• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanganan Pasca Panen

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 114-120)

Setelah sayuran dipanen, masih terdapat beberapa perlakuan atau kegiatan yang perlu diperhatikan oleh petani untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan permintaan pasar (khususnya pasar modern). Beberapa perlakuan atau kegiatan setelah panen biasa dikenal dengan istilah penanganan pasca panen. Perlakuan yang ada di penanganan pasca panen antara lain meliputi: pencucian sayur, penimbangan, sortasi, grading, penyimpanan, pengepakan, dan perlakuan lainnya. Kegiatan sortasi, pengkelasan (grading), pengemasan, dan penyimpanan sayur dilakukan berdasarkan ukuran dan standar mutu yang telah ditentukan untuk menghasilkan sayur yang baik dan seragam (KOMPOR Merbabu, 2012). Hal tersebut juga bertujuan untuk memenuhi permintaan pasar modern, baik dari segi kualitas, kuantitas, dan komformitas. Paragraf berikutnya akan memberi gambaran yang jelas tentang teknis penanganan pasca panen di kedua poktan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian, penanganan pasca panen yang dilakukan oleh Poktan Tranggulasi dan Poktan BM relatif sama. Pernyataan dari Supoyo akan memberikan gambaran singkat tentang teknis penanganan pasca panen:

“Dalam seminggu bisa dua kali kirim sayuran, bermacam-macam jenis, ada selada, bit,

spinach, tergantung pesanan. Kalau pasar minta 10 jenis tanaman, kelompok harus mengirim

10. Di sini sudah dilipihi, terus di gudang, karakteristik produk yang diminta kami sudah tahu, misal ukuran yang diminta. Seperti buncis perancis, panjangnya harus 12 cm, yang panjangnya mencapai 15 cm ditolak, hanya diterima yang 12 cm itu. Di gudang itu sudah ada pengelolanya. Nanti barang yang dikirim disesuaikan dengan permintaan, sehingga semuanya laris terjual.”

Berdasarkan pernyataan itu, maka dapat diketahui bahwa tiap minggu terdapat kegiatan pengiriman sayuran dan jenis sayurannya disesuaikan dengan permintaan dari pasar modern. Di gudang poktan, sayuran yang dipilih juga disesuaikan berdasarkan permintaan dari pasar modern, baik dari segi kualias, kuantitas, maupun komformitas. Kemudian, di poktan sudah ada komponen yang bertugas khusus untuk melakukan penanganan pasca panen. Keterampilan dalam melakukan kegiatan penanganan pasca panen mutlak diperlukan, untuk semaksimal mungkin menekan jumlah produk yang ditolak dan mencegah komplin dari pasar modern.

Berbagai informasi pokok untuk melakukan kegiatan penanganan pasca panen dimuat dalam SOP Komunitas Petani Organik (KOMPOR) Merbabu. Baik

Poktan Tranggulasi maupun Poktan Bangkit Merbabu, keduanya tergabung dalam gabungan kelompok tani (Gapoktan) Komunitas Petani Organik (KOMPOR) Merbabu. Di SOP dijelaskan informasi pokok tentang alat dan perlengkapan yang diperlukan, seperti: pisau untuk membuang bagian yang tidak memenuhi kualitas, timbangan, keranjang sayur, lakban, stiker (untuk labelling), kemasan kantong plastik, kemasan kotak karton, sapu, dan informasi pokok lainnya (KOMPOR Merbabu, 2012).

Di tempat penampungan dilakukan penyortiran sayur. Dipilih sayuran yang mulus, ukuran merata, bentuknya normal (tidak luka, tidak terserang penyakit, tidak ada cacat fisik, dan sebagainya). Khusus untuk tanaman bit, lobak, dan wortel individu poktan melakukan pencucian dengan air bersih. Sortasi dilakukan pada ruangan bersuhu + 18o C. Limbah sisa sayuran yang tidak memenuhi standar mutu dapat dimanfaatkan oleh poktan sebagai pakan ternak atau untuk bahan pembuatan pupuk organik (KOMPOR Merbabu, 2012).

