Pasca Panen
Sayuran yang telah dipanen memerlukan penanganan pasca panen yang tepat agar tetap baik mutunya atau tetap segar seperti saat panen. Selain itu kegiatan pasca panen dapat menjadikan sayuran lebih menarik sehingga memenuhi standar perdagangan. Adanya penanganan pasca panen yang tepat mengakibatkan hasil sayuran lebih awet dan sewaktu-waktu dapat digunakan atau dipasarkan dengan kualitas yang tetap terjamin.
Penanganan pasca panen yang dilakukan oleh divisi pengemasan PT. Saung Mirwan berbeda dengan yang dilakukan oleh mitra tani. Penanganan pasca panen pada pakchoi baby oleh mitra tani hanya terdiri atas trimming dan pengangkutan, sedangkan penanganan pasca panen di divisi pengemasan PT. Saung Mirwan lebih intensif dan teliti untuk memenuhi permintaan konsumen. Kegiatan pasca panen yang dilakukan pada pakchoi baby terdiri atas trimming, penyortiran, pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan, sedangkan yang dilakukan pada tomat cherry terdiri atas pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan. Hasil pengamatan dan wawancara terhadap kegiatan pasca panen pakchoi baby dan tomat cherry dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Kegiatan Pasca Panen di Tiap Saluran Pemasaran PT. Saung Mirwan Saluran Pemasaran Pembersiha n T rimm ing Penyortiran Pengkel asan Pengem asan P en y im panan Pengangkut an Pembersiha n Penyortiran Pengkel asan Pengem asan P en y im panan Pengangkut an
Pakchoi Baby Tomat Cherry Bag. Pengemasan PT. Saung Mirwan - √ √ - √ √ √ - - - √ √ √ Mitra Tani - √ - - - - √ Mitra Beli (Pengumpul) - - - √ Supermarket - - √ - - √ - - √ - - √ - Hotel dan Restoran √ - - - √ - - -
Sumber : Hasil Pengamatan dan Wawancara Keterangan : : Tidak diperoleh data
Pembersihan
Pembersihan merupakan salah satu tindakan penting sebelum sayuran diproses lebih lanjut. Menurut Akamine et al. (1986) pembersihan (cleaning) bertujuan untuk membuang kotoran yang melekat pada sayuran agar memperbaiki penampakan sayuran dan menghilangkan bagian yang busuk atau rusak. Kegiatan pembersihan yang dilakukan misalnya dengan dicuci untuk membersihkan sayuran dari kotoran/tanah yang masih melekat sewaktu dipanen ataupun memangkas bagian-bagian yang rusak/cacat (trimming).
Pengendalian mutu yang diterapkan oleh divisi pengemasan PT. Saung Mirwan adalah dengan cara membuang atau menghilangkan bagian yang tidak diperlukan atau rusak. Prosedur pelaksanaannya adalah dengan memotong bagian yang tidak diperlukan, kemudian memeriksa secara visual kondisi sayur setelah dibersihkan untuk melihat ada tidaknya material lain di bagian dalam sayur. Pembersihan lain dilakukan dengan cara menghilangkan kotoran yang dapat menjadi kontaminan fisik terhadap produk. Proses penghilangan kotoran dilakukan dengan cara pencucian menggunakan air yang memenuhi persyaratan air minum. Pencucian produk segar hanya dilakukan terhadap beberapa jenis sayuran yang dapat dicuci.
Sayuran daun seperti pakchoi baby memiliki sifat yang mudah rusak, sehingga menuntut adanya pelaksanaan panen dan penanganan pasca panen yang tepat. Pelaksanaan panen di lapangan harus dilakukan dengan hati-hati dan lebih teliti agar produk yang dihasilkan tidak kotor, sehingga tidak perlu dilakukan pencucian dalam bak air. Pencucian sayuran pada pakchoi baby akan mengakibatkan tingkat kehilangan hasil yang lebih tinggi. Oleh karena itu, baik PT. Saung Mirwan dan mitra tani tidak melakukan pencucian terhadap pakchoi baby. Pembersihan yang dilakukan hanya trimming, yaitu membuang pangkal batang serta lapisan luar daun yang tua, patah, busuk, ataupun berlubang. Trimming yang dilakukan saat panen di lahan oleh bidang produksi PT. Saung Mirwan lebih teliti dibandingkan oleh mitra tani. Hal ini disebabkan karena saat penerimaan barang di divisi pengemasan PT. Saung Mirwan sayuran akan mengalami trimming kembali. Oleh karena itu, apabila trimming yang dilakukan oleh mitra tani lebih teliti maka akan semakin mengurangi timbangan hasil panen.
