• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanganan Pembiayaan Bermasalah

Penanganan merupakan suatu cara untuk melakukan tindakan yang telah direncanakan dan terarah untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan organisasi atau perusahaan. Kaitannya dengan pembiayaan bermasalah, berarti pihak bank dituntut untuk menjalankan tugasnya dalam menyelesaikan masalah perusahaan sehingga tidak terjadi masalah yang berkesinambungan.

a. Pengendalian Pembiayaan Bermasalah

Untuk mengatasi pembiayaan bermasalah, strategi yang harus dilakukan bank adalah pengendalian pembiayaan. Menurut Harold Koontz yang dikutip oleh Malayu dan dikutip oleh Fuad, mengatakan bahwa pengendalian kredit adalah pengukuran dan perbaikan terhadap pelaksanaan kerja bawahan agar rencana-rencana yang telah dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan dapat terselenggara. Masalah pembiayaan bermasalah memerlukan penanganan khusus, karena dikonstatir pembiayaan bermasalah mulai menjadi lahan empuk dari pelaku kejahatan ekonomi. Masalah ini sering dihubungkan dengan berbagai tindakan kejahatan perbankan, baik

yang dilakukan oleh kalangan orang dalam, maupun pihak luar, atau kolusi (kerjasama) orang dalam dan orang luar.57

b. Jenis-Jenis Pengendalian Pembiayaan Bermasalah a. Upaya preventif/Pencegahan

Preventif Control of Credit adalah pengendalian kredit yang dilakukan dengan tindakan pencegahan sebelum kredit tersebut macet, dengan cara:58

1. Penetapan plafond kredit

Palfond kredit atau Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) adalah batas pemberian pembiayaan yang berikan perusahaan/bank kepada nasabah yang bersangkutan.

Pemberian kredit secara mutlak harus ditetapkan dan disetujui oleh kedua belah pihak sebelum penyaluran pembiayaan dilakukan, plafond kredit ditetapkan secara obyektif atas hasil analisis dan analisis kredit harus dilakukan oleh orang-orang yang jujur, ahli, cakap, dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

2. Pemantauan Debitur

Pemantaun debitur/nasabah dimaksudkan, bank harus memonitori perkembangan perusahaan debitur setelah pembiayaan diberikan, apakah maju atau menurun. Jika perusahaan maju, kemungkinan kredit akan lancar. Sebaliknya jika menurun, hendaknya penagihan lebih ditingkatkan sebelum kredit itu macet.

3. Pembinaan Debitur

Pembinaan yang dimaksud adalah memberikan penyuluhan kepada debitur mengenai manajemen dan admnistrasi agar ia lebih mampu mengelola perusahaannya. Karena apabila usahanya maju pembayaran pembiayaan akan lancar.

57

Fuad Anas, Hubungan Penerapan Manajemen Pembiayaan bermasalah Terhadap Peningkatan Laba, (Cirebon, SKRIPSI, 2008), 39.

58

b. Upaya Penyelamatan Pembiayaan Bermasalah

Upaya penyelamatan pembiayaan merupakan salah satu cara menyelesaikan kasus pembiayaan bermasalah diluar jalur hukum, artinya pada proses ini hanya melalui perundingan kembali antara nasabah dengan pihak bank. Nasabah-nasabah yang masih mempunyai prospek dan masih mempunyai i’tikad baik , maka pengelolaan dan penanganan pembiayaan bermasalah dapat dilakukan melalui tindakan penyelamatan. Penyelamatan pembiayaan dimaksud dapat ditempuh melalui cara penagihan intensif dan prinsip 3 R, yakni Rescheduling, Reconditioning dan Restructuring. Berikut ini uraiannya:59

1. Penagihan intensif

Yaitu upaya penyelamatan pembiayaan dari nasabah yang tergolong macet agar dapat memenuhi kewajibannya. Persyaratan minimal yang harus dipenuhi untuk berhasilnya pelaksanaan penagihan adalah bahwa nasabah masih memiliki i’tikad baik, usahanya masih berjalan sehingga mampu memberikan penghasilan.

