BAB 1. ETIKA BISNIS
1.1 Pendahuluan
Banyak di antara kita sering mendengar istilah etika bisnis, namun tidak mudah untuk memahami, bahkan diimplementasikan. Ini yang menyebabkan etika bisnis kadang hanya sebagai “jargon”. Etika bisnis tidak lepas dari etika masyarakat lingkungannya. Etika juga pada dasarnya tidak menyangkut dari sisi hukum Etika melahirkan nilai-nilai standar tentang kebaikan dan keburukan di dalam kehidupan bersama. Etika pada dasarnya membahas tentang mana yang baik dan mana buruk maupun mana yang benar dan mana yang salah, sehingga dapat dikatakan bahwa etika bisnis tetapi menyangkut dari sisi moralitas kemanusiaan yang sangat universal.
Penerapan dan implementasi Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, Suatu perusahaan didalam menjalankan bisnisnya sebaiknya bukan hanya berlandaskan pada suatu moral dan manajemen yang baik saja, tetapi juga harus memiliki etika bisnis yang baik. Meskipun pada dasarnya etika tidak terkait dengan hukum, akan tetapi di etika bisnis apabila terjadi suatu pelanggaran yang menyebabkan kerugian bagi orang lain bahkan sampai melanggar hukum, maka harus menerima konsekuensi berurusan dengan hukum untuk mengadili apa yang telah dilanggar di dalam etika bisnis sehingga para pelaku bisnis wajib untuk mematuhi nilai etika bisnis. Para pelaku bisnis
harus menyadari bahwa etika dalam perilaku berbisnis selain sebagai bentuk dari perilaku yang baik ketika menjalankan bisnis, juga sebagai suatu pencerminan jiwa manusia itu sendiri di dalam menjalankan aktivitas bisnis.
Terkait dengan penerapan etika bisnis di Indonesia, seperti yang sering dilaporkan oleh media massa memang dapat dikatakan memprihatinkan, hal ini masih terjadi dikarenakan masih lemahnya moralitas daripara pengusaha yang diikuti dengan carut-marut perundang-undangan serta hilangnya wibawa dan citra dari beberapa oknum aparat penegak hukum akibat perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme. Tentu saja masalah ini jika dibiarkan maka akan membuat iklim bisnis Indonesia menjadi bermasalah
2.1 Pengertian Etika
Banyak pendapat dari para ahli tentang pengertian etika. Wahyu dan Ostaria (2006) adalah mendefinisikan etika merupakan cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas. Sedangkan Bekum (2004) menjelaskan etika sebagai seperangkat prinsip moral yang membedakan yang baik dari yang buruk. Kemudian Menurut Baron (2006) mendefinisikan etika adalah suatu pendekatan sistematis atas pertimbangan moral berdasarkan penalaran, analisis, sintesis, dan perenungan.
Dari penjelasan para ahli, dapat dilihat bahwa Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar,
salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Serta Etika bersifat normative karena berperan menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh seorang individu. Etika juga Etika memberikan petunjuk tindakan-tindakan apa yang benar dan apa yang salah.
Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku. Etika sendiri menurut The World Book Encyclopedia (2008) mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang benar dan salah dengan menggunakan metode “reasoning”, bukan benar-salah menurut kepercayaan atau tradisi.
1.3 Pengertian Bisnis
Terkait dengan pengertian bisnis, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2009), bisnis diartikan sebagai usaha dagang, usaha komersial di dunia perdagangan, dan bidang usaha. Skinner (1992) mendefinisikan bisnis sebagai pertukaran barang, jasa, atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat. Bisnis juga dapat didefinisikan sebagai kegiatan ekonomis berupa tukar-menukar, jual beli, memproduksi-memasarkan, bekerja mempekerjakan, dan interaksi manusiawi lainnya dengan maksud memperoleh suatu keuntungan (Bertens,2000). Sedangkan Griffin dan Ebert (2008) mendefinisikan bisnis adalah organisasi yang menyediakan barang atau jasa untuk dijual dengan maksud agar mendapatkan laba.
Tidak ada orang di dunia ini yang melakukan kegiatan bisnis untuk mencari kerugian. Menurut Sukirno (2010) bisnis adalah suatu kegiatan untuk memperoleh keuntungan.semua orang atau individu maupun kelompok melakukan kegiatan bisnis pastinya untuk mencari keuntungan agar kebutuhan hidupnya terpenuhi.
