BAB I PENDAHULUAN
1.5 Definisi Konsep
1.5.4 Pemilihan Umum (Pemilu)
Pemilu merupakan sebuah proses politik yang menjadi salah satu faktor disebutnya demokrasi di Indonesia. Dikarenakan Demokrasi adalah salah satu bentuk sistem pemerintahan yang dipercaya dari awal oleh Bapak Pendiri Bangsa NKRI. Walaupun Pemilu di Indonesia masih banyak hiruk-pikuknya mulai dari kecurangan dan berbagai masalah lainnya yang ditimbulkan, Pemilu masih dipercaya menjadi prasyarat demokrasi. Pemilu juga masih menjadi pintu masuk dan jadi tahap awal dari proses pelembagaan demokrasi (Joko J. Prihatmoko, 2008:2).
Pemilihan umum (pemilu) adalah salah satu cara dalam satu sistem demokrasi untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di Lembaga perwakilan rakyat, serta salah satu bentuk pemenuhan hak asasi warga dalam suatu negara di dalam bidang politik. Pemilu dilaksanakan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat yang adil dan Makmur. Sebab, rakyat tidak mungkin memerintah secara langsung walaupun memang benar kekuasaan tertinggi adalah di tangan rakyat itu sendiri. Karena itu, diperlukan cara untuk memilih wakil rakyat dalam memerintah suatu negara selama jangka waktu tertentu. Pemilu dilaksanakan dengan menganut asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Joko J. Prihatmoko, 2008:2-3).
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Teori Political Marketing (Marketing Politik)
Konsep marketing politik ini pertama menjelaskan tentang bagaimana kondisi kehidupan masyarakat itu dinamis. Yang dimaksud dengan dinamis adalah bagaimana keadaan kehidupan, aspek kebiasaan, dan lain-lain dari masyarakat itu berubah-ubah setiap tempat dan waktunya. Dalam konteks marketing, biasanya kata ini digunakan untuk masalah perkonomian atau dunia bisnis tapi terkadang diasumsikan dalam dunia politik. Institusi politik dapat menggunakan metode marketing dalam penyusunan produk politik, distribusi produk politik kepada publik dan meyakinkan bahwa produk politiknya lebih unggul dari produk politik lainnya (Firmanzah, 2012:126).
Marketing politik sebenarnya bukanlah hal yang baru untuk beberapa negara lain di belahan dunia, pada abad 20, marketing politik sudah berkembang di Amerika. Pro dan kontra kemudian bermunculan ketika marketing politik mulai diterapkan di negara-negara di dunia, khususnya negara-negara yang baru memulai proses demokrasi dalam negaranya. Istilah marketing dianggap membuat politik seolah menjadi tempat berbelanja dan hal tersebut tentu bisa saja mengurangi kekuatan ideologi di bidang politik. Di tengah pro kontra yang terus mengikutinya, penerapan marketing politik dianggap sebagai sebuah bentuk yang sangat ideal dalam sebuah kehidupan demokrasi, baik dalam negara berkembang hingga kepada negara maju, tentu saja dengan tidak menerapkannya secara keseluruhan dan langsung tapi dengan melihat bagaimana kondisi dan kebutuhan
negara-negara tersebut lalu kemudian dapat disesuaikan (Firmanzah, 2012:126-127).
Masyarakat luas dalam proses demokrasi adalah sebuah komponen yang sangat menentukan terhadap para kandidat. Dalam hal inilah marketing politik sangat diperlukan sebagai sebuah alternatif yang digunakan para kandidat agar mereka dapat dekat dengan masyarakat dalam menyalurkan ide, gagasan, nilai, visi, dan lain sebagainya, kemudian sebagai gantinya masyarakat diharapkan dapat memberikan hak pilih mereka terhadap kandidat yang melakukan marketing politik tersebut sehingga dapat terpilih dan menang. Namun yang menjadi pertanyaan ialah adakah marketing politik menjadi jaminan kemenangan bagi seorang kandidat, jawabannya jelas tidak, sebab marketing politik hanya sebuah alat yang menjembatani kandidat dengan masyarakat, dan perlu digarisbawahi bahwa setiap kandidat juga memiliki berbagai keterbatasan dalam melakukannya, dan juga perlu dipikirkan bahwa setiap kandidat juga pasti tidak hanya diam dan menunggu namun juga melakukan berbagai usaha marketing politik yang mereka anggap maksimal dalam rangka pemenangan mereka. Namun ada satu hal yang dapat menjadi perhatian adalah, menang kalahnya seorang kandidat adalah ditentukan oleh kualitas marketing politik yang dia terapkan (Firmanzah, 2012:127).
