BAB 2 DASAR TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Penanganan Material Khusus
pemotongan ini adalah, hasil pemotongan dengan mudah dapat dipindahkan menuju tempat yang telah ditentukan.
2.2.5.4 Containment System
Containment system adalah sebuah sistem yang beruguna untuk mencegah dan
mengurangi dampak polusi yang dihasilkan oleh proses penutuhan kapal terhadap perairan di sekitar proses berlangsung. Dengan adanya sistem ini, akan mempermudah proses pembersihan yang merupakan bagian dari penutuhan kapal. Containment system sendiri haruslah tahan terhadap polutan yang ada dan juga harus tahan menghadapi cuaca. Berikut ini merupakan uraian tentang jenis-jenis containment system.
1. Floating Barrier
Floating barrier merupakan sebuah penghalang yang mengapung di permukaan air. Floating barrier berguna untuk menutupi suatu luasan permukaan air agar terhindar dari
polutan-polutan yang berpotensi mencemari perairan. Floating barrier dapat berupa sambungan tabung silinder yang berisi busa dan dapat berputar satu dengan lainnya.
2. Oil Skimmer
Oil skimmer merupakan alat yang berguna untuk mengangkat cairan minyak yang
terapung di atas permukaan laut. Oil skimmer mempunyai bagian penahan seperti pelampung yang digunakan untuk membatasi pergerakan minyak.
3. Drainnage
Drainnage merupakan sistem yang terdiri dari saluran dan tempat penyimpanan untuk
pencemaran yang diakibatkan oleh minyak atau air balas kotor. Sistem ini biasanya terdiri dari sistem permanen dan sistem portabel
2.3 Penanganan Material Khusus
Material utama yang dihasilkan dari proses Ship Recycling ada banyak. Mulai dari material ferrous, non-ferrous, mesin, dan lainnya dapat dihasilkan karena tersebar pada seluruh badan kapal. Persebaran material dapat dilihat pada Tabel xx. Sementara ini untuk memperkirakan berat material hasil dari proses Ship Recycling dapat mengacu pada berat kapal kosong (Light Weight Ship). Komponen-komponen yang dapat dimasukkan dalam kategori kapal kosong adalah diantaranya: mesin penggerak, mesin bantu, outfitting yang melekat pada
23 kapal, reuseable material, dan material sampah (disposal) (Hasugian & Triwilaswandio Wuruk Pribadi, 2010).
Tabel 2.7 Recycle Material dan Letaknya di Atas Kapal
Material Utama Letak di Atas Kapal
Ferrous
Struktur dan peralatan kapal, hatch cover, pipa, sambungan pipa, stern frame, jangkar, rantai jangkar, propeller shaft,
rudder, wire, sheet metal, dan pemisah tangki
Non-Ferrous
Copper: cable, pipe, windlings motor, fitting Alumunium: Anode, wheelhouse
Zinc: anode
Special Bronze: propellers fitting
Machinery main engine, auxilary, pumps, generator, boiler, separator, steering gear, deck machinery, crane, dll
Peralatan Elektronik dan Listrik
Switchboards, consoles, control panel, navigational aids, domestic electrical items, instruments, sesor, dll
Mineral
Asbestos dan mineral wood untuk insulations, ceramics (domestic sanitary equipment), concrete, tiles, glass, windows, dll
Plastik plastic pipework, fitting, furniture, light fitting, lifeboat, raft, dll
Liquid, Chemical, and Gases
fuels, fuels oils, lubricating oils, hydraulic fluids, polluted waters, refrigerants, cargo residue, sludges, chemical, dll Joinery
timber, joinery bulkhead and deckhead panels, accomodation doors and frames, furniture and furnishing, composite timber products, dll
Material bekas lainnya domestic wastes, mercury, battery, marine growth
Penjelasan mengenai penanganan tiap-tiap material yang dihasilkan dari proses Ship
Recycling dapat disimak pada pemaparan berikut ini (Yen, Wang, & Durak, 2010). 2.3.1 Logam Scrap Ferrous dan Non-Ferrous
Dalam industri penutuhan kapal, logam scrap merupakan material yang paling banyak dihasilkan oleh satu kali proses penutuhan kapal. Hal ini didasari karena sebagian besar komponen kapal merupakan logam. Logam non-ferrous biasanya mendapatkan perhatian yang lebih daripada logam ferrous dikarenakan harganya yang lebih mahal. Logam non-ferrous biasanya dipilah lagi di gudang untuk kemudian dipilah lebih lanjut. Sedangkan logam ferrous
24
biasanya langsung diangkut dan dijual kepada metal broker untuk diolah kembali menjadi logam baru.
