• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sidang Tahunan MPR Dalam Rangka Mendengarkan Laporan

BAB III DINAMIKA PENERAPAN SISTEM CHECKS AND

C. Relasi Kekuasaan Legislatif

2. Sidang Tahunan MPR Dalam Rangka Mendengarkan Laporan

Para penyelenggara negara menduduki jabatanya karena rakyat telah memberikan mandatnya melalui proses pemilihan umum. pejabat-pejabat yang telah terpilih itu sesungguhnya adalah pejabat pemerintahan/ pejabat negara yang mendapat mandat dari rakyatnya untuk memegang kekuasaan tertentu yang diembankan kepadanya. Mereka adalah wakil rakyat yang seharusnya bertugas untuk memperjuangakan kepentingan rakyat, mensejahterakan

rakyat dan menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Oleh karena itu, sudah seharusnya segala tugas dan tanggung jawab yang diembannya harus disampaikan kepada rakyat. Apakah tugas-tugas dan tanggung jawab itu sudah sesuai dengan keinginan dan harapan rakyat atau tidak.

Sebagai wujud pertanggungjawaban kepada rakyat selaku pemegang kedaulatan, maka kinerja lembaga-lembaga negara dalam menjalankan tugas dan kewenangannya perlu disampaikan kepada rakyat supaya rakyat mengetahui sejauhmana lembaga-lembaga negara sebagai pelaksana kedaulatan rakyat telah menjalankan tugas dan kewenangannya sesuai amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Sejatinya rakyat harus diberikan ruang untuk mendengarkan dan mengevaluasi kinerja kelembagaan pemerintahan atau negara dimana pejabat tersebut bekerja. Oleh karenanya, diperlukan sebuah forum atau persidangan dalam rangka akuntabilitas publik.Sebab penyampaian laporan pertangung jawaban kinerja masing-masing lembaga negara tersebut tidak mungkin disampaikan secara langsung kepada rakyat. Akan tetapi, melalui sebuah sistem perwakilan, yakni sistem penyampaian tersebut dilakukan oleh para penyelenggara negara dan disampaikan dalam sebuah forum permusyawaratan

Sebab MPR sendiri bukanlah merupakan lembaga joint session seperti halnya di Amerika Serikat melainkan sebuah lembaga yang merepresentasikan tiga prinsip perwakilan parlemen sekaligus, yaitu147 :

a. Representasi Politik (Political Representation) b. Representasi Teritorial (Territorial Representation) c. Representasi Fungsional (Functional Representation)

Jika dilihat dari komposisi keanggotaannya, MPR adalah lembaga yang paling representatif kehendak rakyat dibandingkan dengan lembaga negara lainnya, karena keanggotaannya terdiri dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merupakan perwakilan dari political representation dan Anggota Dewan

147 Jimly Assihidiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, Bhuana Ilmu Populer : Jakarta, 2007, hal. 154

Perwakilan Daerah (DPD) yang merupakan perwakilan dari Representasi Teritorial (Territorial Representation).

Perbedaan representasi dan kewenangan DPR dan DPD, menunjukkan dengan jelas bahwa MPR bukanlah lembaga forum sidang bersama (joint session) sebagaimana Kongres Amerika Serikat yang berisikan lembaga House of Representatives dan lembaga Senate, dimana keduanya memiliki posisi yang seimbang.MPR adalah lembaga tersendiri yang beranggotakan para anggota DPR dan anggota DPD, yang merefleksikan delegasi mandat rakyat sesuai dengan kewenangan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar.

Selain itu, prinsip demokrasi perwakilan148di Indonesia menghendaki adanya pengejawantahan aspirasi rakyat dan daerah dalam sistem perwakilan. Terkait hal ini, gagasan untuk membentuk suatu badan permusyawaratan/perwakilan sebagai lembaga yang merepresentasikan Sila Ke-4 Pancasila dijelaskan oleh Bung Karno, dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945149;

“Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat,

bukan

badan permusyawaratan

politieke demokratie

saja, tetapi badan yang besar dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip:

politieke rechtvaardigheid

dan

social rechtvaardighei

d.”

Apabila kita menyimak dengan seksama pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 tentang Lahirnya Pancasila, dapat kita maknai bahwa Ir. Soekarno bermaksud untuk menjelmakan aspirasi rakyat kedalam suatu lembaga perwakilan, dalam hal ini Majelis Permusyawaratan Rakyat. Seperti kutipan diatas, Bung Karno hendak membentuk sebuah Badan Permusyawaratan yang mencerminkan politieke rechtvaardigheid serta socialerechtvaardigheid secara bersamaan dalam satu wadah. Maksudnya, lembaga permusyawaratan yang hendak diwujudkan bukan hanya mewujudkan sebuah keadilan dalam bidang politik semata yang direpresentasikan oleh parpol serta para utusan daerah, akan tetapi lebih daripada itu lembaga tersebut sekaligus berfungsi dalam

148Rencana Strategis MPR RI 2014-2019, MPR RI; Jakarta.Hal. 4

149 Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 Tentang lahirnya Pancasila

rangka mencapai keadilan sosial yang dituangkan kedalam berbagai kebijakan nasional secara musyawarah mufakat yang manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Oleh karenanya, penyampaian laporan kinerja lembaga-lembaga negara yang dilakukan setiap tahun dalam forum sidang MPR hanya untuk mendengarkan laporan kinerja lembaga negara bukan merupakan sebuah laporan pertanggung jawaban.Sebab posisi Presiden tidak lagi ’untergeordnet’ kepada Majelis melainkan bersifat “neben”.Hal ini merupakan implikasi dari hilangnya kedudukan lembaga tertinggi Negara yang melekat pada MPR sebagai perwujudan kedaulatan rakyat.Supremasi parlemen tersebut kemudian digantikan oleh supremasi konstitusi, walaupun secara konstitusional MPR tetap memiliki kewenangan tertinggi dalam mengubah dan menetapkan konstitusi.