Penyortiran (Sorting) dan Pengkelasan (Grading)
Penanganan pasca panen setelah pembersihan adalah penyortiran (sortasi). Kegiatan ini bertujuan untuk memisahkan hasil panen yang berpenampilan baik dengan yang rusak, busuk, terserang hama, atau terkena penyakit. Kegiatan sortasi pada pakchoi baby dilakukan bidang produksi PT. Saung Mirwan saat masih di lapangan. Hanya produk yang memenuhi standar yang dikirim ke divisi pengemasan. Standar penerimaan yang ditetapkan oleh divisi pengemasan PT. Saung Mirwan untuk pakchoi baby dan tomat cherry dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Standar Penerimaan Sayur PT. Saung Mirwan
Komoditi Kriteria Tomat cherry Diameter buah : 2.5-3 cm
Bobot : 15-25 g
Warna : Semburat merah-merah penuh Keadaan produk :
a. tidak busuk b. tidak pecah c. tidak lembek
d. masih ada tangkai buah/cupat Pakchoi baby Warna : Hijau
Ukuran : Bobot 25-35 g Keadaan produk :
a. tidak busuk
b. tidak berlubang pada daun c. tidak layu
Sumber : Bagian Penerimaan Sayur PT. Saung Mirwan
Produk yang akan masuk ke divisi pengemasan harus melalui bagian penerimaan sayur terlebih dahulu. Bagian penerimaan sayur bertugas untuk melakukan pemeriksaan kuantitas, kualitas, dan ada tidaknya residu pestisida secara visual, serta melakukan penyortiran kembali terhadap produk yang diterima.
Setelah dilakukan sortasi, kemudian dilakukan pengkelasan (grading) pada produk. Menurut Winata (2006) kriteria pengkelasan umumnya adalah bentuk, warna, tingkat kematangan, dan tingkat kerusakan. Yulianti (2009) menyatakan bahwa pengkelasan dilakukan untuk melihat perbedaan mutu dan kualitas sayur serta digunakan sebagai penentu harga jual di beberapa saluran pemasaran.
Pengendalian mutu yang dilakukan oleh divisi pengemasan PT. Saung Mirwan adalah dengan cara mengelompokkan sayuran berdasarkan ukuran, bentuk, dan bobot sesuai dengan spesifikasi dari konsumen.
Divisi pengemasan tidak melakukan pengkelasan pada pakchoi baby. Namun, pakchoi baby yang berukuran besar masuk ke dalam golongan pakchoi hijau. Pada dasarnya saat penanaman menggunakan benih yang sama, hanya dibedakan karena ukurannya lebih besar dan umur panennya lebih lama dibandingkan pakchoi baby. Pengkelasan pada tomat cherry hanya dilakukan dengan mengelompokkan buah berdasarkan kriteria warna saat pengemasan. Gambar 22 merupakan pengelompokan tomat cherry berdasarkan kriteria warna yang dilakukan oleh divisi pengemasan PT. Saung Mirwan.
Gambar 22. Tomat Cherry yang Siap Dikemas Dikelompokkan Berdasarkan Kriteria Warna
Pengemasan (Packaging)
Pengemasan merupakan salah satu cara untuk melindungi atau mengawetkan produk pangan. Selain itu, pengemasan juga merupakan penunjang bagi transportasi, distribusi, dan merupakan bagian penting dari usaha untuk mengatasi persaingan dalam pemasaran karena kemasan dapat memperindah penampilan produk. Pengemasan tidak dapat memperbaiki mutu, oleh karena itu hanya hasil yang paling baiklah yang seyogyanya dikemas. Pengendalian mutu yang dilakukan oleh divisi pengemasan PT. Saung Mirwan adalah dengan cara mengemas sayuran menggunakan kemasan berupa plastik film (wrapping film), seal tape, plastik, trayfoam, krat boks, karton boks, ataupun styrofoam. Kemasan dan bagian dalam kemasan harus dalam keadaan bersih. Prosedur pelaksanaan proses pengemasan antara lain mempersiapkan kemasan, peralatan pengemasan,
dan meja pengemas yang akan digunakan dalam kondisi bersih untuk menjamin kebersihan saat proses pengemasan.
