• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Pengurus Poktan Sebagai Penggerak Aktivitas Individu Poktan dalam Kegiatan Belajar-mengajar

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 25-33)

4.5 Komparasi Poktan Sebagai Unit Belajar

4.6.1 Peran Pengurus Poktan Sebagai Penggerak Aktivitas Individu Poktan dalam Kegiatan Belajar-mengajar

Pengurus poktan memiliki andil yang sangat besar untuk menyediakan wadah dan menggerakkan aktivitas individu poktan untuk berpartisipasi dalam kegiatan belajar-mengajar. Berikut ini akan dijelaskan lebih rinci tentang peran pengurus dalam penyelenggaraan wadah belajar-mengajar poktan beserta dampaknya:

A. Pertemuan Poktan

Poktan Tranggulasi memiliki dua macam pertemuan, yakni: pertemuan umum (dihadiri oleh seluruh individu poktan) dan pertemuan pengelola (yang khusus dihadiri oleh pengelola). Pertemuan umum diadakan sebanyak satu kali dalam satu bulan, biasanya malam tanggal 6. Hal tersebut dibuktikan melalui pernyataan dari Suparman sebagai berikut:

“Setiap bulan, malam tanggal 6 ada pertemuan, itu yang rutin. Kalau ada keperluan mendadak sebelum tanggal 6 sudah berkumpul.”

Berdasarkan hasil wawancara dengan Suparman, apabila terdapat keperluan mendadak yang perlu dibahas, pertemuan umum dapat diadakan kapan saja. Akan tetapi, hasil wawancara dengan Ngatimin berikut ini menunjukkan bahwa Poktan Tranggulasi sudah tidak mengadakan pertemuan secara rutin:

“Ini sudah lama tidak diadakan pertemuan yang melibatkan semua anggota kelompok, kendalanya karena pembayaran pinjaman dari bank itu sedang macet.”

Berdasarkan pernyataan dari Ngatimin, maka dapat disimpulkan bahwa penyebab tidak diadakannya pertemuan rutin sementara waktu ini, oleh karena adanya kendala pengembalian pinjaman ke bank. Akibat dari keadaan itu, walaupun diadakan pertemuan, sebagian individu poktan cenderung kurang berpartisipasi atau enggan untuk hadir dalam pertemuan. Hal tersebut diperjelas melalui pernyataan dari Jumarno sebagai berikut:

“Anggota kelompok biasanya pertemuan rutin malam tanggal 6. Dulu datang semua di pertemuan, tetapi sekarang ini sedang ada kendala dengan bank.”

Keengganan tersebut dapat diperlihatkan melalui pernyataan yang dikemukakan oleh Wikan Mujiono sebagai berikut:

“Tahun-tahun ini aku malas berangkat ke pertemuan, karena yang dibahas hanya masalah keuangan. Jadi di pertemuan tidak ada pembahasan tentang tata cara bertani atau informasi baru tentang teknologi.”

Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dapat diketahui bahwa seringkali pembicaraan yang diagendakan dalam pertemuan rutin adalah seputar teknis-teknis untuk mengatasi kendala dengan bank. Akibatnya, pembicaraan seputar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk usaha tani menjadi terbengkalai. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab sebagian individu enggan untuk hadir dalam pertemuan. Hal tersebut turut dipertajam oleh pernyataan Ngatemin berikut ini:

“Bulan-bulan ini kumpulan membicarakan masalah uang.”

Di samping itu, hasil observasi di lapangan memperlihatkan berhubung adanya masalah dengan bank, maka sebagian individu poktan mengalami tekanan sosial yang kemudian berakibat menurunkan keikut-sertaannya dalam kegiatan poktan, termasuk pertemuan.

Meski begitu, Poktan Tranggulasi masih proaktif mengadakan pertemuan khusus pengelola. Biasanya pertemuan pengelola ini dijadikan landasan untuk menentukan kesepakatan di pertemuan umum. Hal tersebut diperjelas seperti apa yang dikemukakan oleh Sri Jumiati berikut ini:

“Biasanya rapat kecil pengelola dulu. Kalau langsung rapat anggota dengan jumlah banyak, terlalu banyak ide. Di rapat kecil pengelola didiskusikan dulu, lalu ditindaklanjuti ke anggota. Tapi biasanya anggota mengikuti keputusan dari pengelola.”