Sedangkan menurut Madura (2010). bisnis adalah suatu badan yang diciptakan untuk menghasilkan produk barang dan jasa kepada pelangggan.
Tujuan utama dari suatu bisnis adalah untuk meraih keuntungan, sudah tentu keuntungan yang ingin tentu dalam jangka panjang. Dalam hal ini business sustainability menjadi tujuan utama dan jangka panjang.
Sebuah perusahaan perlu memikirkan keberlanjutan proses bisnisnya dengan mempertimbangkan dan menyelaraskan pemanfaatan dari aspek sumber daya yang tersedia, baik sumber daya fisik, material, maupun sumber daya manusia, dan tentunya didukung dengan pemanfaatan teknologi yang efektif dan efisien (Wirapraja dan Aribowo, 2018).
Terkait dengan iklim bisnis di Indonesia.
berdasarkan Peringkat Kemudahan Berbisnis (Ease of Doing Business) oleh Bank Dunia pada tahun 2019-2020, negara Indonesia berada pada peringkat 73 dari 190 negara dengan nilai 69,6. Sedangkan dalam kawasan negara Asia tenggara (Asean), peringkat Indonesia berada pada peringkat 6 dibawah Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, dan Vietnam. Peringkat Indonesia dapat dikatakan tidak mengalami perubahan
atau sama dengan periode 2018-2019 yaitu tetap berada di peringkat 73.
Tabel 1. Peringkat Indonesia dalam Ease of Doing Business 2019-2020
Sumber : World Bank, diolah penulis
Adapun indikator dari pengukuran Peringkat Kemudahan Berbisnis (Ease of Doing Business) berdasarkan indikator yang meliputi : Memulai bisnis, Perizinan Konstruksi, Akses Kelistrikan, Registrasi Properti, Akses Kredit, Perlindungan Investor Minoritas, Akses Pajak, Perdagangan Lintas Negara, Kepatuhan Kontrak, dan Penyelesaian Sengketa.
Tabel 2. Peringkat Indikator Indonesia dalam Ease of Doing Business 2019-2020
No. Indikator Peringkat Poin
1 Memulai bisnis 140 81,2
2 Perizinan Konstruksi 110 66,8
3 Akses Kelistrikan 33 87,3
4 Registrasi Properti 106 60,0
5 Akses Kredit 48 70,0
6 Perlindungan Investor Minoritas
37 70,0
7 Akses Pajak 81 75,8
8 Perdagangan Lintas Negara 116 67,5
9 Kepatuhan Kontrak 139 49,1
10 Penyelesaian Sengketa 38 68,1
Sumber : World Bank, diolah Penulis
1.4 Pengertian Etika Bisnis
Beragam jawaban dari para pakar tentang pengertian etika bisnis. Seperti Muslich (1998) yang mengartikan etika bisnis sebagai pengetahuan tentang cara ideal pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan normalitas yang berlaku secara universal dan secara ekonomi/sosial, dan penerapan norma dan normalitas ini menjunjung maksud dan tujuan kegiatan bisnis. Sedangkan Etika bisnis menurut Silalahi (2003) adalah suatu ilmu yang mempelajari baik buruknya dalam interaksi bisnis dengan pihak stake holders dengan mempergunakan ilmu manajemen dan ilmu hukum supaya mencapai goals dari organisasi.
Selain itu, etika bisnis menurut Solihin (2009) merupakan penerapan etika secara umum terhadap perilaku. Kkemudian Sutarno (2012) menjelaskan bahwa etika Bisnis adalah suatu pemikiran atau refleksi tentang moralitas dalam ekonomi dan bisnis. Lalu Fahmi (2014) menjelaskan bahwa Etika Bisnis adalah suatu aturan-aturan yang menegaskan suatu bisnis boleh bertindak dan tidak boleh bertindak, dimana aturan-aturan tersebut
dapat bersumber dari aturan tertulis maupun aturan yang tidak tertulis.
. Etika bisnis sederhananya dapat diumpamakan melakukan kegiatan bisnis dengan menyediakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan tujuan untuk mendapatkan profit atau keuntungan sesuai dengan etika di dalam masyarakat yaitu dengan tidak melakukan perbuatan curang yang dapat merugikan orang lain bahkan hingga tidak melanggar aturan hukum.
