• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 DASAR TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Ship Recycling Yard

2.2.5 Teknologi dalam Ship Recycling Yard

Ada beberapa macam jenis teknologi yang dibutuhkan untuk mengaplikasikan proses penutuhan kapal yang memperhatikan lingkungan. Teknologi yang diterapkan pada ship recycling yard ini difokuskan pada metode yang digunakan selama proses penutuhan kapal

17 berlangsung (Makbul & Triwilaswandio Wuruk Pribadi, 2010). Dengan menerapkan teknologi-teknologi ini, tentunya berguna untuk menekan tingkat risiko pekerjaan penutuhan baik dari sisi keselamatan kerja dan kontaminasi lingkungan. Teknologi ini juga berguna untuk memaksimalkan segala potensi sumber daya yang dimiliki oleh galangan untuk menutuhkan satu buah kapal.

2.2.5.1 Docking System

Docking System merupakan teknologi bagaimana cara mengangkat kapal dari perairan

menuju daratan untuk kemudian dilakukan proses pembongkaran dan penutuhan. Perlu diperhatikan bahwa dalam teknologi ini harus memperhatikan dampak docking terhadap lingkungan. IMO melalui Marine Environment Protection Committee 56th session tahun 2007,

telah mengesahkan Guidelines for Safe and Environmentally Sound Ship Recycling –part 1 yang di dalamnya berisi petunjuk cara-cara docking sebuah kapal untuk kemudian dilakukan proses penutuhan. Docking system yang disarankan antara lain:

1. Natural Beaching (Metode Beaching)

Gambar 2.3 Metode Beaching Sumber: dikutip dari (IMO, 2007)

Natural Beaching adalah metode docking apabila galangan tidak mempunyai dermaga

atau jetty. Dalam metode ini, kapal dipotong pada saat kapal berada pada zona pasang surut. Proses pemotongan, blok besi, dan peralatan kapal lainnya dikerjakan pada daerah intertidal (terpengaruh pasang surut). Kapal dikandaskan dengan memamfaatkan perbedaan pasang surut air laut, sehingga pengandasan dan penarikan kapal dilakukan dengan mesin yang disediakan oleh galangan sendiri.

18

Metode ini memiliki kelemahan jika ditinjau pada aspek lingkungan. Hal ini dikarenakan pada saat proses pemotongan, kontaminasi polutan pada lingkungan menjadi rawan sekali. Oleh karena itu, pada saat menggunakan metode ini, pengawasan dari pihak manajemen menjadi concern tersendiri. Ilustrasi metode ini dapat dilihat pada Gambar 2.3. 2. Wet Basin (Metode Landing)

Gambar 2.4 Metode Landing Sumber: dikutip dari (IMO, 2007)

Wet Basin merupakan metode docking di mana kapal dikandaskan di pantai dengan

metode pasang surut. Perbedaan metode wet basin dengan metode natural beaching terletak pada proses pemotongannya. Apabila pada natural beaching proses pemotongan dilakukan pada area intertidal, maka pada metode wet basin, pemotongan dilakukan di luar area intertidal. Blok besi diangkat menggunakan crane sebelum dipotong menjadi bongkahan yang lebih kecil. Ilustrasi metode ini dapat dilihat pada Gambar 2.4.

3. Pier (Metode Afloat)

Pier merupakan metode docking dengan kondisi kapal terapung di sepanjang dermaga

atau jetty. Pemotongan kapal juga dilakukan pada saat kapal masih mengapung di atas air. Blok besi yang besar kemudian diangkat menggunakan crane ke daratan dan kemudian dipotong lebih lanjut. Ilustrasi metode ini dapat dilihat pada Gambar 2.5.

19 Gambar 2.5 Metode Pier

Sumber: dikutip dari (IMO, 2007)

4. Dry Dock (Metode Dry)

Dry dock merupakan metode paling aman dan paling mahal. Metode ini membutuhkan graving dock untuk mengangkat kapal dari air ke daratan. Pada metode ini seluruh metodenya

dilakukan di dry dock. Kemudian penanganan blok besi tetap menggunakan crane. Ilustrasi metode ini dapat dilihat pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Metode Dry Dock Sumber: dikutip dari (IMO, 2007)

20

2.2.5.2 De-coating System.

Sebelum melakukan proses pemotongan pada kapal yang akan ditutuhkan, terlebih dahulu harus melalui proses yang dinamakan de-coating. Seperti namanya, de-coating dapat diartikan sebagai penggagalan coating, sehingga proses de-coating adalah proses melepaskan

coating yang telah menempel pada kapal. Coat yang biasanya menemperl pada kapal yaitu:

permukaan cat, karat, dan benda ain yang menempel di permukaan hull. De-coating system adalah sistem yang berguna untuk melakukan proses de-coating. Berikut ini merupakan uraian mengenai de-coating system.