Dari penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa segala hal yang ada kaitannya dengan Poktan Tranggulasi dibahas terlebih dahulu di rapat pengelola

dan diputuskan di situ. Setelah itu, hasil pembicaraan dari rapat pengelola diserahkan kepada seluruh anggota di rapat umum poktan. Hasil observasi di lapangan menunjukkan, yang dibahas dalam pertemuan pengelola diantaranya meliputi: a) hal-hal yang ada sangkut-pautnya terhadap kerjasama dengan supplier (pengepul); b) teknis usaha tani; c) masalah keuangan poktan; dan d) aktivitas lainnya yang berkaitan dengan kelompok tani. Mencermati begitu banyaknya hal-hal penting yang didiskusikan oleh pengurus di rapat pengelola, maka dapat ditafsirkan bahwa pengurus berperan sebagai garda yang mengendalikan aktivitas poktan. Dengan model pertemuan seperti ini, kecenderungan yang terjadi adalah para anggota umumnya menerima keputusan apapun yang telah dibuat oleh pengurus poktan. Hal ini selaras dengan yang diutarakan oleh Ngatemin berikut ini:

“Pasti ada pertemuan mas, kalau tidak ada, pasti tidak ada kemajuan mas. Bisa maju mulai dari 0 sampai ke tingkat nasional kalau tidak ada informasi atau musyawarah itu tidak bisa terjadi. Misalnya gitu, kalau saya cuma ikut-ikutan, saya menjadi anggota kelompok, sudah. Sudah ada diskusi, kalau membahas itu, membahas masalah hama, bersama-sama itu, itu seluruhnya anggota itu dikumpulkan, jadi musyawarah, apa yang dibutuhkan. Semuanya sudah tahu mas, tapi kalau tidak ada yang mengatasi di depan itu tidak bisa, seperti pak Pitoyo. Kalau membuat CP atau membuat apapun kalau tidak ada Pitoyo tidak bisa, misalnya kalau cuma anggota itu tidak tahu sebetulnya.”

Dengan keadaan yang seperti itu, maka dapat dipastikan bahwa pengurus poktan memiliki peran sentral untuk mengembangkan poktannya menjadi berkembang atau maju. Dapat disimpulkan pula bahwa pertemuan rutin dijadikan wadah bersama individu Poktan Tranggulasi untuk saling mendiskusikan berbagai ilmu atau informasi yang dimilikinya, khususnya untuk melakukan kegiatan UT sayuran organik. Mencermati pernyataan itu, pengurus poktan (khususnya ketua poktan) dinilai sebagai pihak yang banyak berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang sistem UT organik di Poktan Tranggulasi. Sedangkan, para anggota cenderung hanya mengikuti pola atau konsep berpikir dari pengurus poktan.

Di badan kepengurusan Poktan Tranggulasi sudah mempunyai seksi khusus untuk mengingatkan ketika ada anggota poktan yang tidak hadir dalam pertemuan rutin. Hal ini diutarakan oleh Sumadi sebagai berikut:

“Tugas seksi humas kalau ada perkumpulan-perkumpulan itu wajib memberitahukan ke yang lain, mengingatkan yang belum berangkat.”

Dengan begitu, maka pengurus Poktan Tranggulasi (melalui seksi khusus seksi humas) telah berusaha untuk mencegah terjadinya ketidakhadiran individu poktan dalam pertemuan. Hal ini senada bilamana dipertautkan dengan uraian tugas pengurus poktan, dimana seksi humas salah satunya bertugas untuk menyampaikan segala informasi yang berkaitan dengan kelompok. Pertemuan rutin merupakan wadah strategis poktan untuk mengevaluasi kedisiplinan dari para individu Poktan Tranggulasi. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Sri Jumiati berikut ini:

“Kedisiplinan harus rutin dijaga setiap bulannya, bisa melalui pertemuan rutin. Lalu setiap bulannya ada anggota yang berkeluh-kesah, sehingga mereka bisa mengungkapkan. Jadi bisa terdeteksi.”

