidak stabil 0,75
A2 Pekerjaan jalan
A2-1 R-3 Permintaan masyarakat untuk menambah lebar jalan
dan bahu jalan 0,75
A3 Pekerjaan bendungan
A3-1
R-4 Kekurangan alat dewatering 0,25
R-5 Pompa air tidak berfungsi dengan baik 0,5 R-6 Kapasitas pompa air tidak cukup besar 0,5
R-7 Cuaca tidak menentu/hujan 0,75
Kode Aktivitas
Kode
Risiko Risiko Probabilitas
R-8 Sungai banjir 0,75
R-9 Luas lahan disposal sangat terbatas 0,75
A3-2
R-10 Jarak lahan disposal jauh 0,5
R-11 Lahan disposal terkena luapan air akibat banjir 0,25
R-12 Akses menuju lahan disposal sulit 0,5
R-13 Ijin pelepasan kawasan hutan terlalu lama
dikeluarkan 0,5
R-14 Lahan sudah terlebih dahulu ditempati masyarakat 0,5 R-15 Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat
pandemi COVID-19 0,75
R-16 Pekerja terpapar COVID-19 0,5
R-17 Pengalihan sebagian besar anggaran proyek untuk
sektor kesehatan akibat pandemi COVID-19 0,5 A4 Pekerjaan bangunan pengelak
A4-1 R-18 Demo oleh warga disekitar batching plant 0,5
A4-2
R-19 Alat penyemprotan shotcrete rusak tidak dapat
digunakan 0,25
R-20 Material sisa penyemprotan shotcrete menumpuk 0,25 A5 Pekerjaan bangunan pelimpah
A5-1
R-21 Demo oleh warga dikarenakan jalan menuju
disposal rusak 0,75
R-22 Pekerjaan galian masih menggunakan sistem
mekanis 0,5
A6 Pekerjaan bangunan pengambil
A6-1
R-23 Area lahan kerja diluar perkiraan, berupa tebing
batuan terjal 0,75
R-24 Struktur tanah yang keras menghambat pekerjaan
galian 0,75
A7 Pekerjaan bangunan fasilitas
A7-1 R-25 Terdapat gudang handak disekitar lokasi bangunan
fasilitas 0,25
Grafik di bawah ini menampilkan hasil perhitungan probabilitas dari setiap aktivitas yang ada pada Proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket-1.
Gambar 4.14. Grafik Perbandingan Probabilitas Basic Event
Grafik di atas menampilkan hasil perhitungan probabilitas dari setiap aktivitas yang ada pada Proyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme Paket-1.
Berdasarkan perhitungan total probabilitas diketahui bahwa aktivitas A3-2, yaitu aktivitas pekerjaan main dam dan coffer dam, memiliki probabilitas tertinggi sebesar 4,75.
1,25
0,75
2,75
4,75
1
0,5
1,25 1,5
0,25 0
0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 5
A1-1 A2-1 A3-1 A3-2 A4-1 A4-2 A5-1 A6-1 A7-1
Grafik Perbandingan Probabilitas Basic Event
Nilai kuantitatif
Kode risiko
4.3. Penilaian Risiko
4.3.1. Identifikasi Potential Effect, Risk Cause, dan Current Control
Penilaian risiko dilakukan dengan melakukan identifikasi potential effect, risk cause, dan current control terlebih dahulu berdasarkan masing-masing risiko yang telah teridentifikasi melalui metode Fault Tree Analysis. Identifikasi terhadap potensial effect diperlukan untuk mengetahui tingkat keparahan jika risiko terjadi atau severity. Identifikasi terhadap risk cause diperlukan untuk menilai seberapa sering kemungkinan suatu risiko keterlambatan dapat terjadi atau occurance.
Kemudian identifikasi terhadap current control diperlukan untuk mengukur kemampuan mendeteksi suatu risiko. Identifikasi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung dan wawancara dengan pihak terkait yang kompeten.
