• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN

B. Gambaran Umum Jambu Kristal Desa Bantarsari

5. Pemilik Tanah Jambu Kristal Desa Bantarsari

Kepemilikan Tanah Jambu Kristal Desa Bantarsari

No Nama Pemilik Status

1 Amsri Hak Milik

2 Duki Hak Milik

3 Pepen Hak Milik

4 Amat Hak Milik

5 Rahman Hak Milik

6 Agus Hak Milik

7 Aleh Hak Milik

8 Uci Hak Milik

9 Onang Hak Milik

10 Maja Hak Milik

11 Rosyid Hak Milik

12 Satibi Hak Milik

13 Ma’at Hak Milik

14 Endam Hak Milik

15 Minad Hak Milik

16 Aning Hak Milik

17 Madhafi Hak Milik

18 Oding Hak Milik

19 Cecep Wahyu Hak Milik

20 Hermanto Hak Milik

21 Ujang Hak Milik

22 N.M. Sudin Hak Milik

23 Alwani Hak Milik

24 Idrus Hak Milik

25 Udin Hak Milik

44

41 Tarmizi/Ahmad Hak Milik

42 Basir Hak Milik

43 Kanyun/Junaedi Hak Milik

44 Ace Rahmat Hak Milik

53 Andri Hak Milik

54 Wahid Hak Milik

55 Suniman Hak Milik

56 Sobari Hak Milik

57 Opik Hak Milik

58 Samsudin Hak Milik

59 Taufik Hak Milik

60 Obing Hak Milik

61 Rohim Hak Milik

62 Saman Hak Milik

63 Basri Hak Milik

64 H. Saripudin Hak Milik

65 Marjaya Hak Milik

66 Asep Hak Milik

67 Rustami Hak Milik

68 Akai Hak Milik

69 Nawi Hak Milik

70 Budi Encil Hak Milik

71 Udin Hak Milik

72 Hj. Aisyah Hak Milik

73 H. Taji Hak Milik

Sumber : Kantor Kepala Desa Bantarsari

46 BAB IV

DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Petani Jambu Kristal di Desa Bantarsari

Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan kepada masyarakat merupakan langkah untuk meningkatkan kondisi perekonomian masyarakat. Dalam melakukan hal tersebut tidaklah instant, perlu adanya beberapa proses yang harus dilakukan. Desa Bantarsari, Kecamatan Rancabungun, Kabupaten Bogor merupakan desa dengan sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah bercocok tanam, terutama sektor pertanian dan perkebunan dengan jumlah petani 103 yang mayoritas 73 petaninya adalah petani jambu kristal. Pemerintah Desa Bantarsari memiliki keinginan untuk meningkatkan kondisi perekonomian di masyarakatnya dengan melakukan proses pemberdayaan ekonomi kepada para petani jambu kristal.

1. Proses Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat a. Penyadaran dan Pembentukan Perilaku

Tahap pertama yang perlu dilakukan adalah pemerintah desa beserta masyarakatnya perlu kesadaran serta keinginan bersama untuk meningkatkan kondisi sosial perekonomian mereka.

Kepala Desa Bantarsari beserta anggotanya menginginkan peningkatan perekonomian di masyarakat dengan melakukan beberapa pendeketan kepada masyarakatnya terutama kepada mayoritas petani jambu Kristal.

“Masyarakat ini kan butuh partner, dia ingin ada yang membantu secara jaringan untuk penjualan maupun dari sisi pembinaan. Kita memadukan dua konsep ini agar para petani jambu ini senang, artinya desa punya perhatian.

Adanya pelatihan kemudian dengan adanya kunjungan, produknya laku, kemudian secara penjuan cepat, itu membuat masyarakat senang dengan apa yang dilakukan oleh kita.

Pendekatannya itu bisa bersifat personal kita datang ke mereka, atau datang ke kebun, ketika kita bawa tamu bawa ke kebun, kan senang tuh petani”. (wawancara langsung Bapak Lukmanul Hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari).

Menurut Bapak Kepala Desa Bantarsari dengan adanya perhatian yang diberikan oleh desa maka itu merupakan langkah pendekatan dengan memadukan dua konsep yaitu membantu secara jaringan dari sisi penjualan maupun sisi pembinaan, maupun yang bersifat personal kepada para petani. Hal tersebut dirasakan oleh Bapak Mamun sebagai petani jambu kristal:

“Pa Kadesnya deket sama warga sama petani juga jadi enak aja gitu ngobrolnya.