Berdasarkan pernyataan Sri Jumiati, maka dapat diketahui bahwa pengurus poktan sering mengandalkan pertemuan rutin untuk mencari tahu persoalan yang dihadapi anggotanya. Mencermati pembahasan sebelumnya, bahwa ketidakhadiran para anggota dalam pertemuan rutin disebabkan oleh adanya kendala dengan bank. Memperhatikan pula signifikansi dari kegiatan pertemuan rutin, maka pengurus poktan perlu meningkatkan kepekaan terhadap situasi serta kondisi anggotanya, disertai pula dengan usaha penanggulangannya yang tepat, agar kegiatan pertemuan dapat berjalan dengan baik kembali dan dihadiri oleh seluruh individu Poktan Tranggulasi (minimal sebagian besar).

Berbeda dengan model pertemuan di Poktan Tranggulasi, kegiatan pertemuan rutin Poktan Bangkit Merbabu diadakan tiap minggu (hari Sabtu malam) yang melibatkan seluruh individu dalam poktan. Akan tetapi, seringkali istri dari pada pengurus dan anggota poktan tidak dilibatkan dalam pertemuan rutin. Berikut penjelasan dari Makruf:

“Semua pengurus dan anggota pasti datang ke pertemuan, kalau ada kepentingan mendadak tidak datang ke pertemuan, yang rutin itu yang bapak-bapak, yang 10 orang, tapi yang ibu-ibu juga harus mengetahui. Kalau ditanya sama siapapun harus mengetahui…. Diadakan pertemuan satu minggu sekali pandangan saya lebih banyak manfaatnya, contohnya kalau tanaman yang pendek-pendek umpama kalau dibahas sudah terlanjur panen, kalau pertemuan diadakan satu bulan sekali.”

Pertemuan tiap minggu seperti yang diungkapkan oleh Makruf tersebut masih jarang terjadi di poktan yang berada di Kecamatan Getasan khususnya, karena sebagian besar mengadakan pertemuan satu bulan sekali atau selapan (35 hari)

sekali. Pertemuan ini wajib dihadiri oleh petani pria yang tergabung dalam poktan. Dengan model pertemuan yang seperti itu, maka tiap individu poktan yang mengalami kendala selama proses melakukan UT-nya dapat segera didiskusikan di pertemuan. Mencermati hasil wawancara itu, jikalau terdapat kendala UT yang dihadapi oleh satu petani, maka petani lainnya (khususnya yang sudah berpengalaman) dapat membantu memberikan masukan atau saran tentang cara untuk mengatasinya. Secara tidak langsung, pembicaraan itu didengarkan oleh petani lainnya dan ilmu tersebut dapat dipetiknya. Dengan demikian, pertemuan rutin sebagai kegiatan diskusi bermanfaat sebagai alat pemersatu fakta dan pendapat anggota kelompok, sehingga kesimpulan dapat diambil. Sumbangan pikiran dari setiap anggota kelompok akan menambah gudang pengetahuan (Suprijanto, 2012:97).

Pernyataan dari Makruf diperlengkap oleh Rochmad sebagai berikut:

“Biarpun ada pengurus kita itu rata, kalau dalam pertemuan malam minggu itu seakan-akan itu tidak ada ketua dan tidak ada lembaga, semuanya sama. Misalkan dalam pertemuan malam minggu itu, semua usulan atau masukan dianggap bagus, tapi nanti dirapikan, yang paling bagus yang mana? Yang berangkat ke pertemuan 10 orang bapak-bapak, kalau ibu-ibu bila ada praktek itu baru diikutkan…. Seperti kemarin kita buat bir, nantinya akan kami kumpulkan bapak sama ibu, semua harus tahu, semua harus menguasai, jadi kita praktekan bersama-sama… Hasilnya rapat itu bapak-bapak beritahu ke ibu-ibu, kesimpulannya yang kemarin itu seperti ini.”

Berdasarkan pernyataan dari Rochmad, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa di dalam pertemuan tiap individu dalam poktan memiliki kewajiban dan hak yang sama, salah satunya untuk mengemukakan usulan. Ketika terdapat berbagai macam usulan, maka poktan ini berusaha untuk mengambil keputusan dengan cara musyawarah-mufakat. Suseno (1984:51) mendefinisikan musyawarah-mufakat sebagai proses pertimbangan, pemberian dan penerimaan, dan kompromis, di mana semua pendapat harus dihormati, yang berusaha untuk mencapai kebulatan kehendak atau kebulatan pikiran, yang bisa juga diterjemahkan sebagai keseluruhan atau kebulatan keinginan dan pendapat partisipan. Menurut Sajogyo (2005:31), suatu cara berapat yang tertentu, musyawarah itu rupa-rupanya harus ada kekuatan atau tokoh-tokoh yang dapat mendorong proses mencocokkan dan mengintegrasikan pendapat itu. Dengan cara yang demikian, diharapkan tidak ada pihak tertentu yang merasa terlalu dirugikan

atau terlalu diuntungkan. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Pandi sebagai berikut:

“Anggota dikasih kesempatan siapa yang mau usul. Karena saya waktu itu pernah usul, gimana kalau tiap malam minggu pertemuan itu mengadakan uang paling tidak 50.000 untuk konsumsi minuman dan makanan.”

Kembali ke pernyataannya Rochmad, bahwa wanita tani yang tergabung dalam poktan diikutsertakan dalam pertemuan ketika ada sosialisasi teknologi baru dan kegiatan praktek (misalnya: membuat saprotan atau melakukan budidaya yang benar). Memadukan pernyataan dari Makruf dan Rochmad, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh hasil yang didiskusikan di pertemuan harus disampaikan oleh pria tani kepada wanita tani, agar tidak ketinggalan informasi. Pria tani yang tergabung dalam Poktan BM juga diwajibkan untuk mensosialisasikan hasil pembicaraan dalam pertemuan rutin kepada istrinya, supaya tidak ketinggalan informasi. Kaitannya dengan kewajiban yang diemban oleh para pria tani untuk mensosialisasikan hasil pembicaraan dalam pertemuan kepada wanita tani dirasakan oleh Saminah sebagai berikut:

“Kalau ada informasi dari dinas itu sering ada pemberitahuan, diberikan di pertemuan.”

Pertemuan yang diadakan dengan frekuensi satu minggu sekali merupakan suatu bentuk kebijakan. Di manapun yang namanya kebijakan ada kekuatan dan ada pula kelemahannya. Pertemuan dengan model seperti ini dikhawatirkan oleh Daniel Rudolph melalui pernyataan sebagai berikut:

“Kelompok Bangkit Merbabu sering berkumpul bersama. Di situ mereka mendiskusikan tentang organik dan membicarakan tentang semangat untuk bertani organik. Jadi sebagian petani terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk membantu petani lain, jadi usaha tani dia tidak begitu tertangani dengan baik. Jadi, menurut saya menumbuhkan semangat berkelompok itu baik, tapi ketika semangat itu tidak dibarengi dengan sebuah aktivitas menjadi kurang baik. Karena bekerja sebagai petani itu menurut saya merupakan bagian yang tersulit.”

Berdasarkan pernyataan dari Daniel Rudolph, maka dapat diketahui bahwa pertemuan rutin yang diadakan oleh Poktan BM memiliki frekuensi yang cukup tinggi. Hal ini dikhawatirkan petani yang memiliki pengetahuan dan kemampuan tinggi (profesional) dalam berusaha tani terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membantu permasalahan UT yang dimiliki oleh petani lainnya. Dengan demikian, proses usaha tani yang dijalankan oleh petani profesional dapat menjadi terbengkalai. Hal ini menjadi rasional, mengingat

petani memiliki tanggungan yang sungguh besar dan banyak, baik untuk berusaha tani maupun melakukan aktivitas di luar UT (misal: menangani urusan rumah tangga). Akan tetapi, dengan diadakannya pertemuan tiap minggu, berbagai masalah yang terjadi selama proses produksi di tiap minggu dapat ditemukenali dan didiskusikan bersama. Terlebih lagi, budidaya sayuran perlu pengelolaan dan perhatian yang lebih dari tanaman lain (Sunarjono, 2010:02). Merupakan tantangan tersendiri bagi petani sayuran untuk meningkatkan ketelitian dalam melaksanakan proses produksi, karena mutu produk sayur ditentukan oleh kesegaran, warna daun, dan ada atau tidaknya lubang-lubang bekas serangan hama. Selain itu, pada produk sayuran, aspek keamanan sangat perlu diperhatikan, karena umumnya sayuran dikonsumsi dalam bentuk segar (Zulkarnain, 2009:198-199).

