BAB III DINAMIKA PENERAPAN SISTEM CHECKS AND
A. Pendahuluan
Salah satu diskursus penting yang mengemuka pada saat menyusun dan merubah konstitusi suatu bangsa adalah perihal cabang kekuasaan negara dan hubungan antar kekuasaan negara tersebut. Urgensi perdebatan mengenai kekuasaan negara dikarenakan luasanya cabang kekuasaan negara yang perlu diatur yang meliputi kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Lebih dari itu keberadaan pembagian kekuasaan dalam suatu negara menjadi nyawa dalam konsep negara hukum yang dianut oleh suatu bangsa. Indonesia dalam hal ini telah menegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia bahwa negara Indonesia ialah negara hukum.
Jimly Asshiddiqie mengemukakan gagasan, cita, atau ide Negara Hukum, selain terkait dengan konsep ‘rechtsstaat’ dan ‘the rule of law’, juga berkaitan dengan konsep ‘nomocracy’ yang berasal dari perkataan ‘nomos’ dan ‘cratos’. Perkataan nomokrasi itu dapat dibandingkan dengan ‘demos’ dan ‘cratos’ atau ‘kratien’ dalam demokrasi. ‘Nomos’ berarti norma, sedangkan ‘cratos’ adalah kekuasaan. Yang dibayangkan sebagai faktor penentu dalam penyelenggaraan kekuasaan adalah norma atau hukum. Karena itu, istilah nomokrasi itu berkaitan erat dengan ide kedaulatan hukum atau prinsip hukum sebagai kekuasaan tertinggi. Dalam istilah Inggeris yang dikembangkan oleh A.V. Dicey, hal itu dapat dikaitkan dengan prinsip “rule of law” yang berkembang di Amerika Serikat menjadi jargon “the Rule of Law, and not of Man”. Yang sesungguhnya dianggap sebagai pemimpin adalah hukum itu sendiri, bukan orang. Dalam buku Plato berjudul “Nomoi” yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris dengan judul
“The Laws”.116
116 Jimly Asshiddiqie, Gagasan Negara Hukum Indonesia, halaman 2. Dapat diakses melalui
http://www.jimly.com/makalah/namafile/135/Konsep_Negara_Hukum_Indonesia.pdf.
BAB III
DINAMIKA PENERAPAN SISTEM CHECKS AND BALANCES DI INDONESIA
117 Majda El. Muhtaj, Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2005) halaman 21.
118 Ni’matul Huda, Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), halaman 73.
119 Franz Magnis Suseno, Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), halaman 295.
120 Bahder Johan Nasution, Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia, (Bandung: Mandar Maju, 2013), halaman 1.
revolusioner, sebaliknya konsep the rule of law berkembang secara evolusioner. Hal ini tampak baik teoritis-konseptual maupun dalam rangka praktis-operasional. Dari isi maupun kriteria rechtsstaat dan rule of law itu sendiri.117 Selanjutnya dalam bukunya yang berjudul “Hukum Tata Negara Indonesia”, Ni’matul Huda mengemukakan Konsep rechtsstaatbertumpu atas sistem hukum kontinental yang disebut civil law, sedangkan konsep the rule of law bertumpu atas sistem hukum yang disebut common law.
Karakteristik civil law adalah administratif, sedangkan karakteristik common law adalah judicial.118
Franz Magnis Suseno memaparkan, gagasan negara hukum dengan menyatakan bahwa paham negara hukum berdasarkan keyakinan bahwa kekuasaan negara harus dijalankan atas dasar hukum yang baik dan adil. Jadi ada dua unsur dalam paham negara hukum: pertama bahwa hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah tidak berdasarkan suatu norma yang objektif yang juga mengikat pihak yang memerintah. Dan kedua, bahwa norma objektif itu, hukum memenuhi syarat bukan hanya formal, melainkan dapat dipertahankan berhadapan dengan idea hukum. Hukum menjadi landasan segenap tindakan negara, dan hukum itu sendiri harus baik dan adil. Baik karena sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat dari hukum, dan adil karena maksud dasar segenap hukum adalah keadilan.119
Negara Hukum merupakan esensi yang menitikberatkan pada tunduknya pemegang kekuasaan negara pada aturan hukum.120 Pandangan demikian juga disampaikan oleh Bothling bahwa “de staat, waarin de wilsvriheid van gezagsdragers is beperket door Menurut Philipus M. Hadjon, konsep rechtsstaat lahir dari suatu perjuangan menentang absolutisme sehingga sifatnya
grezen van recht.” (negara, dimana kebebasan kehendak pemegang kekuasan dibatasi oleh ketentuan hukum).121
Sudargo Gautama122 menjelaskan terdapat 3 (tiga) ciri atau unsur- unsur Negara Hukum, yakni: pertama, terdapat pembatasan kekuatan negara terhadap perorangan, maksudnya adalah negara tidak dapat bertindak sewenang-wenang, tindakan negara dibatasi oleh hukum, individu mempunyai hak terdapat negara atau rakyat mempunyai hak terhadap penguasa. Kedua, asas Legalitas bahwa setiap tindakan negara harus berdasarkan hukum yang telah diadakan terlebih dahulu yang harus ditaati juga oleh pemerintah atau aparatnya. Ketiga, Pemisahan Kekuasaan.
