5.1. Tujuan 16. Menciptakan Perdamaian, Penegakan Hukum, dan Penguatan Kelembagaan
Aspek Hak Asasi Manusia (HAM) dan Hukum
Perencanaan pembangunan yang berwawasan HAM merupakan perencanaan pembangunan yang menjadikan nilai-nilai HAM sebagai rambu-rambu dalam perencanaan pembangunan. HAM harus dipatuhi oleh negara atau pemerintah dalam menjalankan misinya sehingga tidak menjadikan pembangunan sebagai tujuan dengan mengorbankan manusia demi pembangunan, melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan penegakkan hak atas pembangunan.
Dari sisi pembangunan hukum, hukum yang relevan untuk dikembangkan sejalan dengan nilai-nilai HAM adalah model humanis partisipatoris. Manifestasi dari model pembangunan hukum ini adalah memberi perhatian pada aspek dan dimensi manusiawi sebagai tujuan utama pembangunan yang memberi akses kepada warga negara untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan di berbagai bidang kehidupan. Hukum memberi alokasi wewenang yang lebih besar kepada warga negara untuk menentukan realisasi dirinya sebagai subjek, bukan objek yang dibentuk dan dikontrol oleh subjek lain.
Tabel 5.1
Kondisi Eksisting Indikator Tujuan 16 SDGs (Aspek Hak Asasi Manusia dan Hukum)
Kota Salatiga Tahun 2018
No Indikator SDGs Kota Satuan Realisasi
2018 Penangung-jawab Sumber Data 1 Indeks Kriminalitas skor 0,012 Polres
2 Prevelensi penyalahgunaan Narkoba skor 0,0025 Badan Kesbangpol 3 Kematian disebabkan konflik per
100.000 penduduk Jumlah Kasus 0 Polres 4 Jumlah kasus kejahatan pembunuhan
pada satu tahun terakhir Kasus 0 Polres 5 Proporsi penduduk yang menjadi
korban kejahatan dalam 12 bulan terakhir
Kasus 217 Polres
6 Cakupan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan yang Mendapatkan Penanganan Sesuai Standart
Persen 100 Dinas P3A
7 Persentase perempuan korban kekerasan termasuk TPPO yang dilayani sesuai standar
68 8 Proporsi korban kekerasan dalam 12
bulan terakhir yang melaporkan kepada polisi
Persen 10,5 Polres
9 Jumlah orang atau kelompok masyarakat miskin yang memperoleh bantuan hukum litigasi dan non litigasi.
Org/Pok
mas PM Bag. Hukum Setda
10 Persentase cakupan akta kelahiran Persen 94 Dindukcapil 11 Persentase keterwakilan perempuan di
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota
Persen 28 DP3A
12 Persentase perempuan pada jabatan
eselon II,III, dan IV Persen 43,2 Badan Kepegawaian dan Pendidikan Pelatihan Daerah Sumber: Data sekunder dari berbagai sumber, 2019 (diolah)
Indeks kriminalitas menjadi salah satu tolok ukur kondusivitas suatu wilayah. Dalam konteks pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Prevalensi adalah jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah. Prevalensi penyalahgunaan
narkoba ditargetkan 2,5 terealisasi 0,025 angka tersebut dihitung dengan
rumus :
Angka tersebut berdasrkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Salatiga yang tertuang dalam Salatiga dalam Angka 2018 dengan menunjukan jumlah kasus narkoba tahun 2018 pada Kota Salatiga sebanyak 50 kasus. Semakin kecil persentase maka menunjukan bahwa tingkat penyalahgunaan Narkoba rendah, oleh karenanya tingkat keterlibatan dan penyalahgunaan narkoba pada masyakat Kota Salatiga relatif kecil hal ini menunjukan bahwa masyarkat Kota Salatiga memiliki pola hidup yang sehat.
Dengan demikian untuk mempertahankan jumlah penyalahgunaan narkoba yang rendah, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Salatiga melaksanakan kegiatan sebagai berikut:
Kegiatan Fasilitasi alat tes Narkoba
Kegiatan operasional Badan Narkotika Kota (BNK) selama 9 bulan Kegiatan sosialisasi penyuluhan, pencegahan peredaran/ penggunaan narkoba (P4GN) bagi pelajar SMP/MTs/SMA/SMK/MA,
69
masyarakat dan mahasiswa sejumlah 200 orang, sebanyak 1 kali dalam satu tahun. sebanyak 1 kali dalam satu tahun
Aspek Tata Kelola dan Penguatan Kelembagaan
Penguatan kapasitas kelembagaan Pemerintah Daerah dapat diartikan sebagai upaya membangun organisasi, sistem-sistem, kemitraan, orang-orang dan proses-proses secara benar untuk menjalankan agenda atau rencana tertentu. Penguatan kapasitas kelembagaan Pemerintah Daerah oleh karenanya berkaitan dengan individual capability development,
organizational capacity building, dan institutional capacity building
.