Poktan Tranggulasi memiliki dua macam pertemuan, yakni: pertemuan umum (dihadiri oleh seluruh individu poktan) dan pertemuan pengelola (yang khusus dihadiri oleh pengelola). Pertemuan rutin diadakan sebanyak satu kali dalam satu bulan, biasanya malam tanggal 6. Akan tetapi, berdasarkan hasil penelitian di Poktan Tranggulasi, menunjukkan bahwa saat ini pertemuan umum poktan sudah lama tidak diadakan. Jikalau diadakan, sebagian besar anggota tidak berpartisipasi dalam kegiatan pertemuan oleh karena adanya kendala dengan bank. Partisipasi yang rendah ini disebabkan salah satunya oleh adanya kendala dengan bank yang turut mempengaruhi topik pembicaraan dalam pertemuan, sehingga sebagian anggota enggan untuk menghadiri pertemuan. Untuk mengatasi persoalan tersebut, sudah ada upaya dari pengurus untuk menginformasikan kepada para anggota ketika akan diadakan pertemuan umum, agar antusias dari anggota untuk berpartisipasi dalam pertemuan dapat bertumbuh. Meski begitu, Poktan Tranggulasi masih aktif mengadakan rapat pengelola yang khusus dihadiri oleh pengelola poktan. Di rapat pengelola, pengurus Poktan Tranggulasi berperan sebagai pihak yang berusaha untuk menemukenali dan mengatasi setiap persoalan yang ada di poktan, sehingga para pengurus dituntut untuk peka terhadap keadaan atau situasi dalam kelompoknya. Selain itu, hasil observasi menunjukkan bahwa pengurus Poktan Tranggulasi juga bertugas untuk membuat rencana kegiatan dari yang dipimpinnya, sehingga pengurus berperan sebagai pihak perencana

(planner). Selanjutnya, mereka juga bertugas menentukan kebijakan kelompok yang dipimpinnya, sehingga mereka berperan sebagai pembuat kebijakan (policy

maker) (Walgito, 2003:108). Di kegiatan pertemuan umum, para anggota

cenderung menyetujui apa yang sudah disepakati di rapat pengelola. Dengan demikian, pengurus dapat diistilahkan sebagai opinion leader (pengarah opini).

Selanjutnya, Poktan BM menerapkan model pertemuan dengan frekuensi satu minggu sekali dan dihadiri oleh seluruh individu pria tani. Dengan model semacam ini, tiap persoalan baik yang menyangkut UT maupun organisasi dapat diutarakan dan dipecahkan bersama. Segala rencana atau kebijakan yang berkaitan dengan poktan disusun secara partisipatif hingga mencapai mufakat. Kemudian, wanita tani hanya dilibatkan ketika ada kegiatan praktek. Meski begitu, pria tani diwajibkan untuk menginfokan setiap hasil pertemuan kepada wanita tani.

Dengan mengetahui perbedaan di kedua poktan tersebut dalam konteks pertemuan rutin, maka dapat disimpulkan bahwa pengurus Poktan Tranggulasi belum mampu menggerakkan aktivitas seluruh individu poktan dalam kegiatan belajar-mengajar di pertemuan rutin. Hal tersebut terjadi karena sebagian individu poktan mengalami kendala dengan bank, yang kemudian mempengaruhi topik pembicaraan dalam pertemuan dan turut menurunkan minat para anggota untuk hadir dalam pertemuan. Sedangkan, pengurus Poktan BM mampu menggerakkan seluruh aktivitas individu dalam kegiatan belajar-mengajar di kegiatan pertemuan. Hal ini salah satunya disebabkan oleh pembicaraan yang difokuskan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan segala permasalahan yang terjadi di UT individu poktan.

Pertemuan rutin merupakan salah satu bentuk kegiatan belajar yang diadakan oleh poktan, karena kegiatan itu dijadikan wadah untuk membahas segala hal yang berkaitan dengan poktan, termasuk permasalahan usaha tani individu poktan. Oleh karena itu, di kegiatan ini interaksi antar individu poktan secara otomatis terbangun, sehingga terjadi suasana transfer knowledge. Di samping itu, pertemuan rutin dapat melatih kedisiplinan individu poktan dalam berorganisasi. Kegiatan ini merupakan satu-satunya wadah untuk memunculkan suasana belajar-mengajar (baik dalam melakukan UT maupun dalam hal berorganisasi) antar individu poktan yang dilaksanakan secara rutin.

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 25-33)