1. Abrasive Dry

Abrasive dry merupakan de-coating system yang sangat lazim digunakan dalam industri

maritim. Abrasive dry menggunakan pengikis yang terbuat dari bahan metallic yang halus dan kemudian disemprotkan pada permukaan hull dengan tekanan yang tinggi. De-coating system ini sangat efektif untuk membersihkan permukaan dari kotoran dan mil scale.

Kelemahan dari penggunaan abrasive dry terletak di akhir kegiatan de-coating. Di akhir kegiatan de-coating, sisa hasil pengikisan harus dikumpulkan dan kemudian dipindahkan ke tempat daur ulang untuk diproses kembali. Selain itu, debu dan emisi yang dihasilkan oleh sistem ini sungguh berbahaya dan berpotensi mengganggu keselamatan dan kesehatan pekerja. 2. Hydro Blasting

Hydro blasting merupakan de-coating system yang menggunakan air bertekanan tinggi

sebagai bahan pengikisnya. Pada sistem ini, permukan kapal akan disemprot dengan air bertekanan tinggi melalui pompa. Kelemahan dari sistem ini adalah bahwa sisa air yang digunakan akan bercampur dengan solid coat yang dihasilkan dari proses de-coating. Campuran ini harus dipisahkan dengan cara disaring.

Ada dua macam hydro blasting. Kedua jenis hydro blasting ini dibedakan berdasarkan pengendaliannya. Pertama adalah jenis semi-automatic di mana masih dibutuhkan pengendalian manusia untuk melakukan hydro blasting. Kedua adalah jenis automatic, di mana seluruh pengendaliannya dilakukan oleh robot.

3. Dry Ice Blasting

Dry ice blasting merupakan jenis de-coating system dengan menggunakan partikel keras

21 merupakan sistem yang paling murah dikarenakan tidak memerlukan biaya untuk proses pembuangan dan pengolahan sisa-sisa de-coating.

4. Soda Blasting

Soda blasting merupakan de-coating system dengan menggunakan pengikis baking soda

atau yang mempunyai nama ilmiah sodium bicarbonate (NaHCO3). Sistem ini merupakan salah satu sistem yang paling murah dan aman untuk digunakan. Pengaplikasian soda blasting sangat cocok pada pembersihan kaca, karet, aluminium, fiberglass, cat, pelumas, dan oli.

2.2.5.3 Cutting System

Proses kunci dalam penutuhan kapal adalah proses pemotongan. Pada proses ini ada beberapa macam sistem yang dikenal dengan cutting system. Cutting System merupakan sistem pemotongan yang berguna untk memisahkan satu buah kapal besar menjadi bagian-bagian dengan ukuran tertentu. Sistem pemotongan digunkan menyesuaikan dengan kapabilitas dan kebutuhan proses pemotongan yang akan dilakukan. Berikut ini adalah uraian cutting system yang lazim digunakan.

1. Oxy-acetylene

Sistem pemotongan menggunakan oxy-acetylene merupakan sistem pemotongan yang paling lazim digunakan pada industri maritim. Secara umum cara kerja sistem pemotongan ini hampir mirip dengan proses pengelasan menggunakan oxy-acetylene. Perbedaan mendasar terletak pada konstruksi blandernya. Sistem pemotongan ini paling efektif digunakan pada baja yang berukuran tebal.

2. Water Jet

Sistem menggunakan waterjet adalah sistem pemotongan yang menerapkan prinsip erosi air yang lazim terjadi di alam. Namun pada proses pemotongan, proses erosi menjadi lebih terkonsentrasi dan cepat. Sistem pemotonganini menggunakan air berteknan tinggi yang dihasilkan oleh pompa. Air yang digunakan pun bisa dicampur dengan substansi abrasive untuk menghasilkan hasil yang lebih kasar.

3. Mobile Shear

Sistem pemotongan menggunakan mobile shear adalah sistem pemotongan yang menggunakan mesin pemotong yang dapat bergerak di mana guntung yang sangat besar akan digunakan untuk menggunting besi menjadi ukuran yang lebih kecil. Keuntungan dari sistem