Setelah disortasi, individu poktan memasukkan sayuran dalam kemasan yang mempunyai lubang ventilasi (khususnya untuk sayuran: buncis, daun bawang, seledri, paterselly, selada, dan sebagainya). Untuk sayuran jenis tertentu dimasukkan ke dalam kemasan hampa udara. Lalu, poktan menimbang sayuran sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan. Poktan mengupayakan kemasan berisikan sayur dengan bobot yang sama dan kemasan dalam keadaan bersih, serta terbebas dari segala benda asing. Cara pengemasan dilakukan oleh poktan sesuai dengan permintaan pasar (apakah menggunakan stereofoam atau plastic

wrapping). Selanjutnya, sayuran yang sudah dikemas oleh poktan, diangkut

dengan mobil pick up atau mobil box berpendingin (KOMPOR Merbabu, 2012). Di kedua poktan sudah ada pembagian tugas antara komponen yang berperan dalam penyediaan saprotan dan budidaya dengan komponen yang berperan dalam penanganan pasca panen. Kegiatan pasca panen ditangani oleh ibu-ibu (khususnya istri dari petani yang tergabung dalam poktan). Pernyataan dari Wikan Mujiono (Tranggulasi) dan Makruf (BM) akan memberikan gambaran yang jelas tentang hal tersebut:

“Tidak semua ikut pengepakan, cuma ibu-ibu. Mereka dibayar pakai kas kelompok, dari hasil penjualan sayuran.” (Wikan Mujiono)

“Spesifikasi produk sekarang sudah tahu, ibu-ibu sudah bisa memilah. Kalau di sini sudah tahu mana yang bisa dikirim dan mana yang tidak.” (Makruf)

Berdasarkan hasil wawancara dengan Wikan Mujiono dan Makruf, maka dapat disimpulkan bahwa ibu-ibu telah terampil dalam melakukan kegiatan pasca panen sayuran. Dari pernyataan Wikan Mujiono, dapat diketahui bahwa tenaga pasca panen ditanggung oleh poktan menggunakan kas. Meski begitu, hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa penanganan pasca panen di Poktan Tranggulasi saat ini sudah tidak dilaksanakan oleh ibu-ibu, melainkan poktan sudah memiliki individu-individu tertentu yang ditugaskan untuk mengelola aktivitas itu. Hal tersebut terbukti dari hasil wawancara dengan Pitoyo Ngatimin berikut ini:

“Kelompok itu mempekerjakan orang di dalam kelompok tani sendiri untuk mengelola produk setelah dipanen, namanya pengelola gudang. Pengelola gudang itu ada bagian order, bagian packing, bagian pencatatan, dan bagian transportasi. Tiap anggota tidak bisa jadi pengelola, karena butuh kesabaran, butuh ketelatenan, karena karakteristik produk yang diminta itu beda-beda, jadi harus bisa menyesuaikan.”

Pernyataan dari Pitoyo Ngatimin dipertajam oleh Ngatimin sebagai berikut:

“Kegiatan packing itu dikelola oleh kelompok, tapi yang ikut itu hanya sebagian orang, jadi tidak semua anggota. Itu kegiatannya ditangani oleh pengelola.”

Yang bertugas untuk menangani aktivitas pasca panen dikenal dengan nama “pengelola gudang” atau “pengelola unit bisnis”. Pengelola gudang memiliki bagian-bagian untuk memperlancar aktivitas pasca panen, diantaranya: bagian

order, bagian packing, bagian pencatatan, dan bagian transportasi. Menanggapi

pernyataan Pitoyo Ngatimin, pemberian tugas dan status untuk mengelola aktivitas pasca panen dilakukan secara selektif, karena dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam mengelola aktivitas tersebut. Individu yang terlibat dalam pengelola gudang sebagian besar berstatus sebagai pengurus poktan. Hasil wawancara dengan Harun membuktikan hal tersebut:

“Pengelola gudang itu diantaranya ada Pitoyo sebagai ketua, Wahab sebagai sekretaris, pak Slamet sebagai keuangan, Jumarno itu mengurusi nota, saya di bagian lapangan, Jumari dan Pardi itu bagian gudang, lalu Rebo itu di bagian transportasi.”

Berbeda dengan Poktan Tranggulasi, aktivitas pasca panen di Poktan BM dikelola oleh ibu-ibu. Peran pengurus Poktan BM hanya terbatas pada pengecekan dan pengambilan sayuran di lahan sesuai dengan permintaan supplier, baik dari segi jenis komoditasnya, kualitas, dan kuantitasnya. Pengurus juga bertugas

melakukan pengangkutan ke gudang poktan. Hal tersebut diketahui melalui pernyataan Makruf berikut ini:

“Saya yang bertugas mencari sayur dengan Pak Rebo. Saya bagian pemasaran bersama dengan pak Rebo. Kami khususnya itu mencari sayur di petani luar kelompok tani, misalkan yang sub kelompok. Kalau sebagian anggota itu terkadang langsung mengangkut sayuran ke gudang, tapi sebagian anggota terkadang ada yang keliru dari spesifikasi yang diminta pasar. Kalau pengurus kelompok yang cari, sudah pasti tahu spesifikasinya. Itu waktu pengiriman, jenis tanaman yang diminta, dan spesifikasi produk sudah diatur.”

