• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Branding “Desa Jambu Kristal Nasional” di

BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Petani Jambu

2. Proses Branding “Desa Jambu Kristal Nasional” di

Ada empat indikator yang ditawarkan menurut Keller (Hermansah, 2019) ini dalam melakukan proses city branding :

a. Brand Identity b. Brand Meaning c. Brand Response d. Brand Relationship

Keempat indikator tersebut maknanya akan disesuaikan dengan kebutuhan re-branding kota, yaitu:

Brand Identity, sebuah kota yang akan membangun brand harus dulu selesai menjawab mau jadi kota yang dipersepsikan seperti apa. Brand Meaning, sebuah kota seperti apa saat ini, sumberdaya atau modal apakah yang dimiliki dan seperti apakah kekuatannya jika dipergunakan untuk melakukan lompatan brand. Brand Response, tanggapan atau persepsi atas merek atau brand kota, sebab positioning kota yang akan di branding ulang perlu mendapatkan kejelasan dalam arti yang sesungguhnya. Brand Relationship, bagaimana kota tersebut memiliki dan dimiliki oleh warganya.

Keterikatan batin antara kota dan warganya harus dibangun tidak artifisial, tetapi justru harus mendalam.

Sebab dengan kekuatan tersebut, brand kota akan menancap terlebih dahulu pada warganya, baru kemudian dengan sendirinya akan menyebar keluar.

Tentunya keempat proses tersebut dapat disesuaikan untuk melakukan branding desa, dengan tujuan mengembangkan potensi yang ada di suatu desa.

30

3. Tujuan Branding Desa

Setiap daerah melakukan branding di daerahnya, dikarenakan tujuan dari branding dapat memberi keuntungan bagi daerah yang melakukannya. Berikut ini adalah tujuan melakukan branding desa menurut Handito (Sugiarsono, 2009: 192):

a. Memperkenalkan kota atau daerah lebih dalam b. Memperbaiki citra

c. Menarik wisatawan asing dan domestic d. Menarik minat investor untuk berinvestasi e. Meningkatkan perdagangan dan perekonomian

Pemberdayaan Ekonomi Melalui Branding “Desa Jambu Kristal

Nasinal” di Desa Bantarsari

Faktor Branding Desa 1. Faktor Pendukung 2. Faktor Penghambat Proses Pemberdayaan Ekonomi

1. Penyadaran

2. Tranformasi Perilaku &

Keterampilan

3. Peningkatan Kemampuan

Proses Branding Desa 1. Brand Identity 2. Brand Meaning 3. Brand Response 4. Brand Relation C. Kerangka Berpikir

Gambar II.1 Kerangka Berpikir

Hasil Proses Branding Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Petani Jambu Kristal

32 BAB III

GAMBARAN UMUM LATAR PENELITIAN

A. Gambaran Umum Desa Bantarsari, Kecamatan Rancabungur, Kebupaten Bogor

1. Sejarah Desa Bantarsari

Sejarah Desa Bantarsari di awali dengan pemekaran dari Desa Bantar Kambing pada Tahun 1985, dikarenakan memiliki wilayah yang cukup luas serta keinginan sebagain besar warga untuk memisahkan diri dari wilayah Bantar Kambing maka dilaksanakan pemekaran Induk dari Desa Bantar Kambing menjadi Desa Bantarjaya dan hasil pemekaran Desa Bantarkambing adalah menjadi Desa Bantarsari.

Paska pemekaran dan pemisahan diri dari Desa Bantar Kambing yang sekarang menjadi Bantarjaya, Desa Bantarsari dipimpin dengan sejarah kepemimpinan sebagai berikut:

a. H. Ahmad Nawawi : Tahun 1986 s/d 1994 b. Sobari : Tahun 1995 s/d 2001 c. Sobari : Tahun 2002 s/d 2007 d. Didin Mahmudin, S.Ag : Tahun 2008 s/d 2013 e. Lukmanul Hakim, S.Ag : Tahun 2014 s/d Sekarang

2. Keadaan Geografis Desa Bantarsari a. Letak Wilayah

Desa Batarsari memiliki luas wilayah yang tidak terlalu besar, serta daerah administratif Desa Bantarsari jika menilik ke desa lainnya yang terdapat di Kecamatan Rancabugur adalah menjadi salah satu desa yang memiliki wilayah administratif terkecil.