Sekarang aja kan Bantarsari udah desa maju dulu mah pengen roboh atuh ini tertinggal desanya.” (wawancara langsung Bapak Mamun sebagai petani di Desa Bantarsari)

48

Pendekatan secara personal juga dirasakan oleh Bapak Ujang sebagai petani:

“Pa Kadesnya sih yang aktif suka ngobrol gitu sama petani tuh, ada juga sih dari yang laen juga ska ngobrol sama kita petani.” (wawancara langsung Bapak Ujang sebagai petani di Desa Bantarsari).

Untuk melakukan pemberdayaan ekonomi bukan hanya dengan satu tahapan saja. Namun perlu adanya beberapa tahapan berikutnya yang harus dilakukan ole Desa Bantarsari untuk meningkatkan perekonomian masyarakat petani jambu kristal b. Transformasi Pengetahuan dan Kecakapan

Keterampilan

Tahap ini merupakan tahap lanjutan untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan serta pengetahuan masyarakat sebagai nilai tambah dan mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat yang sedang diterapkan. Tahapan ini juga dipraktekan oleh Desa Bantarsari kepada masyarakat petani jambu kristal dengan mengadakan pelatihan- pelatihan ataupun seminar, seperti yang disampaikan oleh Bapak Lukmanul Hakim sebagai berikut:

“Ada orang IPB yang biasa konsen terkait jambu Kristal tapi juga ada yang dari pihak Dinas Pertahanan Pangan maupun Dinas Perkebunan, IBD Indonesia Bangun Desa waktu itu mereka datang kita kumpulkan petani mengadakan pelatihan tentang peningkatam

kualitas jambu.” (wawancara langsung Bapak Lukmanul Hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari).

Selanjutnya Bapak M. Abdul Aziz Sailil menambahkan:

“Alhamdulillah untuk pelatihan para petani banyak, entah itu dari kuliah, dari lembaga lembaga pemerintahan, kaya dari IPB apa aja hama tentang jambu nah itu edukasi cara untuk mengobatinya, nah kalo dari dinas itu biasanya kelompok tani”. (wawancara langsung Bapak M.

Abdul Aziz Saili sebagai Kepala Seksi Kesejahteraan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Bantarsari).

Dengan melakukan berbagai macam pelatihan pelatihan kepada para petani khususnya petani jambu kristal, pihak desa tentu mengharapkan tahap ini sebagai langkah untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan serta pengetahuan para petani jambu Kristal. Yang dirasakan oleh para petani termasuk Bapak Mamun sebagai petani jambu Kristal di Desa Bantarsari menambahkan:

“Dulu sering ada tuh pelatihan pelatihan dari desa tentang jambu, hama kaya gitu lah.

Kesemua petani juga ada terus juga ada khusus tentang jambu kristalnya aja”. (wawancara langsung Bapak Mamun sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Bapak Agus menambahkan:

“Pertama itu dari kelompok tani kemudian desa mensuport silahkan salah satunya dengan mengadakan pelatihan, kemudiam seiring berjalannya waktu berkembang”. (wawancara

50

langsung Bapak Agus sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Setelah menerapkan pelatihan kepada petani jambu kristal untuk mencapai tujuan pemberdayaan ekonomi tidak cukup dengan melakukan tahapan penyadaran serta paltihan saja, tetapi perlunya tahapan lajutan untuk menjadikan masyarakat berdaya secara ekonomi dengan mandiri.

c. Peningkatan Kemampuan Intelektual dan Kecakapan Keterampilan

Dengan melakukan tahapan peningkatan kemampuan intelektual dan kecakapan keterampilan ini yang bertujuan masyarakat petani jambu kristal di Desa Bantarsari dapat meningkatkan kemampuan yang telah dimiliki dengan mengarahkan para petani agar dapat lebih berkembang secara mandiri, seperti yang disampaikan oleh Bapak Agus:

“Jadi gitu karena adanya pelatihan dari desa itu yah kita seretusnya kan jadi tau terus juga kita para petani ngembangin sendiri lah dari pelatihan pelatihan itu, Tapi tetep branding mah tugasnya Desa kita amah petani Cuma nanem”. (wawancara langsung Bapak Agus sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Bapak Andriyana menambahkan:

“Kalo ga dikembangin kita nanem ga maju maju dong yah pasti kita pengen hasilnya kan lebih bagus kan.” (wawancara langsung Bapa Andriyana sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Dikarenakan petani sejak awal memang sudah mandiri hal tersebut disampaikan oleh Bapak Abdul Basit:

“Kita lihat emang dari awal petani udah mandiri disini jadi mereka ngembangin dari pelatihan itu secara mandiri juga. Karena pelatihan itu buat hasil pertanian lebih baik.” .”

(wawancara langsung Bapa Abdul Basit sebagai Sekertaris Desa Bantarsari).

Atas penjelasan tersebut diketahui bahwa petani dapat mengembangkan hasil dari pelatihan-pelatihan yang telah diadakan oleh pihak pemerintah Desa Bantarsari sehingga para petani jambu krital bisa berkembang secara mandiri.

2. Proses Branding “Desa Jambu Kristal Nasional” di Desa Bantarsari

Branding desa merupakan langkah untuk mengembangkan perekonomian masyarakat desa dengan melihat potensi yang ada di setiap desa mulai dari SDA maupun SDM karena setiap desa memiliki potensi yang berbed-beda, maka perlulah mengembangkan dan memperkenalkan potensi desa tersebut kepada masayarakat luas dengan tujuan meningkatkan perekonomian masyarakatnya dan memperkenalkan desanya.

Desa Bantarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor merupakan desa yang memilki potensi

52

SDA perkebunan yang mayoritas petaninya adalah menanam jambu kristal. Adanya potensi tersebut di Desa Bantarsari dapat dijadikan branding desanya sebagai

“Desa Jambu Kristal Nasional” melalui proses yang harus dipenuhi agar dapat mengembangkan potensi desanya sebagai berikut:

a. Brand Identity

Brand Identity merupakan hal terpenting untuk membentuk persepsi masyarakat terhadap brand yang dikenalkan, maka Desa Bantarsari ingin memperkenalkan desanya sebagai desa penghasil jambu kristal dengan menjadikan brand desanya sebagai “Desa Jambu Kristal Nasional”. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Bapak Lukmanul Hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari dengan mendatangkan pihak-pihak terkait agar “Desa Jambu Kristal Nasional” menjadi icon Desa Bantarsari.

“Kita masifkan gitu loh. Kita masifkan jambu Kristal di Bantarsari. Kemudian kita mendatangkan Dinas Kabupaten Bogor, Dinas Pertanian Perkebunan, Dinas Ketahanan Pangan. Mereka membekali para petani. Saya kumpulin petani jambu bikin kelompok, jadi saya berharap ini jambu bukan hanya jadi jambu tapi jambu yang ada produk turunan. Ketika kita mendatangkan Dinas, saya ingin jadiin jambu Kristal sebagai icon desa, karena amanat dari mentri desa one village one product, satu desa satu produk unggulan, ditetapkanlah jambu Kristal sebagai icon desa. Jadi kita buat branding Bantarsari Jambu Kristal, jambu

Kristal bantarsari.” (wawancara langsung kristal. Nah terus dulu sempet dating dari Bupati Bogor.”(wawancara langsung Bapak Pepen sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Bapak Pepen menambahkan:

“Karena emang pas pa kades ngejabat disini udah rata rata sih a petaninya nanem jambu. Karena emang Desa Bantarsari juga termasuk yang pertama makanya dijadiin sama Pa Kades desa jambu kristal.” .”(wawancara langsung Bapak Surdi sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Atas penjelasan tersebut, Desa Bantarsari memperkenalkan kepada masyarakat luas dengan ide awal dari Bapak Lukmanul hakim menjadikan icon desanya sebagai “Desa Jambu Kristal Nasional”, karena memiliki produk unggulan berupa jambu kristal yang bertujuan menciptakan persepsi bahwa desa jambu Kristal adalah Desa Bantarsari.