Sejalan dengan pendapat diatas, F. J. Stahl menyatakan elemen dari negara hukum antara lain adanya jaminan atau hak dasar manusia, adanya pembagian kekuasaan, Pemerintah berdasarkan peraturan hukum, dan adanya peradilan administrasi negara. 123 Uraian konsep negara hukum sebagaimana dibentangkan diatas memperlihatkan bahwa adanya pemisahan kekuasaan negara merupakan salah satu intisari dari sebuah negara hukum, yang meliputi pemisahan kekuasaaan pembentuk undang-undang, kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang dan kekuasaan untuk menegakan hukum dan keadilan.
Berbagai cabang kekuasaan negara secara lengkap diterangkan oleh Montesqieau melalui teorinya yang berjudul Trias Politica.124 Kekuasaan legislatif merupakan salah satu cabang kekuasaan negara yang memegang peranan penting dalam menetapkan aturan yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berkenaan dengan cabang kekuasaan ini, Jimly Asshiddiqie menyatakan cabang kekuasaan legislatif cabang kekuasaan yang pertama-tama mencerminkan kedaulatan rakyat.
Kegiatan bernegara, pertama-tama adalah untuk mengatur kehidupan bersama. Oleh karena itu, kewenangan untuk
121 Nurul Qamar, Hak Asasi Manusia dalam Negara Hukum Demokrasi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), halaman 27.
122 cermati dalam Abdul Aziz Hakim, Negara Hukum dan Demokrasi di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), halaman 10.
123 Loc.cit.
124 Perhatikan Romi Librayanto, Trias Politica Dalam Struktur Ketatanegaraan Indonesia, (Makasar: PuKAP, 2008), hlm. 18.
menetapkan peraturan itu pertama-tama harus diberikan kepada lembaga perwakilan rakyat atau parlemen atau lembaga legislatif.125 Lembaga legislatif merupakan satu institusi yang lahir atas legitimasi kehendak rakyat melalui proses pemilihan umum yang melibatkan rakyat selaku pemilih. Penetapan regulasi oleh cabang kekuasaan ini ditunjukan untuk mengatur kehidupan bermasyarakat yang mana aturan tersebut di bangun atas dasar kebutuhan masyarakat.
Kewenangan untuk menetapkan kerangka regulasi dalam sistem hukum nasional merupakan hal yang penting terlebih terhadap negara yang menganut konsep negara hukum. Berkenaan dengan hal tersebut, Jimly Asshiddiqie126 dalam karyanya yang berjudul Gagasan Negara Hukum Indonesia mengemukakan
“dalam rangka perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka dalam Perubahan Keempat pada tahun 2002, konsepsi Negara Hukum atau “Rechtsstaat” yang sebelumnya hanya tercantum dalam Penjelasan UUD 1945, dirumuskan dengan tegas dalam Pasal 1 ayat (3) yang menyatakan, “Negara Indonesia adalah Negara Hukum.” Dalam konsep Negara Hukum itu, diidealkan bahwa yang harus dijadikan panglima dalam dinamika kehidupan kenegaraan adalah hukum, bukan politik ataupun ekonomi. Karena itu, jargon yang biasa digunakan dalam bahasa Inggeris untuk menyebut prinsip Negara Hukum adalah ‘the rule of law, not of man’. Yang disebut pemerintahan pada pokoknya adalah hukum sebagai sistem, bukan orang per orang yang hanya bertindak sebagai
‘wayang’ dari skenario sistem yang mengaturnya”.
Selanjutnya dikatakan olehnya gagasan negara hukum itu dibangun dengan mengembangkan perangkat hukum itu sendiri sebagai suatu sistem yang fungsional dan berkeadilan, dikembangkan dengan menata supra struktur dan infra struktur kelembagaan politik, ekonomi dan sosial yang tertib dan teratur, serta dibina dengan membangun budaya dan kesadaran hukum
125 Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 298
126 Jimly Asshiddiqie, Gagasan Negara Hukum Indonesia, halaman 1. Dapat diakses melalui
http://www.jimly.com/makalah/namafile/135/Konsep_Negara_Hukum_Indonesia.pdf.
yang rasional dan impersonal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.