• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 6 ANALISA PERBANDINGAN PROSES DAN RINCIAN BIAYA

6.1 Analisa Perbandingan Proses

6.1.1 Peninjauan Masing-Masing Proses

Masing-masing kondisi galangan, baik kondisi eksisting galangan (galangan konvensional) dan rancangan pengembangan galangan, mempunyai jumlah, urutan, dan pelaksanaan proses yang berbeda-beda. Keduanya dapat memiliki sistematika proses yang berbeda dikarenakan karena kondisi eksisting galangan yang hanya bersikap untuk menyelesaikan penutuhan kapal secepatnya dengan untung sebanyaknya tanpa memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, sementara rancangan galangan sebisa mungkin mengakomodasi tujuan industri penutuhan kapal untuk mengurangi polusi yang ada.

Tabel 6.1 Matriks Perbedaan Proses pada Kedua Galangan

Proses Eksisting Pengembangan

Kapal Masuk Ada ada

Pre-cutting process tidak ada ada

Waste material handling tidak ada ada

Cutting Process Ada ada

90

Perbedaan proses yang ada pada keduanya dapat dilihat pada Tabel 6.1. Dari tabel itu terlihat terdapat beberapa proses yang ada dan dilaksanakan pada rancangan pengembangan galangan, namun tidak ada pada kondisi eksisting galangan. Proses yang dimaksud adalah

pre-cutting process dan waste material handling.

Namun demikian, walaupun ada kesamaan proses pada keduanya, belum tentu prosesnya dilakukan dengan prosedur yang sama. Pembahasan mengenai perbedaan dari proses keduanya dapat disimak pada uraian berikut ini.

6.1.1.1 Kapal Masuk

Kapal harus masuk ke dalam lingkungan galangan terlebih dahulu sebelum dapat ditutuhkan. Baik galangan konvensional dan galangan yang telah dikembangkan tetap memberlakukan syarat bahwa kapal harus menyelesaikan masalah administrasi terlebih dahulu, baru kemudian kapal dapat masuk dengan leluasa ke dalam galangan.

Perbedaan diantaranya keduanya bukanlah regulasi terkait administrasi tersebut. Perbedaan diantaranya terletak pada teknologi docking system-nya. Docking system yang digunakan pada galangan konvensional adalah natural beaching seperti Gambar 6.1. Dengan metode seperti ini, tentunya tidak memunculkan adanya fasilitas tambahan, kapal cukup dikandaskan di zona intertidal dan kemudian proses penutuhan dapat dilakukan.

Gambar 6.1 Metode Natural Beaching yang Diterapkan

Namun, dengan menggunakan metode natural beaching, maka lingkungan zona intertidal terancam untuk terkontaminasi polutan yang dihasilkan selama proses penutuhan berlangsung. Tanah di zona intertidal juga terancam terkikis dan turun apabila tidak dapat

91 menanggung berat kapal. Selain itu, dengan menggunakan metode natural beaching, kapal harus menunggu waktu pasang air laut untuk ditarik ke lebih dekat ke daratan.

Sementara itu, rancangan pengembangan galangan, menetapkan bahwa kapal masuk ke galangan dengan menggunakan metode landing (wet basin). Metode ini memiliki kelemahan yaitu harus menyediakan dok gali yang dapat dimasuki oleh kapal, sehingga membutuhkan biaya investasi yang tidak sedikit.

Namun demikian, metode ini mempunyai kelebihan yang sepadan dengan jumlah biaya yang harus dikeluarkan. Dengan menggunakan metode landing, kapal tidak harus menunggu air pasang untuk dapat ditarik lebih dekat ke daratan. Kondisi tanah yang berada di sekitar kapal juga tidak akan turun dan tetap terjaga kekuatannya dikarenakan disangga dengan turap beton yang dipasang mengelilingi dok gali. Selain itu, yang terpenting adalah pemotongan utama tidak dilakukan di zona intertidal, sehingga lingkungan di zona intertidal tidak terancam terkontaminasi oleh polutan.

6.1.1.2 Pre-Cutting Process

Pre-cutting process adalah proses yang hanya ada pada rancangan prosedur proses

penutuhan. Dalam alur proses yang terjadi pada rancangan galangan, terdapat pre-cutting

process yang berisi tahapan-tahapan proses pengolahan limbah berbahaya yang ada di atas

kapal.