Abeng (1997) menjelaskan bahwa etika bisnis merupakan suatu produk dari sosiologis, dimana yang satu “kaki” berada di dunia usaha, yang satu “kaki” lagi berada di tengah-tengah masyarakat umum.Sehingga etika bisnis merupakan nilai-nilai moral yang wajib ditaati oleh semua masyarakat bisnis
1.5 Tujuan Etika Bisnis
Di dalam melaksanakan atau menerapkan etiak bisnis, tentu ada tujuan yang ingin dicapai baik individu maupun perusahaan.. Bertens dalam Sutarno (2012), adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penerapan etika bisnis antara lain :
- Menanamkan atau meningkatkan kesadaran akan adanya dimensi etis dalam bisnis.
- Memperkenalkan argumentasi moral khususnya di bidang ekonomi dan bisnis, serta membantu pebisnis atau calon pebisnis dalam menyusun pembuktian moral yang tepat
- Membantu pebisnis atau calon pebisnis, untuk menentukan sikap moral yang tepat di dalam profesinya (kelak).
Adapun 7 alasan yang mendorong perusahaan untuk menjalankan bisnisnya secara etis menurut Post dalam Solihin (2009) :
1. Meningkatnya harapan publik agar perusahaan menjalankan bisninya secara etis
2. Agar perusahaan tidak melakukan berbagai tindakan yang membahayakan stakeholders lainnya.
3. Penerapan etika bisnis di perusahaan dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
4. Penerapan etika bisnis seperti kejujuran, menepati janji, dan menolak suap dapat meningkatkan kualitas hubungan bisnis diantara dua pihak yang melakukan hubungan bisnis.
5. Agar perusahaan terhindar dari penyalahgunaan yang dilakukan karyawan maupun kompetitor yang bertindak secara tidak etis
6. Penerapan etika perusahaan secara baik di dalam suatu peruaahaan dapat menghindarkan terjadinya pelanggaran hak-hak pekerja oleh pemberi kerja.
7. Perusahaan perlu menerapkan etika bisnis dalam menjalankan usahanya, untuk mencegah agar perusahaan (yang diwakili para pimpinannya) tidak memperoleh sanksi hukum karena menjalankan bisnis secara tidak etis.
1.6 Aspek Etika Bisnis
Terkait dengan aspek dari suatu etika bisnis, beragam aspek dan beragam sudut pandang dapat dijelaskan. Svensson dan Wood (2008) menjelaskan bahwa implementasi dari etika, termasuk etika bisnis yang diyakini oleh setiap individu pada dasarnya tidak bisa lepas dari 3 aspek penting, yaitu institutional factors, personal factors, dan organizational factor.
Sedangkan menurut Sutarno (2012), bahwa terdapat tiga aspek pokok dari implementasi etika bisnis, antara lain :
1. Sudut Pandang Ekonomis
Suatu bisnis bukan hanya mengejar keuntungsn saja, akan tetapi bisnis juga harus berkualitas etis. Serta tolak ukur bisnis yang baik adalah bila suatu bisnis mampu memberikan keuntungan, dimana hal ini terbaca pada laporan rugi/laba perusahaan di akhir tahun.
2. Sudut Pandang Moral
Suatu bisnis harus menghormati kepentingan dan hak orang lain demi kepentingan bisnis kita sendiri, dimana tolak ukurnya terdiri atas hati nurani, kaidah emas, dan penilaian umum.
3. Sudut Pandang Hukum
Suatu bisnis dari sudut pandang hukum menentukan apa yang boleh dilakukan serta apa yang tidak boleh dilakukan. Sehingga tolak ukur bisnis yang baik
adalah bisnis yang diperbolehkan oleh sistem hukum yang berlaku.
Sedangkan George dalam Nugroho dan Arijanto (2015), menjelaskan bahwa terdapat empat macam kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai cakupan dari etika bisnis, antara lain :
1. Penerapan prinsip-prinsip etika umum pada praktik-praktik khusus dalam bisnis
2. Etika bisnis tidak hanya menyangkut penerapan prinsip etika pada kegiatan bisnis, tetapi merupakan
“meta-etika” yang juga menyoroti apakah perilaku yang dinilai etis atau tidak secara individu dapat diterapkan pada organisasi atau perusahaan bisnis.
3. Bidang penelaahan etika bisnis menyangkut asumsi mengenai bisnis. Dimana dalam hal ini etika bisnis juga menyoroti moralitas sistem ekonomi pada umumnya serta sistem ekonomi suatu negara pada khususnya.