2.3.2 Permesinan
Dalam industri penutuhan kapal, logam scrap merupakan material yang paling banyak dihasilkan oleh satu kali proses penutuhan kapal. Hal ini didasari karena sebagian besar komponen kapal merupakan logam. Logam non-ferrous biasanya mendapatkan perhatian yang lebih daripada logam ferrous dikarenakan harganya yang lebih mahal. Logam non-ferrous biasanya dipilah lagi di gudang untuk kemudian dipilah lebih lanjut. Sedangkan logam ferrous biasanya langsung diangkut dan dijual kepada metal broker untuk diolah kembali menjadi logam baru.
2.3.3 Peralatan Elektronik
Peralatan listrik dan elektronik yang ada kapal biasanya dipilah menjadi dua: pertama merupakan peralatan listrik yang masih dapat digunakan di bidang umum (bukan bidang
marine) seperti air conditioner, televisi dan lainnya. Bagian pertama ini biasanya disimpan
kembali dalam gudang atau dapat langsung dijual sebagai barang bekas.
Kedua, adalah barang yang tidak dapat dipakai kembali. Biasanya barang-barang seperti ini akan dibuang. Namun, pembuangannya membutuhkan biaya lagi dikarenakan barang ini adalah polutan yang tidak boleh dibuang secara sembarangan.
Ada satu hal lain yang merupakan bagian dari peralatan elektroik yang ada pada kapal, yaitu: kabel. Kabel-kabel ini tidak bisa dijual lagi secara sembarangan. Untuk membuang kabel-kabel ini pun juga diawasi dikarenakan merupakan polutan yang cukup mengganggu. Solusi yang dihadirkan adalah dengan menguliti kabel dan mengambil tembaga yang merupakan inti dari kabel tersebut. Tembaga ini kemudian dijual sebagai logam scrap kepala metal broker (Hasugian & Triwilaswandio Wuruk Pribadi, 2010).
2.3.4 Mineral
Ada beberapa mineral dengan jumlah cukup besar yang digunakan pada kapal. Hal ini berlaku khususnya pada bagian akomodasi. Abestos-containing material (ACM) dapat ditemukan pada insulation dan lapisan permukaan material lain.
Pada dasarnya, mineral merupakan komponen yang dapat didaur ulang, namun dikarenakan tidak ada pasar yang dapat mengolah mineral daur ulang ini maka mineral biasanya
25 hanya dibuang begitu saja. Pun, ada biaya tambahan yang cukup besar apabila dilakukan proses pengolahan mineral lanjutan.
2.3.5 Plastik
Sebagai bahan yang paling sering dijadikan bahan dasar bagi keperluan sehari-hari, plastik menjadi barang yang dapat ditemukan dengan mudah pada kapal. Khususnya pada daerah akomodasi, plastik dapat ditemukan sebagai furniture dan fitting yang diolah menjadi beberapa bentuk polimer.
Karena plastik ini merupakan bahan yang susah untuk terurai, maka sangat sulit untuk dibuang begitu saja. Biasanya plastik disimpan di dalam gudang atau bisa juga dibagikan kepada penduduk sekitar untuk kemudian digunakan kembali oleh penduduk.
2.3.6 Chemical Liquids dan Chemical Gases
Chemical liquids dan chemical gases merupakan bahan yang cukup berbahaya untuk
dibuang begitu saja. Memang ada beberapa pasar yang mau untuk membeli bahan bakar sisa kapal untuk selanjutnya dijual kembali. Namun sebagian besar liquids dan gases membutuhan penangan khusus yang juga berarti membutuhkan biaya tambahan.
2.3.7 Hazardous Material
IMDG code, Basel Convention, dan badan resmi lainnya mencantumkan beberapa daftar material yang dalam jangka waktu singkat, menengah, atau lama dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan. Potensi material berbahaya yang terdapat pada kapal di antaranya adalah: (Peraturan Pemerintah no. 21 tentang Perlindungan Lingkungan Maritim, 2010).
1. Peralatan elektronik, contoh: transformers, batteries, accumulators 2. Cooler
3. Scrubber 4. Separator 5. Heat exchanger
6. Tempat penampungan untuk produk zat kimia
7. Tangki, diesel tanks (termasuk bulk storage tanks)
8. Stored solvent, dan stock bahan kimia 9. Paint
10. Kabel elektronik yang diproduksi sebelum tahun 1975 (mengandung PCB)
11. Sacrificial anode
12. Fire extinguisher dan fire fighting equipment
13. Piping, valves, dan fitting 14. Pump dan compressors 15. Engines dan generaors 16. Oil sumps
17. Hydraulic sytems