Pada galangan konvensional, ada satu proses yang mirip dengan pre-cutting process. Proses ini merupakan proses pengosongan kapal. Kapal dikosongkan terlebih dahulu dari barang-barang yang ada di dalamnya sebelum kemudian dipotong. Namun, dikarenakan pengosongan kapal ini tidak mengindahkan dampak pembuangan limbah tersebut ke lingkungan, maka proses pengosongan kapal ini tidak dapat disebut sebagai pre-cutting

process. Sehingga, dapat dinyatakan bahwa dalam galangan penutuhan konvensional tidak ada

proses pre-cutting.

6.1.1.3 Waste Material Handling

Waste material handling adalah proses yang tidak akan ditemukan pelaksanaanya pada

galangan penutuhan konvensional. Galangan konvensional tidak memiliki proses pemilahan limbah, penyimpanan, dan pengolahannya. Galangan penutuhan konvensional, hanya membuang limbah alakadarnya di sekitar lingkungan kerja. Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi lingkungan.

92

Untuk itulah, proses waste material ini ada pada rancangan pengembangan galangan. Hal ini dikarenakan bahwa prngolahan limbah dari kapal sangat penting sekali untuk menghindari pencemaran yang mungkin terjadi.

6.1.1.4 Cutting Process.

Metode yang diterapkan pada saat melaksanakan cutting process, baik di galangan penutuhan konvensional maupun rancangan pengembangan galangan, sama. Metode pemotongan yang diterapkan sama-sama menggunakan metode pemotongan oxy-acetylene. Proses pemotongan sama-sama dilakukan di ruang terbuka untuk menghindari risiko kebakaran dan sebagainya. Keduanya juga mengganti gas acetylene dengan gas LPG untuk mempermudah proses pemotongan.

Yang membedakan antara keduanya adalah prosedur pada saat proses pemotongan dilakukan. Apabila pekerja pada galangan penutuhan konvensional bekerja dengan perlengkapan seadanya (tanpa perlindungan apapun) seperti pada Gambar 6.2, maka pada rancangan pengembangan galangan para pekerjanya bekerja dengan perlengkapan safety yang lengkap. Peralatan safety ini bernama Personal Protective Equipment (PPE). Di mana PPE terdiri dari baju anti kebakaran, helm, sepatu safety, masker, sarung tangan, dan lain-lain.

Gambar 6.2 Perlengkapan Pekerja Galangan Penutuhan Konvensional

Keputusan melengkapi peralatan safety ini dirasa cocok dikarenakan kondisi pekerjaan penutuhan kapal memiliki tingkat risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Sehingga akibat dari kecelakaan kerja dapat direduksi seminimal mungkin apabila terjadi sesuatu.

Selain PPE, pada rancangan pengembangan galangan terdapat peralatan pemadam kebakaran yang ada di beberapa titik. Peralatan pemadam ini diadakan dikarenakan rawannya

93 kebakaran daapt terjadi pada proses pemotongan kapal. Hal seperti ini tidak ada pada galangan kapal konvensional.

6.1.1.5 Penjualan

Besi bekas hasil penutuhan harus dijual ke pabrik logam dikarenakan itulah sumber

revenue utama galangan. Baik galangan konvensional maupun rancangan pengembangannya

mempunyai kesamaan dalam penetapan revenue utama ini. Keduanya tetap menjual besi hasil penutuhan sebagai revenue utama. Keduanya sama-sama mengirim besi bekas menggunakan truk angkut dalam bentuk kecil.

Perbedaan dari keduanya terletak pada material handling dan proses pengiriman. Galangan konvensional mengirim besi bekas langsung ke pabriknya begitu kapal selesai dipotong. Namun ketika produktivitas melonjak dan besi yang dihasilkan lebih banyak daripada biasanya, maka besi bekas hanya akan ditumpuk begitu saja di pantai untuk menunggu pengangkutan selanjutnya.

Hal ini diperbaiki dalam rancangan pengembangan galangan, di mana ketika terjadi penumpukan besi bekas hasil penutuhan. Besi itu disimpan terlebih dahulu di gudang dengan bantuan forklift, sehingga meminimalisir timbulnya kontaminasi pantai oleh logam berat yang ada pada pecahan besi.