4. Etika bisnis juga menyangkut bidang yang biasanya sudah meluas lebih dari sekedar etika, seperti misalnya ekonomi dan teori organisasi.
Pertanyaan Untuk Diskusi 1. Jelaskan apa pengertian etika bisnis !
2. Jelaskan tujuan utama dari seseorang untuk menjalankan bisnis !
3. Jelaskan alasan yang mendorong perusahaan untuk dapat menjalankan bisnisnya secara etis ! 4. Sebutkan dan jelaskan aspek-aspek yang terkait
dari etika bisnis !
Bab 2 Etika di Dalam Berbisnis
2.1 Faktor Mendorong Timbulnya Etika Bisnis
Bisnis yang dijalankan tentu memiliki tujuan tersendiri bagi setiap manusia,tentunya di dalam menjalankan etika bisnis tentu ada faktor yang mendorong untuk mengimplementasikan etika bisnis. Post et al (2002) menguraikan terdapat 4 faktor yang pada umumnya menjadi penyebab timbulnya masalah etika di perusahaan, antara lain :
1. Mengejar keuntungan dan kepentingan pribadi 2. Tekanan persaingan terhadap laba perusahaan 3. Pertentangan antara tujuan perusahaan dan
perorangan
4. Pertentangan etika lintas budaya
Menurut Fahmi (2014), bahwa adapun beberapa permasalahan umum yang dihadapi oleh perusahaan sehubungan dengan etika bisnis dan tanggung jawab sosial antara lain :
1. Ditemukannya tindakan-tindakan perusahaan yang bersifat merugikan masyarakat, baik dalam bentuk pembuangan limbah pabrik, pemnelian lahan perusahaan dengan pembayaran yang tidak sesuai aturan pasar, dan penghindaran biaya.
2. Adanya tindakan insider trading yang duianggap melanggar sendi-sendi konsep etika bisnis. Karena seharusnya bisnis bersifat open infirmation, bukan tertutup.
3. Keputusan bisnis yang mengkedepankan keuntungan jangka pendek namun tidak memikirkan dampak jangka panjang.
4. Melakukan Pemutusan hubungan Kerja (PHK) kepada karyawan secara tidak fair atau jujur.
5. Menghindari pembayaran pajak, sumbangan sosial, dan bantuan lainnya, dengan memberi alasan bahwa keuntungan perusahaan kecil. Dengan cara melakukan pembukuan ganda dengan merubah data ketika petugas pajak datang.
6. Masih lemahnya undang-undang dan peraturan yan berhubungan dengan etika bisnis, ketenagakerjaan, lingkungan hidup, dan lain sebagaimya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sering mendengar dan tidak asing dengan suatu permasalahan etika di dalam kehidupan bisnis. Adapun permasalahan tersebut seperti penyuapan, penipuan, paksaan, pencurian, dan berbagai bentuk diskriminasi. Tentunya permasalahan yang muncul tersebut jika tidak di atasi dapat menyebabkan suatu kekacauan dan menimbulkan hambatan di dalam dunia bisnis.
2.2 Pentingnya Etika di dalam Berbisnis
Secara sederhana etika bisnis dapat diartikan sebagai suatu aturan main yang tidak mengikat karena bukan hukum. Tetapi harus diingat dalam praktek bisnis sehari-hari etika bisnis dapat menjadi batasan bagi aktivitas bisnis yang dijalankan. Beberapa opini di masyarakat banyak membicarakan tentang bertolak belakangnya antara bisnis dan etika. Parahnya adalah adanya opini yang mengatakan bahwa jika dalam berbisnis kita ingin untung, maka kadang kita harus
melanggar etika. Etika bisnis sangat penting mengingat dunia usaha tidak lepas dari elemen-elemen lainnya.
Keberadaan usaha pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
Bertens (2004) menjelaskan bahwa etika memiliki tiga posisi, yaitu sebagai (1) sistem nilai, yakni nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya, (2) kode etik, yakni kumpulan asas atau nilai moral, dan (3) filsafat moral, yakni ilmu tentang yang baik atau buruk. Secara normatif, etika bisnis di Indonesia baru mulai diberi tempat khusus semenjak diberlakukannya Undang Undang Dasar (UUD) 1945, khususnya pasal 33. Satu hal yang relevan dari pasal 33 UUD 45 ini adalah pesan moral dan amanat etis bahwa pembangunan ekonomi negara RI semata-mata demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia yang merupakan subyek atau pemilik negeri ini. Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun pada suatu masyarakat. Ini berarti etika berkaitan dengan nilai-nilai tata cara hidup yang baik, aturan dan kebiasaan hidup yang baik (Keraf, 2010).