Marketing politik yang dari istilahnya sendiri terasa sebagai contradiction in terminis (dalam istilahnya ada yang kontradiktif). Tapi sesungguhnya tidak demikianlah adanya. Strategi-strategi marketing memang sudah saatnya diterapkan dalam politik, mengingat banyaknya hal yang diuraikan dalam perpolitikan modern sekarang ini (Firmanzah, 2012:127).
Ilmu marketing biasanya dikenal sebagai sebuah disiplin yang menghubungkan produsen dengan konsumen. Hubungan dalam marketing tidak hanya menjadi satu arah, melainkan dua arah sekaligus dan simultan. Produsen perlu memperkenalkan dan membawa produk serta jasa yang dihasilkan kepada konsumen. Semua usaha marketing dimaksudkan untuk meyakinkan konsumen bahwa produk yang dijual memang memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan produk yang ditawarkan pesaing. Metode dan pendekatan yang terdapat dalam ilmu marketing dapat membantu institusi politik untuk membawa produk politik kepada konstituen dan masyarakat secara luas. Institusi politik dapat menggunakan metode marketing dalam penyusunan produk politik, distribusi produk politik kepada publik dan meyakinkan bahwa produk politiknya lebih unggul dibandingkan dengan pesaing (Firmanzah, 2012:127-128).
Penggunaan metode marketing dalam bidang politik dikenal sebagai marketing politik. Dalam marketing politik, yang ditekankan adalah penggunaan pendekatan dan metode marketing untuk membantu politikus dan partai politik agar lebih efisien serta efektif dalam membangun hubungan dua arah dengan konstituen dan masyarakat. Politik berbeda dengan dunia usaha, politik berbeda dengan produk retail, sehingga akan berbeda pula muatan yang ada di antara keduanya (Firmanzah, 2012:128). Jadi, isu politik bukan sekedar produk yang diperdagangkan, melainkan menyangkut pula keterikatan simbol dan nilai yang menghubungkan individu-individu.
Terdapat beberapa karakteristik mendasar yang membedakan marketing politik dengan marketing dalam dunia bisnis. Perbedaan ini berasal dari kenyataan bahwa kondisi pemilihan umum memang berbeda dengan konteks dunia usaha
pada umumnya (Firmanzah, 2012:129). Perbedaan-perbedaan itu menurut mereka, adalah:
1. Pada setiap pemilihan umum, semua pemilih memutuskan siapa yang mereka pilih pada hari yang sama. Hampir tidak ada perilaku pembelian produk dan jasa dalam dunia usaha seperti perilaku yang terjadi selama pemilihan umum.
2. Meskipun beberapa pihak berargumen tentang adanya biaya individu dalam jangka panjang atau penyesalan sebagai akibat keputusan yang diambil ketika melaksanakan pencoblosan dalam pemilu, pada kenyataannya tidak ada harga langsung ataupun tidak langsung yang terkait dalam pencoblosan.
3. Meskipun tidak ada harga spesifik yang terkait dengan pencoblosan yang dilakukan, pemilih harus hidup dengan pilihan kolektif, meskipun kandidat atau partai yang memenangkan pemilu bukan pilihan mereka. Hal ini yang membedakan pilihan publik dengan proses pembelian di pasar ekonomi, produk dan jasa yang dikonsumsi adalah yang mereka beli.
4. Produk politik atau kandidat individu adalah produk tidak nyata (intangible) yang sangat kompleks, tidak mungkin dianalisa secara keseluruhan. Sebagai konsekuensinya, kebanyakan pemilih menggunakan judgment tehadap keseluruhan konsep dan pesan yang diterima.
5. Meskipun terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengubah arah dan platform partai politik, kemungkinan untuk meluncurkan brand politik yang baru sangatlah sulit. Soalnya, brand dan
image politik pada umumnya sudah melekat dengan keberadaan partai tersebut.
6. Pemenang pemilu akan mendominasi dan memonopoli proses kebijakan publik. Pemenang pemilu akan mendapatkan haknya dan legitimasi untuk melakukan semua hal yang mengatur keteraturan sosial dalam masyarakat.
