BAB I. PENDAHULUAN
1.6. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan terbagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut:
BAB 1: PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang mengapa penelitian ini dilakukan, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, batasan masalah dalam penelitian serta manfaat dari penelitian.
BAB 2: TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan tentang dasar-dasar teori yang menjadi acuan dalam memecahkan masalah dalam penelitian dan metode-metode yang digunakan seperti Fault Tree Analysis dan Failure Mode and Effect Analysis.
BAB 3: METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisikan tentang langkah-langkah yang harus dijalankan agar penelitian berjalan dengan terstruktur dan sistematis agar mencapai tujuan penelitian.
BAB 4: HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisikan tentang hasil pengolahan data penelitian dan pembahasannya.
BAB 5: KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisikan tentang penarikan kesimpulan terhadap hasil penelitian dan pembahasan, serta pemberian saran terhadap penelitian yang dilakukan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Umum
Pembangunan Bendungan Lau Simeme di Kabupaten Deli Serdang mempunyai tujuan sebagai bentuk pengendalian banjir di kota Medan dan sekitarnya dari periode ulang 25 tahunan (Q25) menjadi periode ulang 40 tahunan (Q40), penyediaan air baku untuk kebutuhan kota Medan dan sekitarnya sebanyak 3000 l/dt, penyediaan energi listrik sekitar 2,80 MW, serta menyediakan area pariwisata baru.
Keterlambatan penyelesaian proyek merupakan hal yang harus dihindari oleh pelaksana proyek. Keterlambatan dapat menyebabkan tambahan biaya bagi pelaksana proyek, karena harus membayar pinalti kepada pihak pemilik proyek, atau memperpanjang sewa alat berat yang seharusnya sudah selesai. Hal-hal seperti ini akan berakibat pada berkurangnya keuntungan bagi pihak pelaksana proyek.
Dalam upaya dalam mencegah keterlambatan sebuah proyek, pelaksana proyek dapat melakukan penyempurnaan jadwal kegiatan atau melakukan peningkatan produktifitas pekerja sehingga pelaksanaan proyek dapat menghasilkan keuntungan yang maksimal bagi pelaksana proyek.
Penyelesaian proyek yang tepat waktu merupakan tantangan klasik bagi pelaksana proyek. Agar persoalan tentang keterlambatan proyek tidak terulang, maka perlu dilakukan pencarian terhadap faktor-faktor apa saja yang menyebabkan keterlambatan tersebut.
Metode yang dapat digunakan untuk menganalisis keterlambatan proyek adalah metode Fault Tree Analysis (FTA). Metode FTA adalah metode yang berguna untuk menemukan kegagalan sistem. Metode FTA adalah metode berorientasi fungsi atau umumnya disebut metode top-down karena metode tersebut dimulai dengan sistem di atas dan berlanjut ke bawah. Sistem yang dimaksud disini adalah pelaksanaan proyek, dan kegagalan sistem adalah keterlambatan pelaksanaan proyek.
Kemudian, untuk menemukan prioritas dalam mengidentifikasi kegagalan dalam sebuah sistem dapat menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Metode FMEA digunakan untuk meningkatkan keandalan dan keamanan dari sebuah sistem dengan menemukan potensi kegagalan dalam sistem tersebut.
Mode kegagalan kemudian dinilai menggunakan tiga parameter, yaitu tingkat keparahan/severity (S), kemungkinan terjadi/occurance (O), dan kemungkinan kegagalan terdeteksi/detectability (D). Kombinasi ketiga parameter ini dikenal sebagai Angka Prioritas Risiko/Risk Priority Number (RPN).
2.2. Definisi Proyek
Sebuah proyek dapat didefinisikan sebagai sebuah aktivitas yang berlangsung dalam waktu tertentu, dengan memakai sumber daya yang telah ditentukan terlebih dahulu, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sejak awal (Soeharto, 1995: 1).
Pengertian proyek diatas menunjukkan bahwa sebuah proyek memiliki ciri-ciri pokok, yaitu (Soeharto, 1995: 1):
a. sebuah proyek diadakan untuk mencapai hasil akhir yang telah ditetapkan, b. dalam mencapai hasil akhir tersebut diperlukan biaya, jadwal, dan standar
mutu/kualitas,
c. sebuah proyek memiliki batasan waktu dalam pengerjaannya,
d. kegiatan di dalam proyek tidak repetitif karena karakteristik tersendiri yang dimiliki sebuah proyek.