Hasil identifikasi terhadap potential effect, risk cause, dan current control dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.4. Hasil identifikasi potential effect, risk cause, dan current control Kode AktivitasAktivitasKode RisikoRisikoPotential Effect Risk CauseCurrent Control A1Pekerjaan persiapan A1-1Mobilisasi sumber daya ke lokasi R-1Jalan akses sempit dan berliku-liku Kendaraan pengangkut logistik konstruksi sulit memasuki area konstruksi Kondisi jalan masuk existing tidak cukup muat untuk kendaraan pengangkut logistik konstruksi
Pelebaran jalan masuk area konstruksi R-2Kondisi tanah tidak stabilKerusakan peralatan saat mobilisasiTanah disekitar lokasi berupa tanah gambut dan lunak
Pemadatan tanah di jalan masuk area konstruksi A2Pekerjaan jalan A2-1Pekerjaan peningkatan jalan masukR-3Permintaan masyarakat untuk menambah lebar jalan dan bahu jalan
Desain pelebaran jalan masuk direvisi Masyarakat meminta penambahan lebar dan penambahan bahu jalan
Melakukan mediasi dengan masyarakat sekitar …..…..…..…..…..…..….. A7Pekerjaan bangunan fasilitas A7-1Konstruksi bangunan fasilitasR-25Terdapat gudang handak disekitar lokasi bangunan fasilitas
Pengerjaan bangunan fasilitas terhambatGudang handak masuk dalam area bangunan fasilitas
Melakukan observasi lokasi gudang handak yang baru Hasil identifikasi terhadap potential effect, risk cause, dan current control padasetiap pekerjaan padaproyek Pembangunan Bendungan Lau Simeme selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3
4.3.2. Penentuan Nilai Severity, Occurance, dan Detectability
Untuk menentukan nilai severity, occurance, dan detectability dilakukan penyebaran kuesioner kepada 6 orang yang dianggap kompeten dan berpengalaman.
Kriteria penilaian menggunakan skala 1 sampai 5. Jumlah responden yang terbagi atas jabatan pekerjaan responden pada proyek yang sedang berlangsung dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.5. Profil responden
No Jabatan Jumlah Responden
1 Site Operation Manager 1 2 Site Engineer Manager 2
3 Supervisor 2
4 General Superintendent 1
Jumlah 6
Hasil penilaian untuk masing masing kriteria terdapat pada tabel 4.4.
Tabel 4.6. Hasil penilaian severity, occurance, dan detectability Kode
Risiko Risiko Severity Occurance Detectability
R-1 Jalan akses sempit dan
berliku-liku 3 3 3
R-2 Kondisi tanah tidak stabil 3 4 2
R-3
Permintaan masyarakat untuk menambah lebar jalan dan bahu jalan
3 4 3
R-4 Kekurangan alat dewatering 3 2 3
R-5 Pompa air tidak berfungsi
dengan baik 3 3 2
R-6 Kapasitas pompa air tidak
cukup besar 3 3 2
R-7 Cuaca tidak menentu/hujan 4 4 3
R-8 Sungai banjir 4 4 4
R-9 Luas lahan disposal sangat
terbatas 3 4 3
R-10 Jarak lahan disposal jauh 3 3 3
R-11 Lahan disposal terkena luapan
air akibat banjir 3 2 3
Kode
Risiko Risiko Severity Occurance Detectability
R-12 Akses menuju lahan disposal
sulit 4 3 3
R-13 Ijin pelepasan kawasan hutan
terlalu lama dikeluarkan 4 3 3
R-14 Lahan sudah terlebih dahulu
ditempati masyarakat 4 3 3
R-15
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi COVID-19
3 4 2
R-16 Pekerja terpapar COVID-19 4 3 4
R-17
Pengalihan sebagian besar anggaran proyek untuk sektor kesehatan akibat pandemi COVID-19
4 3 4
R-18 Demo oleh warga disekitar
batching plant 4 3 3
R-19 Alat penyemprotan shotcrete
rusak tidak dapat digunakan 4 2 4
R-20 Material sisa penyemprotan
shotcrete menumpuk 2 2 2
R-21 Demo oleh warga dikarenakan
jalan menuju disposal rusak 4 4 3
R-22 Pekerjaan galian masih
menggunakan sistem mekanis 3 3 3
R-23
Area lahan kerja diluar
perkiraan, berupa tebing batuan terjal
3 4 3
R-24 Struktur tanah yang keras
menghambat pekerjaan galian 3 4 3
R-25
Terdapat gudang handak disekitar lokasi bangunan fasilitas
2 2 3
Setelah mendapatkan nilai severity, occurance, dan detectability didapatkan hasil rekapitulasi nilai severity, occurance, dan detectability dari keseluruhan risiko keterlambatan yang teridentifikasi.
Gambar berikut menunjukkan hasil rekapitulasi dari nilai severity.