Pernyataan dari Makruf dipertajam oleh Pandi sebagai berikut:

“Yang bertugas mengambil sayur itu bagian pemasaran. Jadi mereka itu yang mengecek ke lahan dan mencari tanaman milik anggota yang sudah siap dipanen dan itu disesuaikan dengan permintaannya supplier, itu yang diambil.”

Terkadang anggota poktan mengangkut sendiri hasil panenannya ke gudang, namun seringkali produk yang diangkut tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi yang diminta oleh pasar modern dan memperbanyak jumlah produk yang tidak lolos sortasi. Oleh karena itu, peran pengurus Poktan BM dalam penanganan

pasca panen terletak pada minimalisasi produk-produk yang tidak lolos seleksi

ketika sortasi dilakukan. Dengan demikian, hasil panen yang tidak sesuai dengan permintaan pasar modern (yang ditinggal di lahan) dapat segera dijual ke pedagang perantara (seperti: pengepul) atau diangkut ke pasar tradisional. Tugas tersebut diemban oleh divisi pertanian dan divisi pemasaran. Apabila dihubungkan dengan uraian tugas pengurus Poktan BM, sebetulnya divisi pemasaran tidak memiliki tanggung jawab mengemban tugas tersebut, melainkan yang bersangkutan bertugas untuk memasarkan hasil sayuran organik kepada pelaku pasar. Jika dicermati, keadaan semacam itu tumpang-tindih dengan uraian tugas seksi pembelian hasil, dimana yang bersangkutan bertugas untuk menangani pembelian dan pengadaan atau pengumpulan sayuran organik dari anggota. Sedangkan, divisi pertanian memang memiliki tugas untuk mengumpulkan sayuran organik dari anggota poktan.

Kemudian, terdapat fenomena yang cukup unik di Poktan Tranggulasi. Keunikan ini terlihat dari adanya upaya kerjasama yang dibangun oleh Poktan Tranggulasi dengan kelompok wanita tani (KWT) di dusun setempat dalam rangka pengolahan sayur. Hal tersebut terbukti melalui pernyataan Pitoyo Ngatimin dan Sri Jumiati berikut ini:

“Yang di Kelompok Wanita Tani fokusnya di bidang usaha pasca panen.” (Pitoyo Ngatimin)

Pernyataan Pitoyo Ngatimin dipertajam oleh pernyataan Sri Jumiati sebagai berikut:

“Kelompok Wanita Tani Bogasari berdiri tahun 2011. Dulu bogasari anggotanya berumur tua-tua, sekarang yang saya ajak anak-anaknya. Fokusnya ke pengolahan hasil tanaman sayur, misal daun bit, daun buncis, daun seledri, daun rending yang kecil dan bulat, daun lobak, daun klemoh, itu buat obat ginjal, memperlancar kencing. Daun-daun itu dibuat makanan ringan berupa keripik, tapi punya nilai tambah untuk obat. Kendalanya itu kandungan minyaknya belum bisa hilang. Kandungan air tiap sayur beda-beda, kalau daun bit kandungan airnya banyak, kalau digoreng bisa kering, tapi setelah kering itu minyaknya baru keluar, minyaknya tidak bisa kering. Kalau daun buncis perancis tidak berair, jadi kandungan minyaknya tidak banyak. Kalau kelompok tranggulasi itu fokusnya di hasil panen dari lahan, kalau KWT kita memanfaatkan, mengolah hasil panennya, yang saya inginkan bisa diolah sendiri, daripada dijual di luar. Kenapa tidak? Kalau kita bisa mengolah hasilnya, mungkin untuk meningkatkan harga produk pertanian yang lebih mahal. Ini rencananya mau buat dodol, dari lobak dan bit. Kemarin sudah mencoba.”