Sebuah proyek dalam mencapai tujuan akhir memiliki batasan-batasan seperti batasan biaya yang dianggarkan, jadwal yang harus dicapai, serta kualitas pengerjaan yang harus dipenuhi. Ketiga batasan tersebut disebut triple constrain.
Batasan-batasan ini kemudian dijadikan tolok ukur agar tujuan sebuah proyek berhasil dicapai (Soeharto, 1995: 2).
a. Biaya (Anggaran)
Biaya memegang peranan dalam sebuah proyek mencapai tujuannya.
Sebuah proyek harus dapat dirampungkan dengan biaya yang tidak melampaui anggaran proyek tersebut. Jika sebuah proyek memerlukan biaya yang besar dan
memakan waktu bertahun-tahun, maka biaya dapat dibagi-bagi atas beberapa komponen (contohnya dibagi menjadi beberapa paket pekerjaan) atau dibagi-bagi berdasarkan rentang waktu tertentu (contohnya multi-years contract). Proyek tersebut juga harus memenuhi target penyelesaian berdasarkan pembagian tersebut.
b. Jadwal (Waktu)
Sebuah proyek memiliki titik awal (starting point) dan titik akhir (ending point). Oleh karena itu, proyek tersebut harus dikerjakan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
c. Mutu (Kualitas)
Sebuah proyek haruslah mengikuti sebuah standar mutu/kualitas yang dipersyaratkan. Dengan begitu, hasil akhirnya sebuah proyek dapat melaksanakan tugas sebagai mana yang ditetapkan sebagai tujuan proyek, atau disebut fit for intended use.
Ketiga batasan memiliki keterikatan antara satu dengan yang lainnya.
Dengan artian, jika ingin meningkatkan kualitas hasil akhir proyek, maka akan ada biaya lebih yang harus dibayarkan atau penambahan jadwal pengerjaan. Jika ingin melakukan percepatan jadwal, maka harus membayar biaya lebih untuk peruntukan seperti biaya lembur pekerja. Atau jika ingin menekan biaya pengerjaan, maka akan ada yang dikorbankan seperti mutu pengerjaan proyek.
Biaya (Anggaran)
Jadwal (Waktu) Mutu (Kualitas) Gambar 2.1 Tiga batasan proyek (triple constraint)
(Soeharto, 1995: 2)
2.3. Manajemen Proyek
Manajemen proyek dapat diartikan sebagai penerapan ilmu pengetahuan, keahlian, dan keterampilan, cara teknis yang terbaik dan dengan sumber daya yang terbatas, untuk mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditentukan agar mendapatkan hasil yang optimal dalam hal kinerja, biaya, mutu, waktu, serta keselamatan kerja (Husen, 2011: 5).
Manajemen proyek memungkinkan setiap pihak dalam sebuah proyek melaksanakan tugasnya masing-masing dan mencegah tugas dan tanggung jawab saling tumpang tindih (overlap) karena dengan manajemen proyek dapat terlihat sebuah batasan tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari setiap pihak yang terlihat dalam aktivitas proyek.
Jika manajemen proyek dijalankan dengan baik, maka proyek akan mengeluarkan output yang sesuai dengan tujuan akhir yang telah ditetapkan, yaitu:
- Tepat biaya - Tepat mutu - Tepat waktu
- Terlaksananya safety/K3 dengan baik
- Tidak terdapat gejolak sosial pada masyarakat sekitar 2.4. Tahapan Proyek Konstruksi
Aktivitas dalam sebuah proyek konstruksi berisikan tahapan-tahapan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Menurut Ervianto (2008: 15), terlaksananya sebuah proyek melalui beberapa tahapan utama sebagai berikut:
a. Tahap Studi Kelayakan (feasibility study)
Tujuan dari tahap studi kelayakan adalah untuk menunjukkan kepada pemilik proyek bahwa proyek konstruksi yang akan dilaksanakan memenuhi kriteria dari segi perencanaan dan perancangan, segi biaya dan anggaran, maupun segi dampak terhadap lingkungan. Beberapa kegiatan pada tahap ini adalah:
- Mempersiapkan draf rencana proyek serta estimasi biaya yang harus dianggarkan
- Mempertimbangkan manfaat yang akan diperoleh setelah proyek selesai, baik manfaat terhadap perekonomian maupun manfaat secara sosial - Mempersiapkan analisa kelayakan proyek, dari aspek ekonomis maupun
finansial
- Melakukan analisa terhadap lingkungan sekitar jika proyek tersebut dilaksanakan.