Menurut Hurn (2008), bahwa kajian tentang etika bisnis semakin berkembang, ini terkait dengan semakin peliknya perilaku dan regulasi bisnis di era global.
Sedangkan menurut Matsushita (1988), bahwa bisnis yang baik selalu mempunyai misi tertentu yang luhur dan tidak sekedar mencari keuntungan. Sarosa (2005) Etika Bisnis adalah kunci bagi para entrepreneur yang ingin bertahan hidup atau eksis secara panjang dalam dunia bisnis.
Terjadinya kompetisi yang ketat, serta konsumen yang semakin “rewel” sering menjadi salah satu pemicu utama yang menyebabkan perusahaan mengabaikan
etika di dalam berbisnis, serta membuat perusahaan yang berpikiran pendek dengan segala cara berupaya melakukan hal-hal yang bisa meningkatkan keuntungan. Beretika di dalam menjalankan bisnis tidak dapat langsung memberikan keuntungan secara instan / jangka pendek, akan tetapi beretika di dalam menjalankan bisnis kemungkinan akan mendapatkan keuntungan di masa mendatang/jangka panjang karena pembuktian menjalankan etika bisnis membutuhkan waktu.
Salah satu sarana keberlangsungan hidup suatu perusahaan bergantung kepada bagaimana penerapan etika bisnis yang dimiliki perusahaan. Perusahaan dengan etika bisnis yang baik biasanya akan mampu untuk bertahan lebih lama dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki etika bisnis yang buruk. Etika bisnis akan memberikan pelajaran kepada para pelaku bisnis bahwa bisnis yang “berhasil”, tidak hanya bisnis yang menuai keuntungan secara material saja melainkan bisnis yang bergerak dalam koridor etis yang membawa serta tanggung jawab dan memelihara hubungan baik antar manusia yang terlibat di dalamnya. Dengan kita memegang prinsip etika bisnis maka hubungan kita dengan relasi saling menguntungkan dan bertahan lama, bahkan jaringan relasi bisnis kita akan semakin luas karena reputasi kita yang baik karena mengaplikasikan prinsip etika bisnis.
Adapun sisi etika dari bisnis ini, yaitu, bagaimana mengemas urusan bisnis yang tujuannya mencari keuntungan dengan tidak mengganggu hubungan sosial.
Sebab, sebagai sebuah masyarakat yang berbasis religi, maka hubungan sosial adalah implementasi dari nilai-nilai keyakinan masyarakat Indonesia tentang kewajiban menjaga hubungan dengan manusia sesamanya.
Ikatannya pun harus tulus, bukan untuk keperluan bisnis semata-mata. Menegakkan etika bisnis kini benar-benar sudah merupakan kebutuhan, ketika berada diambang perdagangan bebas atau era persaingan maka mutlak dibutuhkan keterbukaan dan transparasi proses bisnis (Abeng,1997). Etika bisnis dari perusahaan dapat bermanfaat sebagai competitive advantage bagi suatu perusahaan dalam mengatasi perubahan dan tantangan bisnis yang begitu besar.Mengingat banyaknya pelanggaran etika di dalam berbisnis, maka perlu suatu penanganan agar pelanggaran etika tersebut tidak terjadi lagi dalam kegiatan bisnis.
Menurut Abeng (1997), adapun upaya yang perlu dilakukan perusahaan dalam rangka membangun bisnis modern dengan landasan etika yang kuat, maka adapun yang harus dilakukan antara lain :
1. Mutlak mengembangkan kultur korporasi sebagi panduan etik dan kepercayaan diri para karyawan, sehingga kultur korporasi sebaiknya bercorak melayani dan memberdayakan. Adapun fokusnya adalah kepuasan konsumen, kecepatan, kelincahan, kualitas plus solusi, serta kerjasama tim, yang semuanya terefleksi pada corporate performance.
2. Mutlak memiliki ukuran tanggung jawab sosial lokal agar perusahaan berakar pada manasyarakat dimanapun ia beroperasi.
3. Mutlak pemimpin bisnis berbesar hati atau berjiwa besar, dalam artian terbuka, fleksibel dan merakyat agar pemikiran-pemikiran strategisnya bertahta d hati, di kepala dan tangan kolega terdekatnya, yaitu para karyawan.