Kegiatan pengemasan telah dilakukan sejak di lapangan. Sayuran yang telah dipanen, dikemas sementara dalam wadah kontainer plastik atau keranjang bambu. Bidang produksi PT. Saung Mirwan biasanya menggunakan kontainer plastik untuk mengangkut sayuran setelah panen, sedangkan mitra tani biasanya menggunakan keranjang bambu. Penumpukan dalam wadah sementara ini sebaiknya tidak terlalu padat agar tidak terjadi kerusakan selama proses pengangkutan. Kerusakan yang terjadi seperti luka atau lecet dapat mempercepat terjadinya pembusukan.
Pengemasan sayuran di divisi pengemasan PT. Saung Mirwan tergantung pada jenis, bentuk, ukuran dan tujuan pasarnya. Pengemasan sayuran disesuaikan dengan permintaan dari masing-masing konsumen. Pengemasan yang dilakukan untuk pakchoi baby dan tomat cherry menggunakan sistem pengemasan curah dan pack. Sistem pengemasan curah ditujukan untuk konsumen seperti restoran dan hotel (Gambar 23a). Kemasan yang digunakan biasanya menggunakan plastik dengan ukuran sesuai bobot yang dipesan oleh konsumen tersebut. Sistem pengemasan pack ditujukan untuk konsumen pengecer (retail) yaitu supermarket. Tujuan digunakannya kemasan ini untuk memberi nilai estetika agar menarik konsumen. Daya tarik konsumen sebelum melihat suatu produk adalah melihat tampilan kemasannya terlebih dahulu. Menurut Winata (2006) kemasan konsumen dapat dimanfaatkan sebagai sarana informasi dan promosi dari komoditi sayuran yang dikemas tersebut.
Pengemasan pada pakchoi baby menggunakan trayfoam dengan bobot masing-masing kemasan adalah 250 g (Gambar 23b). Tomat cherry juga dikemas menggunakan trayfoam dengan bobot masing-masing kemasan 200 g (Gambar 23c). Setelah sayuran disusun pada trayfoam maka dilakukan penimbangan, kemudian dibungkus menggunakan wrapping film. Sayuran yang telah dibungkus diberi label dengan logo ”Fresh and Quality” dari PT. Saung Mirwan. Label tersebut biasa digunakan untuk konsumen seperti Carrefour, Super Indo, dan Yogya. Namun, ada perbedaan kemasan yang dilakukan pada tomat cherry untuk konsumen dari Matahari yaitu menggunakan kemasan berupa mika
plastik dengan bobot masing-masing kemasan 250 g dan diberi label dengan logo yang berbeda (Gambar 23d). Alat timbangan yang digunakan untuk pakchoi baby dan tomat cherry dapat dilihat pada Gambar 24.
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 23. (a) Kemasan Curah Tomat Cherry, (b) Kemasan Pakchoi Baby, (c) Kemasan Tomat Cherry, (d) Kemasan Tomat Cherry untuk Matahari
(a) (b)
Gambar 24. Alat Timbangan : (a) Pakchoi Baby, (b) Tomat Cherry
Penyimpanan (Storage)
Pantastico et al. (1986) menyatakan bahwa penyimpanan buah-buahan dan sayur-sayuran segar dapat memperpanjang daya gunanya dan dalam keadaan tertentu memperbaiki mutunya. Pendinginan merupakan cara yang ekonomis untuk penyimpanan jangka panjang bagi buah-buahan dan sayur-sayuran segar. Sayuran yang disimpan adalah sayuran yang telah masuk di bagian penerimaan sebelum dikemas dan sayuran yang telah dikemas sebelum dikirim ke konsumen. Divisi pengemasan PT. Saung Mirwan memiliki dua cool room, sehingga sayuran yang belum dikemas disimpan di cool room yang terpisah dengan sayuran yang telah dikemas. Suhu cool room diperiksa setiap 4 jam sekali dengan mempertahankan suhu 4-8 ºC. Penyimpanan sayuran yang belum dikemas dikelompokkan berdasarkan jenisnya, sedangkan untuk sayuran yang telah dikemas dikelompokkan berdasarkan kode produk dan kode konsumen. Sayuran yang belum dikemas berada di dalam cool room hingga adanya pemesanan dari konsumen. Setelah adanya pemesanan maka sayuran dikeluarkan dari cool room untuk dikemas kemudian dipindahkan ke cool room lainnya untuk dikirim keesokan paginya.