2. Penjadwalan Ulang (Rescheduling)

Yaitu penyelamatan pembiayaan yang hanya menyangkut perubahan jadwal pembayaran pokok atau tunggakan pembayaran margin atau perubahan jangka waktu pembiayaan. Termasuk dalam perubahan ini adalah masa tenggang (grace periode) baik meliputi perubahan jumlah angsuran maupun jangka waktu pembiayaan. Dalam hal ini si debitur diberikan keringanan dalam jangka waktu kredit misalnya perpanjangan jangka waktu dari 6 bulan menjadi 1 tahun sehingga si debitur mempunyai waktu yang lebih lama untuk mengembalikannya. Adapun dalam perubahan besarnya

59

Misbahul Munir,Implementasi Prudential Banking dalam Perbankan Syariah, (Malang:UIN Malang Press, 2009), 84.

angsuran, debitur diberikan fasilitas memperpanjang angsuran hampir sama dengan jangka waktu pembiayaan/kredit. Dalam hal ini jangka waktu angsuran pembiayaannya diperpanjang pembayarannya. Misalnya dari 36 kali menjadi 48 kali dan hal ini tentu saja jumlah angsuran pun menjadi mengecil seiring dengan penambahan jumlah angsuran

3. Persyaratan Kembali (Reconditioning)

Reconditioning atau persyaratan ulang adalah perubahan sabagian atau seluruh syarat-syarat pembiayaan meliputi perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu, atau persyaratan lainnya sepanjang tidak menyangkut perbahan maksimum pembiayaan. Penyesuaian persyaratan pembiayaan dimaksud dapat meliputi:

a. Penjadwalan kembali anguran pokok dan bagi hasil/margin.

b. Penetapan margin, bagi hasil, biaya bank dan denda yang lebih rendahsepanjang keadaan usaha nasabah belum memungkinkan untuk pembayaran bagi hasil/margin. c. Peninjauan kembali self financing yang harus dipenuhi. d. Perubahan persyaratan pembiayaan lainnya (termasuk

penukaran agunan)

Tindakan reconditioning diberikan kepada nasabah yang masih memiliki i’tikad baik untuk melunasi kewajibannya adapun pelaksanaan reconditioning ini pada umumnya dilakukan pada pembiayaan yang kolektibilitasnya diragukan atau macet.

4. Penataan Kembali (Restructuring)

Upaya ini dilakukan bank untuk menata kembali pembiayaan agar nasabah dapat memenuhi kewajibannya. Tindakan restrukturisasi pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah sebagai berikut:

a. Penurunan tingkat bagi hasil/ margin. b. Pengurangan tunggakan bagi hasil/margin. c. Pengurangan tunggakan pokok pembiayaan. d. Perpanjangan jangka waktu pembiayaan. e. Penambahan fasilitas pembiayaan.

f. Pengambilan-alihan asset nasabah sesuai ketentuan yang berlaku.

Tindakan restrukturisasi dapat diberikan kepada nasabah yang masih memiliki i’tikad baik untuk melunasi kewajibannya. Sebagaimana dalam pelaksanaan reconditioning, pelaksanaan restructuring juga dapat dilakukan untuk pembiayaan yang kolektibitasnya diragukan atau macet. Restructuring pada umumnya dilakukan dalam bentuk penyesuaian jumlah dan penggunaan pembiayaan baik untuk invetasi maupun modal kerja sesuai dengan realisasi penggunaanya yang tercermin dalam neraca perusahaan. c. Upaya penyelesaian

Penyelesaian pembiayaan bermasalah adalah upaya dan tindakan untuk menarik kembali pembiayaan nasabah dengan kategori macet. Pembiayaan macet merupakan salah satu pembiayaan bermasalah yang perlu diadakan penyelesaian secepat mungkin agar risiko pembiayaan bermasalah tidak menjadi lebih parah.

Apabila upaya-upaya penyelamatan sebagaimana yang telah dijelaskan diatas tersebut tidak berhasil dilaksanakan, maka tidak lain bank melakukan penyelesaian kasus pembiayaan bermasalah dengan cara melalui prosedur hukum, hal ini dimaksudkan terhadap nasabah-nasabah yang sudah tidak memiliki i’tikad baik untuk melunasi kewajibannya. Sehubungan dengan hal tersebut, bank melakukan upaya tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahkan terdapat beberapa

lembaga dan berbagai sarana hukum yang dapat dipergunakan untuk mempercepat penyelesaian masalah pembiayaan bermasalah perbankan, seperti Badan Peradilan, Badan Arbritasi Syariah, dan Badan Hukum lainnya.