Namun demikian, dengan tidak terlalu besarnya wilayah yang harus dikembangkan oleh Pemerintahan Desa Bantarsari maka hal itu dirasa akan cukup memabantu dalam meningkatkan potensi yang terdapat di Desa Bantarsari pada masa ke masa.

Secara geografis Desa Bantarsari merupakan salah satu desa di Kecamatan Rancabungur yang mempunyai luas wilayah mencapai 341,41 ha.

Dengan jumlah penduduk Desa Bantarsari sebanyak 7.623 Jiwa. Desa Bantarsari merupakan salah satu desa dari tujuh desa yang ada di Kecamatan Rancabungur Kabupaten Bogor, Desa Bantarsari berada pada ketinggian ± 165 dpl (longitut 6,70543 ºE dan etitut 106,70543 ºE) dan curah hujan ± 200 mm, rata-rata suhu udara 28º - 32º celcius. Bentuk wilayah berombak hanya 1%. Desa Bantarsari terletak di sebelah Timur Kecamatan Rancabungur yang apabila ditempuh dengan memakai kendaraan hanya menghabiskan waktu selama ± 15 menit.

34

Gambar III.1 Peta Desa Bantarsari

Sumber : Rencana Pembangunan Jangka Menegah (RPJM) Desa Bantarsari

Keterangan :

 Sebelah Utara : Desa Cimulang Kecamatan Rancabungur

 Sebelah Timur : Desa Bantarjaya Kecamatan Rancabungur

 Sebelah Selatan : Desa Bojong Tengah Kecamatan Kemang

 Sebelah Barat : Desa Pabuaran Kecamatan Kemang

Jarak dari pusat-pusat pemerintahan:

 Dari pusat pemerintahan Kecamatan : 5 km

 Dari pusat pemerintahan Kabupaten : 21 km

 Dari pusat pemerintahan Provinsi :161 km

 Dari Pusat pemerintahan Pusat : 83 km

0 200 400 600 800 1000 1200

RW 1 RW 2 RW 3 RW 4 RW 5 RW 6 RW 7 RW 8

b. Karakteristik Desa

Desa Bantarsari merupakan kawasan pedesaan yang bersifat agraris, dengan mata pencaharian dari sebagian besar penduduknya adalah bercocok tanam terutama sektor pertanian dan perkebunan. Sedangkan pencaharian lainnya adalah sektor industri kecil yang bergerak di bidang kerajian dan pemanfaatan hasil olahan pertanian dan perkebunan.

3. Demografi Desa Bantarsari a. Keadaan Penduduk

Berdasarkan pemutahiran data pada bulan Desember 2020, jumlah penduduk Desa Bantarsari terdiri dari 7.623 jiwa dengan rincian sebagai berikut:

Gambar III.2

Grafik Jumlah Penduduk Tiap RW

Sumber : Rencana Pembangunan Jangka Menegah (RPJM) Desa Bantarsari

36

b. Menurut Kelompok Umur Tabel III.1

Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur

Usia Jumlah

0 – 14 Tahun 1.288

15 – 64 Tahun 5.666

> 65 Tahun 669

Sumber : Rencana Pembangunan Jangka Menegah (RPJM) Desa Bantarsari

c. Menurut Tingkat Pendidikan Tabel III.2

Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Jumlah

Strata 2 5

D4 atau Strata 1 120

D3 atau Sarjana Muda 25

D1 atau D2 12

SLTA Sederajat 1.120

SLTP Sederajat 1.484

SD Sederajat 791

Tidak Bersekolah 632

Total 4.189

Sumber : Rencana Pembangunan Jangka Menegah (RPJM) Desa Bantarsari

d. Data Jumlah Dusun, RT dan RW

 Jumlah Dusun : 2 Wilayah

 Jumlah RW : 8 Wilayah

 Jumlah RT : 27 Wilayah

4. Pemerintahan Desa Bantarsari

Desa Bantarsari menganut sistem kelembagaan pemerintahan desa dengan pola minimal sebagai berikut:

Gambar III.3

Bagan Pemerintahan Desa Bantarsari

Sumber : Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa Bantarsari

Tabel III.3

Daftar Perangkat Desa Bantarsari

No Nama Jabatan

1 Lukmanul Hakim, S. Ag Kepala Desa Bantarsari 2 Abdul Basit Alawi, ST Sekretaris Desa

3 Herlina, SE Kepala Seksi

Pemerintahan

4 Asep Sopian Kepala Seksi

Pelayanan

38 6 Nur Fajriyanti Kepala Urusan Tata

Usaha 7 Dian Puspitasari, AMD Kepala Urusan

Keuangan 8 M. Abdul Jabar Pelaksana Tugas

9 Burhanudin Kepala Dusun I

10 Surahman Kepala Dusun II

Sumber : Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa Bantarsari

B. Gambaran Umum Jambu Kristal Desa Bantarsari 1. Sejarah Jambu Kristal Desa Bantarsari

Mulai tahun 2008 sampai 2010, Institut Pertanian Bogor (IPB) menawarkan program jambu kristal dan beberapa petani mengambil program tersebut untuk dapat belajar membudidayakan jambu kristal. Setelah uji coba menanam jambu kristal di lahan pertaniannya sendiri, income atas hasil tani jambu kristal membaik dan membuat banyak petani lainnya beralih untuk menanam jambu kristal.

Bapak Lukmanul Hakim, S.Ag selaku kepala Desa Bantarsari menerapkan inisiatif dari Menteri Desa agar mempunyai produk unggulan untuk setiap desa, atau biasa disebut One Village One Product (OVOC). Atas

inisiatif tersebut pemerintah desa mendukung dengan mengadakan pelatihan kepada petani jambu kristal untuk dapat lebih mengembangkan jambu kristal dan jambu kristal juga ditetapkan pada tahun 2015 menjadi icon desa dengan branding “Desa Jambu Kristal Nasional”.

2. Lambang Desa Bantarsari

Pada dasarnya lambang sebuah desa tetap mengacu kepada UUD tentang penetapannya, namun desa boleh membuat lambang yang kemudian di perkenalkan sebagai ciri khas desa tersebut. Bantarsari sebagai salah satu desa yang ingin memperkenalkan hasil kebudayaan masyarakat kepada dunia luas kemudian menetapkan bahwa salah satu ciri khas yang akan dimunculkan adalah Jambu Kristal yang dewasa ini menjadi komoditas yang paling penting dalam menuju perkembangan masyarakat khususnya dalam bidang ekonomi. Dengan dasar tersebut, akhirnya dibuatlah lambang resmi Desa Bantarsari yang di adopsi dari model jambu kristal yang terdapat di Desa Bantarsari dengan semboyan Bantarsari Maju.

Gambar III.4 Lambang Desa Bantarsari

Sumber : bantarsaridesa.blogspot.com

40

Bantarsari Maju adalah semboyan warga masyarakat Desa Bantarsari untuk senantiasa dapat lebih baik lagi pada masa yang akan datang. Dalam pandangan Lukmanul Hakim, S.Ag sebagai Kepala Desa Bantarsari yang memimping sekarang adalah salah satu desa yang memiliki potensi besar untuk berkembang dan lebih maju dari desa-desa lainnya. Pasalnya Desa Bantarsari memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh desa lainnya, salah satu potensi yang dapat dikembangkan di kemudian hari sebagai salah satu ciri khas dari desa bantarsari adalah budidaya perkebunan dan pengolahan jambu kristal.