b. Tahap Penjelasan (briefing)
Pada tahap ini, pemilik proyek menjelaskan fungsi dari proyek yang akan dilaksanakan dan batasan biaya yang disetujui agar pelaksana konstruksi dapat mengetahui keinginan pemilik proyek dan membuat anggaran biaya yang dibutuhkan. Beberapa kegiatan pada tahap ini adalah:
- Mempersiapkan rencana kerja dan menunjuk para pelaksana konstruksi - Mempertimbangkan kebutuhan pemakaian, keadaan di lokasi, mempersiapkan draf ruang lingkup kerja, jadwal, anggaran biaya, serta standar mutu
- Mempersiapkan draf gambar dengan skala tertentu untuk menggambarkan situasi di lokasi proyek.
c. Tahap Perancangan (design)
Tahap perancangan merupakan tahapan untuk memperjelas manfaat proyek dengan menentukan tata letak, rancangan, metode konstruksi yang digunakan, serta anggaran biaya agar kemudian disetujui oleh pemilik proyek serta pihak berwenang yang terkait. Pada tahapan ini seluruh informasi pelaksanaan seperti gambar rencana dan dokumen tender telah lengkap. Beberapa kegiatan pada tahap ini adalah:
- Melakukan pengembangan draf rencana proyek menjadi penyelesaian akhir
- Melakukan pemeriksaan masalah teknis
- Mendapatkan persetujuan draf rencana proyek dari pemilik proyek
- Mempersiapan anggaran biaya akhir, rancangan yang detail, gambar kerja, spesifikasi, jadwal, daftar kuantitas, program pelaksanaan pendahuluan.
d. Tahap Pengadaan/Pelelangan (procurement/tender)
Tujuan dari tahap pengadaan/pelelangan adalah untuk mendapatkan penawaran, menyeleksi, dan kemudian menunjuk kontraktor atau subkontraktor yang akan melaksanakan proyek konstruksi. Kontraktor memberikan penawaran yang kompetetif dari segi biaya serta spesifikasi yang dipersyaratkan.
e. Tahap Pelaksanaan (construction)
Pada tahap ini konstruksi mulai dilaksanakan dengan mengikuti batasan biaya dan waktu yang telah disetujui, serta dengan standar mutu yang telah diminta.
Beberapa kegiatan pada tahap ini adalah perencanaan dan pengendalian jadwal pelaksanaan, organisasi, tenaga kerja, peralatan, material, serta koordinasi seluruh operasional di lapangan.
f. Tahap Pemeliharaan dan Persiapan Penggunaan (maintenance, startup, and implementation)
Tahap ini bertujuan agar proyek konstruksi yang telah selesai dilaksanakan sesuai dengan dokumen kontrak yang telah disepakati sebelumnya dan bekerja sebagaimana mestinya untuk mencapai manfaat yang ditetapkan di awal. Beberapa kegiatan pada tahapan ini adalah:
- Mempersiapkan laporan administrasi seperti surat menyurat, laporan keuangan, dokumen kontrak dan perubahannya, serta gambar terlaksana (as-built drawing)
- Melakukan observasi secara visual di lapangan untuk melihat apakah terdapat kerusakan atau cacat yang mungkin terjadi di lapangan
- Membuat petunjuk program pemeliharaan bangunan.
2.5. Proyek Konstruksi Bendungan
Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2010 menjelaskan bahwa bendungan adalah bangunan yang berupa urugan tanah, batu, beton, dan/atau pasangan batu yang dibangun selain untuk menahan dan menampung air, dapat pula dibangun untuk menahan dan menampung limbah tambang (tailing), atau menampung lumpur sehingga terbentuk waduk. Waduk sendiri memiliki pengertian sebagai wadah buatan yang terbentuk sebagai akibat dibangunnya sebuah bendungan.