Tabel 5.2Kondisi Eksisting Indikator Tujuan 16 SDGs (Aspek Tata Kelola dan Pemguatan Kelembagaan)
Kota Salatiga Tahun 2018
No Indikator SDGs Kota Satuan Tahun 2018 Penangungjawab Sumber Data 1 Indeks Perilaku Anti
Korupsi (IPAK) Angka Belum BPS
2 Realisasi APBD Rupiah
(Juta) 923.538,24 Badan Keuangan Daerah Persen 77,79 Badan Keuangan
Daerah 3 Opini BPK atas
Laporan Keuangan Opini WTP BPK
4 Nilai SAKIP Huruf B Kemen PAN dan
RB, Inspektorat 5 Persentase penggunaan E-procurement terhadap belanja pengadaan Persen 100 Bag. Pembangunan Setda 6 Indeks Reformasi
Birokrasi (Indeks RB) Komposit Angka 58 Kemen PAN dan RB, Bag. Organisasi Setda, Inspektorat 7 Tingkat Kepatuhan pelaksanaan UU Pelayanan Publik Pemerintah Daerah
Zona Hijau Ombudsman RI
8 Persentase OPD yang mengembangkan Teknologi Informasi
Persen 100 Dinas Kominfo
9 Jumlah PPID di OPD OPD 33 Dinas Kominfo Sumber: Data sekunder dari berbagai sumber, 2019 (diolah)
Merujuk pada tabel tersebut diatas, realisasi APBD Kota salatiga pada tahun 2018 sebesar Rp. 845.503.525.507,- Realisasi tersebut menjadi salah satu parameter kontribusi pemerintah daerah dalam pelaksanaan program prioritas daerah sebagaimana tertuang dalam
70
RPJMD dan Renstra yang telah diselaraskan dengan upaya pencapaian target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development
Goals (SDGs).
Akuntabilitas laporan keuangan yang diukur dengan berdasarkan Audit oleh BPK yang kemudian hasilnya dituangkan dalam Opini BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Salatiga. Berdasarkan Audit BPK tersebut, Opini atas Laporan Keuangan pada tahun 2018 daoat mempertahankan Opini Wajar tanpa Pengecualian (WTP), yang sudah diraih sejak tahun 2016.
Nilai Akuntabilitas pada Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) pada tahun 2018 mencapai nilai B. Nilai SAKIP digunakan untuk mengetahui ketercapaian (rasio antara target dan realisasi) maupun keserasian indikator dalam RPJMD, Renstra, dan Renja. Selain itu, salah satu prioritas dalam reformasi birokrasi adalah peningkatan kualitas penyelenggaran pelayanan publik. Kualitas penyelenggaraan pelayanan publik amanat dalam peberapannya harus diselaraskan dengan Standar Pelayanan Publik yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
Merujuk pada Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman, maka penilaian kepatuhan terhadap Undang-undang Pelayanan Publik dilakukan oleh Ombudsman RI. Pada tahun 2018 telah dilakukan penilaian oleh Ombudsman RI dan mendapatkan Kategori Zona Hijau (92,27), setelah 2 tahun sebelumnya Tahun 2016 (53,10) dan 2017 (55,09) masih dalam Kategori Zona Kuning.
Hal lain berkaitan dengan parameter makro reformasi birokrasi yang diukur dengan Indeks Reformasi Birokrasi (Indeks RB). Indeks Reformasi Birokrasi sebagai bagian integral Tujuan 16 SDGs merupakan indeks komposit yang diukur berdasarkan akumulasi dari nilai indikator 8 (delapan) arean perubahan dalam reformasi birokrasi, termasuk diantaranya adalah Nilai SAKIP, Opini BPK atas Laporan Keuangan Instansi Pemerintah, Kepatuhan terhadap Undang-Undang Pelayanan Publik, Nilai Zona Integritas, Nilai Survei Kepuasan Masyarakat, dan lain sebagainya. Berdasarkan pengukuran dan validasi oleh Kementerian PAN dan RB, pada tahun 2018 diperoleh Indeks Reformasi Birokrasi (Indek RB) Kota Salatiga sebesar 58.