Pengangkutan
Mitra tani dan mitra beli melakukan pengiriman sayuran ke divisi pengemasan PT. Saung Mirwan pada siang hingga sore hari. Hal tersebut dilakukan karena bagian penerimaan sayur mulai dibuka pukul 14.00 WIB dan ditutup pukul 17.00 WIB. Namun, untuk sayuran dari bidang produksi dikirim ke divisi pengemasan setelah panen selesai agar tidak layu karena terlalu lama di lahan, sedangkan untuk sayuran yang berasal dari kebun Cipanas atau Garut diangkut sore hari dan akan sampai di bagian penerimaan pada malam hari sekitar pukul 22.00 WIB. Bidang produksi mengangkut hasil panen dengan cara memasukkan sayuran ke dalam kontainer plastik, sedangkan mitra tani dan mitra beli ada yang menggunakan kontainer plastik dan ada pula yang menggunakan keranjang bambu. Alat angkutan yang digunakan oleh mitra tani dan mitra beli adalah mobil bak terbuka. Wadah yang digunakan untuk pengangkutan ke divisi pengemasan dapat dilihat pada Gambar 25.
(a) (b)
Gambar 23. Wadah Pengangkutan Sayuran dari Lahan : (a) Bidang Produksi, (b) Mitra Tani
Bagian distribusi PT. Saung Mirwan memiliki alat transportasi sebanyak 12 mobil, 4 diantaranya merupakan mobil truk dengan ban ganda. Mobil truk dengan ban double memiliki kapasitas angkut sebanyak 4 ton, sedangkan kapasitas truk lainnya hanya 2-3 ton. Semua mobil yang dimiliki merupakan truk tertutup yang dilengkapi dengan alat pendingin (Gambar 26). Suhu pendingin yang baik untuk mobil distribusi adalah 0-1 ºC. Namun, pada kenyataannya suhu pada mobil distribusi PT. Saung Mirwan mencapai 3-4 ºC. Hal ini disebabkan oleh kerusakan alat pendingin akibat perawatan yang kurang baik. Pengiriman sayur dilakukan setiap hari, kecuali hari Minggu. Jadwal keberangkatan pengiriman sayur pukul 05.00 WIB, sampai kepada konsumen di titik pertama sekitar pukul 06.00-06.30 WIB, dan sampai di kantor kembali pukul 12.00 WIB. Kondisi tersebut tergantung kondisi kemacetan di jalur distribusi tersebut. Setiap mobil mengirim sayuran paling sedikit ke 9 titik tujuan dan paling banyak ke 15 titik di setiap jalur distribusi, tergantung banyaknya jumlah konsumen yang memesan. Setelah itu pada siang harinya mobil distribusi digunakan untuk mengambil hasil panen dari kebun Cipanas dan kebun Garut.
Gambar 24. Mobil Distribusi PT. Saung Mirwan Berupa Mobil Truk Tertutup Berpendingin (AC)
Kehilangan Hasil Panen dan Pasca Panen Sayuran
Sayuran yang telah dipanen tidak secara keseluruhan dapat dipasarkan karena terdapat bagian-bagian tertentu yang tidak memiliki nilai jual, seperti akar tanaman, daun yang berlubang, tua, maupun menguning, serta bagian tanaman lainnya yang tidak dapat dikonsumsi. Hal tersebut mengakibatkan adanya nilai persentase hasil panen yang dapat dipasarkan (marketable yield) setelah dilakukan trimming dan sortasi di lapangan.
Pengamatan persentase hasil panen yang dapat dipasarkan pada komoditi pakchoi baby di bidang produksi PT. Saung Mirwan dilakukan selama delapan kali setiap ada kegiatan panen di lahan. Persentase hasil panen pakchoi baby yang dapat dipasarkan diperoleh dari 32 bedengan dengan pengambilan sampel 1 m2 tiap bedengan. Pada komoditi tomat cherry persentase hasil panen yang dapat dipasarkan mencapai 100 %. Hal tersebut disebabkan karena tidak adanya kegiatan sortasi di lahan. Oleh karena itu, seluruh hasil panen dari lahan dibawa ke divisi pengemasan sehingga tidak ada hasil panen yang dibuang.