3. Pengelolaan Produksi Jambu Kristal

Pengelolaan produksi jambu kristal terbagi menjadi beberapa tahapan, diantaranya sebagai berikut:

a. Panen

Jambu kristal panen selama tiga kali dalam setahun, dimana tiap dua bulan untuk panen dan tiga bulan setelahnya untuk perawatan kembali.

b. Pembersihan Buah

Buah yang dipanen dari lahan biasanya dilakukan pembersihan dengan spons dan plastic serta pencucian kuliat buah di packing room.

Sedangkan buah dari petani biasanya telah dibersihkan sendiri oleh masing-masing petani.

c. Penyortiran

Setelah dilakukan pembersihan, jambu kristal hasil panen akan disortir per grade mutunya yang dapat di klasifikasikan sebagai berikut:

Tabel III.4

Standar Mutu Jambu Kristal per Grade Klasifikasi Keterangan

Grade A  Ukuran buah seragam dan memiliki bobot ± 300 g

 Bentuk buah mendekati bulat atau bulat sempurna

 Warna kulit buah hijau muda

 Tekstur permukaan buah mulus, tidak ada bercak kecoklatan akibat serangan penyakit, kebusukan atau akibat benturan fisik

Grade B  Ukuran buah 250-300 g

 Bentuk buah tidak bulat sempurna

 Tekstur permukaan terdapat sedikit bercak kecoklatan

Grade C  Ukuran buah tidak seragam, cenderung kecil sekitar 250 g

 Tekstur permukaan buah tidak mulus, terdapat bercak kecoklatan dan terdapat cacat akibat benturan fisik

42

 Warna kulit buah kekuningan (terlalu matang)

 Bentuk buah tidak sempurna Sumber : Jurnal “Analisis Pengendalian Mutu

Jambu Kristal”

d. Penjualan

Penjualan dilakukan kepada tengkulak dengan sistem borongan yaitu petani jambu Kristal menerima berisih bon hasil penjualan jambu Kristal dan penjualan secara mandiri melalui media sosial.

4. Olahan Jambu Kristal

Jambu kristal juga dapat diolah menjadi beberapa jenis makanan dan minuman, diantaranya sebagai berikut:

a. Puding jambu kristal b. Dodol jambu kristal c. Nastar jambu kristal d. Bolu jambu kristal e. Manisan jambu kristal f. Teh jambu kristal g. Jus jambu kristal

Olahan jambu kristal tersebut hanya di produksi pada saat adanya event tertentu saja.

5. Pemilik Tanah Jambu Kristal Desa Bantarsari Tabel III.5

Kepemilikan Tanah Jambu Kristal Desa Bantarsari

No Nama Pemilik Status

1 Amsri Hak Milik

2 Duki Hak Milik

3 Pepen Hak Milik

4 Amat Hak Milik

5 Rahman Hak Milik

6 Agus Hak Milik

7 Aleh Hak Milik

8 Uci Hak Milik

9 Onang Hak Milik

10 Maja Hak Milik

11 Rosyid Hak Milik

12 Satibi Hak Milik

13 Ma’at Hak Milik

14 Endam Hak Milik

15 Minad Hak Milik

16 Aning Hak Milik

17 Madhafi Hak Milik

18 Oding Hak Milik

19 Cecep Wahyu Hak Milik

20 Hermanto Hak Milik

21 Ujang Hak Milik

22 N.M. Sudin Hak Milik

23 Alwani Hak Milik

24 Idrus Hak Milik

25 Udin Hak Milik

44

41 Tarmizi/Ahmad Hak Milik

42 Basir Hak Milik

43 Kanyun/Junaedi Hak Milik

44 Ace Rahmat Hak Milik

53 Andri Hak Milik

54 Wahid Hak Milik

55 Suniman Hak Milik

56 Sobari Hak Milik

57 Opik Hak Milik

58 Samsudin Hak Milik

59 Taufik Hak Milik

60 Obing Hak Milik

61 Rohim Hak Milik

62 Saman Hak Milik

63 Basri Hak Milik

64 H. Saripudin Hak Milik

65 Marjaya Hak Milik

66 Asep Hak Milik

67 Rustami Hak Milik

68 Akai Hak Milik

69 Nawi Hak Milik

70 Budi Encil Hak Milik

71 Udin Hak Milik

72 Hj. Aisyah Hak Milik

73 H. Taji Hak Milik

Sumber : Kantor Kepala Desa Bantarsari

46 BAB IV

DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Petani Jambu Kristal di Desa Bantarsari

Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan kepada masyarakat merupakan langkah untuk meningkatkan kondisi perekonomian masyarakat. Dalam melakukan hal tersebut tidaklah instant, perlu adanya beberapa proses yang harus dilakukan. Desa Bantarsari, Kecamatan Rancabungun, Kabupaten Bogor merupakan desa dengan sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah bercocok tanam, terutama sektor pertanian dan perkebunan dengan jumlah petani 103 yang mayoritas 73 petaninya adalah petani jambu kristal. Pemerintah Desa Bantarsari memiliki keinginan untuk meningkatkan kondisi perekonomian di masyarakatnya dengan melakukan proses pemberdayaan ekonomi kepada para petani jambu kristal.

1. Proses Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat a. Penyadaran dan Pembentukan Perilaku

Tahap pertama yang perlu dilakukan adalah pemerintah desa beserta masyarakatnya perlu kesadaran serta keinginan bersama untuk meningkatkan kondisi sosial perekonomian mereka.

Kepala Desa Bantarsari beserta anggotanya menginginkan peningkatan perekonomian di masyarakat dengan melakukan beberapa pendeketan kepada masyarakatnya terutama kepada mayoritas petani jambu Kristal.

“Masyarakat ini kan butuh partner, dia ingin ada yang membantu secara jaringan untuk penjualan maupun dari sisi pembinaan. Kita memadukan dua konsep ini agar para petani jambu ini senang, artinya desa punya perhatian.

Adanya pelatihan kemudian dengan adanya kunjungan, produknya laku, kemudian secara penjuan cepat, itu membuat masyarakat senang dengan apa yang dilakukan oleh kita.

Pendekatannya itu bisa bersifat personal kita datang ke mereka, atau datang ke kebun, ketika kita bawa tamu bawa ke kebun, kan senang tuh petani”. (wawancara langsung Bapak Lukmanul Hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari).

Menurut Bapak Kepala Desa Bantarsari dengan adanya perhatian yang diberikan oleh desa maka itu merupakan langkah pendekatan dengan memadukan dua konsep yaitu membantu secara jaringan dari sisi penjualan maupun sisi pembinaan, maupun yang bersifat personal kepada para petani. Hal tersebut dirasakan oleh Bapak Mamun sebagai petani jambu kristal:

“Pa Kadesnya deket sama warga sama petani juga jadi enak aja gitu ngobrolnya.

Sekarang aja kan Bantarsari udah desa maju dulu mah pengen roboh atuh ini tertinggal desanya.” (wawancara langsung Bapak Mamun sebagai petani di Desa Bantarsari)

48

Pendekatan secara personal juga dirasakan oleh Bapak Ujang sebagai petani:

“Pa Kadesnya sih yang aktif suka ngobrol gitu sama petani tuh, ada juga sih dari yang laen juga ska ngobrol sama kita petani.” (wawancara langsung Bapak Ujang sebagai petani di Desa Bantarsari).

Untuk melakukan pemberdayaan ekonomi bukan hanya dengan satu tahapan saja. Namun perlu adanya beberapa tahapan berikutnya yang harus dilakukan ole Desa Bantarsari untuk meningkatkan perekonomian masyarakat petani jambu kristal b. Transformasi Pengetahuan dan Kecakapan

Keterampilan

Tahap ini merupakan tahap lanjutan untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan serta pengetahuan masyarakat sebagai nilai tambah dan mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat yang sedang diterapkan. Tahapan ini juga dipraktekan oleh Desa Bantarsari kepada masyarakat petani jambu kristal dengan mengadakan pelatihan- pelatihan ataupun seminar, seperti yang disampaikan oleh Bapak Lukmanul Hakim sebagai berikut:

“Ada orang IPB yang biasa konsen terkait jambu Kristal tapi juga ada yang dari pihak Dinas Pertahanan Pangan maupun Dinas Perkebunan, IBD Indonesia Bangun Desa waktu itu mereka datang kita kumpulkan petani mengadakan pelatihan tentang peningkatam

kualitas jambu.” (wawancara langsung Bapak Lukmanul Hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari).