4. Mutlak mentransformasikan sistem manajemen dari shareholder-management ke
stakeholder-managemenet, agar tindakan-tindakan manajemen memiliki sumber pembenaran dari dalam maupun dari luar organisasi usahanya.
Gambar 1. Penerimaan Secara Umum di Tempat Kerja Dalam Penelitian Etika Bisnis Perusahaan Keluarga
Indonesia di Era Digital
Sumber : A. Prisapta 2019
Hasil penelitian dari Yunita Andi Kemalasari dan Erlinda Nusron Yunus yang berjudul "Business Ethics Practices of Indonesian Family Business Corporation in The Digital Era: A Case Study". Dimana penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap praktik etika di sebuah perusahaan keluarga. Adapun hasil penelitian ini adalah dikenalinya pengalaman perilaku etis di pekerjaan dan
dukungan perusahaan dalam pembudayaan perilaku etis di tempat kerja. Selain itu, Riset kali ini juga menunjukkan bahwa mayoritas responden yakin bahwa kejujuran masih dan sering dipraktikan di tempat kerja. Sedangkan separuh lebih responden mengetahui pelanggaran etika terjadi dilakukan oleh perusahaan dan rekanannya.
2.3 Etika Bisnis Pada Berbagai Fungsi Perusahaan Dalam bidang ilmu manajemen, terdapat pembagian bidang terkait dengan profesi yang dijalankan. Adapun beberapa permasalahan etika di beberapa bidang perusahaan (Solihin,2009), antara lain :
1. Etika di bidang Akuntansi dan Keuangan
Para manajer perusahaan, investor luar, pemerintah, instansi pajak dan serikat pekerja membutuhkan data-data akuntansi untuk membuat berbagai keputusan penting, sehingga kejujuran, integritas, dan akurasi dalam melakukan kegiatan akuntansi merupakan syarat mutlak yang harus diterapkan dalam fungsi akuntansi. Salah satu tindakan pelanggaran etika misalnya penyusunan laporan keuangan yang berbeda untuk berbagai pihak melalui manipulasi data akuntansi dengan tujuan untuk memeperoleh keuntungan finansial. Dimana realitanya sering ditemukan perusahaan yang menyusun laporan keuangan yang berbeda-beda kepada berbagai pihak. Seperti laporan keuangan untuk pihak bank,
laporan keuangan untuk pihak kantor pajak, dan laporan keuangan internal perusahaan.
2. Etika di bidang Keuangan
Pelaksanaan fungsi keuangan secara tidak etis dapat menimbulkan kerugian bagi investor.
Adapun contohnya yang pertama melakukan praktik wondow dressing terhadap laporan keuangan perusahaan yang mengajukan pinajamn ke bank, dimana seolah-olah perusahaan
“mempercantik” atau melaporkan tentang rasio keuangan yang “sehat” sehingga layak untuk mendapat kucuran kredit, padahal kondisi keuangan perusahaan contoh kedua adalah tindakan “penggelembungan” nilai agunan perusahaan, sehingga perusahaan dapat memperoleh kredit atau melebihinilai agunan kredit sesungguhnya.
3. Etika di bidang produksi dan pemasaran
Dalam hal ini pihak produsen tidak melakukan tindakan yang tidak etis kepada pelanggan sesuai dengan Undang-undang Nomor 8. Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen , dimana dalam Bab IV dijelaskan bahwa pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang :
a. Tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah hitungan dalam keuntungan sebagaimana yang dinyatakan dalam tabel atau etiket barang tersebut.
c. Tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan, dan jumlah hutungan menurut ukuran yang sebenarnya.
d. Tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan, atau kemanjuran sebagimana dinyatakan dalam label, etiket, atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut.
4. Etika di bidang teknologi informasi
Adapun hal-hal yang dapat memunculkan permasalahan etika meliputi : serangan terhadap wilayah privasi seseorang; pengumpulan, penyimpanan, dan akses terhadap informasi usaha terutama melalui transaksi e-commerce;
Adapun hal-hal yang dapat memunculkan permasalahan etika meliputi : serangan terhadap wilayah privasi seseorang; pengumpulan, penyimpanan, dan akses terhadap informasi usaha terutama melalui transaksi e-commerce;