Persentase hasil panen yang dapat dipasarkan pada komoditi pakchoi baby di bidang produksi PT. Saung Mirwan disajikan pada Tabel 14. Rata-rata persentase hasil panen yang dapat dipasarkan pada pakchoi baby berkisar antara 61-80 %. Nilai persentase yang rendah disebabkan oleh tingginya kehilangan bobot saat dilakukan trimming dan sortasi sebelum produk dipasarkan. Kehilangan bobot yang tinggi disebabkan oleh kondisi tanaman banyak yang berlubang karena terserang hama ulat sehingga banyak yang dibuang saat sortasi. Nilai persentase hasil panen yang dapat dipasarkan pada komoditi pakchoi baby di bidang produksi PT. Saung Mirwan ini lebih kecil dibandingkan yang terjadi di mitra tani. Hal ini disebabkan oleh kegiatan trimming dan sortasi yang dilakukan oleh bidang produksi pada produk panen sangat teliti, sehingga banyak rompesan dan produk yang tidak sesuai standar penerimaan dibuang. Hal tersebut mengakibatkan semakin kecil bobot bersih yang dapat dipasarkan untuk dibawa ke divisi pengemasan.
Tabel 14. Persentase Hasil Panen Pakchoi Baby yang Dapat Dipasarkan dari Bidang Produksi PT. Saung Mirwan
No Tanggal Bedengan Bobot Kotor (kg) Bobot Bersih yang Dapat Dipasarkan (kg) Kehilangan Bobot (%) Persentase yang Dapat Dipasarkan (%) 1 13 April 2010 1 3.25 2.55 21.54 78.46 2 3.10 2.45 20.97 79.03 3 3.35 2.85 14.93 85.07 4 2.90 2.35 18.97 81.03 Rata-rata 3.15 2.55 19.10 80.90 2 16 April 2010 1 3.00 2.20 26.67 73.33 2 3.20 2.20 31.25 68.75 3 3.70 2.95 20.27 79.73 4 4.15 2.75 33.73 66.27 Rata-rata 3.51 2.53 27.98 72.02 3 23 April 2010 1 3.75 2.70 28.00 72.00 2 4.70 3.45 26.60 73.40 3 4.10 3.20 21.95 78.05 4 4.05 2.55 37.04 62.96 Rata-rata 4.15 2.98 28.40 71.60 4 27 April 2010 1 2.30 1.30 43.48 56.52 2 2.00 1.20 40.00 60.00 3 1.60 1.15 28.13 71.88 4 2.55 1.45 43.14 56.86 Rata-rata 2.11 1.28 38.69 61.31 5 4 Mei 2010 1 3.35 2.55 23.88 76.12 2 3.45 1.75 49.28 50.72 3 4.50 3.30 26.67 73.33 4 3.45 2.40 30.43 69.57 Rata-rata 3.69 2.50 32.56 67.44 6 17 Mei 2010 1 1.65 1.25 24.24 75.76 2 2.90 1.95 32.76 67.24 3 3.20 1.90 40.63 59.38 4 3.80 2.65 30.26 69.74 Rata-rata 2.89 1.94 31.97 68.03 7 20 Mei 2010 1 1.90 1.30 31.58 68.42 2 2.70 1.85 31.48 68.52 3 1.65 1.15 30.30 69.70 4 2.3 1.50 34.78 65.22 Rata-rata 2.14 1.45 32.04 67.96 8 21 Mei 2010 1 2.95 1.70 42.37 57.63 2 2.45 1.45 40.82 59.18 3 2.65 2.00 24.53 75.47 4 2.70 2.15 20.37 79.63 Rata-rata 2.69 1.83 32.02 67.98 Rata-rata total 3.04 2.13 30.34 69.66
Persentase hasil panen yang dapat dipasarkan pada komoditi pakchoi baby dari lahan mitra tani disajikan pada Tabel 15. Pengamatan persentase hasil panen yang dapat dipasarkan hanya dilakukan satu kali di lahan salah seorang mitra tani yang berlokasi sekitar 2 km dari divisi pengemasan PT. Saung Mirwan. Persentase hasil panen yang dapat dipasarkan pada pakchoi baby diperoleh dari 4 bedengan dengan pengambilan sampel 1 m2 tiap bedengan.