Adapun strategi penyelesaian pembiayaan bermasalah yang dapat dilakukan oleh bank adalah berupa tindakan-tindakan sebagai berikut:

1. Penyelesaian Secara Kekeluargaan

Pada penyelesaian ini dilakukan dengan cara pendekatan terhadap nasabah, dalam proses penyelesaian ini dilakukan secara kekeluargaan yaitu pihak bank bank melakukan kunjungan untuk memberikan pembianaan terhadap nasabah yang mengalami bermasalah. Pembinaan ini dilakukan agar nasabah segera membayar tanpa ada paksaan. Namun apabila dengan pembinaan tersebut tidak membuahkan hasil, maka bank melakukan peneguran dengan memberikan surat peringatan/SP pada nasabah. Apabila dengan surat peringatan tidak ada reaksi juga maka akan dilakukan penarikan jaminan.60

2. Pencairan Agunan

Pencairan agunan yang dilakukan untuk menyelesaikan pembiayaan bermasalah dapat dilakukan baik melalui cara penebusan agunan maupun dengan melelang barang agunan oleh pihak bank. Penebusan agunan adalah penarikan agunan dari bank oleh nasabah atau sebagai pemilik barang dengan menyetor sejumlah uang yang ditetapkan oleh bank. Sementara pelelangan agunan oleh pihak bank apabila nasabah tidak sanggup melunasi kewajibannya, maka sebagai

gantinya bank melelang agunan guna mendapatkan kembali dana yang diberikan kepada nasabah.61

3. Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah Melalui Pengadilan Negeri

Penyelesain ini diberlakukan terhadap nasabah-nasabah yang sudah tidak mempunyai prospek dan tidka mempunyai i’tikad baik untuk menyelesaikan kewajibannya, penyelesaian pembiayaan dapat dilakukan dengan cara penyelesaian melalui Pengadilan Negeri, baik itu dengan cara gugatan, eksekusi grosse akta pengakuan hutang, somasi, eksekusi sertifikat hak tanggungan, maupun eksekusi sertifikat jaminan.

Dari kelima cara tersebut diatas yang paling memungkinkan untuk dpat ditempuh bank adalah melalui cara somasi, eksekusi sertifikat hak tanggungan dan eksekusi sertifikat jaminan, karena cara tersebuh lebih efektif dan efisien. Sedangkan gugatan dan eksekusi grosse akta pengakuan hutang relatif sulituntuk dilaksanakan karena prosesnya memakan waktu yang cukup lama.

4. Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah Melalui Badan Arbritase Syariah

Lahirnya Undang-Undang No. 30 tahun 1999 tentang Arbritase dan alternatif penyelesaian sengketa pada tanggal 12 Agustus 1999 telah memberikan kepastian sekaligus sebagai landasan yang kokoh bagi para pihak yang hendak menyelesaikan sengketa mereka melalui jalur diluar peradilan. Pengertian arbritase itu sendiri adalah cara penyelesaian sengketa di luar peradilan umum berdasarkan atas perjanjian tertulis dari para pihak yang bersengketa. Sesuai dengan prinsip yang terkandung dalam Islam, maka

prinsip musyawarah untuk mencapai mufakat hendaknya tercermin dalam hubungan antara pihak Bank dan nasabah yang diaplikasikan dalam perumusan akad-akadnya. Karenanya dalam menyelesaikan perselisihan atau sengketa antara pihak akan menempuh jalan perdamaian dan memberikan manfaat bagi masing-masing pihak.

Penyelesaian ini diberlakukan bagi nasabah yang sudah tidak mempunyai i’tikad baik dalam melunasi kewajibannya, tidak hanya karena kelalaian nasabah, nasabah yang melakukan wanprestasi juga proses penyelesaiannya melalui Badan Arbritase.

Mengingat sengketa perbankan syariah merupakan sengketa perdata dalam bidang bisnis, maka penyelesaian sengketa bank syariah dengan nasabah atau pihak lainnya dapat menggunakan badan arbritase syariah, yang pada saat ini dinamakan BASYARNAS.

Berdasarkan uraian diatas, efektivitas berarti suatu tindakan yang tepat dilakukan perusahaan dalam mencapai tujuan. Efektivitas penanganan pembiayaan bermasalah berarti sejauh mana bank bertindak dalam merealisasikan tujuan sesuai target yang telah ditentukan, target disini berarti bank telah berhasil dalam menerapkan dan menjalankan tugasnya dalam mengatasi pembiayaan bermasalah. Dan penanganan masalah tersebut akan efektif apabila dalam perusahaan/bank terdapat manajemen pembiayaan yang baik, keuletan dari karyawan yang kompeten serta hubungan kerjasama yang bagus yang diterapkan bank. Sehingga dapat mendongkrak keefektifan bank dalam menangani pembiayaan bermasalah.

Dokumen terkait