7. Dalam banyak kasus marketing di dunia bisnis, brand yang memimpin pasar cenderung untuk tetap jadi leader dalam pasar. Sedangkan dalam politik, pihak yang berkuasa akan dapat dengan mudah jatuh menjadi partai yang tidak popular ketika mengeluarkan kebijakan publik yang tidak popular seperti menaikkan pajak dan menaikkan harga bahan bakar minyak.
Melihat perbedaan-perbedaan mendasar antara dunia politik dengan dunia usaha komersial, perlu ada penyesuaian-penyesuaian dalam penerapan marketing di dunia politik. Secara politis, untuk mengatur kehidupan manusia, dibutuhkan kekuasaan yang legitimate sehingga memiliki kekuatan dalam pengambilan keputusan dan memaksakannya dalam kehidupan sosial secara formal, maka dari situlah marketing politik ini sangat diperlukan agar seorang elit politik dapat mendapatkan suatu kekuasaan untuk mengambil keputusannya.
Dengan semakin meningkatnya iklim persaingan yang sehat dan terbuka di antara partai-partai politik, banyak kalangan yang menganjurkan agar partai politik lebih berorientasi pasar (Firmanzah, 2012:197). Tentunya konsep agar dunia politik berorientasi pasar bukan berarti sebuah partai politik atau seorang kandidat harus at all cost memenuhi apa saja keinginan pasar, karena masing-masing partai politik memiliki konfigurasi ideologi dan aliran pemikiran yang
menjadikan satu partai berbeda dengan partai lainnya. Pesan yang ingin disampaikan dalam konsep marketing politik adalah (1) menjadikan pemilih sebagai subjek, bukan objek partai politik atau seorang kandidat yang diusung, (2) menjadikan permasalahan yang dihadapi pemilih sebagai langkah awal dalam menyusun program kerja yang ditawarkan dengan bingkai ideologi masing-masing partai, (3) marketing politik tidak menjamin sebuah kemenangan, tapi menyediakan tools untuk menjaga hubungan dengan pemilih sehingga dari situ akan terbangun kepercayaan, dan selanjutnya akan diperoleh dukungan suaranya (Firmanzah, 2012:197).
4P dalam politik mempunyai nuansa yang berbeda dengan yang diterapkan di dalam dunia usaha dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, bahkan orang yang berlatar belakang Pendidikan ekonomi, terutama dengan spesialis marketing pun harus sedikit berkenalan dengan penerapan 4P bauran marketing di dalam dunia politik. 4P dalam politik adalah sebagai berikut (Syukur Yakub, 2017:7).
1. Produk
Produk yang ditawarkan dalam dunia institusi politik merupakan sesuatu yang kompleks, dimana pemilih akan menikmatinya setelah sebuah partai atau seorang kandidat terpilih.
2. Promosi
Sebagian besar literatur dalam marketing politik membahas cara sebuah institusi politik dalam melakukan promosi ide, platform partai dan ideologi selama kampanye Pemilu. Tidak jarang institusi politik bekerja sama dengan sebuah agen iklan dalam membangun slogan, jargon dan citra yang akan ditampilkan.
3. Harga
Harga dalam marketing politik mencakup banyak hal, mulai ekonomi, psikologis, sampai ke cerita nasional. Harga ekonomi meliputi semua biaya yang dikeluarkan institusi politik selama periode kampanye.
4. Tempat
Tempat yang dimaksud disini berkaitan erat dengan cara hadir atau distribusi sebuah institusi politik dan kemampuannya dalam berkomunikasi dengan para pemilih atau calon pemilih.
2.2 Teori Jaringan Sosial
Jaringan sosial merupakan interaksi sosial yang berkelanjutan (relatif cukup lama atau permanen) yang akhirnya di antara mereka terikat satu sama lain dengan atau oleh seperangkat harapan yang relatif stabil (Agusyanto, 2016:14).
Berdasarkan hal ini, hubungan sosial bisa dipandang sebagai sesatu yang seolah-olah merupakan sebuah jalur atau saluran yang menghubungkan antara satu orang dengan orang-orang lain di mana melalui jalur atau saluran tersebut bisa dilahirkan sesuatu, misalkan barang, jasa, atau informasi.