Tabel 15. Persentase Hasil Panen Pakchoi Baby yang Dapat Dipasarkan dari Mitra Tani
No Nama Petani Bedengan Bobot Kotor (kg) Bobot Bersih yang Dipasarkan (kg) Kehilangan Bobot (%) Persentase yang Dapat Dipasarkan (%) 1 Yusuf Solihin 1 2.00 1.82 9.00 91.00 2 2.00 1.80 10.00 90.00 3 1.80 1.65 8.33 91.67 4 3.50 3.38 3.43 96.57 Rata-rata 2.33 2.16 7.69 92.31
Sumber : Hasil Pengamatan Tanggal 26 Juli 2010
Persentase hasil panen mitra tani yang dapat dipasarkan berkisar antara 90-96 %. Hal itu disebabkan oleh kegiatan trimming yang dilakukan di mitra tani hanya membuang 1-2 daun saja, sehingga kehilangan bobot yang terjadi saat panen di lahan hanya dalam jumlah kecil. Petani hanya membuang daun tua agar tidak mengurangi bobot yang dikirim ke divisi pengemasan. Hal ini dikarenakan akan dilakukan trimming dan sortasi kembali di bagian penerimaan sayur PT. Saung Mirwan. Trimming dilakukan untuk membuang daun-daun yang rusak selama pengangkutan dari lahan mitra tani. Kerusakan yang terjadi selama proses pengangkutan menyebabkan kehilangan hasil (loss). Jika kegiatan trimming dan sortasi yang dilakukan di lahan lebih teliti maka semakin mengurangi bobot yang diterima bagian penerimaan, sehingga jumlah pembayaran yang diterima semakin sedikit. Pengambilan sampel yang dilakukan hanya sekali dan hanya pada satu orang petani mengakibatkan kesulitan dalam membandingkan nilai persentase hasil panen yang dapat dipasarkan.
Kehilangan hasil (loss) dapat diartikan sebagai suatu perubahan dalam hal ketersediaan (availability), jumlah yang dapat dimakan (edibility), yang akhirnya
dapat menyebabkan bahan tersebut tidak dapat dikonsumsi (Muchtadi dan Anjarsari, 1996). Kehilangan hasil pada sayuran di PT. Saung Mirwan terdiri atas sayuran yang busuk, berlubang, tidak sesuai standar penerimaan, rompesan dari trimming, dan pecah (sayuran buah). Kehilangan hasil ini sering disebut dengan istilah broken stock (BS). Sayuran BS ini merupakan sayuran yang tidak layak jual ke konsumen supermarket, restoran ataupun hotel. Biasanya sayuran BS ini tidak dijual tetapi dibuang begitu saja karena sudah tidak memiliki nilai jual menurut perusahaan.
Pengamatan kehilangan hasil harian pada komoditi pakchoi baby dilakukan dengan pengumpulan data selama delapan kali. Kegiatan pengamatan dilakukan dengan mengikuti proses pengemasan produk. Selama kegiatan pengemasan dilakukan sortasi dan trimming kembali terhadap semua komoditi pakchoi baby yang masuk melalui bagian penerimaan sayur. Jumlah sayuran yang masuk telah ditimbang terlebih dahulu dan dilakukan pencatatan di bagian penerimaan tersebut. Pakchoi baby yang termasuk dalam kriteria BS dan rompesan hasil dari trimming (Gambar 25a) dipisahkan ke dalam kontainer plastik (Gambar 25b) yang selanjutnya ditimbang untuk mengetahui bobot yang ditolak, sehingga diketahui bobot bersih yang diterima oleh divisi pengemasan.
(a) (b)
Gambar 25. Kegiatan Trimming dan Sortasi pada Pakchoi Baby : (a) Rompesan Pakchoi Baby, (b) Pakchoi Baby BS (Tidak Layak Jual)
Pakchoi baby yang berasal dari mitra tani dan mitra beli, produk BS dan rompesannya dikembalikan kepada pengirimnya. Biasanya produk BS tersebut dijual ke pasar lokal, dengan harga jual lebih murah dibandingkan di PT. Saung Mirwan. Begitu pula untuk pakchoi baby yang berasal dari bidang produksi,
produk BSnya yang hanya berlubang sedikit masih dapat dijual ke pasar lokal melalui divisi pengemasan, sedangkan yang sudah tidak layak jual dibuang.