b. Brand Meaning

Brand Meaning merupakan sebuah modal dari brand yang diperkenalkan. Seperti halnya Desa Bantarsari yang memiliki modal untuk brandnya yaitu Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendukung, karena mayoritas

54

mata pemcaharian masyarakatnya adalah perkebunan dan pertanian yang dapat dilihat bahwa jumlah petani sebanyak 73 petani jambu kristal dari 103 jumlah keseluruhan petani dan juga kondisi tanah yang mendukung untuk menanam jambu kristal di Desa Bantarsari, hal tersebut dikonfirmasi oleh Bapak Lukmanul Hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari:

“Tentu itu SDA sama SDM nya yang pertama disini. Kaya tanahnya cocok buat pohon jambu kristal kemudian para petaninya nanem jambu kristal udah mandiri. Kemudian adanya media sosial sekarang jadi lebih mudah kita memperkenalkan ke masayarakat luas.”

(wawancara langsung bapak Lukmanul Hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari).

Sebagai petani Bapak Agus menambahkan:

“Lahan pertaniannya juga cukup lah disini terus juga petaninya banyak yang nanem jambu kristal sesuai gitu pas buat nanem jambu kristal”. (wawancara langsung Bapak Agus sebagai petani jambu Kristal di Desa Bantarsari).

Bapak Andriyana menambahkan:

“Tanahnya sih disini cocok kan dulu ada penelitian juga awal tuh dari IPB ternyata di sini termasuk yang cocok tananhnya buat jambu kristal.” (wawancara langsung Bapak Agus sebagai petani jambu Kristal di Desa Bantarsari).

Atas penjelasan tersebut, Desa Bantarsari memiliki modal sumber daya yang dapat menunjang para petani menanam jambu kristal yaitu dengan luas tanah pertanian yang memadai dan juga kondisi tanah yang mendukung untuk menanam jambu kristal.

c. Brand Response

Brand Response merupakan tanggapan keistimewaan jambu kristal suatu daerah dibandingkan dengan daerah lain, sehingga mendaptkan kepercayaan pasar atas keistimewaan tersebut. Hasil jambu Kristal Desa Bantarsari pun memiliki keistimewaan tersendiri sebagaimana yang telah disampaikan oleh Bapak Abdul Basit:

“Waktu itu saya pernah bawa bibit pohon jambu Kristal sama buahnya tuh ke Sukabumi nah saya juga punya temen di sana yang nanem jambu Kristal juga, nah kita sama sama makan tuh hasil jambu Kristal Bantarsari sama jambu Kristal dari Sukabumi sana. Ternya beda kalo jambu kita tuh lebih manis gitu rasanya terus kulitnya juga ga terlalu tebel, lebih sedikit juga bijinya. Ga tau saya juga bingung kenapa bisa beda gitu yah kayaknya dari cuaca sama tanah juga ngaruh di Bantarsari termasuk yang cocok buat Jambu Kristal Nasional”. (wawancara langsung Bapak Abdul Basit Alawi sebagai Sekretaris Desa Bantarsari).

Bapak Mamun juga menambahkan keistimewaan hasil jambu kristal dari Desa Bantarsari:

“Karena saya nanem jambu Kristal ga di Bantarsari doang, saya nanem juga di daerah parung. Tapi yang saya bingungin hasil selalu beda jambu Kristal dari Bantarsari sama yang dari parung. Padahal cara penanaman, perawatan, pupuk yang kita kasih tuh sama.

Kalo dari Bantarsari dia lebih manis lah rasanya, tersu juga kulitnya tipis, bijinya juga ga terlalu banyak dikit lah”. (wawancara langsung

56

Bapak Mamun sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Bapak Pepen menambahkan respondari pelanggannya:

“Kalo saya sih ga pernah ngebandingin sih ya tapi kalo kata pelanggan saya dia pernah ngomong sama saya, kalo dia pernah beli di daerah laen gitu tapi rasanya beda terus bijinya juga lebih banyak.” (wawancara langsung Bapak Pepen sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Atas penjelasan tersebut bahwa hasil jambu kristal di Desa Bantarsari memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan denga daerah lain, seperti kulit jambunya yang tidak terlalu tebal, rasanya juga lebih manis dan bijinya juga tidak terlalu banyak.

