• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2 Kajian Pustaka

2.2.6 Pemimpin

Pengertian pemimpin menurut Henry Pratt Fairchild terbagi atas dua, yaitu pengertian dalam arti luas dan pengertian dalam arti yang sempit. Pemimpin dalam arti luas merupakan seorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir, atau mengontrol usaha/upaya orang lain, atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi. Sedangkan dalam arti sempit, pemimpin adalah seseorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya, dan penerimaan secara sukarela oleh pengikutnya. Pemimpin juga dapat diartikan sebagai pribadi yang memiliki kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengangkatan resmi, dapat mempengaruhi kelompok-kelompok yang dipimpinnya untuk melakukan usaha secara bersama yang mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran tertentu, atau dengan kata lain sesungguhnya kepemimpinan bersumber dari keunggulan manusia, yaitu dari segi kualitas (Arifin, 2012: 2).

Apabila kepemimpinan didefinisikan sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktifitas yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok, maka akan ditemukan tiga implikasi, yaitu harus melibatkan orang lain, mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama, dimana semakin besar sumber kekuasaan, semakin besar pula potensinya untuk menjadi pemimpin yang efektif, dan kemampuan untuk menggunakan berbagai bentuk kekuasaan demi mempengaruhi perilaku pengikut melalui sejumlah cara, diantaranya dengan mendelegasikan, mengikutsertakan, menjajakan, ataupun memberitahukan. Karenanya, kepemim- pinan merupakan bentuk dominasi yang didasari oleh kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu berdasarkan keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus, misalnya, situasi yang informal. Adapun pemimpin insitusional sering dikaitkan dengan kekuasaan formal (Arifin, 2012: 3-4).

Kepemimpinan berhubungan erat dengan komunikasi karena sebagai seorang pemimpin, orang tersebut harus memiliki tiga syarat, yaitu kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan. Salah satu syarat lainnya yang paling riil dari pemimpin adalah ia memiliki pengikut-pengikut. Kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan adalah cara bagaimana ia mendapatkan pengikut-pengikut tersebut.

Namun, cara yang paling efektif untuk mendapatkan pengikut adalah dengan komunikasi. Komunikasi tersebut digunakan untuk menciptakan pengaruh, dimana orang lain akan mengikuti pengaruh tersebut. Untuk mencapai komunikasi yang efektif, seorang pemimpin harus memahami bahwa komunikasi yang efektif memiliki lima karakter pokok, yaitu komunikasi adalah media dan pesan dari proses pemasaran, komunikasi sebagai penghubung di antara manusia, komunikasi sebagai proses memperoleh persetujuan/dukungan, dan komunikasi sebagai pembuktian kredibilitas (Nugroho, 2004: 82-84).

Menurut Steven M Bornstein dan Anthony F Sands, terdapat lima inti kredibilitas, yakni conviction, character, courage, composume, dan competence.

Conviction adalah keyakinan dan komitmen. Character adalah integritas,

kejujuran, respect, dan kepercayaan yang konsisten. Courage adalah keberanian dan kemauan untuk bertanggung jawab atas keyakinannya. Composume adalah ketenangan batin, suatu kemampuan untuk memberikan reaksi dan emosi yang tepat dan konsisten, khususnya dalam menghadapi situasi kritis. Competence

adalah keahlian, keterampilan, dan profesionalitas. Sebagai seorang pemimpin, seseorang diharapkan dapat mendidik pengikutnya, dimana seorang pemimpin dapat mempersiapkan pemimpin-pemimpin yang dapat menggantikannya di masa depan (Nugroho, 2004: 85). Dalam hal ini, pemimpin yang dimaksudkan adalah pemimpin formal maupun pemimpin informal.

Pemimpin formal merupakan orang yang ditunjuk oleh organisasi/lembaga sebagai pemimpin, berdasarkan keputusan dan pengangkatan resmi untuk memangku suatu jabatan dalam struktur organisasi dengan segala hak dan kewajiban yang berkaitan dengannya dan untuk mencapai sasaran organisasi. Adapun ciri-ciri dari pemimpin formal ini adalah berstatus sebagai pemimpin selama masa jabatan tertentu (legitimas), harus memenuhi persyaratan formal, didukung oleh organisasi formal, mendapatkan balas jasa materil dan immateril serta emolumen (keuntungan ekstra), terdapat mutasi dan mencapai promosi, ada hukuman dan sanksi, dan memiliki kekuasaan dan wewenang (Arifin, 2012: 9).