Selanjutnya Bapak M. Abdul Aziz Sailil menambahkan:

“Alhamdulillah untuk pelatihan para petani banyak, entah itu dari kuliah, dari lembaga lembaga pemerintahan, kaya dari IPB apa aja hama tentang jambu nah itu edukasi cara untuk mengobatinya, nah kalo dari dinas itu biasanya kelompok tani”. (wawancara langsung Bapak M.

Abdul Aziz Saili sebagai Kepala Seksi Kesejahteraan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Bantarsari).

Dengan melakukan berbagai macam pelatihan pelatihan kepada para petani khususnya petani jambu kristal, pihak desa tentu mengharapkan tahap ini sebagai langkah untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan serta pengetahuan para petani jambu Kristal. Yang dirasakan oleh para petani termasuk Bapak Mamun sebagai petani jambu Kristal di Desa Bantarsari menambahkan:

“Dulu sering ada tuh pelatihan pelatihan dari desa tentang jambu, hama kaya gitu lah.

Kesemua petani juga ada terus juga ada khusus tentang jambu kristalnya aja”. (wawancara langsung Bapak Mamun sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Bapak Agus menambahkan:

“Pertama itu dari kelompok tani kemudian desa mensuport silahkan salah satunya dengan mengadakan pelatihan, kemudiam seiring berjalannya waktu berkembang”. (wawancara

50

langsung Bapak Agus sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Setelah menerapkan pelatihan kepada petani jambu kristal untuk mencapai tujuan pemberdayaan ekonomi tidak cukup dengan melakukan tahapan penyadaran serta paltihan saja, tetapi perlunya tahapan lajutan untuk menjadikan masyarakat berdaya secara ekonomi dengan mandiri.

c. Peningkatan Kemampuan Intelektual dan Kecakapan Keterampilan

Dengan melakukan tahapan peningkatan kemampuan intelektual dan kecakapan keterampilan ini yang bertujuan masyarakat petani jambu kristal di Desa Bantarsari dapat meningkatkan kemampuan yang telah dimiliki dengan mengarahkan para petani agar dapat lebih berkembang secara mandiri, seperti yang disampaikan oleh Bapak Agus:

“Jadi gitu karena adanya pelatihan dari desa itu yah kita seretusnya kan jadi tau terus juga kita para petani ngembangin sendiri lah dari pelatihan pelatihan itu, Tapi tetep branding mah tugasnya Desa kita amah petani Cuma nanem”. (wawancara langsung Bapak Agus sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Bapak Andriyana menambahkan:

“Kalo ga dikembangin kita nanem ga maju maju dong yah pasti kita pengen hasilnya kan lebih bagus kan.” (wawancara langsung Bapa Andriyana sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Dikarenakan petani sejak awal memang sudah mandiri hal tersebut disampaikan oleh Bapak Abdul Basit:

“Kita lihat emang dari awal petani udah mandiri disini jadi mereka ngembangin dari pelatihan itu secara mandiri juga. Karena pelatihan itu buat hasil pertanian lebih baik.” .”

(wawancara langsung Bapa Abdul Basit sebagai Sekertaris Desa Bantarsari).

Atas penjelasan tersebut diketahui bahwa petani dapat mengembangkan hasil dari pelatihan-pelatihan yang telah diadakan oleh pihak pemerintah Desa Bantarsari sehingga para petani jambu krital bisa berkembang secara mandiri.

2. Proses Branding “Desa Jambu Kristal Nasional” di Desa Bantarsari

Branding desa merupakan langkah untuk mengembangkan perekonomian masyarakat desa dengan melihat potensi yang ada di setiap desa mulai dari SDA maupun SDM karena setiap desa memiliki potensi yang berbed-beda, maka perlulah mengembangkan dan memperkenalkan potensi desa tersebut kepada masayarakat luas dengan tujuan meningkatkan perekonomian masyarakatnya dan memperkenalkan desanya.