MPR sebagai lembaga permusyawaratan rakyat yang mewadahi unsur perwakilan politik dan perwakilan daerah dianggap telah merepresentasikan rakyat indonesia sehingga lembaga ini dianggap tepat untuk mendengarkan laporan kinerja masing-masing lembaga negara.

Agenda mendengarkan laporan kinerja ini bisa dilaksanakan melalui forum yang merepresentasikan kedaulatan rakyat yaitu melalui agenda Sidang Tahunan MPR.Lembaga MPR mengadakan sidang tahunan ini bertujuan untuk menjaga dan memperkokoh kedaulatan rakyat. Ketentuan sidang tahunan ini kemudian diatur dan diakomodir dalam pasal 155 ayat (1) Peraturan MPR No. 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib MPR yang menyatakan :

“Untuk menjaga dan memperkokoh kedaulatan rakyat, MPR dapat menyelenggarakan sidang tahunan dalam rangka mendengarkan laporan kinerja lembaga negara kepada publik tentang pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.”

Lembaga negara yang dimaksud adalah lembaga negara utama (main state body) yang terdiri dari MPR,DPR,DPD, Presiden, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, dan Komisi Yudisial. Hal ini disebabkan, tugas dan kewenanga lembaga negara tersebut telah ditentukan dalam UUD NRI Tahun 1945.

Sidang tahunan ini, sedianya dilaksanakan setiap tanggal 14 agustus sampai dengan tanggal 16 agustus yang diawali oleh penyampaian laporan kinerja MPR dan ditutup oleh laporan kinerja Presiden. Pidato presiden dalam rangka laporan kinerja pada tanggal 16 Agustus sekaligus merupakan pidato kenegaraan presiden dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Sidang tahunan MPR merupakan salah satu mekanisme dalam menciptakan penyelenggaraan negara yang akuntabel.

Rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi harus mengetahui kinerja apa saja yang telah dilakukan oleh masing-masing lembaga negara. Oleh karennya diperlukan sebuah wadah atau forum untuk menyampaikan laporan kinerja lembaga negara. Wadah yang paling tepat untuk forum ini tidak lain adalah MPR sebagai sebuah lembaga Permusyawaratan rakyat.

Akan tetapi dalam faktanya, penyampaian laporan kinerja masing-masing lembaga negara ini belum sesuai dengan yang diharapkan. Laporan kinerja lembaga negara yang pada awalnya disepakati oleh masing-masing lembaga negara untuk menyampaikan kinerjanya, tetapi hanya diwakili oleh Presiden.

Penyebabnya belum ada kesepahaman dalam menafsirkan peraturan MPR No. 1 tahun 2014 tentang tata tertib MPR apakah berlaku mengikat kedalam saja ataukah juga berlaku megikat keluar terhadap masing-masing lembaga negara. Hal ini juga dipengaruhi belum seragamnya pemahaman tentang kedudukan masing-masing lembaga negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia serta tujuan apa yang hendak dicapai dari sidang tahunan yang akan dilaksanakan.

Dengan demikian penegasan Indonesia sebagai negara hukum, mengandung arti bahwa kekuasaan tersebut haruslah dapat dipertanggung jawabkan kepada pemegang kedaulatan tertinggi Negara yang didasarkan pada sebuah konstitusi negara.

Tidak boleh ada kekuasaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Sehingga rakyat pada akhirnya dapat melakukan penilaiannya terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan oleh masing-masing pejabat Negara melalui proses pemilu. Jika memang apa yang telah dilakukan oleh para penyelenggara Negara

sesuai dengan kehendak rakyat, maka otomatis rakyat akan kembali memilihnya dalam periode yang akan datang.

Oleh karena sistem penyampaikan pertanggungjawaban (akuntabilitas) itu tidak mungkin dilakukan secara langsung kepada rakyat dalam suatu forum atau persidangan, maka sistem penyampaian laporan atas kinerja yang dilaksanakan oleh para penyelenggara negara itu dapat disampaikan kepada wakil-wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat, baik di pusat maupun daerah. Di lingkungan pusat, penyampaian akuntabilitas publik berupa laporan atas kinerja kelembagaan tersebut dapat dilakukan dalam Sidang Tahunan MPR RI, sedangkan di level daerah dapat dilakukan dalam sidang tahunan DPRD, perlu adanya regulasi yang mengatur agar setiap pimpinan lembaga negara dan lembaga pemerintah daerah wajib memberikan laporan kinerja (progess report) atas hasil-hasil yang telah dicapai dan yang belum dapat dicapai setiap tahunnya kepada MPR atau DPRD.

3. Hubungan Kinerja Legislatif Dengan Lembaga Lain