Bendungan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu (Soedibyo, 2003):
1. Bendungan berdasarkan ukuran
Terdapat dua jenis bendungan berdasarkan ukurannya, yaitu:
a. Bendungan besar (large dams)
Merupakan bendungan yang dibangun dengan tinggi lebih dari 10 meter, diukur dari bagian terbawah pondasi sampai ke puncak bendungan.
b. Bendungan kecil (small dams)
Merupakan bendungan yang tidak memenuhi syarat sebagai bendungan besar.
2. Bendungan berdasarkan tujuan pembangunan
Terdapat dua jenis bendungan berdasarkan tujuan pembangunannya, yaitu:
a. Bendungan dengan tujuan tunggal (single purpose dams)
Merupakan bendungan yang dibangun untuk memenuhi satu tujuan saja, misalnya hanya untuk pembangkit tenaga listrik atau irigasi atau pengendalian banijr atau tujuan lainnya, tetapi hanya untuk satu tujuan saja.
b. Bendungan serbaguna (multipurpose dams)
Merupakan bendungan yang dibangun untuk memenuhi beberapa tujuan, misalnya untuk pembangkit tenaga listrik (PLTA) dan irigasi;
pengendalian banjir dan PLTA; air minum dan air industri; PLTA, pariwisata dan irigasi, dan lain-lain.
3. Bendungan berdasarkan penggunaan
Terdapat tiga jenis bendungan berdasarkan penggunaannya, yaitu:
a. Bendungan membentuk waduk (storage dams)
Merupakan bendungan yang dibangun untuk membentuk waduk untuk menyimpan air pada waktu kelebihan agar dapat digunakan kembali saaat diperlukan.
b. Bendungan penangkap atau pembelok air (diversion dams)
Merupakan bendungan yang dibangun untuk membuat permukaan air lebih tinggi agar dapat mengalir ke dalam saluran air.
c. Bendungan untuk memperlambat jalannya air (detension dams)
Merupakan bendungan yang dibangun untuk memperlambat aliran air untuk mencegah terjadinya banjir.
4. Bendungan berdasarkan jalannya air
Terdapat dua jenis bendungan berdasarkan jalannya air, yaitu:
a. Bendungan untuk dilewati air (overflowdams)
Merupakan bendungan yang dibangun untuk dilewati air, misalnya pada bangunan pelimpah (spillway).
b. Bendungan untuk menahan air (non overflow dams)
Merupakan bendungan yang dibangun sama sekali tidak boleh dilewati air yang biasanya terbuat dari beton, pasangan batu, atau pasangan bata.
5. Bendungan berdasarkan konstruksi
Terdapat empat jenis bendungan berdasarkan konstruksinya, yaitu:
a. Bendungan serbasama (homogeneus dams)
Merupakan bendungan yang lebih dari setengah volumenya terdiri dari bahan bangunan yang seragam.
b. Bendungan urugan berlapis-lapis (zoned dams)
Merupakan bendungan yang terdiri dari beberapa lapisan yaitu lapisan kedap air (water tight layer), lapisan batu (rock zones), lapisan batu teratur (rip-rap), dan lapisan pengering (filter zones).
c. Bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air di muka (impermeable face rock fill dams)
Merupakan bendungan urugan batu berlapis-lapis dimana lapisan kedap air terdapat di sebelah hulu bendungan. Lapisan yang dipakai biasanya adalah aspal dan beton bertulang.
d. Bendungan beton (concrete dams)
Merupakan bendungan yang dibuat dari konstruksi beton, baik dengan tulangan maupun tidak.
Bendungan Lau Simeme di Kabupaten Deli Serdang sendiri memiliki tujuan sebagai bentuk pengendalian banjir di kota Medan, penyediaan air baku untuk kebutuhan kota Medan dan sekitarnya, penyediaan energi listrik, serta menyediakan area pariwisata baru.
2.6. Manajemen Risiko
Sebuah proyek tidak bisa dipisahkan dari yang namanya risiko. Risiko adalah kombinasi antara probabilitas sebuah kejadian (likelihood) dengan konsekuensi yang dihasilkan kejadian tersebut (consequences), dimana terdapat kemungkinan terdapat banyak konsekuensi untuk setiap kejadian, dan konsekuensi tersebut bisa berefek positif atau negatif (Shortreed, et al. 2003).