Pendekatan jaringan sosial atau analisis jaringan sosial mulai berkembang karena rasa ketidakpuasan para ahli antropologi sosial terhadap analisis struktural-fungsional yang konvensional (Agusyanto, 2016:14). Karena hal ini, para ahli antropologi sosial membutuhkan model-model baru yang dapat membantu dalam pemahaman fenomena-fenomena urban dan fenomena-fenomena yang lebih kompleks. Akhirnya, konsep jaringan sosial mulai menjadi perhatian dan
dikembangkan, seperti studi-studi yang dilakukan pada masyarakat Afrika di perkotaan (Agusyanto, 2016:324).
Mulai dari tahun 80-an, ide jaringan sosial tidak hanya digunakan sebatas sebagai suatu alat pelengkap untuk mencatat dan mengorganisasikan data dalam sebuah penelitian belaka, melainkan sebagai suatu alat analisis, yang bertujuan untuk mengklasifikasikan tipe-tipe ikatan antar individu dan memilah-milah pola-pola dan bentuknya dalam kaitannya atas ketidakleluasaan pola-pola perilaku, sikap dan tindakan bagi para pelaku merupakan bagian dari jaringan (Agusyanto, 2016:326). Berdasarkan hal ini maka sebuah masyarakat bisa dipandang sebagai jaringan hubungan sosial antar individu yang sangat kompleks.
Berkenaan dengan hal yang diatas, secara terpisah memberikan pertanyaan atas pemisahan secara konseptual terhadap keteraturan-keteraturan di dalam jaringan sosial tersebut (Agusyanto, 2016:326). Mereka juga membagi menjadi tiga tipe keteraturan jaringan sosial, yaitu:
1. Keteraturan structural (structural order), dimana perilaku orang-orang diinterpretasikan dalam term tindakan-tindakan yang sesuai dengan posisi-posisi yang mereka duduki dalam suatu perangkat tahanan posisi-posisi-posisi-posisi.
2. Keteraturan kategorikal (categorical order), dimana perilaku seseorang di dalam situasi-situasi yang tidak terstruktur bisa diinterpretasikan ke dalam term stereotip-stereotip.
3. Keteraturan personal (personal order), dimana perilaku orang-orang, baik di dalam situasi yang terstruktur maupun yang tidak, bisa diinterpretasikan ke dalam pengertian ikatan-ikatan personal yang dimiliki seorang individu dengan orang-orang lain.
Analisis jaringan sosial, dalam hal ini, memperkenalkan dua konsep baru dalam mengkaji struktur sosial yang memusatkan perhatian pada hubungan sosial.
Pertama, analisis jaringan sosial memperkenalkan suatu konsep untuk mengkaji perilaku atau tindakan manusia, dimana manusia selalu dilihat dalam suatu proses interaksi sosial, manusia yang satu memanipulasi manusia-manusia lainnya, sebagaimana dirinya dimanipulasi oleh orang lain. Dalam hal ini, analisis jaringan sosial seolah-olah mengindikasikan bahwa seseorang tergantung pada orang lain dan tidak kepada sesuatu yang abstrak seperti apa yang dikatakan kebudayaan, sistem keyakinan dan sejenisnya. Kedua, analisis jaringan sosial berusaha memfokuskan perhatian kepada proses internal dan dinamika yang inheren di dalam hubungan-hubungan sosial atau saling ketergantungan antar umat manusia (Fimanzah, 2012:239).
2.3 Teori Kecerdasan Sosial (Social Inteligence)
Gardner dalam (Albrecht, 2006:13) mengemukakan kecerdasan sosial adalah kemampuan remaja dalam berhubungan dengan orang lain. Generasi millenial yang tinggi intelegensi sosialnya akan mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan orang lain, mampu berempati secara baik, mampu mengembangkan hubungan yang harmonis dengan orang lain. Mereka dapat dengan cepat memahami suasana hati, motif dan niat orang lain.
Menurut Albrecht (2006:1) ada 5 (lima) kemampuan penting yang perlu dikembangkan dalam kecerdasan sosial, yaitu kesadaran situasional, kemampuan membawa diri, autentisitas, kejelasan, dan empati.
1. Kesadaran situasional
Merupakan sebuah kehendak untuk bisa memahami akan kebutuhan serta hak orang lain atau individu dalam mengobservasi, melihat, dan mengetahui konteks situasi sosial sehingga mampu mengelola orang-orang atau peristiwa.