Sedangkan pemimpin informal adalah orang yang tidak mendapatkan pengangkatan formal sebagai pemimpin tetapi karena memiliki sejumlah kualitas unggul, dapat mencapai kedudukan sebagai orang yang mampu mempengaruhi

kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok atau masyarakat. Ciri-ciri dari pemimpin informal ini antara lain, tidak memiliki penunjukan formal/legitimas, ditunjuk oleh masyarakat, dimana kepemimpinan berlangsung selama masyarakat mengakuinya, tidak memperoleh dukungan dari suatu organisasi formal, biasanya tidak mendapatkan imbalan balas jasa atau imbalan diberikan secara sukarela, tidak dapat dimutasi dan mencapai promosi, dan hukuman yang ada berbentuk rasa respect yang berkurang dan pribadi tidak diakui/ditinggalkan oleh masyarakat (Arifin 2012: 10).

Pemimpin memiliki etika profesi, dimana profesi adalah suatu lapangan kegiatan (a field of activity) yang memiliki kriteria, antara lain pengetahuan (knowledge), aplikasi yang kompeten (competent application), tanggung jawab sosial (social responsibility), pengontrol diri (self control), dan sanksi dari masyarakat (community sanction). Profesi kepemimpinan harus dilandaskan kepada paham dasar yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, yaitu pengabdian pada kepentingan umum, jaminan keselamatan, kebaikan, dan kesejahteraan bagi bawahan atau masyarakat, menjadi pengingat dan pemersatu dalam segala gerak upaya, dan penggerak dari setiap kegiatan. Etika adalah penyelidikan filsafat mengenai kewajiban-kewajiban manusia, dan tentang perkara yang baik dan buruk ataupun yang berkaitan dengan moral (Arifin, 2012: 10-11).

Etika tidak membahas kondisi/keadaan manusia, melainkan tentang bagaimana manusia itu seharusnya bertingkah laku, dimana etika juga merupakan filsafat mengenai praxis manusia yang harus berbuat menurut aturan dan norma tertentu. Karenanya, etika profesi pemimpin adalah mengenai kewajiban- kewajiban pemimpin, tingkah laku pemimpin yang baik, dan moral pemimpin. Kriteria dari etika profesi pemimpin tersebut mencakup pemimpin yang memiliki satu atau beberapa kelebihan dalam pengetahuan dan keterampilan, keterampilan sosial, kemahiran teknis serta pengalaman, sehingga ia kompeten melakukan kewajiban dan tugas-tugas kepemimpinan. Pemimpin juga harus dapat membedakan hal-hal yang baik dan buruk, bertanggung jawab, memiliki kemampuan mengontrol diri, melandaskan diri pada nilai-nilai kesusilaan dan kebaikan, dan mengenal sanksi (Arifin, 2012: 12).

Pemimpin yang ideal memiliki pengetahuan umum yang luas, kemampuan bertumbuh dan berkembang, memiliki rasa ingin tahu, kemampuan analisis yang baik, daya ingat yang kuat, kapasitas integratif yang tinggi, kemampuan berkomunikasi secara efektif, keterampilan mendidik, memiliki sikap yang objektif, realistis, mampu membedakan dan menentukan tingkat prioritas, menjadi teladan, pendengar yang baik, memiliki sikap adaptabilitas, tegas, berani, visioner, dan memiliki sikap yang antisipatif dan proaktif. Namun, menurut Hans Finzel, adakalanya pemimpin membuat kesalahan. Kesalahan tersebut diantaranya adalah lebih memilih sikap top down (memerintah) daripada sikap melayani, mendahulukan pekerjaan administratif dibandingkan urusan sumber daya manusia, karena sumber daya manusia merupakan peluang yang lewat hubungannyalah terjadi perubahan, tidak adanya penegasan, tidak memberikan tempat bagi kaum minoritas, diktator dalam mengambil keputusan, pendelegasian kerja kepada orang yang tidak sesuai dengan kemampuannya, terdapat kekacauan komunikasi, tidak mengetahui budaya organisasi, sukses tanpa pengganti, dan tidak fokus ke masa depan (Arifin, 2012: 13, 43).

Dokumen terkait