Gambar 4.15. Hasil rekapitulasi nilai severity
Dari hasil rekapitulasi nilai severity terhadap keseluruhan risiko yang teridentifikasi menunjukkan bahwa terdapat 10 risiko yang memiliki tingkat keparahan tinggi, yaitu nilai 4. Risiko tersebut antara lain adalah R-8 (sungai banjir), R-21 (demo oleh warga dikarenakan jalan menuju disposal rusak), R-7 (cuaca tidak menentu/hujan), R-17 (pengalihan sebagian besar anggaran proyek untuk sektor kesehatan akibat pandemi COVID-19), R-16 (pekerja terpapar COVID-19), R-18 (demo oleh warga disekitar batching plant), R-14 (lahan sudah ditempati terlebih dahulu oleh masyarakat), R-13 (ijin pelepasan kawasan hutan terlalu lama dikeluarkan), R-12 (akses menuju lahan disposal sulit), dan R-19 (alat penyemprotan shotcrete rusak tidak dapat digunakan).
0 1 2 3 4 5
R-8 R-21 R-7 R-17 R-16 R-18 R-14 R-13 R-12 R-19 R-24 R-3 R-9 R-23 R-22 R-10 R-1 R-15 R-2 R-5 R-6 R-11 R-4 R-25 R-20
Skala severity
Kode risiko
Gambar dibawah ini menunjukkan hasil rekapitulasi dari nilai occurance.
Gambar 4.16. Hasil rekapitulasi nilai occurance
Dari hasil rekapitulasi nilai occurance terhadap keseluruhan risiko yang teridentifikasi menunjukkan bahwa terdapat 9 risiko yang memiliki tingkat kemungkinan risiko sering terjadi, yaitu nilai 4. Risiko tersebut antara lain adalah R-8 (sungai banjir), R-21 (demo oleh warga dikarenakan jalan menuju disposal rusak), R-7 (cuaca tidak menentu/hujan), R-24 (struktur tanah yang keras menghambat pekerjaan galian), R-3 (permintaan masyarakat untuk menambah lebar jalan dan bahu jalan), R-9 (luas lahan disposal sangat terbatas), R-23 (area lahan kerja diluar perkiraan, berupa tebing batuan terjal), R-15 (Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi COVID-19), dan R-2 (kondisi tanah tidak stabil).
0 1 2 3 4 5
R-8 R-21 R-7 R-24 R-3 R-9 R-23 R-15 R-2 R-17 R-16 R-18 R-14 R-13 R-12 R-22 R-10 R-1 R-5 R-6 R-19 R-11 R-4 R-25 R-20
Skala occurance
Kode risiko
Gambar dibawah ini menunjukkan hasil rekapitulasi dari nilai detectability.
Gambar 4.17. Hasil rekapitulasi nilai detectability
Dari hasil rekapitulasi nilai detectability terhadap keseluruhan risiko yang teridentifikasi menunjukkan bahwa terdapat 4 risiko yang memiliki tingkat terdeteksinya risiko keterlambatan sulit terdeteksi, yaitu nilai 4. Risiko tersebut antara lain adalah R-8 (sungai banjir), R-17 (pengalihan sebagian besar anggaran proyek untuk sektor kesehatan akibat pandemi COVID-19), R-16 (pekerja terpapar COVID-19), dan R-19 (alat penyemprotan shotcrete rusak tidak dapat digunakan).
4.3.3. Perhitungan nilai Risk Priority Number (RPN)
Perhitungan nilai Risk Priority Number dapat diperoleh melalui rumus 2.1 pada subbab 2.10. Hasil perhitungan nilai Risk Priority Number untuk masing masing risiko terdapat pada tabel 4.7.
0 1 2 3 4 5
R-8 R-17 R-16 R-19 R-21 R-7 R-18 R-14 R-13 R-12 R-24 R-3 R-9 R-23 R-22 R-10 R-1 R-11 R-4 R-25 R-15 R-2 R-5 R-6 R-20
Skala detectability
Kode risiko
Tabel 4.7. Hasil perhitungan nilai Risk Priority Number (RPN) Kode
Risiko Risiko RPN
R-1 Jalan akses sempit dan berliku-liku 27
R-2 Kondisi tanah tidak stabil 24
R-3 Permintaan masyarakat untuk menambah lebar jalan dan bahu
R-3 Permintaan masyarakat untuk menambah lebar jalan dan bahu