2. Kemampuan membawa diri
Merupakan cara menyesuaikan diri dalam lingkungan dan bagaimana melakukan sesuatu sesuai lingkungan.
3. Autentisitas
Merupakan cara bagaimana seseorang selalu bersikap jujur dan dapat dipercaya apabila diberikan suatu kepercayaan.
4. Kejelasan
Merupakan kemampuan untuk mengajak dan menyakinkan seseorang.
Aspek ini menjelaskan sejauh mana seseorang dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan idenya secara persuasif, sehingga orang lain bisa menjelaskan metode yang kita terapkan pada orang lain.
5. Empati
Aspek ini merujuk pada sejauh mana seseorang dapat berempati pada gagasan dan penderitaan orang lain. Sejauh mana seseorang memiliki keterampilan untuk bisa mendengarkan, memahami pikiran orang lain, dan melakukan aksi nyata untuk meringankan penderitaan orang lain.
Bagaimana seseorang bisa memahami orang lain dan mampu untuk menyelesaikan masalah.
2.4 Generasi Milenial
Millennial generation atau biasa disebut Generasi Y disebut dengan ‘me’
atau ‘echo boomers’. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini. Ada 5 generasi yang lahir setelah perang dunia kedua dan berhubungan dengan masa kini menurut teori generasi (Tika, 2017:245).
1. Baby boomer (tahun 1946-1964)
Generasi yang lahir setelah perang dunia kedua ini memiliki banyak saudara, akibat dari banyaknya pasangan yang berani mempunyai banyak keturunan. Generasi yang adaptif, mudah menerima dan menyesuaikan diri. Dianggap sebagai orang lama yang mempunyai pengalaman hidup.
2. Generasi X (tahun 1965-1980)
Tahun-tahun ketika generasi ini lahir merupakan awal dari penggunaan PC (Personal Computer), video games, tv kabel, dan internet. Penyimpanan datanya pun menggunakan floopy disk atau disket. MTV dan video games sangat digemari pada generasi ini. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Jane Deverson, sebagian dari generasi ini memiliki tingkah laku negatif, contoh kecilnya tidak hormat pada orang tua dan menggunakan ganja (Tika, 2017:245).
3. Generasi Y (tahun 1981-1999)
Dikenal dengan sebutan generasi milenial atau millennium. Ungkapan generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instant massaging dan media sosial seperti
facebook dan twitter. Mereka juga sedikit maniak dengan game (Tika, 2017:245).
4. Generasi Z (tahun 2000-2010)
Disebut juga dengan iGeneration, generasi net atau generasi internet.
Mereka punya kesamaan dengan generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing menggunakan PC, dan mendengarkan musik dengan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya, sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang tidak langsung berpengaruh kepada kepribadian rumah.
5. Generasi Alpha (tahun 2011-2025)
Generasi Alpha, lahir dari generasi X akhir dan Y. generasi yang sangat terdidik karena masuk sekolah lebih awal dan banyak belajar, rata-rata memiliki orang tua yang kaya dengan sedikit. Melihat dari banyaknya pimpinan baik itu negara maupun perusahaan, generasi X masih mendominasi.
Dasar teori generasi adalah bahwa setiap generasi dibentuk oleh biografinya sendiri, di mana biografi ini terdiri dari serangkaian kejadian yang oleh orang-orang dengan tahun kelahiran umum berhubungan dan mengembangkan kepercayaan dan perilaku umum. Kayakinan dan perilaku yang dipegang umum ini kemudian membentuk kepribadian generasi itu.
Teori generasi menyiratkan bahwa setiap orang yang merupakan bagian dari generasi memiliki keyakinan, nilai, sikap yang sama. Konsep ini bagus dalam
teori, namun, seseorang harus berhati-hati saat meletakkan layanan agar tidak berasumsi bahwa semua anggota sesuai dengan catatannya. Sebaliknya, teori generasi menyatakan bahwa karakteristik generasi adalah generalisasi dimana seseorang dapat menarik kesimpulan luas tentang kelompok kolektif, namun tidak harus dari individu.