71
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Pembangunan berkelanjutan (TPB/SDGs) merupakan pembangunan yang bersifat universal dan inklusif. Oleh karena itu, penetapan tujuan dan target dalam pelaksanaan TPB/SDGs mempunyai keterkaitan yang komprehensif antarpilarnya, yaitu pilar sosial, pilar ekonomi, pilar lingkungan serta pilar hukum dan tata kelola. Pada tahun 2018, kondisi pencapaian pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dibagi dalam 4 pilar.
No. Indikator SDGs Kota Satuan Capaian Tahun 2018 Pilar Pembangunan Sosial
1 Angka Kemiskinan Persen 4,84
2 Ketersediaan Pangan Utama Beras Ton 7,5 (Gabah Kering Giling)
3 Pola Pangan Harapan Persen 91,2
4 Penguatan cadangan pangan Persen 20
5 Penanganan daerah rawan pangan Persen 30
6
Proporsi penduduk dengan asupan kalori minimum di
bawah 1400 kkal/kapita/hari Skor 12
7 Jumlah kasus balita gizi buruk Kasus 4
8 Angka Kematian Ibu Kasus 3
9 Angka Kematian Balita Kasus 25
10 Angka kematian bayi Kasus 20
11 APK SD/MI sederajat Persen 140,65
12 APK SMP/MTs sederajat Persen 136,22
13 APK PAUD Persen 76,46
14 SD/MI terakreditasi minimal B Persen 99,66 15 SMP/MTs terakreditasi minimal B Persen 100
16 Jumlah OPD yang telah menyusun PPRG OPD 31
Pilar Pembangunan Ekonomi
1 Rasio Elektrifikasi Persen 98,24
2 Rasio penggunaan gas rumah tangga Persen 89
3 Pertumbuhan ekonomi Persen 5,23
4 Tingkat Pengangguran Terbuka Persen 4,28
5 Persentase jalan kota dalam kondisi baik Persen 84,16
72
industri manufaktur terhadap PDB dan perkapita
7 Laju pertumbuhan PDB industri manufaktur pengolahan
Persen 0,25
8 Indeks Kualitas Udara (IKU) komposit Angka 23,061
9 Gini Ratio Angka *data terakhir 0,35
tahun 2015
10 PDRB per kapita Rupiah (juta) 64,22
11 Rasio penerimaan pajak terhadap PDB Persen 23,48
Pilar Pembangunan Lingkungan
1 Persentase penduduk berakses air minum layak Persen 93,64
2 Persentase pemenuhan air baku Persen 85
3 Persentase rumah tangga dengan akses sanitasi layak Persen 95
4 Jumlah Kelurahan ODF Kelurahan 23
5 Cakupan ketersediaan rumah layak huni Persen 99,61
6 Persentase penanganan sampah Persen 73,04
7 Persentase pengurangan sampah perkotaan Persen 16,77
8 Persentase ruang terbuka hijau Persen 15,7
9
Persentase penyimpanan limbah b3 sesuai dengan
ketentuan Persen 35
10 Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL Persen 100
11 Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan UKL/UPL Persen 100
12 Indeks Kualitas Tutupan Lahan (IKLT) komposit Angka 23,78
13 Luas lahan kritis yang direhabilitasi terhadap luas lahan keseluruhan
Ha 1,0648
Pilar Pembangunan Hukum dan Tata Kelola
1 Indeks kriminalitas Skor 0,012
2 Kematian disebabkan konflik per 100.000 penduduk Kasus 0
3
Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang
mendapatkan penanganan sesuai standar
Persen 100
73
kekerasan termasuk TPPO yang dilayani sesuai standar
5 Cakupan akta kelahiran Persen 94
6 Opini BPK atas laporan keuangan Opini WTP
7 Indeks Reformasi Birokrasi komposit Angka 58
8
Persentase penggunaan E-procurement terhadap belanja
pengadaan Persen 100
6.2 Rencana Tindak Lanjut
Untuk mendorong pencapaian target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) di Kota Salatiga, ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai berikut:
a. Penyusunan Rencana Aksi Daerah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (RAD TPB).
b. Penguatan peran kelembagaan Tim Pelaksana Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
c. Sinkronisasi indikator-indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dengan dokumen perencanaan daerah.
d. Pengembangan model kelurahan berkelanjutan berbasis potensi lokal yang nantinya akan menjadi role model dalam upaya pencapaian target TPB tingkat kota.
e. Penguatan peran non state actor, terutama perguruan tinggi, NGO/Komunitas dan dunia usaha.