Desa Bantarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor merupakan desa yang memilki potensi

52

SDA perkebunan yang mayoritas petaninya adalah menanam jambu kristal. Adanya potensi tersebut di Desa Bantarsari dapat dijadikan branding desanya sebagai

“Desa Jambu Kristal Nasional” melalui proses yang harus dipenuhi agar dapat mengembangkan potensi desanya sebagai berikut:

a. Brand Identity

Brand Identity merupakan hal terpenting untuk membentuk persepsi masyarakat terhadap brand yang dikenalkan, maka Desa Bantarsari ingin memperkenalkan desanya sebagai desa penghasil jambu kristal dengan menjadikan brand desanya sebagai “Desa Jambu Kristal Nasional”. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Bapak Lukmanul Hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari dengan mendatangkan pihak-pihak terkait agar “Desa Jambu Kristal Nasional” menjadi icon Desa Bantarsari.

“Kita masifkan gitu loh. Kita masifkan jambu Kristal di Bantarsari. Kemudian kita mendatangkan Dinas Kabupaten Bogor, Dinas Pertanian Perkebunan, Dinas Ketahanan Pangan. Mereka membekali para petani. Saya kumpulin petani jambu bikin kelompok, jadi saya berharap ini jambu bukan hanya jadi jambu tapi jambu yang ada produk turunan. Ketika kita mendatangkan Dinas, saya ingin jadiin jambu Kristal sebagai icon desa, karena amanat dari mentri desa one village one product, satu desa satu produk unggulan, ditetapkanlah jambu Kristal sebagai icon desa. Jadi kita buat branding Bantarsari Jambu Kristal, jambu

Kristal bantarsari.” (wawancara langsung kristal. Nah terus dulu sempet dating dari Bupati Bogor.”(wawancara langsung Bapak Pepen sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Bapak Pepen menambahkan:

“Karena emang pas pa kades ngejabat disini udah rata rata sih a petaninya nanem jambu. Karena emang Desa Bantarsari juga termasuk yang pertama makanya dijadiin sama Pa Kades desa jambu kristal.” .”(wawancara langsung Bapak Surdi sebagai petani jambu kristal di Desa Bantarsari).

Atas penjelasan tersebut, Desa Bantarsari memperkenalkan kepada masyarakat luas dengan ide awal dari Bapak Lukmanul hakim menjadikan icon desanya sebagai “Desa Jambu Kristal Nasional”, karena memiliki produk unggulan berupa jambu kristal yang bertujuan menciptakan persepsi bahwa desa jambu Kristal adalah Desa Bantarsari.

b. Brand Meaning

Brand Meaning merupakan sebuah modal dari brand yang diperkenalkan. Seperti halnya Desa Bantarsari yang memiliki modal untuk brandnya yaitu Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mendukung, karena mayoritas

54

mata pemcaharian masyarakatnya adalah perkebunan dan pertanian yang dapat dilihat bahwa jumlah petani sebanyak 73 petani jambu kristal dari 103 jumlah keseluruhan petani dan juga kondisi tanah yang mendukung untuk menanam jambu kristal di Desa Bantarsari, hal tersebut dikonfirmasi oleh Bapak Lukmanul Hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari:

“Tentu itu SDA sama SDM nya yang pertama disini. Kaya tanahnya cocok buat pohon jambu kristal kemudian para petaninya nanem jambu kristal udah mandiri. Kemudian adanya media sosial sekarang jadi lebih mudah kita memperkenalkan ke masayarakat luas.”

(wawancara langsung bapak Lukmanul Hakim sebagai Kepala Desa Bantarsari).

Sebagai petani Bapak Agus menambahkan:

“Lahan pertaniannya juga cukup lah disini terus juga petaninya banyak yang nanem jambu

“Lahan pertaniannya juga cukup lah disini terus juga petaninya banyak yang nanem jambu

Dokumen terkait