Dengan keistimewaan tersebut menjadikan jambu kristal Desa Bantarsari lebih dikenal dengan keunggulannya.

d. Brand Relationship

Brand Relationship merupakan strategi desa untuk memperkenalkan suatu brand desa agar dikenal dengan masyarakat yang lebih luas, sehingga masyarakat luas tertarik dengan apa yang di pasarkan oleh desa. Ketertarikan tersebut dapat meningkatkan perekonomian masyarakat desa dan menciptakan rasa saling memiliki antara pemerintah desa dengan masyarakatnya. Desa Bantarsari mengaplikasikan strategi tersebut agar masyarakat luas lebih mengenal

Desa Bantarsari sebagai Desa penghasil jambu Kristal sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Lukmanul Hakim:

“Saya kalo kemana mana selalu bawa jambu ketika jadi kepala desa pada 2014. Ke DPR nih produk hasil bumi Bantarsari. Datang ke Bupati, dateng ke Dinas Kabupaten, ketemu orang selalu saya, termasuk Gubernur jawa Barat Pak Ahmad Heriyawan sampe segitunya agar kemudian desa ini orang tuh tau bahwa Bantarsari adalah jambu Kristal, jambu Kristal adalah bantarsari. Walaupun awalnya emang dari IPB kan.

Pendekatan media, karena sekarang eranya media apalagi media sosial, maka kita lakukan agar kenal Bantarsari ya jambu Kristal. Baik itu lewat Instagram, Facebook ataupun media sosial lainnya. kita lewat media cetak yang suka baca kaya koran. Tidak berhenti disitu di elektronik kita memberitakan secara nasonal, kaya Elshinta Tv kan masuk, TVRI, RCTI pernah, TV One, kemudian kalo lokal disini ada namanya media radar bogor dan lainnya. Agar itu menjadi opini publik, oh iya Bantarsari adalah “Jambu Kristal Nasional” gitu. termasuk ke Bupati tuh ketika itu launching bahwa desa ini adalah desa jambu Kristal.” (wawancara langsung Bapak Lukamnul hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari).

Bapak Abdul Basit Alawi menambahkan:

“Kita sih lari kesisi teknologi dengan cara waktu itu kita membuat website memperkenalkan jambu Kristal di Bantarsari.

Kita juga komunikasi dengan beberapa kampus, ketika mereka membuat market palce yang diberikan ke desa untuk dipakai sebagai media informasi agar brandnya lebih luas. Karena

58

tujuannya itu bahwa suatu saat jambu Kristal ini bisa dipatenkan.” (wawancara langsung Bapak Abdul Basit Alawi sebagai Sekretaris Desa Bantarsari).

Sebagai petani Bapak mamun menjelaskan cara desa untuk memperkenalkan desanya sebagai pengahsil jambu kristal :

“Jadi dimana mana dikenal juga jambu Kristal Bantarsari gitu, karena emang Pa Kades suka kemana mana bawa jambu git uterus sering ada liputan juga disini. (Wawancara langsun Bapak mamun sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Bapak Surdi menambahkan hubungan baik dengan desa dengan adanya branding tersebut karena merasakan hasilnya :

“Kalo terkenal sih sekarang terkenal a Desa Bantarsari. Apalagi sebelum covid yah a banyak suka pada dating dari sekolah tamu tamu gitu maen kesini metik jambu sendiri kan sama petani jadi kita juga seneng kan. Apalagi ada yang nginep di inepin juga pernah disini mah a.

pejabat juga suka pada dating dulu mah kesini.

jadi terkenal aja gitu atuh ya.” (Wawancara langsun Bapak Surdi sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Atas penjelasan tersebut branding yang dilakukan oleh Desa Bantarsari dengan memperkenal desanya sebagai “Desa Jambu Kristal Nasional”

melalui berbagai macam media sehingga para petani merasakan damapak yang baik dari branding tersebut, maka timbulah rasa saling memiliki antara

pemerintah desa dengan masyarakat petani jambu Kristal.