Tabel 16. Kehilangan Hasil Harian pada Pakchoi Baby saat Pengemasan di Divisi Pengemasan PT. Saung Mirwan
No Tanggal Asal Sayur Penerimaan (kg) BS (Broken Stock) (kg) Kehilangan Hasil (%) Keterangan 1 15 April 2010 Lokasi BRC 24 3 12.50 Trimming Lokasi BLN 37 6 16.22 BS dan trimming 2 19 April 2010 Lokasi BLN 105 13 12.38 BS dan trimming Mitra Tani 70 43 61.43 BS dan
trimming 3 29 April 2010 Lokasi BXC 53 22 41.51 BS dan trimming Lokasi BLN 45 9.5 21.11 BS dan trimming Mitra Tani 35 6 17.14 BS dan
trimming 4 4 Mei 2010 Mitra Tani 20 5 25.00 BS Lokasi BXC 196 30 15.31 BS Lokasi BLN 15 2 13.33 Ulat 5 4 Mei 2010 Mitra Beli 20 0 0.00
Mitra Tani 105 43 40.95 BS dan trimming Mitra Tani 14 14 100.00 Ulat Mitra Tani 21 10 47.62 BS dan
trimming 6 9 Juni 2010 Mitra Beli 31 0 0.00 Lokasi BLN 146 26 17.81 BS 7 16 Juni 2010 Lokasi BLN 19 0 0.00
Mitra Tani 115 36 31.30 BS dan trimming
Lokasi BXC 106 0 0.00
8 22 Juni 2010
Mitra Tani 38 18 47.37 BS dan trimming Mitra Tani 76 31 40.79 BS dan
trimming Mitra Tani 80 24 30.00 BS dan
trimming
Kehilangan hasil harian pada komoditi pakchoi baby selama proses pengemasan disajikan pada Tabel 16. Kehilangan hasil pakchoi baby yang berasal dari bidang produksi 0-41 %, mitra tani 17-100 %, dan mitra beli 0 %. Tingkat kehilangan hasil pakchoi baby yang berasal dari bidang produksi selama proses pengemasan lebih rendah dibandingkan yang berasal dari mitra tani. Hal itu disebabkan karena kegiatan trimming dan sortasi saat panen di lahan bagian produksi lebih teliti dibanding yang dilakukan oleh mitra tani. Tingkat kehilangan hasil pada pakchoi baby yang berasal dari mitra tani dapat mencapai 100 % disebabkan karena tidak adanya kegiatan sortasi saat panen di lahan, sehingga sayuran yang tidak memenuhi kriteria standar penerimaan sayur PT. Saung Mirwan tersebut ditolak dan dikembalikan kepada petani.
Selain itu, tingkat kehilangan hasil pakchoi baby yang tinggi dari mitra tani disebabkan karena lokasi lahan petani memiliki jarak cukup yang jauh dari divisi pengemasan PT. Saung Mirwan, yaitu lebih dari 2 km. Hal tersebut mengakibatkan tingginya risiko kerusakan selama proses pengangkutan dibandingkan dari lahan bidang produksi yang hanya berjarak sekitar 200 m.
Pakchoi baby yang berasal dari mitra beli tidak mengalami kehilangan hasil, yang berarti tingkat kehilangan hasilnya mencapai 0 %. Hal tersebut disebabkan karena jumlah sayuran yang dipesan kepada pengumpul (mitra beli) hanya sejumlah kekurangan untuk memenuhi pemesanan dari konsumen. Oleh karena itu mitra beli hanya mengirimkan sayuran yang sesuai dengan standar penerimaan dan telah dilakukan trimming dan sortasi yang lebih teliti agar jumlah yang diterima oleh PT. Saung Mirwan sesuai dengan jumlah pemesanannya, sehingga mampu untuk mencukupi pemesanan dari konsumen.
Pengamatan kehilangan hasil harian pada komoditi tomat cherry dilakukan dengan pengumpulan data selama delapan kali. Kegiatan pengamatan dilakukan dengan mengikuti proses pengemasan produk. Selama kegiatan pengemasan dilakukan sortasi terhadap semua komoditi tomat cherry yang masuk melalui bagian penerimaan sayur. Jumlah tomat cherry yang masuk telah ditimbang terlebih dahulu dan dilakukan pencatatan di bagian penerimaan tersebut. Tomat cherry yang termasuk dalam kriteria BS seperti pecah, memar, dan tidak sesuai ukuran dipisahkan ke dalam kontainer plastik yang selanjutnya ditimbang untuk