Secara matematis, risiko dapat digambarkan melalui rumus berikut:
Risiko = likelihood x consequences (2.1)
Keterangan:
Likelihood = probabilitas sebuah kejadian Consequences = konsekuensi yang dihasilkan
Risiko di dalam sebuah proyek adalah risiko murni yang secara potensial dapat mendatangkan kerugian dalam upaya mencapai sasaran proyek (Soeharto, 2001: 366).
Peran manajemen risiko adalah untuk mengenali dan mengelola masalah yang tak terduga dan berpotensi mengganggu jalannya sebuah proyek. Manajemen risiko mengidentifikasi peristiwa risiko (sesuatu yang salah atau menyimpang) sebanyak mungkin, memperkecil dampak negatif dari risiko, mengelola respons terhadap risiko, dan mempersiapkan tanggung jawab untuk mengatasi risiko yang terjadi (Gray dan Larson, 2006: 189).
2.6.1. Sumber Risiko
Sumber risiko dapat diartikan sebagai faktor yang dapat menimbulkan kejadian yang bersifat negatif atau positif. Sebagai contoh, di bawah ini adalah sumber risiko dari suatu proyek (Soeharto, 2001: 368).
a. Risiko yang berkaitan dengan bidang manajemen
- Kurang tepatnya perencanaan lingkup, biaya, jadwal, dan mutu - Kurang tepatnya pengendalian lingkup, biaya, jadwal, dan mutu - Ketepatan penentuan struktur organisasi
- Ketelitian pemilihan personil - Kekaburan kebijakan dan prosedur - Koordinasi pelaksanaan
b. Risiko yang berkaitan dengan bidang teknis dan implementasi - Ketepatan pekerjaan dan produk desain-engineering
- Ketepatan pengadaan material dan peralatan (volume, jadwal, harga, dan kualitas)
- Ketepatan pekerjaan konstruksi (jadwal dan kualitas) - Tersediannya tenaga ahli dan penyelia
- Tersediannya tenaga kerja lapangan - Variasi dalam produktivitas kerja - Kondisi lokasi dan site
- Ditemukannya teknologi baru (peralatan atau metode) dalam proses konstruksi dan produksi
c. Risiko yang berkaitan dengan bidang kontrak, dan hukum
- Pasal-pasal kurang lengkap, kurang jelas, dan interpretasi yang berbeda - Pengaturan pembayaran, change order, dan klaim
- Masalah jaminan, guaranty, dan waranty - Lisensi dan hak paten
- Force majeure
d. Risiko yang berkaitan dengan bidang situasi ekonomi, sosial, politik - Peraturan perpajakan dan pungutan
- Perijinan
- Pelestarian lingkungan
- Situasi pasar (persediaan dan panawaran material dan peralatan) - Ketidakstabilan moneter/devaluasi
- Realisasi pinjaman - Aliran kas
2.6.2. Proses Manajemen Risiko
Manajemen risiko memiliki proses untuk merencanakan, mengidentifikasi, menganalisis, merespon, dan me-monitoring risiko tersebut. Hal ini bertujuan untuk memperkecil dampak negatif yang ditimbulkan dan meningkatkan dampak positif terhadap proyek. Proses yang dilalui dalam manajemen risiko adalah sebagai berikut (Santosa, 2009: 198).
1. Perencanaan Manajemen Risiko (Risk Management Planning)
Manajemen risiko adalah sebuah pendekatan proaktif, bukan reaktif.
Manajemen risiko merupakan sebuah proses preventif untuk memperkecil dampak negatif yang ditimbulkan (Gray dan Larson, 2006: 190). Oleh karena itu tahap pertama dalam manajemen risiko adalah menentukan pendekatan dan rencana aktifitas manajemen risiko untuk sebuah proyek.
2. Identifikasi Risiko (Risk Identification)
Proses selanjutnya dalam manajemen risiko adalah identifikasi risiko.
Identifikasi risiko menjadi penting karena merupakan pondasi sebuah manajemen risiko untuk melangkah ke tahap analisa selanjutnya. Proses ini nantinya akan menghasilkan daftar risiko yang mungkin akan berpengaruh terhadap pengerjaan sebuah proyek.