3. Faktor Proses Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Petani Jambu Kristal Melalui Branding “Desa Jambu Kristal Nasional” di Desa Bantarsari

Dalam melakukan proses pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui branding “Desa Jambu Kristal Nasional”, bahwa peneliti menemukan ada beberapa faktor yang mendukung dan menghambat dalam proses branding yang dilakukan oleh Desa Bantarsari diantaranya:

a. Faktor Pendukung

Perlunya faktor pendukung dalam melakukan proses branding yang dilakukan oleh Desa Bantarsari untuk membranding desanya sebagai “Desa Jambu Kristal Nasional”, seperti lahan untuk menanam pohon jambu kristal yang memadai dan dimudahkan dengan adanya media sosial sebagaimana yang telah disampaikan oleh Bapak Lukamnul Hakim:

“Pertama lahan pertaniannya cukup, terus petaninya juga secara mandiri nanam jambu Kristal jadi kita brandingnya juga lebih gampang apalagi secara media online Facebook, Whatsapp, Web desa dan banyak lagi.

Kemudian media cetak ada juga liputan dari Tv Nasional itu semua memudahkan kita untuk branding kalo Desa Bantarsari adalah Desa Jambu Kristal Nasional”. (wawancara langsung

60

Bapak Lukmanul Hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari).

Bapak Abdul Basit Alawi menambahkan:

“Pertama yang memudahkan kita emang disni sebelum kita di desa juga petani secara mandiri udah menanam jambu kristal. Nah kita juga brandingnya juga lebih gampang karena sekarang jamanya sosial media juga ya. kita juga pengennya gratis ya jadi lewat teknologi, sosial media terus juga liputan liputan kan mereka yang dateng kesini jadi itu”. (wawancara langsung Bapak Abdul Basit sebagai Sekretaris Desa Bantarsari).

Bapak Mamun sebagai petani menambahkan:

“Lahannya sih disini luas yah cukup lah terus juga pohon jambunya juga emang cocok Bantarsari karena beda kan hasilnya sama punya saya yang di Parung.” (wawancara langsung Bapak Mamun sebagai petani jambu kristal di Desa bantarsari).

Bapak Pepen sebagai petani menambahkan:

“Pendukung sih faktor online kata saya mah. Kan lebih gampang ngejualin sekarang lewat online.” (wawancara langsung Bapak sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Atas penjelasan tersebut, faktor pendukung proses branding yang dilakukan oleh Desa Bantarsari untuk membranding desanya meliputi lahan yang memadai, petani yang mandiri, dan juga adanya media sosial yang memudahkan untuk memperkenal kepada masayrakat bahawa Desa Bantarsari adalah

“Desa Jambu Kristal Nasional”.

b. Faktor Penghambat

Dalam melakukan proses branding yang dilakukan oleh Desa Bantarsari untuk membranding desanya sebagai “Desa Jambu Kristal Nasional”

tidaklah muda, dikarenakan adanya faktor yang menghambat proses branding tersebut, sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Lukmanul Hakim:

“Yang menjadi persoalan kita ke depan hari ini, adalah pertama regenerasi petani, di masyarakat kami itu ketika orang tuanya jadi petani anak anaknya sudah kuliah S1, udah bekerja di pabrik, di perusahaan, ga ada yang ke pertanian. Kedua tentang tata ruang, tata ruang itu kan yang ngatur Kabupaten,bahwa di Bantarsari sejak 2017 itu sudah dibolehkan untuk pembangunan pabrik, rumah pemukinan.

Ini kan jadi tantangan kita, betul ga? Secara otomatis kan lahan pertanian akan terus menyempit ini.” (wawancara langsung Bapak Lukmanul Hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari).

Bapak Abdul Basit Alawi menambahkan:

“Karena pada saat ini sesuatu yang belum biasa dilakukan oleh sebuah desa hak paten ini.

Kan harus berimbang ketika kita harus mematenkan jambu Kristal sebagai produk kita maka produk itu harus ada halalnya segala macem kan itu. (wawancara langsung Bapak Abdul Basit Alawi sebagai Sekretaris Desa Bantarsari).

Bapak M. Abdul Aziz Saili menambahkan:

“Disini itu kadang masyarakatnya juga yang terikat dengan tengkulak. Kita juga pernah menawarkan petani untuk menjual ke kita dulu

62

tapi kan mereka masih terikat sama tengkulak”.

(wawancara langsung Bapak M. Abdul Aziz Saili

(wawancara langsung Bapak M. Abdul Aziz Saili

Dokumen terkait