• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2 Kajian Pustaka

2.2.3 Semiotika

Secara etimologis, istilah semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Tanda itu sendiri didefenisikan sebagai sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dianggap mewakili sesuatu yang lain. Istilah semeion diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostik inferensial. “Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandai adanya api. Secara terminologis, semiotika dapat didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda, dan mengartikan semiotika sebagai ilmu tanda (sign) dan segala yang berhubungan dengannya, yaitu cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya (Bungin, 2007: 164).

Menurut Dick Hartoko, semiotika adalah bagaimana karya itu ditafsirkan oleh para pengamat dan masyarakat lewat tanda-tanda atau lambang-lambang. Luxemburg menyatakan bahwa semiotika adalah ilmu yang secara sistematis mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang, sistem-sistemnya, dan proses perlambangan. Sedangkan menurut Preminger, semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotika itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti (Bungin, 2007: 165).

Semiotika memang dimaksudkan sebagai ilmu tanda. Artinya, apabila kita mempelajari semiotika, maka kita mempelajari tentang berbagai tanda. Cara kita berpakaian, apa yang kita makan, dan cara kita bersosialisasi sebenarnya juga mengkomunikasikan hal-hal mengenai diri kita yang dapat kita pelajari sebagai tanda. Ziauddin Sardar dan Borin van Loon, dalam buku Cultural Studies for

Beginners, berpendapat bahwa tanda merupakan konsep utama dalam cultural

berpikir dengan sarana tanda. Karenanya, tanpa tanda kita tidak dapat berkomunikasi. Tanda-tanda adalah basis dari seluruh komunikasi (Littlejohn dalam Sobur, 2004: 15). Manusia dengan perantaraan tanda-tanda dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya.

Tanda-tanda mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Pembaca menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Sistem penandaan memiliki pengaruh yang besar. Paul Cobley dan Litza Jansz beranggapan munculnya studi khusus tentang sistem penandaan adalah benar- benar karena fenomena modern. Tanda dalam pandangan Peirce adalah sesuatu yang hidup dan dihidupi (cultivated), dimana tanda hadir dalam proses interpretasi (semiosis) yang mengalir (Sobur, 2004: 17).

Tanda-tanda dapat mengacu ke denotatum melalui konvensi. Tanda seperti itu adalah tanda konvensional yang disebut simbol. Jadi, simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya. Hubungan diantaranya bersifat arbitrer atau semena, dimana hubungannya berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat. Simbol itu muncul dalam konteks yang sangat beragam dan digunakan untuk berbagai tujuan. Simbol adalah “objek” atau peristiwa apapun yang merujuk kepada suatu hal. Simbol adalah suatu istilah dalam logika, matematika, semantik, semiotika, dan epistemologi. Simbol juga memiliki sejarah panjang di dunia teologi, dimana simbol dianggap sebagai sebuah sinonim dari “kepercayaan” (Sobur, 2004: 154).

Simbol (symbol) berasal dari kata Yunani “sym-ballein” yang artinya melemparkan secara bersama sesuatu (benda, perbuatan) yang dikaitkan dengan suatu ide. Adapula yang menyebutkan simbol berasal dari kata “symbolos”, yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan suatu hal kepada seseorang (Herusatoto dalam Sobur, 2004: 155). Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia

tahun 2003, karangan W.J.S Poerwadarminta, simbol atau lambang diartikan sebagai semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya, yang menyatakan suatu hal atau maksud tertentu. Misalnya, warna putih melambangkan kesucian, atau padi melambangkan kemakmuran.

Saussurean memiliki pendapat bahwa simbol merupakan diagram yang mampu menampilkan gambaran suatu objek meskipun objek itu tidak dihadirkan. Contohnya, peta bisa memberikan gambaran hubungan objek-objek tertentu meskipun objek itu tidak dihadirkan. Manusia memiliki kemampuan menggunakan simbol. Kemampuan manusia menciptakan simbol membuktikan bahwa manusia sudah memiliki kebudayaan yang tinggi dalam berkomunikasi, mulai dari simbol yang sederhana seperti bunyi dan isyarat, sampai kepada simbol yang dimodifikasi dalam bentuk sinyal-sinyal melalui gelombang udara dan cahaya, seperti radio, televisi, dan satelit (Sobur, 2004: 164).

Kajian semiotika bukanlah kajian yang benar-benar baru, namun analisis- analisis tentang bagaimana interpretasi dan penggunaan citra simbolik sudah berkembang di era 1940-an dan lumayan bersaing dengan penelitian efek atau dampak media massa yang populer di Amerika saat itu. Apabila kita telusuri dalam buku-buku semiotika yang ada, hampir sebagian besar yang menyebutkan bahwa ilmu semiotika bermula dari ilmu linguistik dengan tokohnya adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913). Saussure tidak hanya dikenal sebagai Bapak Linguistik, tetapi juga banyak dirujuk sebagai tokoh semiotika dalam bukunya

Course in General Linguistics (1916). Dalam bukunya tersebut, ia

mengemukakan bahwa semiotika merupakan ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Menurut Saussure, penggunaan tanda secara sosial diatur oleh pemilihan, pengkombinasian dan penggunaan tanda- tanda dengan cara tertentu sehingga sesuatu mempunyai makna dan nilai sosial.

Menurut Saussure, penggunaan tanda secara sosial dan kaitannya dengan sistem tanda menggunakan dua model analisis bahasa dalam semiotika. Model analisis bahasa tersebut adalah langue, yaitu analisis bahasa sebagai sebuah sistem, dan parole, yaitu bahasa yang digunakan secara nyata oleh individu- individu dalam berkomunikasi secara sosial. Secara epistemologis, “semiotika signifikansi” pada prinsipnya adalah semiotika pada tingkat langue, sementara “semiotika komunikasi” adalah semiotika pada tingkat parole. Dalam kerangka

langue, Saussure menjelaskan bahwa tanda sebagai kesatuan yang tak dapat

‘bentuk’ atau ‘ekspresi’, dan bidang petanda (signified) untuk menjelaskan ‘konsep’ atau ‘makna’ (Sobur, 2004: vii-vii).

Selain Saussure, tokoh penting lain dalam kajian semiotika adalah Charles Sanders Peirce (1839-1914), seorang filsuf Amerika, dan Charles Williams Morris (1901-1979) yang mengembangkan behaviourist semiotics. Kemudian yang mengembangkan teori-teori semiotika modern adalah Roland Barthes (1915- 1980), Algirdas Greimas (1917-1992), Yuri Lotman (1922-1993), Christian Metz (1931-1993), Umberto Eco (1932), dan Julia Kristeva (1941). Selain Saussure, yang bekerja dengan semiotics framework adalah Louis Hjlemslev (1899-1966) dan Roman Jakobson (1896-1982). Dalam Ilmu Antropologi terdapat Claude Levi Strauss (1980), dan Jacques Lacan (1901-1981) dalam psikoanalisis.

Dokumen terkait