Dengan adanya kerjasama dengan KWT, Poktan Tranggulasi sudah ada upaya untuk menuju ke usaha tani berbasis agroindustri. KWT ini terbentuk pada tahun 2011 dan dikenal dengan nama Boga Sari. Menurut Sri Jumiati, dulu KWT didominasi oleh ibu-ibu yang sudah lansia (lanjut usia), tetapi saat ini didominasi oleh ibu-ibu yang masih berusia muda (produktif). Perihal kerjasama dengan KWT, Poktan Tranggulasi lebih berkonsentrasi terhadap kegiatan usaha tani di sektor hulu, seperti: penyediaan saprotan dan budidaya tanaman. Sedangkan KWT lebih berkonsentrasi pada kegiatan UT di sektor hilir, yaitu penanganan pasca panen atau lebih tepatnya pengolahan sayuran. Terdapat berbagai macam sayuran hasil panen Poktan Tranggulasi yang dapat diolah oleh KWT, diantaranya meliputi: daun bit, daun lobak, daun seledri, daun buncis, daun rending, dan daun klemoh. Dari keseluruhan daun tersebut, ada yang tergolong sebagai tanaman budidaya dan ada pula yang tergolong sebagai tumbuhan liar. Daun-daun sayuran tersebut dapat diolah menjadi keripik. Selain manfaatnya sebagai konsumsi sehari-hari, ada sebagian daun yang memiliki kandungan obat, sehingga usaha yang dilakukan oleh KWT juga memiliki manfaat di bidang medis. Kendala yang dihadapi oleh KWT dalam melaksanakan proses pengolahan sayuran salah satunya adalah kesulitan untuk menghilangkan minyak, terutama sayuran yang memiliki kadar air tinggi (seperti tanaman bit). Oleh karena itu, saat ini KWT sedang dalam upaya mencari mesin atau alat pengering minyak. Rencana

kedepannya, KWT ingin menghasilkan produk olahan inovasi, yaitu dodol yang berbahan dasar dari sayuran bit dan lobak. Mencermati usaha yang dilakukan oleh KWT, maka tidak dapat dipungkiri bahwa wanita dianggap memiliki peran sentral dalam pembangunan jika ditinjau dari sudut pandang makro. Ditinjau dari sudut pandang mikro, wanita memiliki peran yang nyata dalam meningkatkan taraf hidup keluarganya. Dengan demikian, terwujudnya kesetaraan gender, dimana pria maupun wanita sama-sama memiliki kesempatan untuk mencari nafkah untuk menghidupi rumah tangganya. Dalam kacamata ekonomi, upaya yang dilakukan oleh KWT untuk mengolah sayuran menjadi keripik merupakan suatu capaian yang luar biasa bagi petani kecil, dimana melalui daya kreativitasnya sudah mampu meningkatkan nilai tambah produk dengan membangun UT yang berbasis kepada agroindustri pedesaan. Peningkatan nilai tambah produk secara umum diiringi oleh peningkatan harga jual. Tidak hanya itu, seperti yang diketahui bahwa sayuran tergolong sebagai produk pertanian yang mudah rusak. Dengan usaha yang dilakukan oleh KWT, maka berubah menjadi produk yang tahan lama.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, bentuk aktivitas pasca panen di dua poktan relatif sama. Bentuk aktivitas dalam penanganan pasca panen diantaranya: pencucian sayur, penimbangan, sortasi, grading, penyimpanan, pengepakan, dan pengangkutan. Adanya persamaan antara dua poktan dalam penanganan pasca panen oleh karena adanya SOP yang dijadikan pedoman mereka untuk melakukan kegiatan tersebut, dimana pengurus poktan turut berperan serta dalam penyusunannya melalui forum gapoktan KOMPOR Merbabu. Selain itu, dengan adanya kerjasama pemasaran dengan pasar modern, poktan tertuntut untuk melaksanakan penanganan pasca panen yang kegiatannya cenderung lebih kompleks dibandingkan dengan pemasaran ke pasar tradisional. Hal tersebut berakibat pula pada pengembangan pengetahuan dan sikap individu poktan akan kegiatan pasca panen. Penanganan pasca panen di Poktan Tranggulasi dilakukan oleh petani yang tergabung dalam pengelola, sedangkan pasca panen di Poktan BM dilakukan oleh wanita tani yang berstatus sebagai anggota poktan. Dari kasus tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pengelola Poktan Tranggulasi memegang peran yang dominan untuk melakukan aktivitas

unggul daripada anggota poktan. Sebaliknya, anggota Poktan BM memegang peran untuk melakukan aktivitas pasca panen, sehingga anggota memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus dalam aktivitas tersebut. Meski begitu, pengurus Poktan BM tetap memegang peran dalam mengorganisir bidang usaha tersebut. Secara normatif, peran tersebut dijalankan oleh seksi gudang yang bertanggungjawab atas segala aktivitas kegiatan di dalam gudang pengemasan sayuran organik. Tetapi, hasil observasi di lapangan membuktikan bahwa pengurus di divisi atau seksi lainnya juga turut mengawasi aktivitas pasca panen. Beralih kembali ke hasil penelitian di Poktan Tranggulasi, menunjukkan bahwa wanita tani membentuk KWT yang memiliki orientasi usaha di bidang pengolahan hasil sayuran. Kegiatan penanganan pasca panen dirasa mampu mewujudkan kesetaraan gender, dimana wanita juga memiliki kesempatan untuk turut berperan dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 114-120)