Dalam mengidentifikasi sebuah risiko, diperlukan sebuah teknik yang dapat dijelaskan sebagai berikut (PMBOK Guide 6th Edition, 2017: 414).
a. Penilaian para ahli (expert judgement)
Para ahli yang telah memiliki pengetahuan khusus pada proyek yang serupa dapat memberikan pertimbangan seluruh aspek risiko berdasarkan pengalaman sebelumnya.
b. Pengumpulan data (data gathering)
Teknik pengumpulan data dapat dijelaskan sebagai berikut.
- Brainstorming, para pihak yang memegang peranan penting dalam proyek berkumpul dan kemudian secara aktif mendaftarkan semua kemungkinan risiko yang ada.
- Checklist, sebuah daftar dikembangkan berdasarkan informasi dan pengetahuan yang dihimpun dari proyek serupa atau sumber informasi lainnya
- Interview, sumber risiko dapat diidentifikasi dengan melakukan interview kepada pelaksana proyek, pemangku kepentingan, dan para
ahli, dengan catatan bahwa wawancara dilakukan dengan jujur dan tidak memihak
c. Analisis data (data analysis)
Teknik analisa data dapat dijelaskan sebagai berikut.
- Root cause analysis, metode ini digunakan untuk menemukan akar masalah yang menjadi dasar terjadinya sebuah risiko
- Assumption and constraint analysis, manajemen proyek disusun berdasarkan beberapa asumsi dan beberapa batasan yang kemudian dibuktikan validitasnya untuk menentukan mana yang menimbulkan risiko bagi proyek
- SWOT analysis, metode ini dimulai dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sebuah organisasi atau proyek itu sendiri.
- Document analysis, proyek dapat melakukan review mulai dari rencana, dokumen proyek sebelumnnya, ataupun kontrak.
3. Analisa Kualitatif (Qualitative Risk Analysis)
Analisa risiko secara kualitatif merupakan sebuah analisa yang menilai dampak dan kemungkinan dari sebuah risiko yang telah diidentifikasi dengan menyusun risiko berdasarkan efeknya terhadap tujuan proyek.
4. Analisa Kuantitatif (Quantitative Risk Analysis)
Analisa risiko secara kuantitatif biasanya mengikuti analisa kualitatif.
Analisa kuantitatif adalah proses menganalisa secara numerik semua kemungkinan dari setiap risiko dan konsekuensinya terhadap tujuan proyek. Analisa ini juga dapat mengidentifikasi kemungkinan kerusakan atau kegagalan sistem dan memprediksi besaran kerugian yang ditimbulkan.
5. Penanganan Risiko (Risk Response Planning)
Proses selanjutnya adalah proses penanganan risiko yang dilakukan untuk mengurangi tingkat ancaman sebuah risiko sampai kepada batas toleransi. Proses
ini dilakukan dengan mengembangkan pilihan dan kemudian menentukan aksi untuk mengurangi ancaman terhadap proyek.
Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menangani risiko adalah:
a. Menghindari risiko
Teknik ini dilakukan dengan tidak melakukan aktivitas yang mendatangkan risiko. Meskipun tidak bisa menghilangkan risiko sepenuhnya, beberapa risiko yang mungkin terjadi masih mungkin dihindari. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menambah sumber daya atau waktu atau menggunakan cara-cara yang mirip dari proyek sebelumnya, dan cara lainnya.
b. Reduksi risiko
Reduksi risiko merupakan tindakan awal untuk mengurangi peluang terjadinya risiko. Contohnya dengan menempakan orang yang sepenuhnya kompeten untuk posisi pekerjaan tertentu atau membuat desain rencana sebaik mungkin.
c. Menerima risiko
Karena risiko tidak dapat dihindari sepenuhnya, maka menerima kerugian adalah sebuah teknik jika kejadan risiko tersebut terjadi. Teknik ini dapat dilakukan apabila risiko yang dihasilkan kecil atau tidak ada cara lain untuk menanganinya.
d. Transfer risiko
Transfer risiko adalah sebuah teknik untuk mengalihkan risiko kepada pihak lain.