Pada generasi milenial, pendidikan menjadi suatu hal yang penting dalam perjalanan hidupnya. Akan tetapi cara berpikir dan belajar sangat berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih sering belajar melalui lisan maupun pengalaman dari orang tua. Generasi milenial yang lebih menarik dan memungkinkan dapat secara cepat dan tepat mengakomodasi kebutuhannya.
2.5 Pemililan Umum (Pemilu)
Pemilu Umum (Pemilu) menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2017 Pasal 1 ayat 1 adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, anggota Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden, dan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.
Pemilihan umum (Pemilu) merupakan salah satu bentuk pendidikan politik bagi rakyat yang bersifat langsung, terbuka, massal, yang diharapkan bisa mencerdaskan pemahaman politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai demokrasi (Agung:2003:106-107).
Pemilihan umum adalah memilih seorang penguasa, pejabat atau lainnya dengan jalan menuliskan nama yang dipilih dalam secarik kertas atau dengan memberikan suaranya dalam pemilihan (Al-Iman, 2004:29). Kemudian Hutington dalam Rizkiyansyah (2007:3) menyatakan bahwa sebuah negara bisa disebut demokratis jika di dalamnya terdapat mekanisme pemilihan umum yang dilaksanakan secara berkala atau periodik untuk melakukan sirkulasi elite.
2.5.1 Tahapan Yang Diterapkan Pada Pemilihan Umum Tahun 2019
Tahapan pemilu yang diterapkan pada Pemilu 2019 ada dituliskan pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2017 pada Pasal 167 dan Pasal 168 yang tertulis sebagai berikut:
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2017
PASAL 167 (1) Pemilu dilaksanakan setiap 5 (lima) tahun sekali.
(2) Hari, tanggal, dan waktu pemungutan suara Pemilu ditetapkan dengan keputusan KPU.
(3) Pemungutan suara dilaksanakan secara serentak pada hari libur atau hari yang diliburkan secara nasional.
(4) Tahapan penyelenggaraan Pemilu meliputi:
a) Perencanaan program dan anggaran serta penyusunan peraturan pelaksanaan Penyelenggaraan Pemilu;
b) Pemutakhiran data Pemilih dan penyusunan daftar Pemilih;
c) Pendaftaran dan verifikasi Peserta Pemilu;
d) Penetapan Peserta Pemilu;
e) Penetapan jumlah kursi dan penetapan daerah pemilihan;
f) Pencalonan Presiden dan Wakil Presiden serta anggota DPR, DPD, DPRP Provinsi, dan DPRD kabupaten/kota;
g) Masa Kampanye Pemilu;
h) Masa Tenang;
i) Pemungutan dan penghitungan suara;
j) Penetapan hasil pemilu; dan
k) Pengucapan sumpah/janji Presiden dan Wakil Presiden serta anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.
(5) Pemungutan suara di luar negeri dapat dilaksanakan bersamaan atau sebelum pemungutan suara pada hari, sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
(6) Tahapan penyelenggaraan Pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dimulai paling lambat 20 (dua puluh) bulan sebelum hari pemungutan suara.
(7) Penetapan pasangan Calon terpilih paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum berakhirnya masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden.
(8) Ketentuan lebih lanjut mengenai rincian tahapan penyelenggaraan Pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan pemungutan suara sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (5) diatur dengan Peraturan KPU.
Pasal 168
(1) Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai satu kesatuan daerah pemilihan.
(2) Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka.
(3) Pemilu untuk memilih anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil banyak.
2.5.2 Penetapan Perolehan Kursi dan Calon terpilih Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2019
Pada Pemilu 2019 kali ini, metode penetapan kursi tiap partai politik para Peserta Pemilu adalah metode webster/sainte-laguë. Metode ini diusulkan pertama kali pada tahun 1832, dan pada tahun 1842 metode ini mulai digunakan dalam pembagian kursi kongres di Amerika Serikat. Sementara itu, André Sainte-Laguë memperkenalkan metode ini di Prancis pada tahun 1910. Tampaknya publik di Prancis dan Eropa belum pernah mendengar informasi mengenai metode Webster hingga masa berakhirnya perang dunia II.
Dalam metode ini, nilai rata-rata tertinggi yang digunakan untuk menentukan jumlah kursi yang telah dimenangkan dalam suatu pemilihan umum.
Dalam metode ini, nilai rata-rata tertinggi yang digunakan untuk menentukan jumlah kursi yang telah dimenangkan dalam suatu pemilihan umum.