6. Pemantauan dan Pengendalian Risiko (Risk Monitoring and Control) Proses ini adalah untuk mengawasi risiko yang telah diidentifikasi, memonitor risiko yang tersisa, mengidentifikasi risiko baru, memastikan risk management plan berjalan dengan baik, dan mengevaluasi keefektifan dalam mengurangi risiko.
2.7. Keterlambatan Proyek
Pengertian keterlambatan menurut Ervianto (2004: 15) adalah sebagian waktu pelaksanaan yang tidak dapat dimanfaatkan sesuai dengan rencana, sehingga menyebabkan beberapa kegiatan yang mengikuti menjadi tertunda atau tidak dapat diselesaikan tepat sesuai jadwal yang telah direncanakan. Keterlambatan dapat terjadi karena faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap proyek konstruksi atau bahkan kontraktor itu sendiri. Keterlambatan dapat disebabkan oleh pemilik proyek, perencana, kontraktor utama, subkontraktor, pemasok, serikat pekerja, perusahaan penyedia fasilitas, atau organisasi lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan proyek tersebut.
Karena proyek konstruksi umumnya berada di lokasi terbuka, keterlambatan sangat memungkinkan untuk terjadi dengan berbagai penyebab. Penyebab yang umum terjadi adalah terjadinya perbedaan kondisi di lapangan, perubahan desain rencana, pengaruh cuaca, kekurangan pekerja, material, atau peralatan, kesalahan perencanaan atau spesifikasi, bahkan intervensi dari pemilik proyek. Pengaruh keterlambatan tidak hanya menyebabkan waktu pelaksanaan menjadi lebih lama, tetapi akan berpengaruh kepada peningkatan biaya konstruksi.
Keterlambatan proyek dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu (Ervianto, 2004:16):
1. Excusable delay
Excuseable delay diartikan sebagai gagalnya pihak pelaksana konstruksi dalam memenuhi waktu penyelesaian proyek sesuai dengan kesepakatan karena adanya kejadian di luar kendali pihak pemilik dan pelaksana proyek. Penilaian keterlambatan diatur dalam dokumen kontrak, karena setiap kontrak mempunyai standar penilaian tersendiri dalam menilai sebuah keterlambatan. Sebagai contoh, kontrak standar oleh American Institute of Architect (AIA), dalam dokumen kontrak A201 General Condition of Construction Conctract, mengijinkan tambahan waktu jika keterlambatan disebabkan oleh hal-hal berikut:
- Penundaan yang disebabkan oleh pemilik proyek atau arsitek - Terdapat perubahan lingkup kerja
- Perselisihan pekerja konstruksi - Bencana kebakaran
- Dan lain-lain
Excuseable delay juga dapat dibagi menjadi dua tipe (Levis dan Atherley, 1996):
a. Compensable delay
Jenis keterlambatan ini terjadi karena kesalahan pihak pemilik proyek (owner) dalam memenuhi kewajiban dalam kontrak dengan tepat, sehingga pihak pelaksana (kontraktor) berhak atas kompensasi biaya dan perpanjangan waktu.
Yang termasuk dalam compensable delay adalah:
- Terlambatnya penyerahan secara total lokasi (site) proyek - Terlambatnya pembayaran kepada pihak kontraktor - Kesalahan pada gambar dan spesifikasi
- Terlambatnya persetujuan atas gambar-gambar fabrikasi
b. Non-compensable delay
Jenis keterlambatan ini terjadi karena faktor diluar dari pihak pemilik proyek (owner) dan pihak pelaksana (kontraktor). Kontraktor berhak atas perpanjangan waktu yang setara dengan keterlambatan tetapi tidak berhak atas kompensasinya. Yang termasuk dalam non-compensable delay adalah:
- Act of God, seperti gangguan alam antara lain gempa bumi, tornado, letusan gunung api, banjir, kebakaran, dan lain-lain.
- Force majeure, termasuk di dalamnya faktor Act of God, perang, huru-hara, demo, mogok kerja, dan lain-lain.
- Cuaca, ketika tidak bersahabat dan diluar kondisi normal.
2. Non-excuseable delay
Non-excuseable delay didefinisikan sebagai situasi dimana pihak pelaksana
Non-excuseable delay didefinisikan sebagai situasi dimana pihak pelaksana